Al-Azhar Produsen Ulama

Fikroh.com - Entahlah, keberadaan Al-Azhar di Mesir itu apakah sesuatu yang patut disyukuri atau disayangkan. Pasalnya, gaya orang Mesir yang apa adanya, suka ribet dalam urusan administrasi, dan cenderung semau gue itu ter-copy secara sempurna di Al-Azhar.

Sejak awal kedatangan kami di sini, kami disuguhi keajaiban-keajaiban yang tak kami dapati dalam karya-karya kang Abik. Mulai dari semrawutnya lalu lintas, watak keras penduduk pribumi, kegigihan mereka dalam beribadah, hingga soal birokrasi yang cara kerjanya lebih banyak menggunakan sistem manual. Khusus yang terakhir, tak hanya berlaku di Al-Azhar. Di asrama kami, di rumah sakit, hingga di kantor imigrasi, semuanya menggunakan cara yang sama. Mungkin mereka lebih nyaman dengan ‘hardware’, bisa disentuh dan dicoret-coret. Hal itu seolah menjadi tradisi nenek moyang yang patut dilestarikan dan diwariskan secara turun-temurun.

Saat musim pengurusan administrasi tiba, anda harus banyak-banyak beribadah untuk menguatkan hati dan mendinginkan pikiran. Untuk mendapatkan stempel dan sedikit coret-coret saja, harus antre berjam-jam. Itu semua tak lepas dari manualisasi sistem, ditambah dengan cara kerja orang Mesir yang – sekali lagi – cenderung semau gue. Seringkali mereka bekerja sambil minum teh, ngerumpi, atau curhat sampai menangis. Semua terjadi di depan mata kami. Mereka seolah tak peduli bahwa yang mengantre di luar ruang kerja mereka adalah manusia juga. Dan mereka berdiri. Kaki mereka tentu saja bisa capek. Belum lagi kami harus menghadapi gaya berinterkasi ala padang pasir mereka yang keras itu.

Saat masih di Tebuireng, saya sempat tak percaya bahwa ruang-ruang kelas di PP. Madrasatul Quran, yang tergolong sederhana itu, masih lebih bagus daripada kelas-kelas di Al-Azhar. Logika saya sederhana saja, bagaimana mungkin lembaga tertua kedua dan paling terkenal se-jagat raya itu tak lebih baik dari pesantren yang belum 50 tahun eksis? Secara, universitas gitu loh. Lihat saja UNHASY Tebuireng, UIN di seluruh Indonesia, atau kampus-kampus yang bertitel ‘Negeri’, tentu semuanya bersih, indah, dan nyaman (Beriman). Apalagi Al-Azhar yang berkelas Internasional?

Rasa penasaran itu kemudian terjawab sempurna setelah saya menginjakkan kaki di ruang kelas Universitas Al-Azhar. Saya seakan tak percaya bahwa A-Azhar adalah Universitas kelas wahid. Maaf saja, ruang-ruang kelas Al-Azhar memang tergolong kotor. Apalagi ruang kuliah Bahasa Arab yang biasanya tak pernah penuh. Tempat-tempat duduk yang jarang dijamah seketika menjelma menjadi sarang laba-laba. Debu menempel sok manja di bangku-bangku. Maklum, kelas-kelas itu dibersihkan tak lebih dari dua kali dalam setahun. Biasanya menjelang masa-masa ujian.

Sekadar info, Mesir termasuk negeri pelestari debu. Menjelang dan pasca musim dingin biasanya ada ‘kunjungan rutin’ badai debu selama beberapa hari. Di tepi-tepi jalan, debu bercampur pasir bisa menumpuk hingga satu jengkal. Sehingga, arsitek yang didatangkan dari Italia untuk membangun kampus Al-Azhar rupanya tak cukup membuat bangunan-bangunan itu bebas dari ‘pelukan’ makhluk bernama debu.

Tapi siapa sangka, dibalik kesederhanaan tampilan luarnya, Al-Azhar adalah lembaga yang tua-tua keladi. Semakin tua semakin menjadi. Ibarat mesin Honda, semakin lama beroperasi semakin panas dan dahsyat. Tak pernah berhenti melahirkan ulama. Seolah Al-Azhar ada untuk mencetak ulama. Saat ini, mungkin Al-Azhar lah penyumbang ulama terbesar di seluruh dunia.

Saya masih ingat beberapa tahun lalu saat Alm. Gus Dur mendapat giliran sambutan di UIN Ciputat. Dalam kesempatan itu, beliau berujar, “Ilmu di Indonesia itu ada dua; ilmu umum dan agama. Ilmu umum dipegang oleh Pak Habibi, dan ilmu agama dipegang oleh Pak Quraish Shihab.” Baru saya sadari kemudian, satu di antara dua nama itu adalah alumni Al-Azhar.

Dalam sebuah kesempatan, Syekh Ali Jum’ah pernah ditanya mengenai siapa yang pantas mendapat gelar Mujtahid saat ini? Beliau menjawab, “Ada dua, Dr. Yusuf Al-Qardlawi dan Dr. Said Ramadhan Al-Bouthi.” Saat itu, Alm. Dr. Al-Bouthi masih hidup. Saya tahu kemudian bahwa keduanya Azhary.

Di tengah-tengah pengajian ushul fikih, guru kami, Syekh Mustafa (Maroko) sempat menyinggung, “Poros ilmu ushul fikih saat ini berkisar pada empat nama: Abdul Fattah Husaini Al-Syeikh, Dr. Sya’ban Muhammad Ismail, Dr. Hamdi Subhi Taha, dan Dr. Abdul ‘Azhim Al-Daib.” Setelah saya cari-cari, ternyata semuanya produk Al-Azhar.

Begitu juga Syeikh Fauzi (Pantai Gading), saat mengajar kami, pernah menyatakan, “Penyangga (imam) ilmu balaghah abad ini ada tiga: Dr. Muhammad Abu Musa, Dr. Ibrahim Al-Khouli, dan Dr. Abd Al-‘Azhim Al-Math’ani (w. 2008).” Ketiga-tiganya Azhary. Beliau juga sempat bercerita tentang Dr. Abd Khaliq ‘Udhaimah yang – karena penguasaan ilmu Nahwunya –dijuluki Sibawaih abad ini. Cukuplah hafalan Kitab Sibawaih-nya menjadi bukti kepakarannya. Dan sebagaimana nama-nama terdahulu, beliau juga Azhary.

Waktu saya ikut pengajian Syekh Fathi Hijazy, beliau sempat mengatakan, “Syekh-nya para ahli tafsir secara mutlak adalah Imam Ibnu Jarir al-Thabary. Tapi syekh para ahli tafsir abad ini adalah Syekh Mutawalli Al-Sya’rawi.” Siapakah beliau? Ya, dugaan anda tepat, beliau seorang Azhary.

Anda tentu tak asing dengan nama Dr. Wahbah Zuhaili (Faqih, Syiria), Dr. M. Imarah (Pemikir), Syeikh Hasan Isa Al-Ma’sharawi (Ahli Qiraat), dan Dr. Hasan Al-Syafi’I (Ahli kalam) yang semuanya besar dalam naungan pendidikan Al-Azhar. Jika dilanjutkan, tulisan ini mungkin tak akan menampung nama-nama Azhary yang luar biasa banyak itu. Justru hanya akan mengurangi isi.

Namun, tak semua nama-nama tersebut berkhidmad untuk masyarakat Mesir. Di antara mereka ada yang bertugas di Qatar seperti Dr. Yusuf Al-Qardhawi yang menjadi Mufti Qatar dan Dr. Abdul ‘Azhim Al-Daib yang hingga kini masih mengajar di sana. Ada pula yang di Saudi Arabia seperti Dr. M. Abu Musa dan Dr. Hasan Umar. Ada yang dikirim ke Indonesia, beberapa Negara Afrika, Eropa, dan lain-lain.

Meskipun telah ratusan dikirim ke berbagai Negara, Al-Azhar tak pernah kehabisan stok. Buktinya, puluhan halaqah (talaqqi) tetap berjalan setiap harinya, dari pagi hingga malam. Itu belum termasuk mereka yang mengajar di kuliah. Karena sebagian dari mereka yang tak ikut turun gunung di majlis talaqqi tak sedikit yang diakui kepakarannya. Juga belum termasuk yang diutus ke berbagai Negara dalam rangka kuliah umum, seminar, dan lain-lain. Pendek kata, Al-Azhar – atau Mesir – itu surplus ulama.

Dan kini, saat Dr. Yusuf Al-Qardhawi masih jaya, Dr. Sa’duddin Hilali telah siap menggantikan. Bulan lalu, Al-Azhar berduka dengan wafatnya Dr. Abdul Fattah Al-Syeikh. Namun, Al-Azhar tak perlu terlalu lama berlarut dalam kesedihannya, karena ada Dr. Salim Abu ‘Ashi yang telah lama menunjukkan sinarnya. Saat Dr. Ahmad Ma’bad dan Syeikh Ibrahim Al-Ba’ist Al-Kattani belum ‘habis’, di belakang mereka telah berdiri Syeikh Osama dan Dr. Yahya Al-Kattani yang siap melanjutkan perjuangan menyebarkan Sunnah Nabi Muhammad saw. Di usianya yang semakin uzur, Dr. M. Abu Musa dan Dr. Ibrahim Al-Khouli tak perlu khawatir dengan masa depan ilmu Balaghah. Karena murid mereka, Dr. Ibrahim Al-Hud-hud, telah menjelma menjadi seorang pakar, dan – semoga – dapat menyamai prestasi gurunya. Begitulah, setiap ada seorang tokoh yang tugasnya harus terhenti, ada bibit-bibit muda yang siap mengganti. Regenerasi berjalan rapi.

Semakin banyak saya menyebutkan nama-nama itu, bukan hanya kekaguman yang muncul, melainkan kebingungan juga. Bagaimana bisa Al-Azhar demikian produktif mencetak ulama. Anda mungkin juga bertanya-tanya, “bagaimana bisa semua itu terwujud?”

Setelah mengobrol kesana kemari dan merenung mencari jawaban siang malam, akhirnya saya menemukan – setidaknya – empat faktor yang membuat Al-Azhar demikian produktif mencetak ulama. 

Pertama, penciptaan iklim ilmiah. Saya tak tahu, apakah ada iklim ilmiah yang lebih sehat dari Al-Azhar. Soalnya, saya tak pernah mendengar cerita yang lebih hebat dari apa yang saya lihat di Al-Azhar. Seperti yang telah disinggung, ada puluhan majlis ilmu – atau yang biasa disebut dengan talaqqi – setiap harinya, dari pagi hingga malam. Itu belum termasuk diskusi lepas yang diadakan para pelajar di berbagai kesempatan.

Berjalannya talaqqi itu tak lepas dari peran para Masyayikh yang dengan ‘ikhlas’ mengajar. Di antara mereka ada yang rela datang ke masjid – yang berjarak beberapa ratus meter dari kediamannya – pada malam hari dengan berjalan kaki. Bahkan ada yang setiap minggu datang dari Alexandria ke Kairo, yang memakan waktu sekitar lima jam, demi ilmu.

Mengajar, bagi mereka – salah satunya – adalah untuk menjaga ilmu. Mereka serahkan hidup mereka untuk ilmu. Karena tidak ada yang menyelamatkan kita dari kekacauan-kekacauan selain ilmu. Tidak ada yang menjaga kita untuk tidak terpeleset ke jurang kebinasaan selain ilmu. Ilmulah yang akan memberi kiriman rutin ketika tugas mereka di dunia telah usai.

Kedua, kurikulum yang memadai. Ada dua alasan mengapa saya menilainya memadai, yaitu:

Tertib dan berurutan, atau yang dalam bahasa arab disebut ‘tadarruj’. Mempelajari sebuah disiplin ilmu akan lebih mudah dan maksimal jika berurutan. Tahu dari ilmu apa harus dimulai dan kitab apa yang harus dibaca. Di Al-Azhar, inilah yang berlaku selama puluhan tahun. Dalam akidah misalnya, siswa di kelas SMA harus membaca kitab Al-Kharidah. Setelah masuk kuliah, dilanjutkan dengan Jauharah Al-Tawhid. Setelah memasuki jenjang takhasus (spesialisasi), saatnya Al-Mawaqif dikaji. Konon, Al-Mawaqif adalah terminal akhir ilmu kalam. Jika menguasai kitab itu, selesai sudah.

Kesalahan dalam menentukan bacaan di setiap jenjang akan menyebabkan kendala dalam belajar. Jika bukan kesulitan, hasil tak maksimal yang akan didapat. Kitab-kitab yang dipilih itu bukanlah kitab sembarangan, telah mengalami seleksi ratusan tahun dan telah dikaji di berbagai majelis ilmu.

Konsisten. Kurikulum yang dijalankan di Al-Azhar – termasuk pemilihan diktat belajar – telah diseleksi oleh tim ahli. Yang saya tahu, telah puluhan tahun tidak terjadi perubahan kurikulum. Jika pun terjadi, mungkin karena kondisi mendesak. Itu pun tak banyak.

Namun, adanya penentuan kitab-kitab oleh pihak berwenang tidak lantas membuat kami terkekang dalam berfikir. Justru kami diajari kebebasan berfikir sejak di dalam hingga di luar kelas. Dalam diktat-diktat kuliah itu, hampir selalu dimasukkan pendapat berbagai madzhab. Dalam fikih misalnya, kita tak segan-segan membicarakan empat madzhab, sambil sesekali menyinggung madzhab Syiah atau Zhahiri. Dalam Ilmu kalam, kita juga terbiasa mendiskusikan pendapat-pendapat Mu’tazilah, Orientalis, bahkan Atheis. Begitu juga dalam ilmu Bahasa, Filsafat, Hadis, dan lain sebagainya.

Tidak hanya soal tahu perbedaan pendapat, kami juga diajari bagaimana menyikapinya. Di antara pendapat-pendapat itu, jika memang terbukti benar secara ilmiah, akan diterima. Sekalipun datang dari kelompok yang berseberangan. Dan jika terbukti salah, akan ditunjukkan letak kesalahannya. Adu argumen biasanya menjadi bahan pertimbangan.

Dan dari sini pula saya tahu perbedaan kebebasan berfikir dan kengawuran berfikir. Kebebasan berfikir berangkat dari keinginan untuk mencari kebenaran. Bagaimanapun caranya, obyektifitas tetap diutamakan. Sedangkan ngawur dalam berfikir biasanya untuk mencari-cari pembenar se-enak perut dan bawahnya.

Ketiga, tercukupinya literatur. Di Mesir, anda tak perlu susah payah mencari kitab yang telah berusia belasan abad dan telah melegenda. Al-Kitab karya Imam Sibawaih, Al-Risalah karya Imam Al-Syafi’I, Al-Bayan wa Al-Tabyin karya Al-Jahizh, Dalail Al-I’jaz karya Imam Al-Jurjani, Al-Mustashfa karya Imam Al-Ghazali, dan lain-lain dapat anda temui dengan mudah di sini. 

Tak hanya mudah, kitab-kitab di Kairo juga sangat murah. Anda bisa mendapatkan Al-A’mal Al-Kamilah – yang mengkaji secara utuh profil Muhammad Abduh dan pemikirannya, terdiri dari lima jilid besar – karya Dr. M. Imarah, hanya dengan 90 pound, tak lebih dari Rp. 150.000. Anda juga bisa mendapatkan Tafsir Al-Tahrir wa Al-Tanwir (14 jilid) karya Ibnu ‘Asyur hanya dengan 260 pound. Demikian juga Fath Al-Bari, Lisan Al-‘Arab, Tafsir Al-Tabari, dan lain-lain, masing-masing tak lebih dari 500 pound. Itupun, masih ada penerbit yang mendapat subsidi dari pemerintah. Sehingga buku setebal 300-an halaman biasa dibanderol 6-8 pound, atau bahkan lebih murah.

Maka, anda tak usah heran ketika bertemu dengan seorang kawan, yang pulang dari toko buku, menenteng kitab sebanyak dua kantong besar. Anda juga tak perlu berteriak ‘wow!’ sambil jumpalitan saat ada teman yang membaca Al-Muwafaqat atau Syarah Tashil Al-Fawaid, misalnya. Walaupun harus diakui, kedua kitab itu memang termasuk konsumsi kelas berat.

Keempat, kemandirian Al-Azhar dalam mengatur roda pendidikannya. Ini tak lepas dari kemampuan Al-Azhar untuk meyakinkan pemerintah, bahwa mereka sanggup berjalan sendiri. Sehingga, pemerintah tak usah terlalu ikut campur urusan pendidikan. Ini penting mengingat keterlibatan pemerintah yang melampaui batas dalam pendidikan akan merusak sistem. Kerusakan itu bisa berupa politisasi pendidikan, diskriminasi pemikiran, atau yang saat ini banyak terjadi; komersialisasi pendidikan. Pendidikan kok dijadikan lahan bisnis.

Dari keempat faktor, menurut saya, faktor pertama adalah yang paling penting. Pembentukannya bisa memakan waktu puluhan tahun. Dan Al-azhar telah memiliki itu. Sebanyak apapun tersedianya literatur, tak akan banyak membantu jika budayanya adalah facebook dan game. Sebebas apapun peluang yang diberikan pemerintah, toh akan percuma juga jika pekerjaan pelajarnya adalah demo, demo, dan demo. Sesempurna apapun kurikulum, akan sia-sia jika untuk jujur saja masih susah.

Akhirnya saya sadari, bahwa penglihatan kita tak boleh berhenti pada penampilan luar. Imam Al-Ghazali pun menyatakan bahwa penglihatan mata kepala seringkali menipu. “Luar biasa memang! Padahal kalau dilihat dari fisiknya, Al-Azhar  ya gitu-gitu aja. Tapi anak didik yang menjadi orang besar tak terhitung. Hal itu telah diakui dan tak bisa diingkari. Mungkin mereka (para Ulama itu) bisa melihat di Al-Azhar ini apa yang tak bisa kita lihat,” demikian komentar ustadz saya. Semoga kita segera bisa melihat sebagaimana mereka melihat.

Oleh: Cak Nashr

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama