7 Sunnah-sunnah Adzan

Fikroh.com - Pada tulisan sebelumnya telah di jelaskan tentang definisi Adzan secara rinci. Silahkan baca artikelnya disini: Definisi Adzan dan Syarat-Sysrat Muadzin. Dan pada tulisan kali ini akan membahas Beberapa Hal Yang Disunnahkan Ketika Adzan. Inilah 7 sunnah-sunnah adzan yang penting untuk diketahui.

1. Adzan Dalam Keadaan Suci

Berdasarkan atas keumuman dalil tentang dianjurkannya bersuci ketika dzikir dan mengingat Allah –pembahasan ini telah dipaparkan dalam bab wudhu’– dan karena adanya sebuah hadits,

لاَ يُؤَذِّنُ إِلاَّ مُتَوَضِّئٌ

“Tidak sah mengumandangkan adzan kecuali orang yang telah berwudhu”

Namun hadits ini tidak shahih. Oleh karena itu, jika seorang muadzin mengumandangkan adzan dalam keadaan berhadas kecil, Seluruh pakar Fikih (fuqaha) telah menyatakan bahwa adzanya diterima. Demikian halnya ketika seorang muadzin dalam keadaan hadas besar (junub), maka pendapat fuqaha sebagaimana yang shahih juga menyatakan bahwa adzannya diterima. Hal tersebut karena tiadanya dalil yang melarang seorang muadzin untuk mengumandangkan adzan dalam keadaan junub, dan karena junub itu sendiri tidaklah najis. Namun Imam Ahmad dan Ishaq berpendapat bahwa adzan dalam keadaan junub dilarang. [Al-Ausath (3/28)]

2. Berdiri Ketika Adzan

Tidak ada perbedaan antara ulama bahwa adzan dengan posisi berdiri adalah sunnah yang dianjurkan, kecuali jika dalam keadaan sakit, maka dibolehkan baginya untuk adzan dalam keadaan duduk. Namun Imam Malik, al-Auza'i dan ulama rasionalis, menyatakan makruh jika adzan dikumandangkan dengan duduk dalam kondisi apapun muadzin tersebut. [Al-Ausath (3/46)]

Sebagaimana hadits Ibnu Umar radhiallahu 'anhu yang telah dipaparkan sebelumnya, Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

قُمْ يَا بِلاَلُ فَناَدِ بِالصَّلاَةِ

"Berdirilah wahai Bilal, lalu kumandangkanlah adzan untuk shalat." [Hadits Shahih]

Dan juga dalam hadits Abdullah bin Zaid

رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأنَّ رَجُلاً قَائماً ... فَأذَّنَ مَثْنَى ، وَأقَامَ مَثْنَى

“Aku melihat dalam mimpi seorang lelaki berdiri…lalu mengumandangkan adzan dua kali, dan iqamah dua kali” [Hadits Riwayat: Ibnu Abi Syaibah (1/203)]

3. Menghadap Kiblat Ketika Adzan

Seluruh ulama telah sepakat bahwa menghadap kiblat ketika adzan adalah sunnah yang dianjurkan. [Al-Ausath (3/28)] Banyak hadits yang telah diriwayatkan menyangkut hal ini yang di dalamnya terdapat beragam pernyataan, di antaranya hadits Ibnu Zaid bahwa ia melihat Malik menghadap kiblat ketika adzan. [Lihat: Irwa' al-Ghalil (1/250)]

4. Memasukkan Kedua Ujung Jari Dalam Kedua Telinga

Berdasarkan hadits Abu Juhaifah, ia berkata:

رَأيْتُ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ وَيَدُوْرُ وِيُتَبِعُ فَاهُ هَاهُنَا وَهَاهُنَا وَإصْبعَاهُ في أُذُنَيْهِ

"Aku melihat Bilal saat mengumandangkan adzan ia berputar dan mengarahkan mulutnya kesana dan kemari, sedangkan kedua jarinya menutup kedua telinganya".[Hadits Riwayat: Shahih. al-At-Tirmidzi (197)]

5. Menggabungkan Antara Dua Takbir

Berdasarkan hadits Umar bin Khattab radhiallahu 'anhuma ia berkata, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ , فَقَالَ أَحَدُكُمُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ , قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

"Jika muadzin berkata "Allahu Akbar Allahu Akbar", lalu salah seorang dari kalian menjawabnya "Allahu Akbar Allahu Akbar" dan jika muadzin berkata "Asyhadu Alla Ilaha Illallah" lalu di antara kalian menjawab "Asyhadu Alla Ilaha Illallah". [Hadits Riwayat: Shahih]

Hadits ini akan dibahas nanti secara lebih lengkap, dan dalam hadits ini terdapat isyarat jelas bahwa seorang muadzin hendaknya menggabungkan antara dua takbir kemudian yang mendengar adzan juga menjawabnya dengan cara yang sama.[Syarh Shahih Muslim – Imam Nawawi] Tidak seperti yang dilakukan oleh sebagian muadzin yang menjadikan empat takbir satu-persatu dengan nafas terpisah.

6. Menoleh Ke Arah Kanan Ketika Lafadz "Hayya 'Alas-Shalah" Dan Menoleh Ke Arah Kiri Ketika Bacaan "Hayya 'Alal Falah"

Sebagaimana dalam hadits Abu Juhaifah,

أَنَّهُ رَأَى بِلاَلاً يُؤَذِّنُ، فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ ههُنَا وَههُنَا بِالأَذانِ)

"Bahwa Abu Juhaifah melihat Bilal ketika mengumandangkan adzan, ia (Abu Juhaifah) berkata "Aku pun mengikuti arah mulutnya (Bilal) kesana dan kemari ketika adzan".[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (634) dan Muslim (503)]

Dari sinilah datangnya anjuran bagi muadzin untuk menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri ketika adzan sedangkan badannya tetap lurus menghadap kiblat. Inilah pendapat jumhur ulama. Namun Imam Malik telah mengingkarinya, sedangkan Imam Ahmad dan Ishaq mengkhususkannya bagi muadzin yang mengumandangkan adzan dari atas menara dengan maksud agar didengar oleh orang banyak. [Al-Ausath (3/26-27)]

7. Mengumandangkan "As-Shalatu Khairun Minan-Naum" (al-Tatswib) Pada Adzan Pertama Shalat Subuh

Mengenai tata cara membaca at-Tatswib, in syaa Alloh akan dibahas dalam artikel selanjutnya.

Demikian penjelasan tentang Sunnah-sunnah adzan, semoga bermanfaat untuk kita semua. Jika berkenan bagikan link ini melalui ikon tombol berbagi dibagian bawah artikel. Semoga menjadi amal jariah bagi kita. Aamiin. Barokallohu fiikum.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama