Fikroh.com - Berikut ini adalah penjelasan dari empat istilah yang sangat populer dalam islam khususnya berkaitan dengan hukum fikih. Empat istilah yang dimaksud adalah Dalil, madlul, istidlal dan mustadil.

Pertama Dalil
 
Dalil, kata-kata itu sering terdengar akhir-akhir ini. Pemicunya tentu karena kaum muslimin saat ini sedang giat-giatnya belajar Islam. Majelis ilmu disana-sini. Ditambah dengan majunya teknologi dan canggihnya jaringan internet saat ini, amat mudah bagi seseorang untuk mengakses kajian-kajian keislaman baik berupa artikel, audio, juga video.

Hal ini memicu keingintahuan lebih dalam mengenai amalan-amalan yang dilakukan masyarakat saat ini. Dari mana sumbernya? Apa dasarnya? Atau sederhananya, “Apa Dalilnya?”. Pertanyaan ini tentu bagus jika ditanyakan oleh orang-orang berilmu agar menjadi bahan diskusi yang menghidupkan suasana keilmuan ditengah-tengah kaum muslimin. Namun tidak sedikit pula yang saya temukan yang bertanya dalil tadi adalah kalangan awam yang tak punya pemahaman yang utuh mengenai dalil. Dalam benaknya dalil itu hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah, atau kalau tidak ada dalil yang secara tekstual menyebutkan maka otomatis hukumnya tidak boleh[1], dan lain-lain. Intinya, tipe seperti ini sebenarnya belum punya pemahaman cukup mengenai dalil (tapi sayangnya seakan-akan merasa (paling) tahu).

Dalil berasal dari kata dalla yadullu dalaalatan artinya menujukkan. Dalam Maushu’ah Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan,

الدَّلِيل لُغَةً: هُوَ الْمُرْشِدُ وَالْكَاشِفُ، مِنْ دَلَلْتُ عَلَى الشَّيْءِ وَدَلَلْتُ إِلَيْهِ. وَالْمَصْدَرُ دُلُولَةٌ وَدَلاَلَةٌ، بِكَسْرِ الدَّال وَفَتْحِهَا وَضَمِّهَا. وَالدَّال وَصْفٌ لِلْفَاعِل وَالدَّلِيل مَا يُتَوَصَّل بِصَحِيحِ النَّظَرِ فِيهِ إِلَى الْعِلْمِ بِمَطْلُوبٍ خَبَرِيٍّ وَلَوْ ظَنًّا، وَقَدْ يَخُصُّهُ بَعْضُهُمْ بِالْقَطْعِيِّ.

“Dalil secara bahasa artinya yang menunjukkan dan yang mengungkapkan, dari dalaltu ‘alasy syayi (Aku menunjukkan atas sesuatu) dan dalaltu ilaihi (Aku menunjukkan kepadanya). Mashdarnya adalah Dululah dan Dalalah dengan dal kasrah, fathah dan dhommah. Ad-Daall adalah sifat bagi fail. Dalil secara istilah adalah sesuatu yang menyampaikan kepada pengetahuan (‘ilm) dengan pandangan yang shahih dengan menggunakan petunjuk (khobar) meski zhanni, dan sebagian ulama berpendapat dengan menggunakan yang qath’iy.”

Imam Haramain rahimahullah menyebutkan dalam Al-Waraqatnya,

وَالدَّلِيل هُوَ المرشد إِلَى الْمَطْلُوب لِأَنَّهُ عَلامَة عَلَيْهِ

“Dalil adalah sesuatu yang menunjukkan kepada yang dicari karena ia merupakan tanda atasnya”

Apakah dalil hanya terdiri dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, para ulama sepakat bahwa dalil tidak hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka membaginya menjadi dua kategori. Dalil-dalil yang disepakati dan dalil yang diperselisihkan. Dalil yang disepakati ada empat yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma dan Qiyas. Sedangkan dalil yang diperselisihkan, sebagaimana yang dikumpulkan oleh Imam Al-Qarafi rahimahullah yang dikutip dalam Maushu’ah Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah yaitu Istihsan, Mashalih Mursalah, Sadd Adz-Dzari’ah, Al-‘Urf, Qaul Sahabat, Syar’u Man Qablana, Istishhab, Ijma Ahli Madinah, dan lain-lain. Dari sini tergambar bagi kita, dalil itu bukan hanya Al-Qur’an dan As-Sunnah tapi juga ada yang lain, baik yang disepakati maupun yang diperselisihkan. Dan tentu dengan perbedaan dalam menggunakan dalil akan menghasilkan perbedaan dalam kesimpulan hukum.

Kedua Madlul

Berikutnya madlul atau apa yang ditunjukkan oleh dalil. Ini langkah berikutnya dalam pembahasan dalil. Ketika berbicara dalil tentu langkah berikutnya adalah apa yang ditunjukkan oleh dalil tersebut. Dan langkah ini bukanlah langkah yang sederhana. Sebagian kaum muslimin begitu mudah menarik kesimpulan hanya berdasar terjemahnya. Ini agak disayangkan karena bahasa Arab sangat berbeda sekali dengan bahasa Indonesia, dan terjemah bahasa Indonesia tidak bisa secara otomatis menggambarkan kata dan kalimat bahasa Arab. Satu kata bahasa Arab seringkali punya banyak makna. Misalkan kata Ba (الباء) yang disebut huruf jar punya 13 makna, min (من ) yang juga huruf jar punya 8 makna. Sebab itu, terjemahan seseorang akan bahasa Arab tentu saja tergantung pilihan penterjemah akan makna-makna tadi, padahal bisa jadi pilihan terjemahnya masih bisa diperdebatkan.

Dilihat dari penunjukkannya (dalalah) terbagi menjadi empat :

Qath’i tsubut (sumber yang meyakinkan datangnya dari Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ) dan qath’i dalalahnya (penunjukkan dalilnya mengandung makna yang tegas) seperti sebagian nash-nash Al-Qur’an dan hadits-hadits Mutawatir.

Qath’i tsubut dan zhanni dalalah (penunjukkan dalilnya mengandung kemungkinan makna-makna yang dipahami berbeda) seperti sebagian nash-nash Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir yang dipahami berbeda oleh para ulama.

Zhanni tsubut (sumber yang kekuatanya hanya dugaan kuat berasal dari Rasulullah ﷺ)dan qath’i dalalah seperti hadits-hadits ahad yang nash-nashnya qath’i, tidak diperselisihkan maknanya.

Zhanni tsubut dan zhanni dalalah seperti hadits-hadits ahad yang maknanya diperselisihkan para ulama.

Mengetahui suatu dalil menunjukkan makna qath’i maupun zhanni, itu juga memerlukan kemampuan bahasa Arab. Seseorang harus melihat kata demi kata yang digunakan, termasuk susunan kalimatnya. Apakah ia bermakna ‘am (umum) hingga berlaku untuk semua, atau khas (khusus) tidak berlaku untuk semua. Atau ayat tersebut bermakna mutlaq (tidak punya batasan tertentu) ataukah muqayyad (dibatasi dengan sifat tertentu). Ini saja sudah amat membingungkan bagi kalangan awam yang tak paham dengan susunan kalimat bahasa Arab.

Disisi lain, dalam memahami maksud kalimat suatu nash juga berhubungan dengan mafhum muwafaqah dan mafhum mukhalafah. Mafhum muwafaqah adalah pemahaman yang bersesuaian dengan nash tapi tidak tersurat secara langsung. Misalkan ayat,

فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

“maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”” (Q.S Al-Isra’ : 23)

Dari ayat bisa dipahami pula bahwa Allah ﷻ melarang untuk memukul orang tua karena jika mengucapkan kata-kata kasar saja dilarang apalagi melakukan kekerasan fisik yang menyakiti keduanya. Ini yang dinamakan dengan mafhum muwafaqah.

Lain halnya dengan mafhum mukhalafah. Mafhum mukhalafah adalah pemahaman terbalik dari apa yang ditunjukkan oleh nash.

وتحرير رقبة مؤمنة

Artinya : “….maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba-sahaya yang mukmin….” (QS. An-Nisaa’ : 92)

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa dalam membayar kafarat hendaknya memerdekakan budak yang mukmin. Mafhum mukhalafahnya jika yang dimerdekakan bukan budak yang mukmin (kafir) maka tidak sah.

Ketiga Istidlal

Berikutnya, Istidlal. Hal selanjutnya yang harus diketahui seseorang adalah istidlal atau metode dalam menarik kesimpulan hukum dari dalil-dalil yang biasa digunakan para ulama. Ini adalah rangkaian berikutnya untuk mengetahui hukum atas suatu perkara. Dalam menetapkan hukum tersebut, tidaklah cukup hanya dengan melihat satu atau dua ayat atau hadits. Bahkan yang demikian justru akan menyebabkan kesesatan dalam berpikir.

Mengapa demikian? Karena ayat Al-Qur’an jumlahnya banyak. Begitu pula hadits-hadits Rasulullah ﷺ jumlahnya mencapai ratusan ribu lebih. Mencukupkan diri dengan hanya satu atau dua ayat itu berbahaya karena tidak jarang antara ayat yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Bisa pula antara ayat Al-Qur’an dan hadits. Dari sini para ulama menetapkan bahwa hadits Rasulullah ﷺ mempunyai fungsi terkadang ia sebagai penjelas atau perinci dari Al-Qur’an dan bisa pula menetapkan hukum yang tidak ada dalam Al-Qur’an.

Contoh bahayanya jika menarik kesimpulan dengan berdasar hanya satu ayat,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (Q.S Ali Imran : 130)

Dengan melihat ayat ini, apakah berarti boleh mengambil riba asal tidak berlipat ganda. Tentu saja tidak. Perlu dilihat apa tafsir ayat ini, lalu adakah dalil lain yang berkaitan dengan bahasan ini.

Yang juga berkaitan dengan metode Istidlal, apakah setiap perintah untuk melakukan atau meninggalkan seseutau dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah pasti menunjukkan wajib atau haram, tanpa ada kemungkinan lain. Lalu dimana meletakkan hukum sunnah atau makruh jika hanya setiap perintah itu wajib dan haram. Ini juga ranah perbedaan metode. Itu belum pula dengan melihat dalil-dalil lain semisal Ijma, Qiyas, Ijma Ahli Madinah, Istihsan, dan lain-lain. Mengingat dalil-dalil yang disepakati dan diperselisihkan tadi maka ada dalil yang digunakan oleh sebagian ulama dan ada pula dalil yang justru tidak digunakan oleh para ulama. Dalil yang digunakan oleh para ulama tadi dalam perinciannya juga berbeda, misal qiyas. Apakah boleh qiyas dalam ibadah? Sebagian menerimanya sebagian lagi tidak.

Selanjutnya, bagaimana jika antara dalil yang satu dengan dalil yang lain terlihat seperti bertentangan? Apa yang harus dilakukan? Para ulama sesuai dengan latar belakang punya metode tersendiri dalam menghadapi hal ini. Ini bisa dilihat dalam bab ta’arud bayna adillah (pertentangan antar dalil) dalam kitab-kitab ushul fiqih. Mereka menggunakan metode nasikh, jama’, tarjih, tasaqut dalilain. Perbedaan ini akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

Keempat Mustadil

Terakhir, mustadil yaitu orang yang beristidlal atau yang menggunakan dalil. Dengan melihat penjelasan-penjelasan sebelumnya, dapat kita simpulkan bahwa menjadi mustadil tidaklah mudah. Dengan kata lain, mustadil tidak dilakukan oleh semua orang. Mustadil harus punya kemampuan dan kecakapan tertentu untuk bisa menarik kesimpulan hukum dari dalil-dalil yang ada. Para ulama lalu membagi dua tingkatan dalam hal ini. Mujtahid dan muqallid[2]. Mujtahid yaitu orang yang mampu beristidlal dan berijtihad atau mengggali hukum dari suatu perkara dengan dalil-dalil yang ada. Berijtihad tidak lah mudah. Ia memerlukan syarat-syarat yang berat yang harus dipenuhi (pembahasan Ijtihad bisa dilihat disini). Sedangkan jika tidak mampu maka masuk di kategori kedua yaitu muqallid, orang yang tidak mampu berijtihad dan hanya bisa mengikuti hukum yang telah digali oleh mujtahid, baik ia mengetahui dalil yang digunakan oleh mujtahid tadi ataupun tidak mengetahui sama sekali.

Menariknya, bahasan mengenai mustadil atau orang yang beristidlal tadi diletakkan di bagian-bagian akhir kitab ushul fiqih, seakan memberi pesan kepada kita bahwa jika seseorang ingin menjadi mustadil kuasai dulu bahasan dalil, madlul dan istidlal tadi.

Mudah-mudahan tulisan dapat menjadi pengantar bagi pembaca bahwa “dunia” dalil itu tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia punya bahasan yang mendalam dan luas yang tersebar di kitab-kitab para ulama. Bagi yang bersemangat, semoga menjadi pemicu untuk mengkaji lebih dalam. Namun bagi yang tidak, semoga menjadi cerminan untuk tidak bermudah-mudah menyalahkan sesama muslim.

Wallahu muwaffiq ilaa aqwaamith thariiq.


Referensi :

  • Al Waraqat. Imam Al Juwaini. Maktabah Syamilah
  • Ilmu Uhsul Fiqih. Syeikh Abdul Wahhab Kholaf. Muassasah As-Su’udiyyah bi Misr. Maktabah Syamilah
  • Maushu’ah Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah. Wizaratul Awqaf wa Asy-Syuun Al-Islamiyyah-Kuwait. 1404 – 1427 H. Maktabah Syamilah

Footnote:
[1] Sepanjang pengetahua saya memang ada sebagian ulama memang ada yang berpendapat demikian tapi itu bukan sesuatu yang disepakati karena masih ada kaidah atau metode lain yang digunakan para ulama misal qiyas dalam ibadah.
[2] Sebagian ulama ada pula yang membagi menjadi tiga tingkatan yaitu mujtahid, muttabi’ dan muqallid

Oleh: Muhammad Yusuf

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama