Fikroh.com - Mengenai hukum Qunut dalam Shalat Subuh merupakan perkara khilafiyah yang menuntut kita untuk bijak dalam menyikapinya. Dan sikap yang kita pilih tentunya atas dasar ilmu bukan sekedar asumsi.

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini, ada Empat pendapat Ulama mengenai masalah qunut ketika shalat Subuh, dan bagaimana qunut tersebut dilakukan. [Silahkan baca Makalah bermanfaat dari saudara kita; Majdi bin Abdul Hadi dengan judul "Isfarus-Subhi fi Qunutis-Subhi" dan telah diberi kata pengantar, serta ditelaah ulang oleh Syaikh kami; Musthafa al-'Adawi –semoga Allah meninggikan derajatnya]

Pendapat Pertama: Qunut hukumnya sunnah muakkad yang dianjurkan untuk dikerjakan secara rutin. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Syafi'i.[Al-Mudawwanah (1/100), Al-Istidzkar (6/201)] Landasan mereka adalah:

Hadits riwayat al-Barra' bin 'Azib radhiallahu 'anhuma :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْنُتُ فِى الصُّبْحِ [وَ المَغْرِبِ]

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca doa Qunut ketika Subuh [dan Maghrib].”[Hadits Riwayat: Muslim (678)]

Hadits riwayat Anas radhiallahu 'anhu yang bertanya kepada Rasul Shallallahu 'alaihi wasallam:

أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الصُّبْحِ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَقِيلَ لَهُ: أَوَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ؟ قَالَ: "بَعْدَ الرُّكُوعِ يَسِيرًا"

“Apakah beliau membaca doa Qunut saat shalat Subuh? Anas pun menjawab, "Ya". Lalu ia kembali ditanya, "Apakah Rasulullah membca Qunut sebelum ruku'?" Anas lalu berkata, "Sesaat sesudah ruku"[Hadits Riwayat: Al-Bukhari (1001)]

Hadits Abu Hurairah radhiallahu 'anhu :

"Setelah selesai membaca surah dalam shalat Subuh, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bertakbir dan mengangkat kepala lalu membaca,

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

"Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Allah Rabb kami, hanya bagi-Mu segala puji".

Dan dalam keadaan masih berdiri, Rasulullah kemudian berdoa,

اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِى رَبِيعَةَ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ كَسِنِى يُوسُفَ اللَّهُمَّ الْعَنْ لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

"Ya Allah, selamatkanlah al-Walid bin al-Walid, Salamah bin Hisyam dan Ayyasy bin Abu Rabi'ah serta orang-orang mukmin yang lemah. Ya Allah, timpakanlah siksa-Mu kepada Bani Mudhar, timpakan siksaan itu kepada mereka, sebagaimana yang dialami Nabi Yusuf saat menderita kesengsaraan. Ya Allah, kutuklah Bani Lihyan, Bani Ri'lan, Bani Zakwan dan Bani Ushaiyah. Mereka juga mendustai Allah dan Rasul-Nya".

Kemudian, kami ketahui bahwa beliau meninggalkan perkara itu saat turunnya firman Allah,

لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَىْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

"Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, apakah Allah menerima taubat mereka atau mengazab mereka karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim" [Al-Qur`an Surat: Ali Imran: 128Hadits Riwayat: Al-Bukhari (804)]

Demikian juga terdapat hadits yang serupa riwayat Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma[3] :

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ مِنَ الْفَجْرِ يَقُولُ

“Ia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam apabila mengangkat kepala dari ruku' pada rakaat terakhir shalat Subuh, beliau berdoa,

اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا وَفُلاَنًا

"Ya Allah, timpakanlah laknatmu terhadap Fulan, Fulan dan Fulan" setelah beliau mengucapkan

سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ

"Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Allah Tuhan kami, hanya bagi-Mu segala puji"

Hingga Allah menurunkan ayat,

لَيْسَ لَكَ مِنَ الأَمْرِ شَيْءٌ ... فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

"Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu … sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim".[Al-Qur`an Surat: Ali Imran: 128]

Mereka yang menyatakan bahwa Qunut merupakan sunnah muakkad dari kedua dalil di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan hukum, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca doa Qunut setelah bangkit dari ruku' –pada rakaat kedua– dalam shalat Subuh, dan ini menunjukkan dilakukan secara terus-menerus. Sedangkan ketika Rasulullah tidak lagi membaca Qunut karena turunnya ayat tersebut, hal itu tidaklah "mengeruhkan" pendapat kami dengan dua alasan:

Pertama: Bahwa perkataan ini merupakan kabar yang disampaikan dari az-Zuhri sebagaimana dalam riwayat Abu Hurairah, dan hukum haditsnya adalah Munqathi' (terputus) tidaklah shahih.[Fathul-Bari (8/75)] Dan seandainya kita katakan hadits ini shahih, maka sesungguhnya maksud dari hadits tersebut adalah perintah untuk meninggalkan doa melaknat kaum-kaum zhalim –saja–, dan bukanlah perintah untuk meninggalkan doa secara keseluruhan.[Al-Umm (8/518), Ibnu Khuzaimah (1/316)]

Hadits riwayat Anas radhiallahu 'anhu yang mengatakan,

مَا زَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ فِي الفَجْرِ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam masih terus membaca doa Qunut hingga beliau meninggal dunia.”[Hadits Riwayat: Ahmad (3/162)]

Namun hadits ini Munkar dan tidak Shahih.

Pendapat Kedua: Bahwa Qunut –baik dalam shalat Subuh ataupun selainnya– hukumnya telah dihapus (mansukh) dan itu merupakan bid'ah. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah [Al-Mabsuth (1/165)] berdasarkan dalil:

Hadits riwayat Abu Malik al-Asyja'i

قُلْتُ لِأَبِي يَا أَبَةِ إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ هَا هُنَا بِالْكُوفَةِ نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ أَكَانُوا يَقْنُتُونَ قَالَ أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ

"Aku bertanya kepada ayahku; wahai ayah, engkau pernah shalat menjadi makmum Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhum di sini, di kufah selama kurang lebih lima tahun. Apakah mereka membaca Qunut di saat shalat Subuh? Ayahku berkata; 'Wahai anakku, itu perkara baru dalam agama." [Hadits Riwayat: At-Tirmidzi (402)]

Namun dalil ini dibantah: Bahwa ayah Abu Malik –yaitu Thariq bin Asy-Syam– tidak banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Ia juga tidak diketahui sebagai orang yang banyak bergaul dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Oleh karena itu tidak heran jika dia tidak mengetahui Qunut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan juga tidak mengetahui banyak hal tentang pembesar sahabat yang mayoritas dari mereka banyak bersama dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. [Lihat contoh-contohnya dalam kitab Mafatih lil-Fiqhi wad-Diin karangan syaikh kami Musthafa Al-Adawi (hal. 82)] Selain itu, ada riwayat tentang doa Qunut dari selain Thariq, artinya dalil riwayat Thariq ini (bahwa Qunut itu tidak ada) terbantah oleh dalil yang diriwayatkan dari selainnya (bahwa Qunut itu disyariatkan).

Penulis berkata: Bahwa doa Qunut bahkan telah dilakukan juga oleh empat Khulafa ar-Rasyidin.

Riwayat Ummu Salamah radhiallahu 'anha :

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَنِ الْقُنُوتِ فِي الْفَجْرِ

“Bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melarang Qunut dalam shalatSubuh.” [Hadits Riwayat: Darul-Quthny (2/38)]

Riwayat Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu

لَمْ يَقْنُتْ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إلَّا شَهْرًا لَمْ يَقْنُتْ قَبْلَهُ وَلاَ بَعْدَهُ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak membaca Qunut kecuali hanya sebulan, tidaklah beliau membaca Qunut sebelum maupun sesudahnya.” [Hadits Riwayat: Thahawy dalam Syarhul-Ma'ani (1/245) ]

Dan terdapat riwayat serupa dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma yang mengatakan:

إِنَّهَا بِدْعَة ٌ, مَا فَعَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- إِلاَّ شَهْرًا ثُمَّ تَرَكَهُ

“Sesungguhnya itu adalah bid'ah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak mengerjakannya kecuali hanya sebulan lalu beliau meninggalkannya”[Hadits Riwayat: Baihaqy (2/213) Sanadnya Dha'if]

Tiga riwayat terakhir ini haditsnya dhaif (lemah), dan tidak bisa dijadikan sebagai landasan dalil. Namun terdapat riwayat lain dari Ibnu Umar, bahwa mengatakan,

مَا شَهِدْتُ أَنَّ أَحَدًا فَعَلَهُ

“Aku tidak menyaksikan seorang pun yang melakukan Qunut.” [Hadits Riwayat: Abdurrazaq (4954) Sanadnya Shahih]

Terdapat juga riwayat dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhuma bahwa ia tidak membaca doa Qunut dalam shalat Subuh.[6]

Bahwa doa Qunut yang telah ditinggalkan sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu 'anhuma –yang dipaparkan dalam pendapat pertama– menunjukkan bahwa doa Qunut telah dihapus (mansukh).

Namun pendapat tentang Naskh ini telah dibantah sebelumnya dikarenakan dua alasan,

Mereka (yang berpendapat bahwa Qunut telah mansukh) mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam sebelumnya telah melakukan doa Qunut ketika Subuh dan Maghrib, dan terdapat kesepakatan antara ulama bahwa doa Qunut ketika Maghrib telah dihapus. Dengan demikian, sama halnya doa Qunut ketika Subuh juga telah dihapus.

Namun pendapat ini dibantah: Bahwa pendapat nasakh dalam kedua hal tersebut tidak dapat diterima.

Pendapat Ketiga: Bahwa Qunut tidak dilakukan kecuali ketika terdapat malapetaka atau musibah. Pendapat ini merupakan madzhab Imam Ahmad [Al-Mughni (2/587)] dan sebagian ulama masa akhir darimadzhab Hanafiyah. Landasan mereka adalah, hadits riwayat Anas bin Malik radhiallahu 'anhuma :

أَنَّ النَّبِىَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- كَانَ لاَ يَقْنُتْ إِلاَّ إِذَا دَعَا لِقَوْمٍ أَوْ دَعَا عَلَى قَوْمٍ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak melakukan Qunut kecuali saat mendoakan sebuah kaum agar mereka mendapat kebaikan, atau mendoakan sebuah kaum agar mereka mendapat laknat.” [Hadits Riwayat: Ibnu Huzaimah (620)]

Pendapat Keempat: Bahwa doa Qunut boleh dikerjakan atau ditinggalkan. Yang ini merupakan pendapat al-Tsaury, Ibnu Jarir al-Thabary, Ibnu Hazm dan Ibnu Qayyim.[Tahdzibul-Atsar (1/337)]

Mereka menyatakan, bahwa kumpulan beberapa riwayat mengenai Qunut telah menetapkan, jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kadang melakukannya dan kadang meninggalkannya. Ini sebagai pembelajaran dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada umat beliau, bahwa mereka berhak memilih untuk mengerjakan Qunut atau meninggalkannya.

Ibnu Qayyim juga mengatakan, "Para ulama Ahlul-Hadits memiliki pendapat yang moderat di antara mereka (yakni yang melarang Qunut secara mutlak) dengan yang menyatakan bahwa Qunut disunnahkan ketika adanya musibah atau hal lainnya. Mereka lebih cenderung dengan hadits daripada kedua belah pihak sebelumnya. Karena mereka membaca Qunut sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah membaca Qunut, namun mereka juga meninggalkan Qunut sebagaimana Rasulullah pernah meninggalkannya. Dengan demikian mereka telah mengikuti Rasulullah dalam mengerjakan Qunut maupun meninggalkannya. Mereka mengatakan bahwa mengerjakan Qunut itu Sunnah dan meninggalkannya juga Sunnah. Oleh karena itu mereka tidak mengingkari bagi yang selalu mengerjakan Qunut, tidak pula membencinya atau memandangnya bid'ah sehingga pelakunya telah menyalahi sunnah. Pun demikian mereka tidak mengingkari orang yang membaca Qunut hanya ketika adanya musibah, tidak pula memandang bahwa meninggalkan Qunut itu bid'ah atau mengingkari Sunnah. Akan tetapi mereka menyatakan bahwa orang yang mengerjakan Qunut itu telah berbuat baik, dan yang meninggalkannya juga telah berbuat baik."

Pendapat yang Rajih

Tidak diragukan lagi bahwa melakukan Qunut secara rutin dan berkesinambungan bukanlah ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam namun tidak diragukan juga bahwa Rasulullah telah melaksanakannya. Oleh karena itu, permasalahan Qunut ini berkisar antara Sunnah yang dilakukan ketika adanya musibah saja, atau kembali kepada masing-masing sehingga terserah apakah mau dikerjakan maupun ditinggalkan. Walaupun bagi penulis pribadi, melalui pembacaan beberapa hadits dalam permasalahan Qunut ini, bahwa yang lebih mendekati –keabsahan– adalah pendapat yang mengatakan jika Qunut itu hanya dilakukan ketika adanya musibah atau malapetaka saja.

Hal ini bukan berlandaskan atas hadits yang dijadikan landasan oleh madzhab ketiga, akan tetapi karena dalam hadits-hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melakukan Qunut ketika Subuh, seluruh redaksi dalam hadits tersebut mengandung redaksi doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk suatu kaum agar mereka diberi kebaikan, atau doa kepada suatu kaum agar mereka dilaknat. Hal ini ditegaskan dalam riwayat Umar bin Khattab radhiallahu 'anhuma –tentang Qunut– yang di dalamnya terdapat redaksi:

وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ ، اللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ... اللَّهُمَّ خَالِفْ بَيْنَ كَلِمَتِهِمَ ، وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ ، وَأَنْزِلْ بِهِمْ بَأْسَكَ الَّذِى لاَ تَرُدُّهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

“Tolonglah mereka terhadap musuh-Mu dan musuh mereka. Ya Allah, kutuklah orang-orang kafir dari ahli kitab…Ya Allah, cerai beraikan kesepakatan mereka, guncangkanlah pendirian mereka, dan turunkanlah hukuman-Mu terhadap mereka yang hukuman itu tidak akan terhalang bagi orang-orang yang berdosa…”[Hadits Riwayat: Abdurrazaq (4969), Sanadnya Shahih]

Penulis tekankan di sini, bahwa pendapat ini tidak lantas membid'ahkan orang yang berbedapendapat darinya, tidak juga lantas dilarang menjadi makmum shalat di belakang orang yang berbeda pendapat tersebut. Karena ini tidak lain merupakan ketidak-tahuan AgamaIslam yang kita berlepas-tangan dari pendapat tersebut. Dan alangkah baiknya pendapat Imam Ahmad saat ditanya tentang suatu kaum yang membaca Qunut di Bashrah, bagaimana hukumnya shalat di belakang orang yang membaca doa Qunut? Lalu Imam Ahmad menjawab, "Umat Islam itu shalat di belakang imam yang membaca Qunut maupun tidak"[Dinukil oleh Ibnul-Qayyim dalam kitab As-Shalatu wa Hukmu Tarikiha (hal. 120)]

Kapan Waktu Membaca Doa Qunut?

Qunut –dalam shalat Subuh– adalah setelah ruku'

Sebagaimana ketetapan hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu 'anhum yang telah dibahas sebelumnya, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca doa Qunut setelah bangkit dari ruku'. Ini pendapat Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Ishaq, dan riwayat dari Imam Malik.

Sedangkan yang masyhur, Imam Malik berpendapat bahwa Qunut itu sebelum ruku'. Yang ini didukung oleh ketetapan hadits riwayat sebagian sahabat, seperti Umar dan Ibnu Abbas.

Dengan demikian permasalahan ini tidaklah sempit, walaupun pendapat pertama lebih utama dab tidak diragukan lagi.

Qunut Dalam Shalat Lima Waktu

Telah disyariatkan membaca Qunut dalam seluruh shalat lima waktu jika kaum muslimin tengah mendapat bencana dan malapetaka. Dengan landasan hadits riwayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَالصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ الْأَخِيرَةِ يَدْعُو عَلَيْهِمْ عَلَى حَيٍّ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam membaca Qunut selama sebulan berturut-turut pada shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dun Subuh di akhir tiap-tiap shalat yaitu ketika berkata "Sami’allaahu liman hamidah" pada rakaat terakhir untuk mendoakan agar laknatditimpakan kepada perkampungan Bani Sulaim, kabilah Ri'lin, Dzakwan, dan 'Ushayyah, sedangkan jamaah yang di belakang beliau mengamininya."[Hadits Riwayat: Baihaqy dalam Ma'rifatus-Sunan (2/82)]

Catatan Tambahan Dalam Doa Qunut

Imam mengangkat suaranya ketika doa Qunut. Karena hal tersebut dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam yang dari sinilah akhirnya Anas bin Malik, Abu Hurairah dan Ibnu Abbas dapat meriwayatkan dan menukil doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketia Qunut (karena mereka mendengar doa tersebut).

Makmum yang di belakang imam turut mengamini doa Qunut yang dibaca imam. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma :

وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“dan makmum mengamininya di belakang beliau.”

Ibnu Qudamah menanggapi hal ini dan berkata, "Kita tidak menemukan perbedaan antara ulama di dalam hal tersebut".

Juga dengan landasan Abu Utsman radhiallahu 'anhu :

صَلَّيْتُ خَلْفَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَرَأَ بِمِائَتَى آيَةً مِنَ الْبَقَرَةِ ، وَقَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ ، وَرَفَعَ صَوْتَهُ بِالدُّعَاءِ حَتَّى سُمِعَ مَنْ وَرَاءَ الْحَائِطِ

"Suatu saat aku shalat di belakang Umar bin Khattab radhiallahu 'anhuma dan dia membaca dua ratus ayat dari surat Al-Baqarah, lalu membaca doa Qunut setelah ruku'[2] dan mengangkat kedua tangannya –saat Qunut– hingga terlihat olehku putih ketiaknya, ia juga mengangkat suaranya –saat Qunut– hingga terdengar dari balik dinding.”

Apakah kedua tangan diangkat saat membaca doa Qunut?

Jumhur ulama yang di antarnya adalah Imam Abu Hanifah, Ahmad dan Ishaq, serta salah satu pendapat yang lebih shahih dalam madzhab Syafi'i berpendapat bahwa kedua tangan hendaknya diangkat ketika membaca Qunut. Ibnu Mundzir juga telah menceritakan riwayat dari Umar bin Khattab –dan riwayat ini shahih sebagaimana telah dibahas sebelumnya– dan Ibnu Mas'ud serta dari selain mereka berdua. Pendapat madzhab ini juga diperkuat oleh hadits riwayat Anas bin Malik yang menyatakan,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي صَلاَةِ الغَدَاةِ – رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam –dalam shalat Subuh– mengangkat kedua tangan beliau dan mendoakan agar mereka ditimpakan laknat.”[2]

Sedangkan Imam Malik berkata, bahwa tidak perlu mengangkat kedua tangan di saat Qunut.

Namun pendapat pertama lebih shahih. Wallahu A'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama