Fikroh.com - Sifat mulia yang seyogyanya dimiliki seorang muslim adalah hati-hati dalam segala hal. Tak terkecuali dalam hal ibadah sekalipun. Berhati-hati dalam bertindak akan mendatangkan banyak kebaikan dan manfaat yang bisa dirasakan. Salah satunya ketenangan bathin dan hasil yang memuaskan. 

Rosulullah saw bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

وعن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم : ((التَّأنِّي مِن الله، والعَجَلة مِن الشَّيطان)) حسنه الألبانى فى صحيح الجامع

“Sikap berhati-hati itu dari Allah dan sikap tergesa-gesa itu dari setan." (Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas bin Malik ra.)

Penilaian Terhadap Hadits

Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Silsilatul Ahadits Ash-Shahihah (1795)

Sekilas Penjelasan Hadits

Islam menyerukan agar kita senantiasa bersikap hati-hati dan waspada dalam segala urusan, melakukan pengamatan yang seksama dan pertimbangan yang tepat sebelum memutuskan berbagai perkara penting dalam kehidupan kita, dan melakukan perencanaan yang matang sebelum melaksanakan apa yang menjadi keinginan dan tekad kita. Jangan sampai kita memutuskan perkara atau melakukan suatu hal dengan tergesa-gesa sehingga hasilnya kurang maksimal, bahkan menimbulkan dampak buruk yang sangat fatal. Karenanya, dalam hadits ini Rasulullah saw. menegaskan bahwa sikap hati-hati dan waspada datangnya dari Allah dan sikap tergesa-gesa datangnya dari setan.

Mengapa Sikap Berhati-Hati Disandarkan kepada Allah?

Hal ini berarti bahwa sikap berhati-hati dan waspada datangnya memang dari Allah Ta'ala. Di samping itu, sebagai isyarat bahwa sikap berhati-hati merupakan suatu kebaikan, faktor yang mengantarkannya adalah kebaikan, dan buah yang dihasilkan juga kebaikan. Karena sebagaimana dimaklumi kita hanya boleh menyandarkan kepada Allah hal-hal yang baik dan bukan perkara yang buruk, sebagai etika kita terhadap-Nya.

Faktor-faktor yang mengantarkan pada sikap berhati-hati

Ada dua faktor penting yang mengantarkan kita kepada sikap berhati-hati:

1. Pemahaman yang mendalam

Sikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa hanya bisa diwujudkan oleh orang yang memiliki pemahaman luas tentang syariat. Misalnya, untuk menghilangkan tradisi minum minuman keras dan memakan harta riba, Islam membutuhkan pentahapan sehingga benar-benar berhasil menghilangkannya dari masyarakat muslim. Memiliki pemahaman luas tentang strategi dan taktik musuh-musuh Islam dalam memerangi Islam. Mereka menggunakan aneka cara licik dan terselubung, sehingga kita mesti lebih hati-hati dan waspada penuh. Memiliki pemahaman mendalam terhadap sunnatullah di alam semesta ini, karena tidak ada pencapaian yang besar melainkan harus melalui tahap dan proses yang panjang. Pemahaman terhadap semua ini akan melahirkan sikap hati-hati dan waspada dalam menentukan setiap langkah.

2. Kesabaran yang paripurna

Sikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa bisa diwujudkan oleh orang yang memiliki kesabaran paripurna dalam menghadapi segala masalah. Orang yang tidak bersabar akan bersikap dan bertindak tergesa-gesa sehingga mengakibatkan kerugian, kegagalan dan kebinasaan. Karenanya, Allah memerintahkan Rasul dan para shahabat untuk tetap bersabar dalam menghadapi gangguan kaum musyrik di masa-masa awal perjuangan Islam. Firman-Nya,

”Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik." (Al-Muzzammil: 10)

Buah dan manfaat sikap berhati-hati

Sikap waspada dan hati-Hati dalam mengelola semua urusan akan mendatangkan berbagai manfaat yang besar di antaranya adalah:

1. Meraih kecintaan Allah dan Rasul-Nya

Rasulullah saw. bersabda kepada Asyja' bin Qais, "Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya; yaitu santun dan kehati-hatian.” (HR. Tirmidzi)

2. Meraih kebaikan dalam setiap urusan yang kita laksanakan

Sebab bila kita mengerjakan setiap urusan dengan cermat dan hati-hati, maka kita akan bisa meraih mahfaat yang lebih besar dan menghindarkan diri dari hal-hal yang merugikan dan membahayakan. Rasulullah saw. bersabda, ”Sikap pelan-pelan dan hati-hati dalam segala urusan adalah suatu kebaikan, kecuali dalam beramal untuk akhirat. ” (HR. Abu Dawud)

3. Mewujudkan keselarasan dengan fitrah agama

Sehingga kita bisa lebih maksimal dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama yang mengantarkan kita kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah saw. bersabda,

"Sesungguhnya agama ini mudah, dan tidak ada seorang pun yang bersikap ekstrim terhadapnya melainkan ia akan kalah. Oleh karena itu, amalkanlah agama ini dengan tepat, amalkanlah dengan seimbang, berbahagialah, dan jadikan ibadah di waktu pagi, waktu sore, dan akhir malam sebagai penolongmu." (HR. Bukhari)

Hadits ini mengajarkan bahwa untuk merealisasikan keselarasan dalam menjalankan agama, kita harus melakukannya secara bertahap dan tidak boleh tergesa-gesa, serta mendayagunakan seluruh potensi jiwa, tenaga dan waktu kita untuk merealisasikan keselarasan ini.

4. Meraih kemuliaan, meminimalisir lawan, dan merealisasikan berbagai sifat kebaikan yang diwariskan oleh para nabi.

Rasulullah saw. bersabda,

”Bersikap hati-hati, berhemat, dan berpenampilan yang baik adalah salah satu bagian dari 24 bagian kenabian.” (HR. Thabrani)

Mengapa Sikap Tergesa-Gesa Disandarkan kepada Setan?

Hal ini berarti bahwa sikap tergesa-gesa datangnya memang dari setan. Di samping itu, sebagai isyarat bahwa sikap tergesa-gesa merupakan suatu keburukan, faktor yang menyebabkannya adalah keburukan, dan dampak yang diakibatkannya juga keburukan:

A. Faktor-faktor yang menyebabkan sikap tergesa-gesa

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang bertindak tergesa-gesa serta kurang berhati-thati dan waspada, di antaranya adalah:

1. Dorongan nafsu

Apabila seseorang tidak berusaha mengendalikan nafsunya dengan akal sehat, serta tidak mengekang gejolak syahwatnya dengan takwa kepada Allah, maka ia pasti akan bersikap dan bertindak secara tergesa-gesa. Karena tergesa-gesa adalah tabiat dan sifat dasar manusia. Firman-Nya,

”Manusia diciptakan (bertabiat) tergesa-gesa." (Al-Anbiya': 37)

2. Tabiat waktu

Kita sekarang ini hidup di zaman yang serba cepat dan instan. Rumah yang kemarin baru saja dibangun esok harinya sudah bisa kita tempati. Dua tempat yang berjauhan dan dipisahkan oleh bentangan samudera dan benua bisa ditempuh dalam waktu yang relatif singkat berkat kemajuan teknologi. Semua ini bisa jadi mempengaruhi seseorang untuk bertindak tergesa-gesa dalam memutuskan dan melakukan segala hal.

3. Kejahilan atau kecerdasan emosional yang rendah

Kejahilan seseorang akan mendorongnya bertindak tergesa-gesa dan rendahnya kecerdasan embsional yang dimiliki akan mendorongnya untuk meraih segala hal yang diinginkan dengan segera tanpa memperhitungkan resiko dan akibat buruknya.

4. Ketiadaan agenda yang jelas dan program yang matang

Tanpa agenda yang jelas untuk mendayagunakan potensi yang ada sehingga hidupnya kacau dan tidak tertata rapi. Akibatnya, ia melakukan apa saja yang ingin dilakukannya tanpa memperhitungkan resiko dan dampak negatifnya, dan meraih apa saja yang ingin diraihnya tanpa mempedulikan proses dan tahapan yang semestinya dilewati.

5. Keengganan bercermin kepada orang yang lebih mengerti dan lebih berpengalaman

Seringkali sikap ini menyebabkan seseorang bertindak tergesa-gesa dan kurang berhati-hati dalam segala hal. Karena ia hanya mengandalkan pemikiran dan pertimbangan pribadinya serta tidak mau berkonsultasi kepada para ahli yang berpengalaman dalam melakukan segala hal. Akibatnya, ia bertindak serampangan dan tanpa perhitungan matang karena keterbatasan wawasan dan pengetahuannya mengenai apa yang sedang dihadapinya.

6. Melupakan sunnatullah di alam semesta

Semua peristiwa yang ada di alam semesta ini berjalan melalui tahapan dan proses yang berkesinambungan. 

Ketika ingin mewujudkan sesuatu, maka sudah seharusnya mewujudkan tahapan dan proses yang mengantarkannya. Karena kita tidak bisa mewujudkan sesuatu dengan meninggalkan tahapan dan proses yang mesti dilewatinya. Apabila tergesa-gesa dalam mewujudkan sesuatu tanpa melalui proses dan tahapan yang semestinya, maka seseorang pasti akan mengalami kegagalan dan kekalahan.

Penutup

Jelas sekali bahwa anjuran menjaga diri dari sifat tergesa-gesa sangatlah besar manfaat yang akan kita dapatkan. Serta mendahulukan sikap hati-hati adalah pilihan tepat. Setiap persoalan hanya akan terselesaikan dengan baik jika dilakukan dengan hati-hati dan penuh perhitungan. Berlatih dan belajarlah untuk senantiasa sabar dan hati-hati! 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama