Fikroh.com - Selama hampir sembilan abad sejak penaklukan Persia oleh kaum Muslimin pada masa Khulafaur Rasyidin, wilayah Iran secara umum berada dalam arus utama Ahlus Sunnah. Pada periode berikutnya—di bawah pemerintahan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah—mazhab Sunni tetap menjadi arus dominan dalam kehidupan keagamaan masyarakat Persia.
Memang terdapat kantong-kantong komunitas Syiah di beberapa kota seperti Qom, Kashan, Sabzawar, dan Aveh. Namun secara umum, mayoritas penduduk Iran hingga akhir abad ke-15 M masih berafiliasi kepada mazhab Sunni, baik dalam fikih maupun teologi.
Perubahan besar terjadi ketika Shah Ismail I tampil sebagai kekuatan politik baru pada awal abad ke-16 M.
Latar Belakang dan Kebangkitan Safawiyah
Shah Ismail I (1487–1524) merupakan pendiri Dinasti Safawiyah. Ia berasal dari keluarga tarekat Safawiyah yang berakar pada tradisi sufi di Ardabil (wilayah Azerbaijan). Secara etnis, ia memiliki latar belakang campuran Turki-Azerbaijan dan Kurdi. Gerakan yang dipimpinnya mendapat dukungan militer dari kelompok Qizilbash—pasukan fanatik yang menjadi tulang punggung ekspansi Safawiyah.
Pada tahun 1501–1502 M, Ismail berhasil menaklukkan Tabriz dan memproklamasikan dirinya sebagai shah (raja). Di sinilah keputusan monumental diambil: mazhab Syiah Itsna ‘Asyariyah (Dua Belas Imam) ditetapkan sebagai mazhab resmi negara.
Keputusan ini bukan sekadar kebijakan administratif, melainkan proyek transformasi ideologis berskala nasional.
Pemaksaan Mazhab dan Reaksi Masyarakat
Pada saat penobatannya di Tabriz, sebagian besar penduduk kota tersebut masih bermazhab Sunni. Sumber-sumber sejarah mencatat adanya kekhawatiran di kalangan para amir Qizilbash bahwa masyarakat akan menolak perubahan tersebut.
Namun Shah Ismail tetap melanjutkan kebijakannya. Dalam khutbah resmi di masjid agung Tabriz, unsur-unsur doktrin Syiah diumumkan secara terbuka, termasuk kewajiban menegaskan loyalitas kepada Ali bin Abi Thalib dan berlepas diri dari tiga khalifah sebelumnya.
Bagi sebagian masyarakat Sunni, kebijakan ini merupakan perubahan teologis yang sangat drastis. Dalam sejumlah catatan sejarah—termasuk karya Hasan Beg Rumlu dalam Ahsan at-Tawarikh—disebutkan bahwa penolakan terhadap kebijakan tersebut kerap berujung pada kekerasan.
Gelombang Kekerasan dan Konsolidasi Kekuasaan
Ekspansi Safawiyah diiringi dengan operasi militer ke berbagai wilayah Iran dan sekitarnya. Beberapa sumber sejarah klasik mencatat terjadinya pembantaian di sejumlah kota seperti Shirvan, Yazd, Isfahan, Merv, dan wilayah-wilayah lain yang sebelumnya berada dalam pengaruh Sunni.
Dalam konflik melawan Muhammad Shaybani Khan, misalnya, kemenangan Safawiyah di Merv (1510 M) menjadi simbol supremasi baru kekuasaan Ismail. Setelah itu, proyek “Syiahisasi” negara berlangsung semakin sistematis.
Sejumlah ulama Sunni yang menolak doktrin resmi negara dilaporkan mengalami tekanan, pengasingan, bahkan eksekusi. Dua nama yang sering disebut dalam literatur adalah Qadhi Mir Husain Maybudi dan Amir Ghiyathuddin al-Isfahani.
Transformasi ini bukan hanya bersifat keagamaan, tetapi juga politis. Dengan menjadikan Syiah sebagai identitas negara, Ismail membangun diferensiasi ideologis yang tegas terhadap tetangganya yang berhaluan Sunni, terutama Kesultanan Utsmaniyah.
Peran Ulama Jabal Amil
Karena Iran sebelumnya bukan pusat keilmuan Syiah Dua Belas Imam, Safawiyah menghadapi kekurangan ulama yang kompeten dalam mazhab tersebut. Untuk mengisi kekosongan ini, pemerintah Safawiyah mengundang ulama dari wilayah Jabal Amil (Lebanon selatan), yang saat itu dikenal sebagai pusat studi Syiah.
Para ulama dari kawasan tersebut diberi posisi penting dalam struktur keagamaan dan peradilan negara. Langkah ini mempercepat institusionalisasi mazhab Syiah dalam sistem pendidikan, hukum, dan administrasi Iran.
Sejak saat itu, identitas keagamaan Iran berubah secara permanen.
Konflik dengan Utsmaniyah
Transformasi ideologis Iran di bawah Safawiyah berkontribusi pada meningkatnya ketegangan dengan Selim I dari Dinasti Utsmaniyah. Ketegangan ini memuncak dalam Pertempuran Chaldiran (1514 M), yang menjadi salah satu konflik paling menentukan dalam sejarah kawasan.
Bagi Utsmaniyah, ekspansi Safawiyah tidak hanya dipandang sebagai ancaman politik, tetapi juga ancaman teologis terhadap komunitas Sunni di Anatolia dan Irak.
Perseteruan dua kekuatan besar ini membentuk garis demarkasi geopolitik yang pengaruhnya terasa hingga berabad-abad kemudian.
Evaluasi Historis
Sejumlah sejarawan modern seperti Roger Savory dan Andrew J. Newman melihat kebijakan Shah Ismail sebagai proyek nation-building berbasis agama. Dengan menciptakan identitas Syiah yang khas, Safawiyah berhasil membangun diferensiasi yang kuat dari dunia Sunni di sekitarnya.
Namun proses tersebut, menurut berbagai sumber klasik, tidak berlangsung tanpa kekerasan. Narasi tentang pembantaian dan represi terhadap komunitas Sunni menjadi bagian dari perdebatan historiografi yang panjang—terutama antara sumber-sumber Sunni, Syiah, dan kajian akademik modern.
Yang pasti, era Safawiyah menjadi titik balik sejarah Iran. Sejak abad ke-16, Iran berkembang sebagai pusat utama Syiah Itsna ‘Asyariyah di dunia Islam—sebuah identitas yang bertahan hingga hari ini.
Referensi Utama:
- Ahsan at-Tawarikh — Hasan Beg Rumlu
- Habib as-Siyar — Khwandamir
- Iran under the Safavids — Roger Savory
- The Safavid Empire — Andrew J. Newman
- The Cambridge History of Iran, Vol. 6 — Cambridge University Press
