Fikroh.com - Sultan Mahmud bin Subuktakin al-Ghaznawi, putra penguasa Ghaznah yang terkenal tegas dan visioner, dikenal bukan hanya sebagai penguasa kuat tetapi juga sebagai pejuang gigih dalam menyebarkan dakwah Islam. Dalam catatan sejarah, salah satu gelar yang melekat padanya adalah Penghancur Berhala Terbesar. Julukan ini berakar dari perannya dalam menumpas penyembahan berhala di India, terutama peristiwa besar penghancuran berhala Shiva di Somnath.
Tantangan Dakwah di India
Pada masa itu, sebagian besar masyarakat India tenggelam dalam praktik penyembahan berhala dan kuil-kuil megah yang dianggap pusat spiritual. Setiap kali Sultan Mahmud berhasil menaklukkan suatu negeri, menghancurkan kuil, atau merobohkan berhala, terdengar bisikan dari para penganut Hindu:
“Negeri ini dan berhala-berhalanya telah dimurkai oleh dewa Shiva. Seandainya Shiva ridha, tentu ia akan membinasakan siapa saja yang berani berbuat jahat terhadapnya.”
Ucapan ini semakin meluas di kalangan mereka. Sultan Mahmud kemudian bertanya, “Siapa Shiva itu?”
Dijelaskan kepadanya bahwa Shiva adalah dewa agung kaum Hindu, disebut juga Mahadeva atau “tuhan yang agung”. Mereka meyakini Shiva sebagai pengatur arwah dalam siklus reinkarnasi, pengendali pasang surut laut, dan tempat kembali seluruh roh.
Perjalanan ke Somnath
Mengetahui hal itu, Sultan Mahmud memutuskan untuk berangkat bersama pasukannya menuju Somnath, sebuah kota suci tempat berhala Shiva yang paling masyhur berdiri. Kuil itu bukan sembarang bangunan, melainkan pusat ibadah yang dibiayai oleh wakaf dari 10.000 desa. Di sana melayani:
1.000 pendeta tetap,
300 orang pencukur rambut dan janggut peziarah, serta ratusan penari dan penyanyi yang mempersembahkan tarian suci di sekitarnya.
Kekuatan simbolis kuil ini begitu besar, hingga dianggap sebagai benteng keimanan terakhir kaum Hindu.
Pertempuran di Gerbang Somnath
Mendengar kedatangan pasukan Muslim, ribuan kaum Hindu bersiap mati-matian mempertahankan kuil mereka. Pertempuran sengit pun meletus. Pasukan Sultan Mahmud yang digerakkan semangat jihad menyerbu seperti banjir bandang. Mereka menaiki tangga yang ditegakkan pada tembok kota, menerobos masuk sambil mengumandangkan kalimat tauhid dan takbir.
Orang-orang Hindu terkejut, karena berhala yang mereka agungkan sama sekali tidak menolong mereka. Bahkan sebagian di antara mereka, dalam ketakutan, mendatangi berhala Shiva, menempelkan wajah pada patung batu itu sambil menangis meminta pertolongan. Namun, ia hanyalah benda mati—tak berdaya memberi manfaat maupun mudarat.
Gelombang perlawanan pun runtuh. Korban di pihak Hindu mencapai 50.000 jiwa, sementara pasukan Muslim berhasil merebut Somnath dengan kemenangan besar.
Tawar-menawar Harta dan Keputusan Agung
Menyaksikan kehancuran total, sejumlah pemuka Hindu mengajukan perundingan. Mereka menawarkan emas, permata, dan harta yang nilainya tak terhitung, dengan satu syarat: Sultan Mahmud tidak menghancurkan berhala Shiva.
Sultan Mahmud kemudian bermusyawarah dengan para panglimanya. Sebagian menyarankan menerima tawaran itu, mengingat biaya perang yang telah dikeluarkan sangat besar. Namun, Mahmud memilih beristikharah, berdoa, dan merenung sepanjang malam.
Keesokan paginya, ia mengumumkan keputusannya yang kelak menjadi kalimat abadi:
“Aku telah merenungkan perkara ini. Demi Allah, aku lebih suka jika pada hari kiamat aku dipanggil: ‘Mana Mahmud yang menghancurkan berhala?’ daripada disebut: ‘Mahmud yang meninggalkan berhala demi harta dunia.’”
Dengan keputusan itu, ia memerintahkan penghancuran berhala Shiva. Kepala berhala itu kemudian dipindahkan dan dijadikan ambang pintu Masjid Agung Ghazna—agar setiap Muslim yang masuk untuk shalat menginjaknya dengan kaki, sebagai simbol kebinasaan kesyirikan.
Warisan Sejarah
Peristiwa ini terjadi pada tahun 416 H / 1025 M. Bagi sejarah Islam, tindakan Sultan Mahmud bukanlah sekadar aksi militer, melainkan teladan keteguhan iman. Ia menolak segala bentuk kompromi dengan kebatilan, meski ditukar dengan harta yang melimpah.
Sikapnya menunjukkan prinsip dasar kepemimpinan Islami: dunia bukan tujuan, melainkan sarana untuk menegakkan kebenaran. Mahmud bin Subuktakin meninggalkan jejak sejarah sebagai seorang pemimpin rabbani yang menegakkan tauhid di tanah penuh penyembahan berhala.
Sumber rujukan:
- Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah
- Al-Biruni, Tahqiq ma li al-Hind
- Adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubala’
- Muhammad Suhail Taqqush, Tarikh ad-Dawlah al-Ghaznawiyyah
