Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Pilih Vaksin Covid-19 Yang Mana?

Pilih Vaksin Covid-19 Yang Mana?

Fikroh.com - Seperti bikin rumah, ada beberapa jenis rumah dengan bahan dan cara yang berbeda-beda. Rumah beton, rumah kayu, rumah gedek, dibuat dengan cara berbeda, dan bahan yang juga berbeda-beda. Tujuannya sama, yakni tempat yang layak untuk berteduh. 

Demikian pula dalam hal pembuatan vaksin Covid-19. Di dunia sekarang ada 7 merk vaksin Covid-19 dari farmasi yang berbeda yang memproduksi vaksin Covid-19. Tujuannya semua sama, untuk membuat tubuh manusia menjadi kebal terhadap Covid-19.

Seperti halnya jenis rumah. Rumah beton lebih kokoh tapi lebih mahal, dan belum tentu tahan gempa. Rumah kayu, lebih ringan, tidak sekokoh rumah beton, tapi tahan gempa. Rumah gedek lebih murah, tidak berbahaya bila roboh, namun rentan bila kena puting beliung. 

Vaksin Covid-19 juga demikian. Tergantung dari bahan apa, bagaimana membuatnya, berapa efektifnya, berapa khasiatnya, apakah efek sampingnya, mudahkah menyimpannya, dan seberapa aman. Dua pertimbangan utama vaksin laik dipakai: betul berkhasiat (efficacy) dengan daya pembentukan antibodi tinggi (immunogenicity), dan harus aman. Hanya berkhasiat tapi tidak aman, tidak lulus dipakai. Demikian pula aman saja tapi tidak memberi khasiat, batal diterima.

Vaksin Covid-19 dibuat dari 3 jenis bahan, yakni 1) virus utuh, 2) asam nukleat, dan 3) protein subunit. Yang terbuat dari virus utuh, bukan virus yang masih bugar, melainkan virus Covid-19 yang sudah dilemahkan. Cara melemahkan sehingga sudah tak berdaya untuk menenimbulkan penyakit tapi masih bisa bertumbuh (attenuated), atau dengan merusak bahan genetik virusnya sehingga virusnya lumpuh (inactivated). Vaksin Sinovac tergolong vaksin inactivated.

Keuntungan vaksin inactivated mudah diproduksi, mudah penyimpanan di suhu kulkas, mudah transportasi, dan cepat memberikan reaksi imunnya. Vaksin Biofarma Merah-Putih yang akan diproduksi berikutnya di Indonesia, sejenis dengan vaksin Sinovac. 

Kerugian vaksin inactavated, baru belakangan dinyatakan hanya diperbolehkan kisaran umur 18-59 tahun, tidak aman untuk di atas 60 tahun, tidak boleh untuk kasus mengidap penyakit penyerta atau comorbid selain gangguan imun, dan penyakit darah.

Vaksin jenis kedua, terbuat dari asam nukleat (nucleic acid), yakni DNA (deoxyribonucleic acid), dan RNA (ribonucleic acid). Vaksin Pfizer dan Moderna terbuat dari m-RNA. Cara kerjanya memicu sel imun membentuk protein yang menyerupai protein virus Covid-19 (spike protein) sehingga sistem imun tubuh membacanya sebagai sosok virus Covid-19. Komposisi vaksin terdiri dari m-RNA selain lemak, gula, dan garam. Kandungan ;apisan lemak dalam vaksin ini yang menentukan ketahanan vaksin disimpan. Vaksin Moderna lapisan lemak pembungkus m-RNA-nya lebih stabil sehingga tak perlu disimpan pada suhu minus 70 derajat Celcius seperti vaksin Pfizer. 

Keuntungan vaksin nukleat, efektivitas vaksin lebih darin 95%, aman untuk usia di atas 60 tahun, boleh untuk ibu menyusui, efek samping nihil, hanya nyeri otot, lemas dan demam 1-2 hari. Keluhan ini sama seperti vaksin Sinovac.

Vaksin ketiga terbuat dari DNA, yakni vaksin Johnson & Johnson, Astrazeneca, dan Gamaleya Sputnik V. Jenis vaksin ini belum direstui FDA badan pengawasan obat AS. Keuntungannya perlu sekali suntik saja untuk Sputnik V, sedang vaksin lainnya semua perlu dua kali suntik. Cara pembuatannya perlu teknologi tinggi, dengan teknologi sequencing DNA. Menyisipkan komponen plasmid ke dalam suatu kuman, lalu memindahkan plasmid ke dalam DNA. Virus yang dimanfaatkan untuk pembuatannya berbeda-beda, tentu jenis virus tertentu yang tidak berbahaya hanya dimanfaatkan sebagai pembawa (vector).

Jenis vaksin keempat, protein subunit atau acellular vaccine. Caranya dengan memakai sebagian fragmen protein virus untuk merangsang sistem imun tubuh memproduksi antibodi. Vaksin Novavax tergolong jenis vaksin acellular ini. Keuntungannya bersifat aman oleh karena acellular, boleh untuk usia lanjut. Kerugiannya reaksi imun rendah, tenologi rumit.

Secara keilmuan masing-masing vaksin punya keuntungan dan kerugiannya sendiri. Kalau berbicara paling aman, tentu yang acellular Novavax, sama halnya dengan inactivated Sinovac. Tapi Sinovac dan Biofarma (vaksin Merah-putih) tidak boleh untuk di atas 60 tahun.

Vaksin inactivated sudah teruji puluhan tahun di dunia, sebagaimana vaksin yang selama ini ada di dunia. Biofarma kita sebagai pabrik vaksin sudah sangat mumpuni memproduksi vaksin jenis inactivated, sehingga tidak diragukan keamanannya. Bahwa Sinovac angka efficacy-nya rendah dibanding jenis m-RNA bukan berarti lebih lemah. Angka efficacy Sinovac di Turki dan Meksiko lebih tinggi, karena angka efficacy ditentukan oleh kondisi masyarakatnya, dan seberapa hebat viral attack-nya. Tapi tingkat keamanannya sudah teruji. Sangat teruji. Kerugiannya, tidak boleh untuk di atas 60 tahun. 

Vaksin asam nucleat, m-RNA dan DNA Pfizer dan Moderna, maupun vaksin DNA Johnson & Johnson dan Astrazeneca, yang bisa memengaruhi DNA tubuh inangnya, selain karena memanfaatkan teknologi yang sama sekali baru. Belum erungkap semua kelemahannya. Itu berarti belum teruji di dunia sebaik vaksin virus utuh inactivated Sinovac. 

Maka kalau boleh memilih, vaksin Sinovac untuk umur 18-59 tahun, dan untuk yang di atas 60 tahun memilih Pfizer, Moderna, atau Gamaleya Sputnik V, Johnson & Johnson, atau Astrazeneca. Tapi hanya vaksin acellular Novavax yang sebetulnya paling aman, karena tidak mengandung komponen hidup, efek samping nihil,kecil risiko memicu penyakit, boleh bagi yang ada gangguan imun tubuh, bersifat stabil dibanding vaksin lain, selain boleh untuk kasus pengidap penyakit penyerta atau comorbid.

Status vaksin Novavax buatan Amerika ini sepanjang yang saya baca masih belum selesai tahap uji klinik. Belum jelas pula apa sudah direstui FDA, dan WHO.

Salam sehat,

Oleh: Dr HANDRAWAN NADESUL