Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bacaan Tahiyat Awal Sampai Syahadat atau Shalawat, Simak Penjelasan Ulama 4 Madzhab Ini

Bacaan Tahiyat Awal Sampai Syahadat atau Shalawat, Simak Penjelasan Ulama 4 Madzhab Ini

Fikroh.com - Ikhwah Fillah yang dirahmati oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, permasalahan yang akan kita bahas kali ini adalah salah satu permasalahan khilafiyyah yang tidak ada dalil yang shorih (tegas dan jelas) yang dapat menjadi pemutus diantara perbedaan pendapat yang ada. Maka masing-masing pihak beramal sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan yang ia anggap mendekati kebenaran.

Permasalahan tersebut sebagaimana judul dalam artikel ini adalah batasan dzikir yang diucapkan pada saat orang yang sholat dalam posisi tasyahud awal, misalnya tasyahud pada rokaat kedua sholat Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya dan semisalnya.

Perlu diketahui bahwa para ulama telah bersepakat disyariatkannya susunan zikir berikut ini dalam tasyahaud akhir, yaitu : At-Tahiyyatu, lalu dua kalimat syahadat, lalu sholawat, lalu doa.

Sedangkan untuk tasyahud awal, fîmâ na'lam, maka para ulama sepakat pada susunan : At-Tahiyyatu, lalu dua kalimat syahadat. Adapun, apakah disyariatkan juga sholawat juga pada tasyahud awal, maka berikut pandangan ulama dari berbagai mazhab : 

1. Imam Abu Hanifah (w. 150 H), beliau pernah ditanya oleh muridnya Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (w. 189 H), yang didokumentasikan oleh Imam asy-Syaibani dalam kitabnya yang berjudul al-Ashlu al-Ma’ruuf bil Mabshuuth (1/9-10), dimana Imam asy-Syaibaniy pernah bertanya :

قلت أَرَأَيْت الرجل إِذا قعد فِي الصَّلَاة فِي الثَّانِيَة وَالرَّابِعَة كَيفَ يتَشَهَّد قَالَ يَقُول التَّحِيَّات لله والصلوات والطيبات السَّلَام عَلَيْك أَيهَا النَّبِي وَرَحْمَة الله وَبَرَكَاته السَّلَام علينا وعَلى عباد الله الصَّالِحين أشهد أَن لَا إِلَه إِلَّا الله وَأشْهد أَن مُحَمَّدًا عَبده وَرَسُوله وَلَا يزِيد على هَذَا إِذا قعد فِي الرَّكْعَة الثَّانِيَة شَيْئا وَأما فِي الرَّكْعَة الرَّابِعَة فَإِذا فرغ من هَذَا دَعَا الله عز وَجل وَسَأَلَهُ حَاجته

"aku pernah bertanya (kepada Imam Abu Hanifah) apa pendapat anda kepada seseorang yang duduk (tasyahud) di rokaat kedua dan keempat ketika sholat, bagaimana cara tasyahudnya?

Imam Abu Hanifah menjawab : at-Tahiyyatu lillah…..sampai syahadat,  tidak perlu menambahi bacaan tadi (at-Tahiyyat sampai 2 kalimat syahadat) pada waktu tasyahud di rokaat kedua. Adapun di rokaat 4, setelah selesai at-Tahiyyat…, ia berdoa kepada Allah dan meminta kebutuhannya." -selesai-.

Jadi mazhabnya Abu Hanifah, tasyahud awal tidak disyariatkan tambahan shalawat.

2. Asy-Syaikh Abu Zaid Syihaabuddin al-Malikiy –salah satu ulama madzhab malikiyyah- dalam Irsyaadus Saalik ilaa Asroofil Masaalik fii Fiqh Imamil Malik (hal. 16) berkata :

وَالْجُلُوسُ لِلتَّشَهُّدِ، وَلَفْظُهُ: التَّحِيَّاتُ لِلّهِ، الزَّاكِيَاتُ لِلّهِ، الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلّهِ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ له وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَالصَّلاَةُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الَّذِي يُسَلِّمُ

"Duduk pada saat tasyahud dan lafadznya : at-Tahiyyatu lillah….sampai syahadat. Kemudian membaca sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada saat tasyahud yang ada salamnya."

Pentahqiq kitab diatas, yaitu Ibrohiim bin Hasaan menjelaskan perkataan asy-Syaikh :

أي في التشهد الأخير، أما التشهد الأول فليس فيه صلاة على النبي صَلى اللهُ عَليه وَسَلَم

"Yaitu (sholawat diatas) dibaca pada waktu tasyahud akhir, adapun tasyahud awal, maka tidak dibacakan sholawat Nabi padanya." -selesai-

Jadi dalam mazhab Maliki tidak disyariatkannya tambahan sholawat.

3. Imam Nawawi rahimahullah dalam kitabnya "al-Majmu Syarah al-Muhadzdzab" (III/460-461) menjelaskan masalah ini secara rinci, kata beliau :

"Apakah disyariatkan sholawat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam setelah bacaan tasyahud awal?, 

maka dalam hal ini ada 2 pendapat (Imam Syafi'i) yang masyhur, yaitu : ✓ Pendapat Qadim (lama) Imam Syafi’I mengatakan (tambahan sholawat) tidak disyariatkan, ini juga ditegaskan oleh Abu Hanifah, Ahmad, Ishaq, riwayat dari ‘Athoo`, asy-Sya’biy, an-Nakho’iy dan ats-Tsauriy. 

✓ pendapat jadîd (baru) beliau dan ini dirajihkan oleh ashab Syafi’iy, mengatakan shalawat disyariatkan.

Dalil untuk keduanya ada dalam kitab (al-Muhadzdzab), ....

Pendapat yang RAJIH bahwa sholawat kepada Nabi itu disunahkan ini ternashkan dalam kitab Al-Umm dan imla dari Imam Syafi’i rahimahullah.

Adapun sholawat kepada keluarga Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada tasyahud awal, maka ada 2 pendapat, yaitu :

✓  yang pertama ditegaskan oleh penulis (Imam Abu Ishaq asy-Syairaziy) dan kebanyakan ulama Irak, tambahan sholawat kepada keluarga Nabi tidak disyariatkan.

✓ yang kedua diriwayatkan oleh ulama Khurosaan bahwa hal tersebut didasarkan kepada wajibnya sholawat kepada keluarga Nabi pada saat tasyahud akhir (maka hal ini disyariatkan pada tasyahud awal)....

Madzhab kami mengatakan dimakruhkannya menambahi tasyahud awal lebih dari bacaan tasyahud dan sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam serta begitu sholawat kepada keluarga Nabi, -bagi yang menyunahkannya-, dengan berdoa atau memperpanjang dzikir padanya. Jika ada yang melakukannya, tidak membatalkan sholatnya dan tidak perlu sujud sahwi, sama saja apakah memanjangkannya tadi karena sengaja atau lupa, demikian penukilan secara global masalah ini yang dilakukan oleh asy-Syaikh Abu Haamid dari nashnya Syafi’I dan disepakati oleh madzhab kami." -selesai-.

Jadi dalam mazhab Syafi'i, susunannya seperti tasyahud akhir minus makruhnya ditambahkan doa padanya.

4. Asy-Syaikh Abu Najaa Musa bin Ahmad al-Hijaawiy –salah satu ulama madzhab hanbali- dalam kitabnya Zaadul Mustaqni’ (hal. 46) berkata :

"Ia mengucapkan : at-Tahiyyatu lillah…sampai 2 kalimat syahadat. Ini adalah tasyahud awal, kemudian ia mengatakan Allahummah sholli ‘alaa Muhammad….

Imam Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin dalam syarahnya terhadap kitab diatas yaitu Syaroh Mumti’ (3/161) menjelaskan :

"Zhohirnya ucapan penulis adalah tidak adanya tambahan pada tasyahud awal sebagaimana yang telah disebutkan, oleh karena itu, maka tidak disunahkan untuk bersholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada waktu tasyahud awal. Apa yang disampaikan oleh penulis telah sesuai dengan zhohirnya hadis, karena Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa salaam tidak mengajari Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu dan juga Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhu, kecuali bacaan tasyahudi ini. Ibnu Mas’ud berkata : “kami mengatakan sebelumnya diwajibkannya tasyahud kepada kami… lalu disebutkan bacaan tasyahud awal saja, tidak disebutkan sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada waktu tasyahud awal, seandainya hal tersebut sunah, niscaya Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam akan mengajarkan sholawat ini dalam tasyahud." -selesai-.

5. Imam Ibnu Hazm rahimahullah sebagai pengusung mazhab Zhahiri menyatakan pendapatnya dalam kitabnya "al-Muhallâ" (III/50) :

وَنَسْتَحِبُّ إذَا أَكْمَلَ التَّشَهُّدَ فِي كِلْتَا الْجِلْسَتَيْنِ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -

"Kami menganjurkan jika selesai membaca zikir tasyahud (at-tahiyyât dan syahadat) pada dua duduk (tasyahud awal dan akhir) untuk bersholawat atas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam." -selesai-.

Beliau rahimahullah juga mewajibkan untuk berdoa memohon perlindungan dari 4 hal yang ma'ruf yaitu : dari azab jahannam, azab kubur, fitnah kehidupan serta kematian, dan fitnah Dajjal,  termasuk juga di tasyahud awal, beliau berkata (II/301) :

وَيَلْزَمُهُ فَرْضٌ " أَنْ يَقُولَ إذَا فَرَغَ مِنْ التَّشَهُّدِ فِي كِلْتَيْ الْجِلْسَتَيْنِ

"Wajib untuk berdoa setelah membaca tasyahud pada saat duduk (di tasyahud awal dan akhir)...lalu beliau menyebutkan lafazh doa yang ma'ruf." -selesai-.

6. Imam al-Albani rahimahullah, sebagai pengusung mazhab ahli hadits kontemporer telah menjelaskan masalah ini, dalam kitab monumentalnya “Sifat Sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam”. Beliau menjelaskannya secara panjang lebar dalam kitab yang dipublikasikan setelah beliau wafat, yang merupakan catatan-catatan yang berfaedah dalam bukunya yang tadi disebutkan yaitu Ashlu Sifat Sholat Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, keterangan beliau dapat dibaca mulai dari juz ke-3 hal. 904-913 (pen. Maktabah al-Ma’aarif, Riyadh cet. Ke-1 2006 M), diawalnya beliau berkata :

"Sebagaimana salam kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam disyariatkan disetiap tasyahud, maka demikian juga disyariatkan sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam setelah bacaan tasyahud, sama saja apakah tasyahud awal ataupun akhir, karena keumuman dalil dan kemutlakkannya, diantaranya Firman Allah Subhanahu wa Ta’alaa : {sesungguhnya Allah dan Malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, maka wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kepadanya dan ucapkan salam kepadanya}. 

Ibnul Qoyyim dalam “Jalaa`ul Afhaam” (hal. 249) berkata : 

"maka ini menunjukkan dimana disyariatkan salam kepada Nabi, maka disyariatkan juga sholawat kepadanya, oleh karenanya para sahabatnya bertanya kepada Beliau Sholallahu ‘alaihi wa salaam tentang tata cara sholawat kepadanya, mereka berkata : “engkau telah mengajarkan kepada kami cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimana kami bersholawat kepada engkau?..maka ini menunjukkan bahwa sholawat kepada Nabi dibarengkan dengan salam kepadanya, dan diketahui bahwa orang yang sholat mengucapkan salam kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam, yaitu dalam tasyahud awal, maka disyariatkan juga sholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada (tasyahud awal juga-pent.) –selesai-.

Kemudian Imam Al Albani menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan mutlaknya bersholawat kepada Nabi Sholallahu ‘alaihi wa salaam pada waktu tasyahud.

Adapun terkait dengan doa pada saat tasyahud awal, maka dalam kitabnya "al-Ashlu" (III/865), beliau berkata :

وظاهر الحديث يدل على مشروعية الدعاء في كل تشهد، ولو كان لا يليه السلام. وهو قول ابن حزم رحمه الله تعالى

"Zhahirnya hadits menunjukkan atas disyariatkannya berdoa pada setiap tasyahud, sekalipun setelahnya belum salam (pada tasyahud awal). Ini adalah pendapatnya Ibnu Hazm rahimahullah." -selesai-.

Oleh: Abu Sa'id Neno Triyono