Surat yang Dibaca Setelah Al-fatihah pada Shalat Lima Waktu, Shalat Jum'at dan Shalat 'Ied

Fikroh.com - Berikut ini kita cantumkan kesimpulan mengenai bacaan Rasalullah SAW setelah al-Fatihah yang disampaikan Ibnu Qayyim. Dia mengungkapkan: Apabila Rasulullah selesai membaca al-Fatihah, beliau membaca surat lainnya, kadang memilih surat yang panjang dan kadang memilih yang pendek karena suatu kepentingan, seperti dalam perjalanan atau sebab lainnya, tatapi biasanya beliau membaca surat yang sedang. 

Bacaan Shalat Fajar 

Pada shalat Subuh, biasanya Nabi SAW membaca kira-kira 60-100 ayat. Adakalanya beliau membaca surat Qaf atau arRum pada rekaat pertama, dan Idza asy Syamsu quwirat atau Idza Zulzilat alA'rdlu pada rekaat kedua. Jika dalam perjalanan beliau sering membaca al Mu’awwadzatain. 

Adakalanya beliau membaca al-Mukminun, hingga ketika menyebut Musa dan Harun atau Isa, beliau mendadak bersin lalu rukuk. Pada hari Jum'at, beliau biasa membaca Alif Lam Tanzil (as-Sajadah) dan Hal Ata ‘Ala al Insani secara penuh. Artinya dibaca semuanya tidak seperti orang sekarang yang mengambil sebagian surat kemudian membaca bagian surat lainnya.

Adapun anggapan kebanyakan orang awam yang menyatakan, bahwa pada shalat Subuh 'hari Jum’at diutamakan melakukan sujud Tilawah adalah kekeliruan besar. Karena itu, sebagian ulama menganggap makruh membaca surat as-Sajadah untuk shalat Subuh kalau untuk maksud tersebut. Kedua surat itu dibaca Nabi, hanyalah karena keduanya mengandung peringatan tentang asal-usul dan tujuan penciptaan manusia, terciptanya Adam, surga, neraka dan lain-lain, termasuk terjadinya hari kiamat.

Oleh sebab itu, Nabi membaca ayat yang Berkaitan dengan apa yang telah dan akan terjadi pada hari itu pada pagi harinya, untuk mengingatkan peristiwa ummat masa lalu, seperti pada hari-hari raya dan shalat Jum'at, beliau membaca surat Qaf, Iqtarabat as-Sa’ah, Sabbihisma Rabbika, dan al-Ghasyiyah.

Bacaan Shalat Dhuhur 

Kadang-kadang bacaan shalat Dhuhur dipanjangkan Nabi SAW, hingga menurut Abu Sa'id: “Apabila ada seseorang pergi ke Baqi', sementara shalat Dhuhur baru dimulai, maka dia akan tetap mendapatkan rekaat pertama ketika dia kembali, jika kebetulan Nabi memanjangkannya." (HR. Muslim) 

Biasanya yang dibaca Nabi itu ayat yang Panjang seperti Alif Lam Tanzil, atau kadang-kadang Sabbihisma Rabbika al A’la, atau Wa al Laili Idza Yakhsya, atau Wa as Samai Dzati al Buruj, dan Wa as Samai wa ath-Thariq. 

Bacaan Shalat Ashar 

Adapun bacaan shalat Ashar adalah setengah dari bacaan shalat Dhuhur yang panjang, atau sama dengan bacaan shalat Dhuhur yang pendek. 

Bacaan Shalat Maghrib 

Bacaan shalat Maghrib banyak berbeda dengan yang sering dibaca para imam sekarang, karena Nabi masih sering membaca surat al-A'raf untuk dua rekaat, kadang-kadang atthhur atau al-Mursalat. 

Hal ini ditunjukkan oleh sebuah riwayat dari Abu 'Umar bin 'Abdul Bir, katanya: Diriwayatkan dari Nabi SAW, bahwa pada shalat Maghrib beliau membaca Alif Lam Mim Shad (al-A'raf), atau ash Shaffat, Ha Mim, ad-Dukhan, Sabbihisma Rabbika al-A'la, Wa at-Tin wazaitun, al-Mu'awwidzatain, al-Mursalat dan beberapa surat yang pendek-pendek; Semuanya itu merupakan berita-berita yang sah dan masyhur.“ 

Adapan riwayat yang menyatakan, bahwa pada shalat Maghrib itu sering membaca surat-surat pendek bukan riwayat dari Nabi, tapi perbuatan Marwan bin Hakam. Itulah sebabnya, Zaid bin Tsabit menyangkal perbuatan Marwan dengan mengatakan: Mengapa pada shalat Maghrib, anda hanya membaca surat-surat yang pendek saja, padahal anda tahu bahwa Rasulullah biasa membaca surat terpanjang antara dua surat panjang. Surat apa itu? tanya Marwan. Surat al-A'raf, jawab Zaid. Hadits di muka adalah sah yang diriwayatkan oleh Ahlu aS-Sunan. Selain itu aanasa'i meriwayatkan dari 'Aisyah bahwa Nabi SAW pada shalat Maghrib membaca surat al-A’raf yang dibagi untuk dua rekaat.

Dengan demikian, terus menerus membaca sesuatu ayat atau hanya surat-surat yang pendek adalah bertentangan dengan sunnah. Karena hal tersebut hanyalah perbuatan Marwan bin Hakam.

Bacaan Shalat Isya'

Pada shalat Isya', atau sering disebut sebagai shalat akhir malam, Nabi SAW biasa membaca Waat-Tini Wa az-Zaitun', tapi sewaktu-waktu beliau juga pernah membolehkan Mu’adz membaca Wa asy Syamsi Wa dhuhaha, Sabbihisma Rabbika al A’la, Wa al Laili Idza Yaghsya dan lain sebagainya.

Nabi juga pernah menegur Mu’adz karena memgaca surat al-Baqarah; Ketika itu, setelah dia shalat bersama Nabi; dia pergi ke wilayah Bani Amir bin Auf dan mengulangi shalatnya di sana sebagai imam dengan membaca surat al-Baqarah. Hal itulah yang membuat Nabi menegurnya dengan mengatakan: Apakah anda hendak membuat fitnah, wahai Muadz? Selanjutnya para kritikus memegang teguh kalimat yang diucapkan Nabi dan tidak memperhatikan situasi sebelum dan sesudahnya. 

Bacaan Shalat Jum’at 

Pada shalat Jum'at, Nabi SAW biasa membaca surat aleumu'ah dan al-Munafiqun atau al-Ghasyiyah sampai selesai, untuk rekaat kedua. Beliau juga terkadang membaca Sabbihisma Rabbika al A'la' dan al-Ghasyiyah. Adapun membaca hanya akhir surat al-Jumu'ah dan al-Munafiqun dengan dimulai dari Ya Ayyuha alladzina Amanu tidak pernah dilakukan Nabi, bahkan bertentangan dengan petunjuk yang biasa dipeliharanya. 

Bacaan Shalat Dua Hari Raya

Pada shalat dua hari raya, Nabi SAW kadang-kadang membaca surat Qaf dan lqtarwbati as Sa'ah secara lengkap, tapi kadang-kadang juga membaca Sabbaha Lillahi dan surat al-Ghasyiyah. Bacaan tersebut merupakan sunnah yang selalu dilakukannya sampai beliau menghadap Allah Azza wa Jalla, dan tidak ada satupun riwayat yang menghapusnya. 

Dan ketentuan untuk membaca surat secara lengkap tersebut dipegang teguh oleh para khalifah setelahnya. Seperti Abu Bakar, pada shalat Subuh, pernah membaca surat al-Baqarah, sehingga baru memberi salam setelah hampir terbit matahari. Lalu para jama'ah berkata: “Ya khalifah Rasulullah, matahari sudah hampir terbit”. Jawabnya: “Walaupun matahari terbit, kita kan tidak bertemu dengannya karena lalai”.

Begitupun 'Umar, pada shalat Subuh, dia pernah membaca surat Yusuf, Annahl, Hud, Bani Israil dan lain lain. Seandainya bacaan Nabi SAW tersebut telah dihapus tentu saja akan diketahui oleh para khalifah sesudahnya dan juga para kritikus.

Nabi SAW tidak akan pernah menyuruh ummatnya melakukan sesuatu lalu beliau menyalahinya. Apa yang dikerjakannya sudah berdasar kepada pertimbangan bahwa di belakannya ada orang tua, orang lemah dan orang yang punya keperluan. Dengan demikian, bacaan yang dibacanya adalah yang paling ringan sesuai dengan perintahnya, karena bisa jadi shalat yang mampu dikerjakan Nabi panjangnya berlipat ganda dibanding dengan yang dikerjakannya bersama jama'ah. Dengan demikian, shalat Nabi tersebut sudah ringan dibanding dengan shalat yang biasa dikerjakannya ketika sendiri. 

Contoh shalat yang dilakukan Nabi tersebut, dapat dijadikan petunjuk dan argumen kuat untuk menyanggah orang-orang yang membantahnya. Hal ini dibuktikan juga oleh riwayat an-Nasa'i dari Ibnu 'Umar, katanya: Bahwasanya Nabi SAW menyuruh kami suapaya meringankan bacaan ketika shalat, dan beliau membaca surat ash-Shaffat ketika menjadi imam bagi kami. Dengan demikian, membaca ash-Shaffat merupakan contoh bacaan ringan yang diperintahkan Nabi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama