Perang Uhud, Peristiwa Besar dalam Sejarah Islam

Fikroh.com - Tinggi nilai sejarahnya, perang Uhud menyisakan banyak pelajaran berharga. Fakta perang uhud tak terelakan dari catatan sejarah islam dulu hingga sekarang.

Infaqnya Kaum Kafir

Kafir Quroisy mengalami kekalahan telak di perang Badar. Sedangkan barang dagangan dari Syam dapat sampai di Mekah.

Abu Sufyan dan rombongannya memberhentikan kafilah dan dagangannya di Darunnadwah sebelum membongkarnya. Itulah kebiasaan mereka. 

Para pemuka Mekah yang keluarganya terbunuh di Badar mendatangi kafilah dagang tersebut dan berkata :

"Sesungguhnya Muhammad telah menganiaya kalian, dan membunuh orang-orang pilihan kalian. Maka bantulah kami dengan harta ini untuk memeranginya dan menuntut balas !"

Abu Sufyan menjawab, "Akulah orang pertama yang menyambut permintaan itu, ambil harta daganganku untuk kalian gunakan..."

Wahsyi

Dia adalah budak milik Jubair bin Muth'im yang berasal dari Habasyah. Sebagaimana orang-orang Habasyah pada umumnya, Wahsyi sangat jago dalam bermain tombak. Dengan tombak pendek Wahsyi jarang sekali meleset dari sasaran jika melemparkan tombaknya.

Jubair berkata kepada Wahsyi :

"Berangkatlah bersama orang-orang. Jika kamu bisa membunuh Hamzah, paman Muhammad, sebagai pembalasan untuk pamanku Thu'aimah bin Adi, maka kamu merdeka. "

Keluarnya Quraisy ke Uhud

Pada hari sabtu, 7 Syawal tahun ke -3 Hijriah, pasukan Quraisy berangkat keluar Mekah untuk menuntut balas atas kekalahan memalukan di Badar. Bergerak menyerang muslimin di Madinah.

Pasukan terdiri dari 3000 personel dengan senjata lengkap. Ada beberapa bangsa Arab yang ikut bergabung dengan pasukan, juga dari bani Kinanah dan penduduk Tihamah. Mereka bawa pula para wanita dan budak-mereka. 

Pemberangkatan ini memakan beaya 50.000 dinar emas. Setara dengan Rp 150 Milyar kurang lebihnya. Ini adalah hasil dari tim propaganda yang terdiri dari Abu izzah amru bin abdullah aljumahi, Amru bin Al ash, Hubairoh Almakhzumi dan ibnu azzaba'ra.

Dedengkot

Sebagai komandan pasukan Quraisy adalah Abu Sufyan didampingi Hindun binti Utbah bin Rabiah.

Komandan yang lain adalah Shafwan bin Umayyah bin Kholaf bersama Barzah binti Masud Atstsaqofiah, Ikrimah bin Abu jahal bersama Ummu Hakim binti Alharits, Alharits bin Hisyam bersama Fatimah binti Alwalid.

Mereka berjalan hingga berhenti di bukit Assabkhah di Qanah dekat kota Madinah.

Mata-mata

Rosululloh SAW ternyata mempunyai mata-mata yang berada di Mekah. Dia adalah Al Abbas bin Abdul Mutholib yang merupakan paman Nabi SAW.

Abbas termasuk orang yang yang dibebaskan dari tawanan perang Badar. Keluarganya telah memeluk islam termasuk budaknya yang bernama Abu Rofi'. 

Abbas segera mengirim surat kepada Nabi SAW mengabarkan informasi penting tentang pergerakan pasukan. Yaitu tentang jumlah, komposisi, persenjataan dan hal penting lain. Surat dikirim ke Madinah dengan cepat, 500 km ditempuh dalam 3 hari. Surat diterima Nabi SAW langsung yang saat itu sedang di masjid Quba.

Umat islam di Mekah menjadi bersemangat karena mereka bisa berkontribusi untuk agama mereka. 

Rosululloh SAW tidak hanya bergantung pada informasi dari Abbas, beliau juga mengirim mata-mata ke pasukan musuh.

Alhabbab bin Almundzir bin Aljamuh berhasil menyusup ke tengah-tengah pasukan kafir Quraisy Mekah. Kemudian datang kepada Nabi SAW dengan informasi lengkap.

Nabi SAW juga mengutus Anas bin Mu'nis memata-matai pasukan Mekah.

Rahasia

Surat dari Abbas dibacakan oleh Ubay bin Kaab kepada Nabi SAW. Beliau menyuruh untuk merahasiakan surat tersebut. 

Lalu Nabi SAW segera kembali ke Madinah bertukar pikiran dengan para komandan Muhajirin dan Anshar menghadapi situasi tersebut.

Salah satu pemimpin Anshar tersebut adalah Saad bin Arrabi'. Setelah Nabi SAW menyampaikan informasi penting tersebut beliau meminta untuk merahasiakan dahulu dari banyak orang.

Ketika Rosululloh SAW hendak keluar meninggalkan Saad. Istri Saad berkata pada Saad bahwa dia mendengar informasi tersebut. Saad khawatir bahwa informasi penting itu akan tersebar.

Saad menyampaikan kekhawatirannya pada Rosululloh SAW, Beliau bersabda : " Biarkanlah dia..."

Bagi wanita, rahasia adalah yang paling menarik untuk diceritakan. Maka hendaknya berhati-hati dalam menjaga rahasia.

Musyawarah

Nabi SAW bermusyawarah dengan para sahabat tentang langkah apa yang akan diambil menghadapi ancaman serbuan pasukan Quraisy yang sedang menuju Madinah. 

Nabi SAW berpendapat untuk menghadapi pasukan Quraisy di dalam kota Madinah. Abdulloh bin Ubay setuju dengan pendapat Nabi SAW tersebut.

Sedangkan sebagian sahabat berpendapat untuk menyambut pasukan Quraisy dan menghadapinya di luar kota Madinah. 

Yang berpendapat untuk menghadapi di luar kota Madinah terutama adalah mereka yang tidak ikut pada perang Badar. Kaum Anshor juga merasa bertanggung jawab melindungi Nabi SAW sehingga bersemangat untuk berangkat ke luar kota.

Para sahabat bersikukuh untuk keluar kota Madinah, hingga kemudian Nabi SAW masuk ke rumahnya dan memakai baju perangnya. Keadaan itu membuat para sahabat merasa bersalah seolah memaksakan kehendak. Ketika mereka sampaikan hal itu, dan ingin ikut pendapat Nabi SAW, beliau bersabda :

" Tidak pantas bagi seorang Nabi jika telah mencapai baju besi perangnya, untuk menanggalkannya kembali sebelum ia berperang..." 

Berjaga

Keputusan telah bulat, Nabi SAW dan para sahabat akan ke luar kota Madinah menyambut menghadapi pasukan yang menyerang.

Malam-malam sebelum keberangkatan menjadi malam yang penuh kewaspadaan. Para sahabat tidak bisa jauh dari senjatanya. 

Nabi SAW memilih 50 sahabat pemberani ahli pedang untuk menjaga kota Madinah dibawah pimpinan Muhammad bin Maslamah. 

Sedangkan Saad bin Muadz, Usaid bin Hudhair, Saad bin Ubadah dan beberapa sahabat yang lain berjaga di pintu masjid untuk melindungi Nabi SAW.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama