Pecahnya Kerajaan Sulaiman Dan Keruntuhan Kerajaan Israil

Fikroh.com - Sejak nabi Sulaiman AS wafat tahun 923 SM, kerajaan tidak ada pewaris tunggal. Saat itu, 2 putra nabi Sulaiman AS yang bernama Rahbaam dan Yarbaam saling merebut pengaruh kalangan bani israil siapa yang pantas memimpin kerajaan tersebut. Rahbaam disokong keturunan bani israil yaitu keturunan Reuben, Levi, Izacchar, Zebulon, Yusuf AS, Gad, Asyir, Dann, Naftali, Ephraim, serta Manasseh. Sementara Yarbaam disokong oleh keturunan Yahudza, Bunyamin, dan Syam'un.

Pertikaian tersebut akhirnya membuat kerajaan Israil pecah tahun 920 SM. Rahbaam mendirikan kerajaan bernama Israil Utara dengan pusat pemerintahan Nabluz. Sementara Yarbaam diselatan dengan nama Judah dan pusat pemerintahannya di Ursylim (Yerusalem sekarang). Masing-masing kerajaan disokong oleh keturunan yang mendukung.

Selama beberapa tahun, Kedua kerajaan ini tidaklah begitu harmonis. Kadang ada pemberontakan kecil, perang kecil, atau sekedar gertak sambal. Ketika Israil Utara dipimpin oleh Husya bin Ilah (Dalam injil Hosea bin Eliah), kerajaan Israil Utara mulai melemah. Tahun 723 SM, Israil Utara terjadi silang pendapat antara keturunan yang menyokong kerajaan tersebut, terjadi perselisihan bahkan pertengkaran. Hal ini membuat kerajaan Israil Utara makin hari makin runtuh persatuan mereka. Hingga tidak ada lagi arahan atau perintah dari raja yang memimpin untuk didengar.

Melihat melemahnya kerajaan Israil Utara, Kerajaan Assyria yang berada disebelah timur mereka mulai melirik. Mereka bermaksud untuk menguasai kerajaan tersebut. Assyria dibawah pimpinan Maharaja Sargon II memerintahkan prajuritnya untuk mengekspansi wilayah kerajaan Israil Utara. Dan pada tahun 722 SM, kerajaan Israil Utara mendapat serangan dari kerajaan Assyria.

Disinilah awal mula bangsa Bani Israil menjadi pelarian. Sebagian mereka lari ke berbagai macam tempat. Sebagian mengungsi ke wilayah Kerajaan Judah. Tetapi ada sebagian kalangan yang membaca Taurat Musa AS, dikatakan dalam Taurat bahwa Nabi terakhir akan lahir di bumi Thoyyibah (Madinah). Maka sebagian besar juga akhirnya lari ke kota Madinah. Kerajaan Israil Utara habis ditumpas ditangan Maharaja Sargon II. Lalu dibiarkan kosong tak tersisa. Sebagian rakyatnya telah lari ke penjuru tempat.

Tahun berganti tahun, Mesir dibawah pemerintahan Fir'aun Nekho pada tahun 609 SM juga menyiapkan serangan terhadap kerajaan Judah. Dan tahun 608 SM, Fir'aun Nekho melancarkan serangan terhadap Kerajaan Judah. Saat itu, wilayah Israil Utara yang diduduki Assyria mulai menyiapkan pasukan untuk menghadapi kemungkinan Mesir akan meluaskan pencaplokannya ke utara. Benar saja, tak puas dengan wilayah Judah, Mesir bergerak menuju kawasan utara. Disana mereka berperang habis-habisan melawan Kerajaan Assyria. Perang berhasil dimenangkan oleh Mesir, dan Assyria dipaksa mundur kembali. Jadilah wilayah Israil Utara dan Judah dibawah kekuasaan Mesir.

Berikutnya, tahun 605. Babilonia dibawah kekuasaan Nebuchadnezzar menyerang kawasan Israil Utara dan Judah dibawah kekuasaan Mesir. Mesir yang tidak kuat melawan kekuatan Babilonia dipaksa untuk mundur dan kembali. Disinilah titik paling sadis yang dirasakan Bani Israil. Penghancuran total, pembungi hangusan, pengusiran secara paksa, dan juga penindasan keji mereka alami. Mereka diusir dari tanah mereka sendiri. Yang tersisa dari semua hanyalah sebuah tembok ratapan. Kalangan bani israil yang tersisa duduk sambil menatap tembok itu, sembari membaca kitab Taurat.

Sebanyak 300 alim ulama bani israil dibawa ke Babilonia atas dasar perintah raja Nebuchadnezzar tersebut. Termasuk didalamnya ialah Nabi Daniel. Mereka dipaksa untuk merubah isi kitab Taurat dengan tafsiran menggunakan akal manusia. Nabi Daniel menolak, dan beliau dilemparkan kedalam kandang singa. Namun, mukjizat Allah SWT membuat singa tersebut menjadi jinak bahkan mengaung-ngaung dibawah kaki Nabi Daniel sendiri. Inilah awal mula kitab Talmud tercipta. 

539 SM, kerajaan Persia (Iran) dibawah pimpinan raja Cyrus The Great menyerang kawasan Babilonia. Singkatnya, Babilonia runtuh dan sebagian rakyat Babilonia ditawan oleh Kerajaan Persia. Melihat banyaknya penduduk Bani Israil yang dijadikan budak oleh kerajaan Babilonia membuat raja Cyrus The Great memutuskan untuk memulangkan mereka kembali ke tempat asal mereka. Dan akhirnya, sebagian dari kalangan Bani Israil pun balik, sebagian tinggal di iraq. Tapi sebagian besar juga berpindah ke kawasan Persia. Mereka mendirikan satu perkampungan yahudi bernama Khurazan.

Ketika kerajaan mereka sudah mulai pulih, tahun 323 SM Yunani dibawa Raja Alexander The Great menyerang kembali Kerajaan Israil. Yunani tak hanya mengekspansi wilayah Israil, tetapi sampai ke Persia dan Mesir. Singkat cerita, 3 kerajaan ini runtuh dan dijadikan wilayah Yunani. 

Tahun 653 M, dibawah kekhalifahan Umar Bin Khattab RA, mereka berhasil menaklukkan wilayah Israil yang dikuasai oleh Yunani tersebut. Umar Bin Khattab RA membuat kesepakatan dengan Maharaja Yunani yang berkuasa saat itu, agar tempat ibadah mereka tidak dihancurkan. Mengingat, saat Yunani berkuasa mereka mendirikan satu kuil bernama Temonos. Dimana dikuil tersebut terdapat banyak patung sembahan mereka seperti patung jupiter, patung mars, patung hercules dan berbagai macam dewa yunani tersebut.

Manasseh, Salah Satu Keturunan Bani Israil Yang Hilang

Ahli waris keluarga dalam Bani Israil dan kerajaan Israil utara yang menyokong kerajaan ialah anak nabi Yusuf AS bernama Manasseh. Manasseh dan keturunannya tinggal dikawasan kerajaan Israil Utara dan turut serta menjaga wilayah kerajaan tersebut. Ketika kerajaan Israil utara dikuasai oleh Assyria tahun 722 SM, Keturunan Manasseh lari. Satu-satunya keturunan dari kalangan bani israil yang hilang tanpa jejak hanyalah keturunan ini. Tidak ada yang mengetahui pasti dimana keturunan Manasseh lari.

Cuma sedikit catatan Israiliyat mengenai Manasseh. Diklaim, Manasseh lari ke arah tempat Matahari terbit (timur). Berbagai dugaan muncul bahwa Manasseh lari ke wilayah Afganistan, Pakistan, India, Cina, bahkan hingga ke Nusantara. Yahudi Zionis hingga saat ini mencari keberadaan keluarga Manasseh yang hilang.

Alasan Yahudi bukanlah untuk menghantar balik mereka ke negara asal mereka. Tetapi lebih kepada peperangan. Karena, dalam taurat kuno sudah menuliskan bahwa keturunan Manasseh lah yang akan memerangi raja akhir jaman yang kejam (dajja). Keturunan manasseh lah yang akan mengikuti jejak nabi terakhir (Muhammad SAW), keturunan Manasseh lah yang akan merebut kembali Baitul Maqdis dari belenggu kekejaman bangsa lain. Terkhusus bangsa Yahudi Zionis yang sekarang menguasai Palestina.

Wallahua'lam. Tapi itulah dugaan mereka Yahudi Zionist. Maka, dengan berbagai cara mereka menghalangi agar keturunan Manasseh jangan sampai menginjakkan kaki ke tanah Palestina. Berbagai penelitian dilakukan oleh Yahudi untuk mencari tahu keberadaan keluarga Manasseh yang mereka klaim lari lebih dari 2000 tahun lalu. Salah satu proyek mereka bernama The Genom Project yang didirikan di berbagai tempat di dunia (termasuk di singapura) meneliti berbagai DNA manusia untuk mencari tahu jejak keturunan Manasseh sendiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Ilmuwan Inggris bernama Dr. Ralph Olssen mengemukakan hal yang tidak terduga, bahwa DNA bangsa Nusantara memiliki 62,2% DNA Mediterannian kuno (Israil). Penelitian yang dilakukan di Singapura tersebut cukup mencengangkan, bagaimana DNA rumpun bangsa Nusantara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam) berasal dari satu DNA yang sama. Penelitian yang dilakukan secara rawak di singapura tersebut cukup menguatkan bukti dan klaim yahudi, bahwa Manasseh yang mereka cari sekarang bertapak luas di Nusantara. Wallahua'lam hanya Allah sahaja yang tahu perkara tersebut.

Dugaan tersebut dikuatkan oleh seorang dokter Malaysia bernama Zafarinah tentang DNA bangsa nusantara. Dr. Zafarina mengklaim bahwa jejak DNA bangsa nusantara tidaklah ada sangkut paut dengan DNA yunan cina selatan. DNA bangsa nusantara sudah sangat-sangat tua bahkan dikatakan berusia 20.000 tahun. Dan terjadi perubahan genetik sekitaran tahun 500 SM. Mungkin disini bermaksud ialah, percampuran genetik dari bangsa Nusantara dan keturunan Manasseh itu sendiri. Maka tidak heran, Israel langsung mendirikan pangkalan militer di wilayah Singapura. Adakah maksud dari Israel yang mendirikan pangkalan militer di Singapura semata-mata untuk mengawasi Indonesia dan Malaysia serta Brunei? Jawaban yang pasti hanyalah Wallahua'lam, hanya Allah SWT yang lebih mengetahui dimana keturunan Manasseh sekarang.

Sumber : https://bit.iy/2mp7gdC

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama