Fikroh.com - Jika di Jawa gerakan Kaum Muda punya “singa” seperti Tuan A. Hassan, maka di Sumatera mereka punya “harimau” seperti Haji Rasul.

Keduanya membuat relasi Kaum Tua-Kaum Muda di Nusantara menjadi sangat dinamis dan menarik. Hampir seluruh gelanggang perdebatan mengenai isu-isu utama Kaum Tua-Kaum Muda, mereka berdua pasti maju menjadi panglimanya.

Lalu apa jadinya jika “singa” dan “harimau” ini ternyata pernah saling menjajal kepandaian satu sama lain ?

Simak sekelumit perjalanan intelektual Haji Rasul berikut ini.

Syaikh Dr. Haji Abdul Karim Amrullah, atau sering juga dikenal dengan Haji Rasul, lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat pada 10 Februari 1879 M). Ayah dari Buya HAMKA ini adalah seorang ulama Minang beraliran Kaum Muda, yang dikenal teguh pendirian, kuat dalam mempertahankan pendapatnya, serta memiliki keberanian yang mengagumkan. Kisah hidup Beliau telah banyak ditulis, diantaranya oleh putera Beliau sendiri dalam bukunya yang berjudul “Ayahku”.

Salah satu yang dikenang dari Haji Rasul adalah tulisan-tulisan Beliau yang berisi polemik dengan beberapa tokoh dan ajaran yang menurut Beliau telah menyimpang dari garis agama. Namun sayangnya – tidak seperti karya-karya puteranya – karya Haji Rasul agaknya luput mendapat perhatian. Sedikit sekali peninggalan karya Beliau yang masih bisa dinikmati oleh generasi masa kini.

Dari beberapa sumber yang kami miliki tercatat Beliau beberapa kali menulis karya polemik mengenai berbagai masalah agama.

Diantaranya adalah kitab “Izh-ha Asathir al Mudhallin fi Tasyabbuhihim bil Muhtadin” (1907) dan kitab “As Suyuf al Qathi’ah fi ad Da’awiy al Kadzibah” (1907). Kedua kitab ini merupakan bentuk dukungan Haji Rasul terhadap pendirian gurunya – Syaikh Ahmad Khatib al Minangkabawi – ketika mengecam keras ajaran tarekat Naqsyabandiyyah yang dianut oleh Kaum Tua di Minangkabau. Pendirian Syaikh Ahmad Khatib tersebut ditulis dalam kitab yang berjudul “Izh-haru Zaghlil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bi ash Shiddiqin”. 

Kitab Syaikh Ahmad Khatib tersebut kemudian banyak dibantah oleh ulama-ulama Kaum Tua, diantaranya oleh Syaikh Sa’ad Mungka dalam kitabnya berjudul “Irghamu Unifi al Muta’annitin”. Syaikh Ahmad Khatib membalas kitab Syaikh Sa’ad Mungka tersebut dengan menulis kitab “al Ayatul Bayyinat lil Munshifin Izalati Khurafati Ba’dhi al Muta’ashshibin”, namun kemudian dibantah kembali oleh Syaikh Sa’ad Mungka melalui kitabnya berjudul “Tanbihul ‘Awwami ‘ala Taghrirati Ba’dhi al Anam”. 

Haji Rasul membela gurunya dengan menulis kedua kitab di atas. Dalam kitab “Izh-har Asathir”, Haji Rasul menyebut bahwa tarekat tidak berasal dari syara’. Ajaran-ajaran tarekat, seperti rabithah, tawajjuh, larangan makan daging, dan lain-lain, juga tidak pernah diperbuat oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. 

Sedangkan dalam kitab “as Suyuf al Qathi’ah” Haji Rasul membantah habis-habisan Syaikh Sa’ad Mungka, bahkan menyebutnya sebagai “Mu’anid” (Si Pembangkang). Setidaknya ada 36 masalah yang sampaikan oleh Syaikh Sa’ad Mungka yang dibantah oleh Haji Rasul.

Dalam polemik tentang tarekat Naqsyabandiyyah ini, selain kedua kitab di atas, Haji Rasul juga melontarkan kecamannya melalui kitabnya yang disusun dalam bentuk nazham (puisi) yang berjudul “Syamsul Hidayah” (1912). Selain itu, kecaman tersebut dapat juga dijumpai dalam kitab Beliau yang berjudul kitab “Sendi Aman Tiang Selamat” (1922) dan “Pedoman Guru” (1930)

Selanjutnya, dalam polemik tentang melafazhkan niat dalam shalat, Haji Rasul menulis dua kitab : “Dar-ul Mafasid” (1909) dan “al Fawaa-idul ‘Aliyyah” (1912). Dalam “al Fawaa-idul ‘Aliyyah”, Haji Rasul kali ini membantah pendapat gurunya sendiri (Syaikh Ahmad Khatib) yang memandang kesunnahan melafazhkan niat dalam kitabnya yang berjudul “al Khuththah al Mardhiyyah”.

Dalam polemik tentang masalah amalam berdiri dalam pembacaan Maulid, Haji Rasul menulis kitab berjudul “Iqazhun Niyam fi Maa Ubtudi-a min Amril Qiyam” (1912). Dalam kitab ini Haji Rasul menolak pendapat Kaum Tua di Minangkabau yang men-sunnahkan untuk berdiri tegak ketika membaca riwayat kelahiran Nabi Muhammad dalam peringatan Maulid Nabi. 

Terkait dengan polemik di sekitar adat Minangkabau, Haji Rasul menulis kitab berjudul “Pertimbangan Adat Limbago Urang Alam Minangkabau” (1918). Karya ini dimaksudkan untuk membantah buku “Curai Paparan Adat Limbago Alam Minang” karya Datuk Sangguno Dirajo. Haji Rasul membantah dengan cara mengutip pasal demi pasal secara runtut dalam buku “Curai” kemudian membahas dan membantahnya. Gaya penulisan Haji Rasul yang demikian itu berbuntut panjang. Pada tahun 1919, Haji Rasul dan Perguruan Sumatera Thawalib selaku penerbit digugat ke pengadilan oleh Datuk Sangguno Dirajo dengan tuduhan telah mengutip isi buku “Curai” tanpa izin. 

Pengadilan memutuskan untuk mendenda Haji Rasul sebesar 300 Gulden dan Sumatera Thawalib sebesar 400 Gulden serta memerintahkan penarikan atas buku-buku yang telah beredar serta larangan mencetak ulang buku tersebut. Haji Rasul dan Sumatera Thawalib – saat itu diwakili oleh Haji Jalaluddin Thaib – naik banding. Pada 1923 keluar putusan banding yang menetapkan bahwa Sumatera Thawalib tetap didenda 400 Gulden, sedangkan Haji Rasul didenda 100 Gulden karena menghina. Namun pengadilan banding tidak memutuskan penarikan atas buku-buku yang telah beredar serta membolehkan untuk mencetak ulang.

Kitab tentang polemik lainnya adalah kitab berjudul “Pedoman Guru, Pembetulkan Qiblat Faham Keliru” (1930). Dalam karya ini Haji Rasul membela amal organisasi Muhammadiyah dalam 10 macam masalah. Kesepuluh macam masalah tersebut adalah tentang melafazhkan niat, menghadirkan niat, menutup aurat laki-laki, membaca Al Qur’an tanpa memahaminya, menyentuh Al Qur’an tanpa berwudhu, masalah talqin mayat, masalah muka perempuan boleh dibuka (bukan aurat), batal tidaknya puasa karena memasukkan obat melalui qubul atau dubur, tentang qiyas dan ijma’, serta terakhir tentang tidak bermanfaatnya bacaan untuk mayat. Karya ini juga memuat bantahan Haji Rasul terhadap seorang Tuan Guru dari Borneo (Kalimantan) yang berkaitan dengan perkara bid’ah.

Polemik lainnya adalah bantahan Beliau terhadap sekte Ahmadiyah. Dalam hal ini Haji Rasul menulis kitab berjudul “al Qaul ash Shahih” (1926). Paham Ahmadiyah yang telah mulai masuk ke tanah Minangkabau sejak tahun 1930 – an juga telah membuat Haji Rasul bangkit untuk menentangnya, baik secara lisan dalam pengajian-pengajian dan tabligh-tablighnya, maupun dalam tulisan-tulisannya.

Selanjutnya dalam membantah dan membendung praktik nikah muhallil (saat itu dikenal dengan istilah “cina buta”) Haji Rasul menulis karya berjudul “Pembuka Mata (Menerangkan Nikah Bercina Buta)” (1923). Secara umum karya ini menerangkan hukum-hukum syara’ terkait dengan masalah perceraian (thalaq) dan ruju’. Melalui karya ini Haji Rasul berusaha untuk membasmi praktik nikah muhallil dengan pertimbangan bahwa praktik pernikahan semacam itu bertentangan dengan tujuan pernikahan dalam ajaran Islam yang menghendaki agar pernikahan dapat berlangsung seumur hidup.

Polemik selanjutnya adalah tentang penggunaan bahasa Indonesia/Melayu dalam khutbah Jum’at. Dalam hal ini Haji Rasul menulis karya berjudul “al Kawakibud Durriyah” (1940). Dalam karya ini Haji Rasul menyatakan bolehnya berkhutbah Jum’at dengan menggunakan bahasa Indonesia/Melayu bila pendengarnya merupakan orang-orang Indonesia. Karya ini juga merupakan bantahan terhadap pendapat Syaikh Muhammad As’ad al Bugisiy dalam bukunya berjudul “al Barahinul Jaliyyah” yang mengatakan bahwa khutbah Jum’at dengan bahasa Indonesia, walaupun para pendengarnya semuanya orang-orang Indonesia, adalah bid’ah hukumnya.

Polemik selanjutnya adalah ketika Haji Rasul diminta oleh Kolonel Hori dari Kantor Urusan Agama Pemerintah Jepang di Jakarta untuk memberikan pandangannya secara tertulis terhadap isi buku berjudul “Wajah Semangat” yang ditulis oleh seorang ahli kebudayaan Jepang yang bernama S. Ozu. Dalam buku tersebut S. Ozu menerangkan kepercayaan Bangsa Jepang sesuai dengan ajaran agama mereka (Buddha dan Shinto), semangat Bushido serta keyakinan tentang Ameterasu Omikami. 

Haji Rasul saat itu meminta jaminan dari pihak Jepang untuk membolehkannya berterus terang dalam memberikan tanggapannya atas isi buku tersebut ditinjau dari segi Islam. 

Setelah mendapat jaminan yang dimintanya tersebut, Haji Rasul kemudian menulis buku yang berjudul “Hanya Allah” (1943), yang menjelaskan didalamnya perbedaan yang mendasar antara kepercayaan Bangsa Jepang dengan ajaran Islam yang membuat umat Islam tidak mungkin dapat menerima kepercayaan Bangsa Jepang tersebut. 

Setelah buku itu selesai, Haji Rasul menyerahkannya kepada Kolonel Hori. Dan ternyata pihak Jepang cukup menyadari adanya perbedaan-perbedaan itu dan sangat menghargai sifat terus terang dan kejujuran Haji Rasul. Buku yang sangat berani itu sendiri dikemudian hari disalin oleh HAMKA dan menjadikannya sebagai lampiran dari buku “Ayahku”.

Polemik klasik tentang apakah disunnahkan atau tidak qunut dalam shalat subuh, juga menjadi perhatian dari Haji Rasul. Namun yang unik kali ini adalah Haji Rasul lebih condong kepada pendapat Kaum Tua. Beliau menyatakan bahwa qunut dalam shalat subuh adalah sunnah, begitu juga dengan mengeraskan bacaan basmalah sebelum membaca Surah al Fatihah dalam shalat. Pendapat ini dituliskan dalam karya Beliau berjudul “Asy Syir’ah” (1938). Dalam karya ini Haji Rasul mengecam pendirian organisasi Muhammadiyah yang menyatakan bid’ahnya qunut subuh dan mengeraskan basmalah.

Polemik Haji Rasul dengan Muhammadiyah juga pernah terjadi dalam kasus boleh tidaknya seorang wanita berpidato di podium di hadapan laki-laki, juga tentang boleh tidaknya seorang wanita bepergian sendirian tanpa mahram. Muhammadiyah saat itu membolehkannya, sedangkan Haji Rasul melarangnya dengan keras. 

Polemik ini memuncak saat Muhammadiyah mengadakan kongres di Bukittinggi pada tahun 1930. Dalam kongres tersebut Muhammadiyah menyisipkan satu mata acara dimana salah seorang pengurus Aisyiyah akan berpidato di atas podium. Hal tersebut membuat murka Haji Rasul yang juga hadir sebagai tamu undangan spesial.  Beliau mengingkarinya dengan keras. 

KH. Mas Mansur mencoba melobi Haji Rasul, namun gagal. Pertikaian akhirnya berhasil ditengahi oleh Syaikh Muhammad Djamil Djambek. Rencana pengurus Aisyiyah berpidato pun batal. Kisah ini ditulis dengan sangat apik oleh HAMKA dalam buku “Ayahku”.

Setelah peristiwa di Bukittinggi tersebut Haji Rasul kemudian menegaskan pendiriannya dengan menulis buku berjudul “Cermin Terus, Berguna untuk Pengurus, Penglihat Jalan yang Lurus” (1930). Lebih jauh lagi, dalam buku tersebut Haji Rasul mencela kebaya pendek, dan menyebutnya sebagai “pakaian wanita lacur”, karena lebih menonjolkan bentuk dan lekuk-lekuk tubuh wanita, dan ini bertentangan dengan syara’. 

Buku “Cermin Terus” kemudian menuai polemik berkelanjutan. Rangkayo Rasuna Said – seorang pahlawan nasional yang juga merupakan murid Haji Rasul – membantah pendapat Haji Rasul dalam buku “Cermin Terus” tersebut dalam tulisannya yang dimuat di Harian Mustika Yogya yang dipimpin oleh Haji Agus Salim. 

Salah seorang putra Minang yang menetap di Jakarta bernama Nur Sutan Iskandar juga tidak ketinggalan dalam membantah Haji Rasul. Beliau menilai Haji Rasul saat itu sangat dipengaruhi oleh kebiasaan yang berlaku di daerah asalnya sendiri, dimana kaum ibu di sana umumnya memakai baju kurung atau kebaya panjang yang dibuat agak longgar. 

Haji Rasul tidak tinggal diam. Beliau bantah sanggahan-sanggahan tesebut di atas dengan menulis buku berjudul “Pelita Jilid 1” (1930) . Dalam buku ini, sekali lagi dan dengan nada yang lebih keras lagi, Haji Rasul mengecam dan mengharamkan kebaya pendek bagi kaum wanita Islam.

Haji Rasul kemudian melanjutkan dengan menulis buku “Pelita Jilid 2” (1934) untuk membantah sanggahan lain atas buku “Cermin Terus” dari seseorang bernama Kamaluddin Datuk Rajo Pahlawan, seorang guru di kota Padang, yang tidak menyetujui pendapatnya tersebut. 

Kamaluddin membantah Haji Rasul dalam sebuah surat yang panjang dengan nada yang keras. Kamaluddin menyebut bahwa uraian Haji Rasul dalam buku “Cermin Terus” dengan tidak langsung berarti telah menuduh bahwa ajaran Islam hanya memberikan hak yang sangat sedikit kepada kaum wanita. Jika demikian, lalu dimana  bukti bahwa agama Islam memuliakan kaum wanita ? Demikian bantahan dari Kamaluddin. 

Bantahan Kamaluddin ini tentu saja tidak bisa diterima oleh Haji Rasul, yang kemudian bangkit untuk membantah lebih keras lagi dalam buku “Pelita Jilid 2”.

Polemik berlanjut, ketika tulisan Haji Rasul dalam “Pelita Jilid 2” dinilai telah mengandung beberapa kelemahan/kesalahan yang memberikan peluang kepada musuh-musuhnya untuk menyerang balik. Salah satunya adalah uraiannya yang menyebutkan riwayat tentang adanya tujuh orang wanita yang pernah dinikahi oleh Rasulullah, tetapi kemudian diceraikan oleh Beliau. Riwayat tersebut menyebutkan bahwa salah seorang dari mereka itu ada yang berasal dari Bani Ghifar. Ketika Nabi bergaul dengannya setelah aqad nikah dilaksanakan, Nabi melihat warna putih bekas luka pada kulit wanita tersebut. Nabi lalu menyuruh wanita tersebut berpakaian kembali dan mengembalikannya kepada orang tuanya. Ini berarti Nabi telah menceraikannya dengan jalan fasakh (pembatalan nikah karena tidak memenuhi persyaratan atau karena adanya cacat).

Uraian Haji Rasul tersebut di atas menuai kontroversi hebat, Haji Rasul dituduh melakukan penghinaan terhadap Nabi, karena riwayat yang dinukil oleh Haji Rasul tersebut menggambarkan Nabi sebagai seorang lelaki yang doyan nikah-cerai dan menyia-nyiakan kaum wanita. Haji Rasul juga dituduh telah menghina kaum wanita pada umumnya. Sebagian kalangan menilai Haji Rasul telah teledor dengan menukilkan riwayat tersebut tanpa melakukan kroscek sanadnya, padahal sanad riwayat tersebut tidak sah.

Polemik mengenai buku “Pelita Jilid 2” ini melibatkan banyak pihak, baik dari kalangan yang mengecam - terutama dari kalangan Kaum Tua – maupun dari pihak yang membela, terutama HAMKA.

Siradjuddin Abbas, tokoh Perti, ikut urun membantah Haji Rasul melalui tulisan-tulisannya di Majalah Soearti pada sekitar tahun 1938. 

Majalah Pandji Islam, yang bercorak aliran Kaum Muda, tidak ketinggalan juga memuat tulisan-tulisan yang berkaitan dengan buku Haji Rasul tersebut. Pada edisi No. 1 tanggal 21 Januari 1939, 

Majalah Pandji Islam memuat laporan rapat yang membahas isi buku Haji Rasul tersebut yang diprakarsai oleh Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau yang diadakan di Surau Inyiek Jambek Bukittinggi pada tanggal 25 Desember 1938 dan dihadiri oleh sekitar 500 orang. Rapat dipimpin secara bergantian oleh Datuk Simarajo dan Datuk Singo Makuto. Keduanya saat itu dipandang sebagai Penghulu Nan Gadang Basa Batuah di Minangkabau. 

Dalam rapat itu, Mahmud Yunus (penulis Kamus dan Tafsir yang terkenal itu) mengemukakan pendapat-pendapatnya yang pada intinya membatalkan semua riwayat yang dikemukakan Haji Rasul dalam buku “Pelita Jilid 2” dengan dalil-dalil dan referensi yang sangat lengkap. Meski begitu, Mahmud Yunus tetap menghormati Haji Rasul sebagai seorang ulama besar. Beliau juga menegaskan bahwa sanggahan-sanggahan yang ditujukan kepada Haji Rasul tidaklah akan mengurangi martabat dan kedudukan Haji Rasul, karena manusia tidak bisa lepas dari kekhilafan. Mahmud Yunus juga menyebut bahwa Haji Rasul sama sekali tidak bermaksud untuk menghina Nabi seperti yang dituduhkan orang-orang kepadanya.

Polemik meluas. 

Di beberapa tempat di Nusantara, seperti di Aceh, Medan, dan Bandung muncul panitia-panitia yang berusaha mengkaji riwayat yang dikemukakan oleh Haji Rasul tersebut dan membahasnya secara ilmiyah dengan menelaah kitab-kitab hadits, fiqih, tafsir, dan sirah. Salah satunya adalah yang digagas oleh Zainal Abidin Ahmad di Medan pada 25 Juni 1938 yang berkesimpulan tidak jauh berbeda dengan kesimpulan Mahmud Yunus.  

Kaum Adat ikut-ikutan mengomporinya, apalagi inilah kesempatan mereka untuk mencurahkan pembalasan mereka terhadap Haji Rasul yang dimasa-masa sebelumnya sering mengecam pendapat-pendapat Kaum Adat.

Haji Rasul sendiri sempat membuat bantahan atas sanggahan-sanggahan yang ditujukan kepada buku “Pelita Jilid 1” dan “Pelita Jilid 2”. Bantahan tersebut Beliau tuangkan dalam buku berjudul “Al Basha-ir” dalam 2 jilid yang ditulis pada sekitar periode tahun 1938 dan 1939. Namun buku inipun mendapat bantahan lagi dari Siradjuddin Abbas dalam tulisannya di Majalah Soearti edisi nomor 21 tahun 1939.

Akhirnya Pemerintah Kolonial Belanda turun tangan. Buku “Pelita Jilid 2” dilarang untuk diedarkan dan dicetak ulang. Namun di kalangan murid-murid Haji Rasul ada rasa lega dan puas karena masalah yang dikemukakan oleh Haji Rasul itu telah dibicarakan dan diteliti secara ilmiyah oleh para ulama, dan bukan hanya menjadi pembahasan simpang siur dalam masyarakat awam. Selain itu, sikap tegar yang ditunjukkan Haji Rasul selama masa-masa sulit tersebut membuat murid-murid Beliau lebih menghormati Beliau daripada sebelumnya.

Satu lagi polemik yang perlu dicatat disini. Kali ini mengenai pendapat Haji Rasul yang melarang kaum wanita untuk ikut shalat ‘id berjamaah di tanah lapang pada saat Hari Raya. Haji Rasul beralasan salah satunya bahwa hadits Ummu ‘Athiyyah yang menjadi dasar kesunnahan kaum perempuan pergi tanah lapang saat shalat hari raya, telah dimansukhkan. 

Dalam polemik ini Haji Rasul menulis artikel yang dimuat dalam rubrik “al Mishbah” yang ada di Majalah Pedoman Islam No. 8 dan No. 9 yang terbit pada bulan Agustus dan September 1940. Pendapat Haji Rasul ini lagi-lagi menimbulkan kontroversi. Muncul bantahan-bantahan terhadapnya. 

Muhammadiyah cabang Kutaraja sempat mengirim surat kepada Haji Rasul mempertanyakan pendapat gharib-nya tersebut. Dalam suratnya tersebut, mereka mengatakan :

“Kami adalah salah satunya yang sampai sekarang masih berpegang teguh dan senantiasa menganjurkan kepada umat akan hadits Ummu ‘Athiyyah yang menyuruh perempuan keluar ke tanah lapang buat melakukan shalat ‘ied atau pergi mendengar khutbah ied.”

Surat dari Muhammadiyah Cabang Kutaraja tersebut dimuat dalam Majalah Pedoman Islam diiringi dengan bantahan singkat terhadap pendapat Haji Rasul dari ahli fiqih papan atas yang berasal dari Aceh, Teungku Muhammad Hasbi ash Shiddieqy. 

Hasbi menulis sebuah artikel pendek berjudul “Hoekoemnja Perempoean Keloear ke Tanah Lapang Boeat Mengerdjakan Sembahjang Hari Raja atau Mendengarkan Choetbah” yang dimuat di Majalah Pedoman Islam pada bulan Ramadhan 1359 H.

Bantahan selanjutnya muncul dari seorang tokoh yang setipe dengan Haji Rasul, sama-sama “petah lidah”-nya, jago berdebat, gemar berpolemik, tajam lisan dan tulisannya, teguh, berani, keras kepala, dan “ngeyel”. Tokoh itu tak lain dan tak bukan adalah Tuan A. Hassan : “Singa Gerakan Kaum Muda di Pulau Jawa”. 

Kali ini Haji Rasul benar-benar mendapat lawan polemik yang seimbang. 

A. Hassan turun tangan membantah pendapat Haji Rasul tersebut melalui tulisan-tulisan Beliau di Majalah Al Lisan yang dipimpin oleh Beliau sendiri. Bantahan A. Hassan tersebut kemudian ikut dibukukan dalam Kitab Soal-Jawab.

Dalam muqaddimah bantahannya tersebut A. Hassan menulis sebagai berikut :

“Seorang shahabat dari Bandung kirimkan kepada saya majalah “Pedoman Islam” No. 8, 9, 10, dan 12 dimana ada tersebut masalah keluarnya perempuan ke tanah lapang untuk shalat hari raya, dan ia minta saya jawab.

Di nomor P.I. (Pedoman Islam-peny) tersebut Yang Terhomat Tuan Dr. H.A. Karim Amrullah, bukan sahaja tidak menyunatkan keluarnya perempuang ke tanah lapang untuk shalat hari raya, malah ia memakruhkan.

Tulisan itu disambut oleh Muhammadiyah Cabang Kutaraja. Mereka ini berpendapat bahwa keluarnya perempuan ke tanah lapang untuk shalat hari raya itu sunnat, karena menurut sunnah. 

Alasan yang menunjukkan itu adalah hadits Ummu ‘Athiyyah. Fihak yang memakruhkan tadi berkata, bahwa hadits Ummu ‘Athiyyah itu sudah mansukh.

Alasan buat mengatakan Mansukh ialah, bahwa shalat hari raya bersama perempuan-perempuan dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam hanya sekali saja pada tahun kedelapan. Sesudah itu, tidak dikerjakan lagi olehnya. Ini berarti hukum itu telah Mansukh.

Pembaca sudah tahu pendirian masing-masing, maka keputusan dari fihak kita, marilah kita ambil dengan membicarakan masalah ini atas jalan Soal Jawab, antara A dan B supaya mudah difahami.”

(selesai dinukil dari Soal Jawab Juz 4)

Selanjutnya A. Hassan menurunkan bantahan secara rinci kepada argumen Haji Rasul dengan metode tanya jawab yang sudah menjadi ciri khasnya dalam berdiskusi.

Haji Rasul ternyata tidak mau kalah ngotot. Beliau menyerang balik A. Hassan melalui buku berjudul “al Ihsan” (1941) yang ditulisnya ketika Beliau berada di pengasingan di Sukabumi, Jawa Barat. Menurut informasi dari HAMKA, buku tersebut belum pernah diterbitkan, alias hilang. 

HAMKA menulis tentang polemik ini dalam bukunya “Ayahku” sebagai berikut :

“Selain dari pertukaran fikiran dan penyelidikan terhadap soal-soal yang demikian, dibantah orang pula pendapat Beliau tentang perempuan tidak boleh turut pergi sembahyang ke tanah lapang. Dua orang ulama yang kuat pula menyelidik, yaitu Tuan A. Hassan dan Teungku Hasbi ash Shiddieqy di Aceh, demikian juga beberapa ulama yang lain, menyatakan pula fikiriannya membantah pendirian atau ijtihad Beliau itu. 

Buat mempertahankan pendiriannya ini Beliau keluarkan bukunya dalam bahasa arab bernama “Al Mishbah”. Tuan A. Hassan menulis pendapatnya membantah pendapat Beliau itu panjang lebar dalam Majalah Al-Lisan. 

Seketika telah pindah ke Sukabumi Beliau tulis pada sebuah buku pembantah Tuan A. Hassan dalam Al-Lisan itu, bernama “Al Ihsan”.

Saya sudah payah mencari buku Al Ihsan itu dalam simpanan Beliau, belum bertemu. Mula Beliau karang diperlihatkannya kepada saya.”

(selesai dinukil dari “Ayahku”)

Polemik-polemik di atas menggambarkan karakter Haji Rasul yang sangat mencolok sebagai seorang ulama yang sangat teguh, gigih, dan mempertahankan pendiriannya meski harus berhadapan dengan kecaman dari banyak orang, sebagaimana juga yang disaksikan sendiri oleh putera Beliau. 

Beliau tak kenal takut untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di masyarakat, meskipun hal tersebut membuat Beliau harus berhadapan dengan guru, murid, keluarga, dan sahabatnya sendiri. Inilah yang membuat Beliau sangat disegani, baik oleh kawan maupun oleh lawan.

Beliau wafat pada 2 Juni 1945 M, di Jakarta, jauh dari tanah tempat lahirnya. 

Semoga Allah merahmati Beliau.

Penulis : Wahyu Indra Wijaya


Referensi :
  • Ayahku, HAMKA
  • Studi tentang Karya Tulis Dr. H. Abdul Karim Amrullah, Drs. Sanusi Latief, dkk.
  • Soal Jawab, A. Hassan, dkk
  • Fiqh Indonesia Penggagas dan Gagasannya, Nourouzzaman Shiddiqi

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama