Fikroh.com - Mungkin kita mengira bahwa sabar dalam setiap keadaan adalah baik dan berpahala. Namun faktanya tidaklah demikian, adakalanya sabar yang justru sia-sia karena bukan pada tempatnya.

Al-Imam Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumâllah dalam kitab shahihnya masing-masing meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada shahabi jalîl Anas bin Malik radhiyallahu anhu :

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ، فَقَالَ : " اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي ". قَالَتْ : إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي، وَلَمْ تَعْرِفْهُ. فَقِيلَ لَهَا : إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ، فَقَالَتْ : لَمْ أَعْرِفْكَ. فَقَالَ : " إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى "

"Nabi shallallahu alaihi wa sallam melewati seorang wanita yang sedang menangis disisi kuburan, maka Nabi berkata kepadanya : "bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah!".

Wanita tadi berkata : "menyingkilah dan menjauhlah kamu, kamu tidak sedang mengalami musibah seperti musibahku", ia tidak tahu (kalau yang berbicara tadi adalah Rasulullah).

Lalu dikatakan kepadanya, bahwa tadi adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Maka ia pun segera mendatangi pintu Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan mendapati tidak ada yang menjaganya, maka ia berkata : "aku tidak tahu (kalau tadi adalah engkau)".

Maka Nabi menanggapi : "sesungguhnya kesabaran itu hanyalah pada saat pertamakali terpukul (dengan musibah)." (Ini lafazh Bukhari).

Kata "الصَّدْم" aslinya adalah untuk pukulan yang mengenai tulang rusuk atau yang semisalnya dengan suatu benda, kemudian kata ini digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak disukai yang menimpanya, sehingga sering kita dapati ungkapan orang-orang yang terkena musibah bahwa ia sedang "terpukul".

Al-'Allâmah bin Baz rahimahullah dalam salah satu fatwanya tatkala menjelaskan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam "sesungguhnya kesabaran itu hanyalah pada saat pertamakali terpukul", yaitu :

الصبر الذي فيه الثواب والأجر هو ما يحصل عند أول المصيبة من موت قريب أو مرض أو مفاجأة بشيء يضر الإنسان يصبر ويحتسب، فلا يجزع، ولا يتكلم بسوء، ولا يفعل ما لا ينبغي عند الصدمة الأولى، فيثاب على ذلك.
أما إذا فعل ما لا ينبغي ثم صبر بعد ذلك فهذا ما ينفع.....هكذا يكون الصبر، بل يتحمل ويسأل ربه التوفيق، ويقول: إنا لله وإنا إليه راجعون، قدر الله وما شاء فعل

"Sabar yang padanya diganjar pahala adalah yang dilakukan pada saat awal mendapatkan musibah dengan kematian kerabat atau sakit atau tiba-tiba mendapatkan sesuatu yang memudhorotkan yang seorang bersabar dan mengharapkan (ganjaran disisi Allah), ia tidak protes (dengan takdir Allah), tidak mengatakan ucapan yang jelek dan tidak melakukan hal-hal yang tidak selayaknya ketika mendapatkan pukulan musibah pertama kali, maka inilah yang dipahalai. Adapun jika ia melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya lalu bersabar setelah itu, maka ini tidak bermanfaat.

Demikianlah kesabaran, ia seharusnya memohon kepada Rabbnya taufik dan mengatakan "sesungguhnya kami semuanya ini milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepadaNya, Allah telah menakdirkan dan apa yang Dia kehendaki terjadi." -selesai-.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam "Fathul Bari" menukil perkataan al-Imam al-Khothobiy dan selainnya rahimahumullah :

أن المرء لا يؤجر على المصيبة؛ لأنها ليست من صنعه، وإنما يؤجر على حسن تثبته وجميل صبره

"Seseorang itu tidak diganjar dengan pahala atas musibah yang menimpanya, karena ini bukan atas kemauannya, hanyalah yang diberikan ganjaran adalah atas bagusnya ia dalam ketegaran dan indahnya ia dalam bersabar." -selesai-.

Penulis: Abu Sa'id Neno Triyono

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama