Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mbah Riyan Kudus: Ulama Berilmu Luas yang Memilih Jalan Sunyi

Mbah Riyan Kudus: Ulama Berilmu Luas yang Memilih Jalan Sunyi


"Semakin dalam ilmu seseorang, semakin kecil keinginannya untuk dikenal. Sebab yang ia cari bukanlah tepuk tangan manusia, melainkan ridha Allah."

Di tengah zaman ketika popularitas sering kali menjadi ukuran keberhasilan, masih ada ulama yang memilih berjalan dalam kesunyian. Namanya mungkin tidak selalu menghiasi layar televisi atau memenuhi ruang-ruang media sosial, tetapi karya dan ilmunya telah menjadi lentera bagi banyak orang. Dialah Mbah Riyan Kudus, atau yang bernama lengkap Ibnu Harjo Al Jawi, seorang ulama asal Kudus yang dikenal produktif dalam berkarya sekaligus teguh menjaga kerendahan hati.

Bagi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, Mbah Riyan bukanlah sosok yang tampil dengan pakaian mewah atau iring-iringan penghormatan. Ia hidup sederhana sebagaimana warga kebanyakan. Bahkan, tidak sedikit yang mengenalnya sebagai pekerja serabutan yang sesekali menjadi kuli bangunan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di waktu senggang, ia menikmati kesunyian dengan memancing, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan yang mengejar pujian dan pengakuan.

Sekilas, tidak ada yang istimewa dari penampilannya. Namun, di balik kesederhanaan itu tersimpan keluasan ilmu yang membuat banyak kalangan akademisi, peneliti, dan ulama menaruh hormat. Mbah Riyan bukan hanya seorang pencinta ilmu, tetapi juga sosok yang produktif melahirkan berbagai karya dan pemikiran yang memberikan manfaat bagi umat. Baginya, ilmu bukanlah alat untuk meninggikan diri, melainkan amanah yang harus disebarkan dengan penuh keikhlasan.

Keilmuan yang dimilikinya tidak pernah dijadikan sarana mencari popularitas. Ia lebih memilih membiarkan karya-karyanya berbicara daripada memperbanyak tampil di hadapan publik. Sikap inilah yang mengingatkan pada teladan para ulama salaf, yang lebih takut kehilangan keikhlasan daripada kehilangan kesempatan untuk dikenal.

Sosok Mbah Riyan kembali menjadi perhatian publik ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) menganugerahinya MUI Awards, sebuah penghargaan yang diberikan kepada tokoh-tokoh yang dinilai memiliki dedikasi dan kontribusi besar bagi umat. Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi atas perjalanan panjang pengabdiannya di dunia keilmuan Islam.

Namun, sebagaimana karakter yang telah melekat dalam dirinya, Mbah Riyan justru memilih untuk tidak hadir di panggung megah tempat penghargaan itu diserahkan. Keputusan tersebut membuat banyak orang tertegun. Di saat banyak orang berlomba mengejar sorotan kamera dan tepuk tangan, ia justru memilih tetap berada di jalan sunyi yang selama ini ditempuhnya.

Pilihan itu bukanlah bentuk penolakan terhadap penghargaan, melainkan cerminan dari cara pandangnya terhadap kemuliaan. Bagi Mbah Riyan, kehormatan sejati tidak selalu harus dirayakan di atas panggung. Pengabdian kepada ilmu dan umat tidak memerlukan gemerlap publikasi agar bernilai di sisi Allah.

Yang lebih mengagumkan, banyak tetangga di lingkungan tempat tinggalnya baru mengetahui bahwa sosok sederhana yang setiap hari mereka jumpai ternyata merupakan seorang ulama dengan reputasi keilmuan yang luas. Ia tidak pernah memperkenalkan dirinya dengan gelar-gelar akademik atau penghargaan yang diterimanya. Kehidupan sehari-harinya tetap berjalan sebagaimana biasa, tanpa sekat antara dirinya dan masyarakat.

Kesederhanaan itulah yang justru memperlihatkan kematangan ilmunya. Dalam tradisi Islam, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula rasa tawaduk yang menghiasi dirinya. Keilmuan tidak melahirkan kesombongan, tetapi menghadirkan kerendahan hati. Bukan semakin ingin dipuji, melainkan semakin takut apabila amalnya tercampuri riya dan kebanggaan diri.

Kisah Mbah Riyan menjadi pengingat bahwa kemuliaan seorang ulama tidak selalu tampak dari penampilan luar ataupun popularitasnya. Ada ulama yang memilih menjadi pelita yang menerangi tanpa ingin menjadi pusat perhatian. Cahaya ilmunya dirasakan banyak orang, sementara dirinya tetap berjalan tenang tanpa mengharap sanjungan.

Di tengah budaya yang sering mengukur kesuksesan dari banyaknya pengikut, panggung, dan pemberitaan, sosok seperti Mbah Riyan menghadirkan pelajaran berharga. Bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa sering namanya disebut, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan. Ilmu yang diamalkan dengan ikhlas akan terus hidup, bahkan ketika pemiliknya memilih bersembunyi dari sorotan dunia.

Mbah Riyan Kudus membuktikan bahwa kebesaran tidak selalu tampil dengan kemegahan. Terkadang, ia hadir dalam sosok yang sederhana, bekerja sebagaimana masyarakat biasa, berbicara seperlunya, tetapi meninggalkan jejak ilmu dan keteladanan yang akan dikenang jauh lebih lama daripada gemerlap sebuah panggung penghargaan.