Mengenal Benjamin Thomas Sigar: Sang Mayor dari Langowan dan Akar Sejarah Keluarga Prabowo Subianto
Fikroh.com - Nama Prabowo Subianto sering kali dikaitkan dengan trah begawan ekonomi Jawa, Soemitro Djojohadikoesoemo. Namun, di balik sosoknya, mengalir pula darah ksatria dari tanah Minahasa melalui ibundanya, Dora Marie Sigar. Jejak ketangguhan ini dapat ditarik hingga ke sosok kakek buyutnya, Benjamin Thomas Sigar, atau yang secara adat dikenal dengan nama Tawalijn Sigar.
1. Sang Penunggang Kuda dari Langowan
Benjamin Thomas Sigar lahir dan dibesarkan di Langowan, sebuah wilayah di pegunungan Minahasa yang dikenal dengan udara sejuk dan tradisi berkudanya yang kuat. Di masa mudanya, ia bukan sekadar pemuda desa biasa; ia adalah bagian dari klan Sigar yang memiliki pengaruh di wilayah tersebut. Kecakapannya dalam menunggang kuda dan memimpin kelompok pemuda menjadikannya figur yang diperhitungkan baik oleh masyarakat adat maupun pemerintah kolonial saat itu.
2. Perang Jawa dan Pasukan Tulungan
Titik balik paling signifikan dalam hidup Benjamin Thomas Sigar terjadi pada tahun 1825-1830, saat pecah Perang Jawa (Perang Diponegoro). Pemerintah Hindia Belanda yang kewalahan menghadapi taktik gerilya Pangeran Diponegoro meminta bantuan dari wilayah-wilayah di luar Jawa, termasuk Minahasa.
Benjamin Thomas Sigar memimpin sepasukan kavaleri yang dikenal sebagai Pasukan Tulungan (pasukan bantuan). Mereka adalah pasukan elit Minahasa yang memiliki keberanian luar biasa di medan perang. Keterlibatan Benjamin dalam perang ini bukan hanya tentang aliansi militer, tetapi juga menunjukkan posisi strategis orang-orang Minahasa dalam struktur keamanan regional pada abad ke-19.
3. Gelar "Majoor" dan Kepemimpinan Adat
Berkat jasa-jasanya di medan perang, Benjamin Thomas Sigar dianugerahi pangkat Majoor (Mayor). Pada masa itu, pangkat "Mayor" bagi orang pribumi adalah pencapaian yang sangat tinggi dan prestisius. Gelar ini tidak hanya bermakna militer, tetapi juga memberikan legitimasi sosial yang besar. Sekembalinya dari Jawa, ia menjadi tokoh sentral di Langowan, berperan sebagai penghubung antara kepentingan masyarakat adat dan administrasi pemerintahan.
4. Garis Keturunan dan Warisan Keluarga
Benjamin Thomas Sigar memiliki peran kunci dalam menetapkan silsilah klan Sigar yang kelak melahirkan tokoh-tokoh besar. Ia adalah ayah dari Philip Laurens Sigar yang kemudian memiliki cucu bernama Dora Marie Sigar.
Dora Marie Sigar menikah dengan Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo, dan dari pernikahan inilah lahir Prabowo Subianto. Dengan demikian, semangat militer dan kepemimpinan yang dimiliki Prabowo dapat dikatakan sebagai warisan turun-temurun dari sang kakek buyut yang telah bertaruh nyawa di medan tempur seabad sebelumnya.
5. Jejak Budaya: Tradisi Pacuan Kuda Langowan
Hingga hari ini, pengaruh Benjamin Thomas Sigar masih terasa di Langowan. Salah satu warisan budaya yang sering dikaitkan dengan kejayaan pasukan berkuda yang dipimpinnya adalah tradisi pacuan kuda di Minahasa. Langowan tetap menjadi pusat peternakan kuda terbaik dan arena pacuan kuda yang ternama di Sulawesi Utara, sebuah monumen hidup bagi keberanian pasukan berkuda Sigar di masa lampau.
Kesimpulan
Mengenal Benjamin Thomas Sigar adalah upaya memahami salah satu kepingan sejarah Nusantara yang kompleks. Ia adalah representasi dari percampuran antara identitas lokal Minahasa dan dinamika sejarah besar Indonesia. Bagi Prabowo Subianto, sosok Benjamin bukan sekadar nama dalam silsilah, melainkan simbol keberanian dan pengabdian yang menjadi akar jati dirinya.
