Anwar Ibrahim Berani Lawan Israel, Bagaimana dengan Prabowo?
Fikroh.com - Di tengah genosida yang terus berlangsung di Gaza—dengan korban jiwa Palestina yang dilaporkan mencapai puluhan ribu—satu pemimpin Muslim Asia Tenggara berani berdiri tegas. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim tak sekadar bicara soal Palestina; ia bertindak. Kebijakan Malaysia yang sudah puluhan tahun melarang masuknya warga negara Israel ditegaskan kembali dengan keras. Investigasi terhadap dugaan dual citizen Israel di Johor, ancaman deportasi, dan penolakan tegas terhadap tekanan Kongres AS menjadikannya “Macan Asia” di mata banyak orang.
Pada 15 Juli 2026, Anwar menyatakan dengan jelas: jika ada warga Israel, mereka akan dideportasi karena Malaysia tidak mengakui negara tersebut. Saat delapan anggota Kongres AS (termasuk Greg Landsman dan lainnya) mengirim surat kepada Menlu Marco Rubio pada 21 Juli, menuduh diskriminasi, menghubung-hubungkan Malaysia dengan Hamas, dan mengancam pemotongan program IMET serta review hubungan bilateral, Anwar tak gentar. Pada 22 Juli di Seremban, ia ulangi: “Kami tidak akan mengizinkan satu pun warga negara Israel menginjakkan kaki di Malaysia.” Kebijakan ini bukan anti-Yahudi, tegasnya, melainkan penolakan terhadap “kekejaman, penindasan, dan pendudukan” Israel atas Palestina.
Ini kepemimpinan yang konsisten dengan kedaulatan. Malaysia tak mengklaim melanggar hukum internasional; ia hanya menjalankan hak imigrasi sebagai negara berdaulat yang secara prinsip menentang pendudukan. Anwar juga cerdas membedakan: hubungan dengan AS dan Trump tetap baik, perbedaan soal Israel tak harus merusak segalanya.
Lalu di mana Prabowo?
Sejak berkuasa, Presiden Prabowo Subianto kerap menyatakan dukungan “tak bisa ditawar” bagi kemerdekaan Palestina, mengirim bantuan kemanusiaan, dan menampung mahasiswa Palestina. Itu positif. Namun, dalam ujian nyata—sikap tegas terhadap Israel—ia terlihat ragu-ragu. Indonesia masih menjalankan perdagangan (meski kecil) dengan Israel, membiarkan warga Israel masuk (termasuk laporan kunjungan ke Bali), dan tak ada kebijakan pembatasan serupa Malaysia.
Lebih parah, pada pertengahan Juli 2026, aktivis Palestina Abdul Karim Miqdad dideportasi ke Siprus atas tuduhan terorisme melalui mekanisme Interpol Red Notice. Pemerintah Indonesia menegaskan ini kasus pidana murni, bukan terkait sikap pro-Palestina. Namun, timing dan persepsi publik memperkuat kesan inkonsistensi: Israel dan sekutunya bebas mondar-mandir, sementara suara pro-Palestina dikawal ketat.
Prabowo memilih jalur pragmatis: good neighbor policy, dukungan dua negara (two-state solution), dan diplomasi luas termasuk potensi peran di rekonstruksi Gaza. Pendekatan ini masuk akal untuk negara besar seperti Indonesia yang punya kepentingan ekonomi dan keamanan lebih luas. Tapi di mata publik Muslim yang marah melihat pembantaian harian di Gaza, sikap ini terasa dingin—hanya “omong-omong” tanpa gigi.
Keberanian versus kalkulasi
Anwar mempertaruhkan tekanan dari Washington demi prinsip. Prabowo, dengan basis dukungan domestik yang kuat dan latar belakang militer, seolah lebih takut mengusik Trump-Netanyahu ketimbang mengecewakan rakyatnya sendiri. Julukan netizen “Meong Lansia” memang kejam, tapi mencerminkan frustrasi: berani garang ke dalam negeri, mengkeret ke luar saat menghadapi kekuatan besar.
Dukungan kepada Palestina tak cukup hanya dengan bantuan kemanusiaan atau pidato di forum internasional. Tanpa sanksi konkret—setidaknya pembatasan perdagangan atau masuknya warga Israel—dukungan itu mudah dianggap performatif. Israel tak akan berhenti mencaplok tanah dan membunuh warga sipil hanya karena Indonesia “prihatin”.
Anwar telah memberi teladan di Asia: seorang pemimpin tak perlu superpower untuk punya nyali. Pertanyaannya kini untuk Prabowo: apakah ia akan memimpin dengan prinsip seperti konstitusi Indonesia yang anti-kolonialisme, atau terus memilih jalan aman yang membuat dukungannya diragukan? Kalau hanya omon-omon, sejarah akan mencatatnya sebagai pemimpin yang vokal tapi penakut di saat genting. Rakyat Indonesia—khususnya umat Muslim—menunggu auman yang sesungguhnya, bukan dengung kucing tua.

Posting Komentar untuk "Anwar Ibrahim Berani Lawan Israel, Bagaimana dengan Prabowo?"