Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asal Usul dan Keutamaan Amalan Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah)

Amalan Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah)

Fikroh.com - Apa itu hari tasyriq? tasyriq artinya menjemur daging. Dahulu, daging-daging hewan qurban yang disembelih diawetkan dengan cara dijemur, dijadikan semacam dendeng pada hari-hari ini. Wallahu a'lam. 

Tanggal Berapakah Hari Tasyrik Itu?

Tentang hari tasyrik ini, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah mengisyaratkan dalam Firman-Nya :

وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ 

“dan sebutlah nama Allah pada ayaam ma’duudaat.” (QS. Al Baqarah : 203).

Imamul Mufassiriin, Abdullah bin Abbas radhiyallahu anhumaa menafsirkan “ayaam Ma’duudaat” dengan “ayaam at-Tasyriik”, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori secara mu’alaq. Kemudian saya mendapatkan sanad yang bersambung penafsiran Ibnu Abbas tersebut, dalam kitab “Tafsir min Sunan Sa’id bin Manshuur” (no. 354 dan 355), kemudian pentahqiq kitab tersebut, yaitu asy-Syaikh DR. Sa’ad bin Abdullah Alu Humaid, melakukan penilaian sanadnya dan beliau menemukan sanad lain yang shahih, sehingga kesimpulannya atsar Ibnu Abbas radhiyallahu anhu diatas shahih.

Al-‘Alamah asy-Syibliy (w.1021), salah seorang ulama hanafiyyah menukil perkataan Imam al-Karmananiy dalam kitabnya “Tabyiinul Haqooiq” (2/34) :

قَالَ الْكَرْمَانِيُّ فِي مَنَاسِكِهِ لَا خِلَافَ بَيْنَ الْعُلَمَاءِ أَنَّ الْأَيَّامَ الْمَعْدُودَاتِ هِيَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ الْحَادِيَ عَشْرَ وَالثَّانِي عَشْرَ وَالثَّالِثَ عَشْرَ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ

“tidak ada perselisihan dikalangan ulama bahwa “ayaam al-Ma’duudaat” adalah “ayaam at-Tasyriiq” yaitu tiga hari pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.” –selesai-.

Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa hari tasyrik adalah tanggal 10, 11 dan 12 Dzulhijjah, Namun pendapat pertama lebih rajih, karena Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membedakan hari ‘idhul adha dah hari tasyriq, sebagaimana dalam hadits ‘Uqbah bin ‘Aamir radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah bersabda :

يَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“hari ‘Arafah, hari penyembelihan (Iedhul Adha), dan hari Tasyriq adalah hari raya umat Islam, yaitu hari makan dan minum.” (HR. Nasa’i, Abu Dawud, dan Tirmidzi, dishahihkan al-Albani).

Perbanyak Berdoa Pada Hari-hari Tasyriq

Al-Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya "Lathaa`if al-Ma'aarif" (hal. 290, Dar Ibnu Hazm) membawakan ayat ke-200 surat Al Baqarah: 

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَٰسِكَكُمْ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ فَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِنْ خَلَٰقٍ  

"Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: 'Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia', dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat." (QS.Al-Baqarah 2: Ayat 200).

Lalu beliau rahimahullah berkata :

وقد استحب كثير من السلف كثرة الدعاء بهذا في أيام التشريق

"Banyak ulama salaf menganjurkan memperbanyak doa berdasarkan ayat ini pada hari-hari Tasyrik."

Dan doanya adalah sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Ikrimah rahimahullah :

كان يستحب أن يقال في أيام التشريق: {رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ} [البقرة: ٢٠١] 

"Dianjurkan berdoa pada hari tasyrik dengan (memperbanyak) mengucapkan :

"rabbanaa aatinaa fiiddunyaa hasanatan wafii-aakhirati hasanatan waqinaa 'adzaabannaar".

("Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka')".

Al-Hafidz Ibnu Rajab juga membawakan atsar Shahabi Jaliil Abu Musa al-Asy'ariy radhiyallahu anhu, kata beliau :

وقد روى زياد الجصاص عن أبي كنانة القرشي أنه سمع أبا موسى الأشعري يقول في خطبته يوم النحر بعد يوم النحر ثلاثة أيام التي ذكر الله الأيام المعدودات لا يرد فيهن الدعاء فارفعوا رغبتكم إلى الله عز وجل.

"Diriwayatkan oleh Ziyaad al-Jashoos, dari Abi Kinaanah al-Qurasyi bahwa ia mendengar Abu Musa al-Asy'ariy radhiyallahu anhu berkata pada waktu khutbah hari raya : "setelah hari penyembelihan adalah tiga hari tasyrik yaitu hari dimana Allah menyebutnya sebagai hari al-Ma'duudaat, yang tidak ditolak doa pada hari-hari tersebut, oleh sebab itu angkatlah harapan kalian kepada Allah Azza wa Jalla."

Asy-Syaikh Usamah bin Su'ud telah melakukan kajian terhadap atsar ini dan beliau memberikan penilaian dhoif, karena ada dua cacat pada sanadnya :

1. Ziyaad Abi Ziyaad al-Jashoosh al-Waasithi, dinilai oleh Al Hafidz Ibnu Hajar dalam "at-Taqriib" sebagai perawi dhoif;

2. Abu Kinaanah al-Qurasyi, dinilai oleh Al Hafidz juga sebagai perawi majhul.

Akan tetapi konteks ayat sesuai dengan pemahaman beberapa ulama salaf, bahwa hari-hari tasyrik disyariatkan untuk berdoa dan salah satu doanya berdasarkan ayat tersebut adalah apa yang sering disebut juga dengan doa sapu jagad. Terlebih lagi dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu beliau berkata :

كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ".

"Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam banyak berdoa dengan doa : "Allahumma rabbanaa aatinaa fiiddunyaa hasanatan wafii-aakhirati hasanatan waqinaa 'adzaabannaar". (Muttafaqun alaih dan ini lafazh Bukhari). Wallahu Ta'aalaa A'lam.

Haramnya Berpuasa Pada Hari Tasyriq

Pada hari tasyriq, menurut sebagian ulama dilarang untuk berpuasa berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunannya :

عَنْ أَبِي مُرَّةَ، مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ، أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَلَى أَبِيهِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، فَقَرَّبَ إِلَيْهِمَا طَعَامًا، فَقَالَ: كُلْ، فَقَالَ: إِنِّي صَائِمٌ، فَقَالَ عَمْرٌو: كُلْ، «فَهَذِهِ الْأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِإِفْطَارِهَا، وَيَنْهَانَا عَنْ صِيَامِهَا»، قَالَ مَالِكٌ: «وَهِيَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ»

“dari Abi Murroh –maula Ummu Hani- bahwa ia pernah berkunjung bersama Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu anhumaa ke rumah bapaknya, yaitu ‘Amr bin Ash radhiyallahu anhu, kemudian dihidangkan makanan untuk mereka berdua, beliau berkata, “makanlah!”, maka Abdullah berkata : “aku lagi puasa”, Amr tetap berkata, “makanlah!”, karena ini adalah hari yang Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam memerintahkan kami berbuka dan melarang kami berpuasa”.

Imam Malik mengatakan : “hari tersebut adalah hari-hari tasyrik”.

(Sanad hadits diatas shahih, dishahihkan oleh Imam al-Albani dan selainnya). 

Imam ibnu Abdil Barr dalam kitabnya “at-Tamhiid” (12/127) berkata terkait hukum puasa hari tasyriik :

وَأَمَّا صِيَامُ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ فَلَا خِلَافَ بَيْنَ فُقَهَاءِ الْأَمْصَارِ فِيمَا عَلِمْتُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ صَوْمُهَا تَطَوُّعًا وَقَدْ رُوِيَ عَنِ الزُّبَيْرِ وَابْنِ عُمَرَ وَالْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ وَأَبِي طَلْحَةَ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُمْ كَانُوا يَصُومُونَ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ تَطَوُّعًا وَفِي أَسَانِيدِ أَخْبَارِهِمْ تِلْكَ ضَعْفٌ وَجُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَأَهْلِ الْحَدِيثِ عَلَى كَرَاهِيَةِ ذَلِكَ

“adapun puasa pada hari tasyrik tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama, sepengetahuanku, bahwa tidak boleh berpuasa sunnah padanya. Telah diriwayatkan dari az-Zubair, Ibnu Umar, al-Aswad bin Yaziid dan Tholhah radhiyallahu anhum yang menunjukkan bahwa mereka berpuasa sunah pada hari tasyriq, namun sanad-sanad atsar mereka adalah dhoif. Mayoritas ulama dari kalangan ahli fiqih dan ahli hadits menghukumi larangan puasa tersebut sebagai makruh saja”.

Imam Nawawi dalam “Syarah Shahih Muslim” (8/17) berkata terkait hukum puasa pada hari tasyrik :

وَفِيهِ دَلِيلٌ لِمَنْ قَالَ لَا يَصِحُّ صَوْمُهَا بِحَالٍ وَهُوَ أَظْهَرُ الْقَوْلَيْنِ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَبِهِ قال أبو حنيفة وبن الْمُنْذِرِ وَغَيْرُهُمَا

“hadits ini dalil bagi ulama yang mengatakan tidak sah sama sekali puasa pada hari tasyriq. Ini adalah pendapat yang paling tepat diantara dua pendapat dalam madzhab Syafi’i. Pendapat ini juga dipegangi oleh Abu Hanifah, ibnul Mundzir dan selain mereka berdua”. Wallahul a’lam.

Oleh: Abu Sa'id Neno Triyono