Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

10 Adab Saat Sakit Berat

10 Adab Saat Sakit Berat

Oleh: Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin).

Fikroh.com - Jika seorang hamba diuji Allah dengan sakit (terutama sakit berat), maka ada beberapa adab yang perlu diperhatikan agar sakit bisa menjadi amal saleh, bahkan menjadi kendaraan cepat mendekat kepada Allah. Adab-adab tersebut adalah,

Pertama, Mengingat Mati

Semua mukmin disunahkah banyak-banyak mengingat kematian, sebab amal ini akan membantu hidup zuhud, memangkas angan-angan yang panjang dan mengikis sifat tamak terhadap dunia. Amal ini juga bisa melembutkan hati, mendorong orang untuk banyak mengingat akhirat, tidak mendramatisasi peristiwa duniawi dan rida dengan segala takdir Allah.

Amal ini juga akan membantu hamba melawan dorongan maksiat dan mendorongnya dengan motivasi yang kuat untuk melakukan ketaatan. Banyak mengingat mati hukumnnya adalah sunah untuk seluruh muslim. Adapun orang yang sakit, maka kesunahan itu lebih dikuatkan. Lebih-lebih jika sakit berat, maka kesunahan mengangat mati menjadi berlipat-lipat. Ibnu Mājah meriwayatkan,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَكْثِرُوا ذِكْرَ ‌هَادِمِ ‌اللَّذَّاتِ» ، يَعْنِي الْمَوْتَ (سنن ابن ماجه» (2/ 1422)

Artinya,“ Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Perbanyaklah mengingat sesuatu yang dapat memutuskan kelezatan, yaitu kematian.” (H.R.Ibnu Mājah)

Dalam riwayat al-Syihāb al-Qaḍā‘ī, banyak mengingat mati disebut Rasulullah ﷺ bisa memperkecil angan-angan terhadap dunia dan memperbanyak amal saleh. Al-Syihāb al-Qaḍā‘ī meriwayatkan,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ، فَإِنَّهُ لَا يَكُونُ فِي كَثِيرٍ إِلَّا ‌قَلَّلَهُ، وَلَا فِي قَلِيلٍ إِلَّا كَثَّرَهُ» مسند الشهاب القضاعي» (1/ 392):

Artinya, “Dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan karena sesungguhnya tidaklah ia ada pada sesuatu yang banyak (yakni angan-angan duniawi) melainkan membuatnya menjadi sedikit dan tidaklah ia ada pada sesuatu yang sedikit (yakni amal ketaatan) melainkan akan membuatnya menjadi banyak.” (H.R. Al-Syihāb al-Qaḍā‘ī )

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa kematian adalah nasihat terhebat bagi seorang hamba. Al-Syihāb al-Qaḍā‘ī meriwayatkan,

عَنْ عَمَّارٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «‌كَفَى ‌بِالْمَوْتِ ‌وَاعِظًا (مسند الشهاب القضاعي» (2/ 302)

Artinya, “Dari ‘Ammār dia berkata, Nabi ﷺ bersabda, ‘Cukuplah kematian sebagai nasehat’.” (H.R. Al-Syihāb al-Qaḍā‘ī )

Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa mengingat kematian adalah tanda seorang hamba yang benar-benar bisa merasa malu terhadap Rabb-nya. Ahmad meriwayatkan,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ: ” اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ الْحَيَاءِ “، قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا نَسْتَحِي، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، قَالَ: ” لَيْسَ ذَلِكَ، وَلَكِنْ مَنِ اسْتَحْيَى مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ، فَلْيَحْفَظِ الرَّأْسَ وَمَا حَوَى، وَلْيَحْفَظِ الْبَطْنَ وَمَا وَعَى، ‌وَلْيَذْكُرِ ‌الْمَوْتَ ‌وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ، تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ، فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَقَّ الْحَيَاءِ» مسند أحمد» (6/ 187 ط الرسالة)

Artinya, "Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Malulah engkau kepada Allah dengan sebenar-benar malu.” Ia berkata: Kami bertanya: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami malu, alhamdulillah. Beliau menjawab: “Bukan demikian, tetapi barang siapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada dalam pikirannya, menjaga perut dan apa yang ditampungnya, hendaklah ia mengingat kematian dan kebinasaan. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa yang melakukan itu semua, ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.” (H.R.Ahmad)

Kedua, Bertaubat

Amal berikutnya yang harus dilakukan orang yang sakit adalah memperbarui taubat dan ini hukumnya wajib. Sebab dia tidak tahu apakah sakitnya itu akan disembuhkan Allah ataukah menjadi perantara kematian. Sebaik-baik bekal seorang hamba sebelum bertemu Allah setelah mati adalah taubat, karena dengan begitu dosanya bisa terhapus sehingga dirinya kembali suci seperti bayi lagi. Ibnu Mājah meriwayatkan,

عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «‌التَّائِبُ ‌مِنَ ‌الذَّنْبِ، ‌كَمَنْ ‌لَا ‌ذَنْبَ ‌لَهُ» سنن ابن ماجه» (2/ 1419

Artinya, "Dari Abu ‘Ubaidah bin Abdullah dari ayahnya dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa, bagaikan seorang yang tidak berdosa.” (H.R.Ibnu Mājah)

Jika setelah bertaubat lalu kalah oleh hawa nafsunya kemudian melakukan dosa lagi, maka wajib bertaubat lagi. Tidak peduli berapa kalipun pengulangan tersebut. Taubat tetap wajib diulang dan seorang hamba tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Al-Ṭabarānī meriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: جَاءَ جُبَيْبُ بْنُ الْحَارِثِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي رَجُلٌ مِقْرَافُ الذُّنُوبِ. قَالَ: «تُبْ إِلَى اللَّهِ يَا جُبَيْبُ » . قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَتُوبُ ثُمَّ أَعُودُ. قَالَ: «فَكُلَّمَا أَذْنَبْتَ فَتُبْ» . قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِذًا يَكْثُرُ ذُنُوبِي. قَالَ: «‌عَفْوُ ‌اللَّهِ ‌أَكْثَرُ ‌مِنْ ‌ذُنُوبِكَ يَا جُبَيْبُ بْنُ الْحَارِثِ» المعجم الأوسط» (5/ 122(

Artinya, "Dari Aisyah ia berkata, ‘Jubaib bin al-Ḥārits datang kepada Rasulullah ﷺ kemudian bertanya, ‘Wahai Rasulullah, aku adalah seorang lelaki yang banyak melakukan dosa’. Rasulullah menjawab, ‘Bertobatlah kepada Allah wahai Jubaib’. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku bertaubat kemudian aku mengulangi lagi’. Rasulullah menjawab, ‘Setiap kali kamu berdosa maka bertobatlah’. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah kalau begitu banyak dosaku’. Rasulullah menjawab, ‘Maaf Allah lebih banyak daripada dosamu wahai Jubaib’.” (H.R.al-Ṭabarānī)

Ketiga, Istiḥlāl

Maksud istiḥlāl adalah meminta maaf atas segala dosa dan kezaliman kepada hamba Allah yang lain baik terkait darah, harta maupun kehormatan. Sebenarnya istiḥlāl adalah bagian dari taubat, yakni taubat dari dosa kepada sesama. Akan tetapi di sini dijadikan poin tersendiri karena demikian urgennya.

Sudah selayaknya orang yang sakit meminta maaf kepada semua orang yang pernah bergaul dengannya, terutama orang-orang dekatnya seperti suami, istri, rekan bisnis, sahabat dan tetangganya.

Hukum istiḥlāl di sini adalah wajib, sebab kezaliman terhadap orang lain bisa membuat orang muflis (bangkrut di akhirat). Hadis Nabi ﷺ menegaskan bahwa di akhirat ada orang beriman yang punya pahala salat, pahala puasa, pahala zakat, dan seterusnya tapi dia menzalimi harta sesama, darah sesama dan kehormatan sesama. Akhirnya kezalimannya itu dibalas di akhirat dengan cara memberikan pahalanya itu kepada orang yang dizaliminya. Jika pahalanya habis, maka dosa orang yang dizaliminya itulah yang dibebankan kepadanya.

Jika seorang hamba sudah berhasil melakukan istiḥlāl sebelum wafat, maka dia bisa wafat dengan tenang dan orang-orang yang dizaliminya juga bisa hidup tenang. Karena itulah berita wafat orang itu dikomentari Nabi ﷺ sebagai kejadian yang membuat mustarīḥ (beristirahat tenang) sekaligus mustarāḥ minhu (para makhluk bisa hidup tenang setelah kematiannya). Al-Bukhārī meriwayatkan,

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِيٍّ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ، فَقَالَ: «مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا ‌المُسْتَرِيحُ ‌وَالمُسْتَرَاحُ مِنْهُ؟ قَالَ: «العَبْدُ المُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ، وَالعَبْدُ الفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ العِبَادُ وَالبِلَادُ، وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ» صحيح البخاري» (8/ 107(

Artinya, "Dari Abu Qatadah bin Rib’i Al Anshari, ia menceritakan bahwasanya pernah ada jenazah yang lewat di depan Rasulullah ﷺ, kemudian beliau bersabda: “Telah tiba gilirannya seorang mendapat kenyamanan atau yang lain menjadi nyaman.” Para sahabat bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa maksud anda ada orang mendapat kenyamanan atau yang lain menjadi nyaman? ‘ Jawab Nabi ﷺ: “Seorang hamba yang mukmin akan memperoleh kenyamanan dari kelelahan dunia dan kesulitan-kesulitannya menuju rahmat Allah, sebaliknya hamba yang jahat, manusia, negara, pepohonan atau hewan menjadi nyaman karena kematiannya.” (H.R.al-Bukhārī)

Keempat, Tabah

Amal besar orang sakit berikutnya adalah tabah. Dalam bahasa Arab, tabah diungkapkan dengan istilah ṣabr (الصبر). Makna ṣabr adalah ḥabsunnafsi ‘anil jaza‘ (menahan diri dari keluh kesah). Jadi, ṣabr itu identik dengan aksi aktif, ketegaran dan keteguhan. Amal seperti ini pahalanya sangat besar sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an. Dia berhak ṣalawāt dari Allah dan rahmat dari-Nya. Kata Abū al-Laits al-Samarqandī, ṣalawāt itu bentuk jamak dari ṣalāt. Jika Allah memberi ṣalāt kepada hamba, maka itu mencakup 3 hal yaitu a) taufīqut ṭā‘ah (bantuan untuk melakukan ketaatan) b) al-zajru ‘anil ma‘ṣiyah (dicegah untuk berbuat maksiat) dan c) al-magfirah (ampunan yang sifatnya menutup dosa dan aib). Ini adalah pahala untuk satu ṣalāt. Sekarang bayangkan berapa banyak ṣalāt yang didapatkan orang yang bisa ṣabr, sebab Allah dalam Al-Qur’an menyebutnya dalam bentuk jamak. Konsepsi jamak dalam bahasa Arab adalah angka 3 sampai tak terbatas! Jadi hanya Allah yang tahu berpa banyak pahala dan kebaikan yang didapatkan orang yang ṣabr. Belum lagi masih ditambah rahmat. Makna rahmat untuk pendosa adalah belas kasih Allah sehingga Allah tidak menghukum hamba padahal semestinya sang hamba sudah layak mendapatkan hukuman.

Jadi, orang sakit sangat didorong untuk tabah/ṣabr. Sedapat mungkin jangan merintih kesakitan, kecuali sudah tidak kuat. Hanya saja, hukum merintih itu sendiri dalam syariat tidak haram dan tidak makruh. Hukumnya mubah. Tetapi menahan diri dari merintih tetap lebih utama. Jika ditanya dokter atau kawan atau pembesuk lalu memberitahu hebatnya rasa sakit yang dideritanya maka ini mubah. Perbuatan itu manusiawi, dan tidak termasuk kejengkelan terhadap takdir Allah. Adapun banyak mengeluh, maka itu makruh.

Kelima, Rida Dengan Takdir

Amal penting orang sakit berikutnya adalah rida terhadap takdir Allah. Jangan sampai kita jengkel,tidak terima apalagi tidak suka dengan takdir Allah atau malah menyalah-nyalahkan Allah karena derita yang kita alami. Allah sangat marah kepada siapapun yang tidak rida dengan takdirnya atau justru malah menyalahkan Allah terkait takdir yang menimpanya. Oleh karena itu dalam hadis dijelaskan bahwa perbuatan niyāḥah itu dihitung kekufuran, karena meratapi kematian orang adalah cerminan tidak rida terhadap takdir Allah.

Orang yang sebelum wafat diberi sakit pada hakikatnya adalah cerminan kasih sayang Allah sebab masih diberi kesempatan bertaubat dan dipaksa dibersihkan dari dosanya dengan cara diberi penderitaan sakit. Beda dengan orang yang dimatikan tiba-tiba. Ini sungguh mengkhawatirkan, apakah Allah rida kepadanya ataukah murka, itu kita tidak tahu. Jadi, seorang hamba ketika diberi sakit hendaknya rida dengan takdir Allah itu, berbaik sangka kepada Allah dan mengambil kesempatan beramal saleh semampunya sebelum ajal menjemput.

Jangan sampai bersedih jika Allah memutuskan untuk mencabut nyawa dengan sakit itu. Sebab keputusan Allah pastilah yang terbaik. Bisa jadi, keputusan dihentikan hidup itu justru untuk menyelamatkan hamba di akhirat sebab kebaikannya sudah cukup untuk membuatnya masuk surga. Justru jika diberi umur tambahan dikhawatirkan dosanya makin banyak dan malah melebihi amal kebaikannya sehingga harus dijebloskan ke dalam neraka. Jadi, bersedih karena kematian termasuk yang dilarang.

Akan tetapi,jika sedih dan takut karena dosa, maka itu tidak mengapa dan justru mudah-mudahan menjadi sebab bisa husnul khatimah selama terus berbaik sangka kepada Allah.

Keenam, Berobat

Amal saleh berikutnya untuk orang sakit adalah berobat. Rasulullah ﷺ memerintahkan berobat dan menegaskan bahwa setiap sakit itu ada obatnya. Ini bermakna kita diperintahkan berikhtiar mencari kesembuhan dan berobat sama sekali tidak bertentangan dengan tawakal. Riwayat seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ apakah untanya tidak usah diikat dan bertawakal saja, lalu Rasulullah ﷺ menjawab, “Ikatlah untamu baru bertawakal“, menunjukkan tawakal itu didahului ikhtiar. Al-Nawawī berkata,

وَيُسْتَحَبُّ التَّدَاوِي لِمَا ذَكَرَهُ الْمُصَنِّفُ مَعَ غَيْرِهِ مِنْ الْأَحَادِيثِ الْمَشْهُورَةِ فِي التَّدَاوِي

Artinya: "Disunahkan untuk berobat berdasarkan apa yang disebutkan oleh pengarang dan juga hadis-hadis masyhur yang lain terkait berobat.” (Abu Zakariyya Yahya bin Syarof An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarhu Al-Muhadzdzab, Dar Al-Fikri, Beirut, tanpa tahun, juz 5 hlm. 105)

Ketujuh, Berwasiat

Amal saleh berikutnya untuk orang sakit adalah berwasiat. Wasiat ini penting karena bisa menjadi perantara pahala terus mengalir dan bisa menjadi sebab ringan hisabnya. Wasiat disyariatkan baik urusan dunia maupun akhirat. Semua wasiat diberikan dalam kerangka menjadi amal saleh.

Contoh wasiat terkait dunia yang bisa menjadi penyebab amal saleh terus mengalir adalah mewasiatkan supaya 1/3 hartanya diwakafkan. Termasuk berwasiat supaya anaknya menjaga salat, banyak mendoakan orang tua dan terus menempuh jlan yang lurus. Contoh wasiat yang bisa meringankan hisab adalah berpesan supaya keluarganya supaya tabah saat ditinggal mati dan jangan meratap atau melakukan perbuatan bid’ah lainnya.

Kedelapan, Menjauhi Pertengkaran Duniawi

Amal penting berikutnya untuk orang sakit adalah menjauhi pertengkaran duniawi. Sudah tidak ada gunanya lagi melibatkan diri dalam pertengkaran duniawi, sebab urusan duniawi itu kebanyakan menyeret pada maksiat, dosa dan permusuhan. Orang yang sakit, apalagi sakit berat, sesungguhnya sudah berada di depan pintu gerbang menuju perjalanan sangat jauh ke akhirat. Jika seperti ini kondisinya, sudah sepantasnya dia memfokuskan perhatian untuk menyiapkan bekal sebaik-baiknya sebelum bertemu Allah. Semua urusan duniawi lebih baik dilepaskan, direlakan, dan dipasrahkan kepada Allah. Waktu, pikiran, dan energinya lebih baik dgunakan untuk banyak mengingat Allah dan mengingat akhirat.

Kesembilan, Menyiapkan Diri dalam Kondisi Terbaik

Orang yang sakit, apalagi sakit parah yang sudah menduga kuat akan wafat, hendaknya memperbaiki akhlaknya. Jika sebelumnya gampang marah-marah, hendaknya mulai bersikap sabar. Jika sebelumnya banyak mengeluh hendaknya mulai belajar qanā‘ah. Jika sebelumnya banyak berburuk sangka, hendaknya mulai belajar berbaik sangka. Intinya membersihkan diri dari segala akhlak tercela dan menghiasi diri dengan ahlak mulia.

Dia hendaknya juga menghiasi diri dengan kalimat ṭayyibah, menjaga lisan selalu basah dengan zikir dan menyibukkan pikiran dengan mengingat Allah. Dia juga dianjurkan untuk banyak mengambil ibrah dari kisah-kisah kematian orang saleh terdahulu.

Disunahkan juga selalu dalam kondisi bersyukur, menjaga salat, menjauhi najis, dan berusaha dalam kondisi terbaik secara fisik seperti memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur kumis, mencukur bulu kemaluan, menyikat gigi, mandi, memakai wangi-wangi, memakai baju suci dan sebagainya.

Kesepuluh, Minta Mati di Negeri Mulia

Orang sakit juga dianjurkan meminta kepada Allah supaya diwafatkan di negeri yang mulia seperti Mekah atau Madinah. Anjuran ini didasarkan pada doa Umar bin al-Khaṭṭāb yang berdoa agar diwafatkan Allah di Madinah. Al-Bukhārī meriwayatkan,

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: «اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي ‌بَلَدِ ‌رَسُولِكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ» صحيح البخاري» (3/ 23)

Artinya, "Dari ‘Umar radliyallahu ‘anhu berkata: Ya Allah berilah aku mati syahid di jalan-Mu, dan jadikanlah kematianku di negeri Rasul-Mu ﷺ .(H.R.al-Bukhārī)

Demikian penjelasan tentang adab seorang muslim jika ditimpa penyakit berat. Semoga kita semua dijauhkan dari penyakit berbahaya dan diberikan kesehatan lahir batin. Aamiin.