Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Nabiyullah Syu’aib Khothibnya Para Nabi?

Nabiyullah Syu’aib Khothibnya Para Nabi?

Fikroh.com - Sebagian ulama salaf menyebutkan bahwa Nabiyullah Syu’aib alaihis salam digelari dengan “Khothiibul Anbiyaa'” (Khotibnya para Nabi), hal ini dikarenakan beliau sangat fasih dan sangat tinggi gaya bahasanya dengan menggunakan balaghah dan ungkapan yang sastrawi tatkala mengajak kepada kaumnya untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'alaa.

Dalam pelajaran nahwu di pasal isim laa yanshorifu,  tatkala menyebutkan salah satu jenis laa yanshorifu adalah ‘alam ajam (nama suku bangsa selain arab), maka dari para Nabi dan Rasul yang namanya “yanshorifu” (bisa ditanwin), hanya 4 Nabi, yaitu Nuh, Hud, Shoolih, Syu’aib dan Nabi kita Sholallahu 'alaihi wa Salaam. Dalam Shahih Ibnu Hibban (no. 361) terdapat hadits berkaitan hal ini :

وَنُوحٌ وَأَرْبَعَةٌ مِنَ الْعَرَبِ: هُودٌ، وَشُعَيْبٌ، وَصَالِحٌ، وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Nuh dan 4 orang dari arab yaitu : Hud, Syu’aib, Sholih dan Nabimu Muhammad Sholallahu 'alaihi wa Salaam”.

Namun hadits diatas sangat lemah sekali, sebagaimana penilaian Imam al-Albani da al-‘Alamah Syu’aib Arnauth, karena didalam sanadnya terdapat seorang perowi yang bernama Ibrahim bin Hisyaam, dinilai pendusta oleh Imam Abu Hatim dan Imam Abu Zur’ah Rahimahumaallah.

Terkait gelar Nabiyullah Syu’aib sebagai Khothibul Anbiyaa`, terdapat beberapa hadits yang menunjukkan akan hal itu, namun kevalidannya tidak memuaskan, misalnya hadits:

1. Muhammad bin Ishaq secara mursal:

وَشُعَيْبُ بْنُ مِيكَائِيلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ اللَّهُ نَبِيًّا فَكَانَ مِنْ خَبَرِهِ وَخَبَرِ قَوْمِهِ مَا ذَكَرَ اللَّهُ فِي الْقُرْآنِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَهُ قَالَ: «ذَاكَ خَطِيبُ الْأَنْبِيَاءِ» لِمُرَاجَعَتِهِ قَوْمَهُ

“Syu’aib bin Miikaail adalah Nabiyullah Sholallahu 'alaihi wa Salaam yang Allah utus sebagai Nabi, maka Beliau juga adalah diantara pembawa berita dan pembawa berita kaumnya, apa-apa yang Allah sebutkan dalam Al Qur`an. Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa Salaam jika menyebut Beliau, maka biasanya mengatakan : “Beliaulah khothiibnya para Nabi”, karena selalu mengajak kaumnya kembali (kepada kebenaran)”.

Hadits diatas diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam “al-Mustadrak” (No. 4071), Imam adz-Dzahabi Rahimahullah dalam “at-Talkhiis” tidak berkomentar apapun. Namun sebagaimana pembaca ketahui secara mudah bahwa hadits diatas mursal, yangmana mursal adalah bagian dari hadits dhoif, karena Muhammad bin Ishaq seorang Imam pakar sejarah yang sangat masyhur adalah generasi tabi’i shoghir, sehingga mursalnya juga mursal yang sangat lemah.

Dalam riwayat Imam Ibnu Abi Hatim dalam “Tafsirnya” (no. 15921), Muhammad bin Ishaq menyebutkan perowi diatasnya lagi yaitu Ya’quub bin Abi Salamah, namun beliau ini juga seorang tabi’i, sehingga status mursalnya belum terangkat;

2. Al-Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya “al-Bidaayah wa an-Nihaayah (I/185) mengatakan :

وقد روى ابن إِسْحَاقُ بْنُ بِشْرٍ عَنْ جُوَيْبِرٍ وَمُقَاتِلٍ عَنِ الضَّحَّاكِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ذَكَرَ شُعَيْبًا قَالَ (ذَاكَ خَطِيبُ الْأَنْبِيَاءِ)

“Ishaq bin Bisyr telah meriwayatkan dari Juwaibir dan Muqaatil dari adh-Dhohhaak dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu 'anhu beliau berkata : “Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa Salaam jika menyebut Syu’aib alaihis salam, Beliau akan mengatakan : “inilah khothiibnya para Nabi”.

Seandainya kita menerima bahwa Imam Ibnu Katsir benar-benar menemukan kitab hadits Ishaq bin Bisyr atau beliau memiliki sanad yang valid sampai kepada Ishaq bin Bisyr (w. 206 H), maka kelemahan hadits ini ada pada Ishaq itu sendiri, karena beliau sebagaimana dinukil oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya “Miizaan al-I’tidal” (I/184) dicap sebagai pendusta oleh Imam Ali bin al-Madiiniy dan Imam ad-Daruquthniy, ditambah kelemahan lain bahwa adh-Dhohhaak tidak pernah berjuma dengan Shohabi Jaliil Abdullah bin Abbas Rodhiyallahu 'anhu. Memang benar Imam adh-Dhohhaak adalah ahli tafsir yang banyak membawakan penafsiran Ibnu Abbas, namun nukilan tersebut, beliau dapatkan dari muridnya, yakni Imam Sa’id bin Jubair Rahimahullah;

Memang benar sebagian ulama salaf mengatakan bahwa Nabiyullah Syu’aib alaihis salam adalah khothibnya para Nabi, sebagaimana diriwayatkan dengan sanad bersambung oleh Imam Ibnu Abid Dunya dalam kitabnya “al-‘Uquubat” dan Imam Ibnu Abi Hatim dalam tafsirnya dari Imam Sufyan ats-Tsauriy. Imam Suyuthi dalam kitab tafsirnya “ad-Durrul Mantsuur” juga menukil dari Imam Malik bin Anas Rahimahullah. Akan tetapi tentunya yang kita perhatikan adalah riwayat-riwayat yang marfu’, karena inilah yang dijadikan dasar utama didalam memberitakan khabar-khabar orang sebelum kita yang valid.

Namun apapun itu, Nabiyullah Syu’aib memang memiliki ungkapan yang sastrawi, yang Allah abadikan dalam kitabnya yang mulia, diantara ucapannya :

{وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ} [هود: 88]

“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”.

Abu Sa’id Neno Triyono