Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Mengenal 3 Madzhab Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Mengenal 3 Madzhab Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Fikroh.com - Nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah itu tidak semua bersifat tegas dan dapat dipahami dengan mudah (qath'i), tapi ada juga yang zhanni, untuk memahaminya dibutuhkan kesungguhan dan pengerahan segala kemampuan (ijtihad). Ijtihad ini telah dilakukan oleh para ulama dari zaman ke zaman. Khususnya ketika realita yang dihadapi oleh ulama tersebut menuntutnya untuk melakukan ijtihad. Maka tampillah para ulama yang diberikan karunia kelebihan oleh Allah menjadi imam dalam ijtihad.

Nash-nash tersebut baik berkaitan dengan hukum amalan fisik (fiqih), amalan hati (suluk), maupun keyakinan (akidah). Seperti halnya ijtihad berlaku dalam ilmu fiqih dan suluk, maka tidak menutup kemungkinan berlaku pula  dalam ilmu akidah. Dari ijtihad tersebut lahirlah madzhab. Yaitu suatu metodologi yang ditempuh oleh seorang imam mujtahid yang dengan metodologi itu lahirlah produk-produk ijtihad dalam suatu bidang keilmuan. Metodologi tersebut kemudian diikuti dan dikembangkan oleh para ulama setelahnya. Imam mujtahid tersebut mestilah dikenal keshalehan, keilmuan dan kewaroannya. Karena itulah modal Allah membukakan ilmu-ilmu yang haq kepadanya.

Nash-nash yang dipahami secara qath'i itulah yang menjadi batasan apakah seorang ulama atau suatu aliran masih dalam koridor syariat ataukah tidak. Jadi, ijtihad yang benar adalah yang dilakukan terhadap nash-nash yang zhanni. Dalam ilmu akidah, dikenal tiga madzhab; Hanbali, Asy'ari dan Maturidi. Tiga madzhab ini masih ada dalam koridor syari'at, tidak melabrak hal-hal yang qath'i, sehingga mereka layak disebut sebagai madzhab Ahlus Sunnah, untuk membedakan dengan aliran-aliran yang menyimpang dari syariat. Dan ketiga ulama tersebut dikenal dengan keshalehan, keilmuan dan kewaroannya, sehingga layak dinilai sebagai imam mujtahid.

Tiga madzhab ini lahir ketika memang realita yang dihadapi menuntut untuk dilakukan ijtihad. Yaitu saat merebak paham dan aliran sesat dalam memahami permasalahan akidah, seperti mu'tazilah, khowarij, murjiah dan syiah. Muncullah imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menampilkan aqidah Ahlus Sunnah dan memperjelasnya, agar dapat dibedakan dengan aliran-aliran yang menyimpang dan membantahnya. Beliau mewariskan metodologi dan kaidah-kaidah dalam memahami permasalahan aqidah yang kemudian dikembangkan oleh para pengikutnya (Hanabilah), yang khasnya adalah berpaku pada zhahir nash, tidak terlalu menggunakan ilmu-ilmu akal. Memang pada bagian-bagian tertentu mereka menggunakannya, tetapi sebagai metodologi pelengkap saja, bukan metodologi utama dalam membangun produk-produk ijtihadnya. Dengan ujian berat yang dihadapi imam Ahmad berupa penyiksaan yang ditimpakan kepada beliau dari kalangan mu’tazilah dalam peristiwa yang dikenal dengan fitnah khalqul qur’an (kalangan mu’tazilah memaksakan pendapatnya bahwa Al-Qur’an adalah makhluk), sejarah telah mencatatnya beliau sebagai pembela Sunnah. Setelah masa beliau, kemudian muncul imam mujtahid lain yang juga melakukan ijtihad dalam ilmu akidah, yang tujuannya sama menetapkan akidah Islam yang benar dan membantah aliran-aliran menyimpang. Yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari. Pada masa yang sama di tempat yang berbeda, muncul juga imam mujtahid lain dalam ilmu akidah yaitu Abu Manshur Al-Maturidi. Keduanya juga dikenal dengan imam pembela Sunnah. Keduanya memiliki pandangan berbeda dari Hanbali. Yaitu, meski tetap menjadikan nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pijakan, dan membela akidah-akidah yang ditunjuki oleh nash-nash tersebut, mereka lebih banyak menggunakan ilmu-ilmu akal sebagai metodologi utama dalam ijtihadnya. Meskipun tetap antara madzhab Asy’ari dan Maturidi memiliki perbedaan dalam memahami beberapa permasalahan akidah.

1. Madzhab Hanbali

Madzhab ini dinisbatkan kepada imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (164-241 H). Beliau lahir, hidup hingga wafat di Baghdad, Irak. Mengapa madzhab ini dinisbatkan kepada beliau? Karena memang beliau telah tampil berijtihad menampilkan akidah Ahlus Sunnah dan membantah aliran-aliran menyimpang. Walaupun dasar-dasar yang beliau susunkan dalam akidah tersebut tidak berbeda dengan para ulama salaf sebelumnya, yang juga telah berbicara dalam permasalahan akidah. Hanya saja karena tantangan realita yang jauh lebih berat yang dihadapi oleh beliau, menuntut beliau lebih banyak berbicara dalam masalah akidah dalam rangka membela akidah yang hak dan membantah aliran yang menyimpang. Sehingga dikenallah beliau sebagai simbol pembela sunnah dalam berhadapan dengan aliran menyimpang khususnya mu’tazilah. Selain itu, karena para pengikutnya terus melanjutkan pengkajian dan pengembangan dalam ilmu akidah ini, maka dikenallah ia sebagai madzhab Hanbali. Banyak orang yang mengira bahwa madzhab Hanbali hanya dalam madzhab fiqih saja, padahal kenyataannya ia juga merupakan madzhab dalam akidah. Para ulama besar madzhab Hanbali dalam fiqih itu, selain mereka para ulama fiqih, mereka juga adalah para ulama dalam ilmu akidah madzhab Hanbali, sebagaimana terlihat dalam karya-karya mereka, seperti akan dipaparkan selanjutnya. Madzhab ini juga dikenal dengan sebutan madzhab Atsari, karena memang -sebagaimana telah disebutkan- kecondongan mereka untuk berpaku pada zhahir nash (atsar) tanpa menggunakan ilmu-ilmu akal sebagai metodologi utamanya. Dengan alasan ini pula mereka dikenal dengan madzhab Ahlul Hadits. Di antara karya imam Ahmad yang sampai kepada kita saat ini dalam bidang ilmu akidah adalah Ushul As-Sunnah yang dinukil dari perkataan-perkataan beliau, Ar-Rad ‘alal Jahmiyyah waz Zanadiqah, juga kitab-kitab dan risalah-risalah yang dinukil dan dinisbatkan kepada beliau oleh para ulama Hanabilah di dalam kitab-kitab mereka.

Para ulama setelah beliau, meneruskan penulisan karya dalam ilmu akidah madzhab Hanbali, yaitu anak beliau sendiri, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (213-290 H) menulis kitab As-Sunnah, juga murid-murid beliau seperti Harb Al-Karmani (190-280 H) dan Abu Bakar Al-Khallal (235-311 H) menulis kitab As-Sunnah. Lalu Abu Muhammad Hasan bin Ali Al-Barbahari (w.329) menulis kitab Syarhus Sunnah. Lalu Al-Qadhi Abu Ya’la (380-458 H) menulis diantaranya kitab Al-Mu’tamad fi Ushuliddin dan Ibthalut Ta’wilat. Dalam kitabnya ini, beliau mulai menggunakaan ilmu-ilmu akal sebagai metodologi pelengkap dalam menetapkan akidah Ahlus Sunnah madzhab Hanbali. Abul Wafa Ali Ibnu ‘Aqil (431-513 H) diantaranya menulis kitab Al-Irsyad fil I’tiqad dan Ar-Rad ‘alal Asya’iroh. Ibnu Zaguni (455-527 H) menulis kitab Al-Idhah fi Ushuliddin. Muwaffaquddin Ibnu Qudamah Al-Maqdisi (541-620 H) menulis kitab diantaranya Lum’atul I’tiqad, Al-I’tiqad, Dzammut Ta’wil, Munazharah fil Qura’anil Karim, Tahrimun Nazhar fi Kutubil Kalam. Ibnu Hamdan (603-695 H) menulis kitab Nihayatul Mubtadi’in fi Ushuliddin. Hingga datanglah Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah (661-728 H) yang melakukan pendalaman yang lebih terhadap permasalahan-permasalahan akidah, juga mendalami ilmu-ilmu akal. Beliau melakukan ijtihad-ijtihad yang agak berbeda dengan para pendahulunya dari madzhab Hanbali. Baik dalam masalah fiqih, juga dalam masalah akidah. Sehingga dalam berbagai permasalahan, baik fiqih maupun akidah, beliau keluar dari pendapat yang mu’tamad (yang jadi pegangan) dalam madzhab Hanbali. Namun, bukan berarti serta merta hal itu mengeluarkan beliau dari ulama Hanabilah. Beliau tetap adalah ulama besar di madzhab Hanbali, dan hal itu diakui oleh para ulama Hanabilah sendiri. Jadi di sini harus dibedakan, mana pendapat yang mu’tamad dalam madzhab Hanbali dan mana yang merupakan ikhtiyarot (pilihan-pilihan) Ibnu Taimiyyah sendiri, baik dalam permasalahan fiqih, maupun dalam permasalahan akidah. Ikhtiyarot Ibnu Taimiyyah dalam permasalahan akidah inilah yang kemudian diikuti oleh muridnya, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (691-751 H). Juga kemudian oleh madrasah muta’akhirin Muhammad bin Abdul Wahab (1115-1206 H) dan para pengikutnya, yang dikenal dengan aliran Salafi atau Wahabi hari ini. Meskipun tetap saja dapat menimbulkan kritikan, sejauh mana kelompok Salafi ini sejalan dengan Ibnu Taimiyyah. Secara akar, sebenarnya para pengikut Ibnu Taimiyyah ini yang kemudian juga ada yang menyebutnya sebagai Taimi, masih dalam lingkaran madzhab Hanbali. Hanya saja, penisbatan kepada salah satu madzhab akidah Ahlus Sunnah ini mesti dengan serius memahami asas-asas dan pegangan madzhab, meskipun dalam beberapa hal bisa saja pengikut madzhab itu mengambil pilihan-pilihan berbeda dari madzhabnya.

Ibnu Taimiyyah, dengan berbagai ikhtiyarotnya yang berbeda dari madzhab Hanbali, beliau tetap dalam lingkaran madzhab Hanbali, karena para ulama besar setelah beliau termasuk para murid-muridnya tetap menganggap beliau adalah ulama besar madzhab Hanbali, dan beliau adalah ulama besar dalam akidah Ahlus Sunnah. Meskipun tidak menutup kemungkinan ijtihad beliau dalam permasalahan akidah ada yang dianggap salah. Kesalahan dalam ijtihad bukanlah suatu hal yang mustahil. Tapi, seseorang itu dilihat dari yang dominan (galib) pada jalan hidup yang ditempuhnya. Buktinya, para ulama besar madzhab Hanbali setelah Ibnu Taimiyyah tidak ada yang menilainya sebagai orang yang menganut musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk) ataupun Mujassimah (menganggap bahwa Allah adalah jisim/fisik) seperti dituduhkan oleh sebagian kalangan Asy’ariyyah. Para ulama Hanbali setelah Ibnu Taimiyyah yang menulis karya dalam akidah Hanbali, mereka juga menggunakan teori-teori Ibnu Taimiyyah yang sejalan dengan madzhab Hanbali.

Para ulama Hanabilah yang dikenal berikutnya dan karya-karyanya adalah Ibnu Mibrod (840-909 H) menulis kitab Tuhfatul Wushul ila ‘Ilmil Ushul, Mar’i Al-Karmi (988-1033 H) menulis kitab diantaranya Aqawiluts Tsiqat, Abdul Baqi Al-Mawahibi (1005-1071 H) menulis kitab Al-‘Ainu wal Atsar fi ‘Aqaid Ahlil Atsar, Ibnu Balban (1006-1083 H) menulis kitab Qalaid Aqyan fi ikhtisar aqidah Ibni Hamdan, Utsman bin Ahmad An-Najdi (w.1097 H) menulis kitab Najatul Khalaf fi I’tiqadis Salaf dan Muhammad bin Ahmad As-Safarini (1114-1188 H) menulis kitab Ad-Durrah Al-Mudhiyyah fi Aqdil Firqah Al-Mardhiyyah, juga syarahnya Lawami’ul Anwar Al-Bahiyyah, dll.

2. Madzhab Asy’ari

Madzhab ini dinisbatkan kepada imam Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullah (260-324 H). Beliau lahir di Bashrah, Irak. Beliau menetap di sana lalu ke Baghdad hingga akhir hayatnya. Nasab beliau sampai kepada Abu Musa Al-Asy’ari. Asalnya beliau terdidik dalam aliran akidah Mu’tazilah. Tetapi kemudian beliau bertaubat dan rujuk kepada akidah Ahlus Sunnah. Pada awal rujuknya, beliau menyatakan mengikuti jalan Ahmad bin Hanbal dalam berpegang teguh kepada Al-Qur’an, Sunnah, atsar sahabat, tabi’in dan para imam hadits, sebagaimana beliau nyatakan dalam kitabnya Al-Ibanah fi Ushul Ad-Diyanah. Hal itu tidak heran, karena imam Ahmad adalah simbol pembela Sunnah dalam menentang Mu’tazilah dan aliran-aliran menyimpang lainnya pada saat itu. Maka wajar, di awal-awal rujuknya beliau dari aliran Mu’tazilah, beliau menyatakan bersama imam Ahmad dalam menentangnya. Namun, perjalanan pemikiran Abul Hasan Al-Asy’ari tidaklah cukup sampai di situ. Beliau menggunakan kecerdasan akalnya untuk membantah aliran-aliran menyimpang. Beliau merasa perlu untuk menggunakan ilmu-ilmu akal dalam membela Sunnah. Ini nampak dalam karya beliau yang lain, yaitu kitab Maqalatul Islamiyyin dan kitab Al-Luma’ fir Rad ‘ala Ahliz Ziyag wal Bida’. Maka beliau melakukan ijtihad-ijtihad yang berbeda dari imam Ahmad. Misalnya dalam memahami sifat-sifat Allah, tidak hanya cara tafwidh (menyerahkan makna dan hakikatnya kepada Allah) yang dilakukan, tetapi memungkinkan digunakan juga cara ta’wil dalam rangka menghindari tasybih dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk) dan tajsim (menganggap bahwa Allah adalah jisim/fisik). Tentu saja ijtihad Abul Hasan Al-Asy’ari ini dibangun dengan hujjah dalil-dalilnya. Ijtihad-ijtihad beliau ini kemudian menjadi pondasi bagi madzhab yang kemudian dikenal dengan madzhab Asy’ari.

Karya-karya Abul Hasan Al-Asy’ari itu sangat banyak, khususnya dalam bidang ilmu akidah, hanya saja kebanyakannya hilang (mafqud), tidak sampai kepada kita. Sedikitnya tiga kitab yang telah disebutkan di atas yang sampai kepada kita. Maka, untuk mengetahui bagaimana madzhab Asy’ari, tidaklah cukup hanya dengan tiga kitab tersebut saja. Tetapi dengan melihat kepada murid-muridnya. Al-Asy’ari adalah diantara ulama yang dikaruniai banyak murid. Murid-muridnya inilah yang meriwayatkan madzhab akidahnya dan mengembangkannya. Berbagai pandangan beliau yang menjadi dasar dan kaidah-kaidah madzhab Asy’ari ini dihimpun oleh Ibnu Furak (w.406 H) dalam kitabnya Mujarrod Maqalati Syaikh Abil Hasan Al-Asy’ari. Ibnu Furak merupakan murid dari murid Abul Hasan Asy’ari, yaitu Abul Hasan Al-Bahili. Dimana Abul Hasan Al-Bahili memiliki tiga murid yang menonjol yaitu Ibnu Furak, Abu Bakar Al-Baqillani (338-403 H) dan Abu Ishak Al-Isfirayini (w.418 H). Al-Baqillani dikenal sangat ahli dalam ilmu Kalam (akidah). Ia banyak menulis karya dalam ilmu Kalam dengan metode madzhab Asy’ari, diantaranya Al-Inshaf fima yajibu I’tiqaduhu wala yajuzu al-jahlu bihi, Tamhidul Awail wa Talkhisud Dalail, Syarhul Luma’, Al-Muqaddimat fi Ushulid Diyanat, Daqaiqul Kalam, dll. Abu Ishaq Al-Isfiroyini juga menulis kitab Jami’ul Khali fi Ushuliddin war Rad ‘alal mulhidin. Abdul Qahir Al-Baghdadi (w.418 H) murid dari Abu Ishaq Al-Isfiroyini juga banyak menulis dalam bidang ilmu akidah, diantaranya Ta’wil Mutasyabihil Akhbar, Nafyu Khalqil Qur’an, dll. Lalu murid dari Abdul Qahir Al-Baghdadi, Abu Bakar Al-Baihaqi (384-458 H), yang dikenal sebagai ulama ahli hadits dengan karyanya As-Sunan Al-Kubra dan Shugra dan ahli fiqih madzhab Syafi’i, ia juga adalah seorang ahli ilmu akidah dalam madzhab Asy’ari. Karyanya dalam ilmu akidah diantaranya adalah Al-I’tiqad wal Hidayah ila Sabilir Rosyad dan Al-Asma wash Shifat. Setelah itu ada Abul Ma’ali Imamul Haromain Al-Juwaini (419-478 H) juga menulis kitab Al-Irsyar ila Qawathi’il Adillah fi Ushulil I’tiqad, Asy-Syamil fi Ushuliddin, dll. Lalu muridnya Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H) menulis kitab akidah madzhab Asy’ari diantaranya Qawa’idul ‘Aqaid, Al-Iqtishad fil I’tiqad, Iljamul Awwam ‘an ilmil Kalam, dll. Abul Fath Asy-Syahrostani (479-548 H) di antara karyanya Nihayatul Iqdam fi Ilmil Kalam. Ibnu Asakir (499-571 H) menulis kitab yang terkenal yaitu Tabyin Kadzibil Muftaro fima nusiba ila Abil Hasan Al-Asy’ari. Dalam kitabnya ini, Ibnu Asakir mengurai panjang lebar tentang murid-murid dan para pengikutnya dalam berbagai tingkatan. Lalu Fakhruddin Ar-Razi (544-604 H), diantara karyanya Asasut Taqdis, Ma’alim Ushuliddin, Lawami’ul Bayyinat Syarhu Asmaillah ta’ala wash Shifat, dll. Saifuddin Al-Amidi (551-631 H) diantara karyanya adalah Abkarul Afkar fi Ushuliddin, Ghayatul Maram fi Ilmil Kalam, dll. Adhuddin Al-Iji (680-756 H) menulis kitab yang sangat terkenal dalam ilmu kalam yaitu Al-Mawaqif fi Ilmil Kalam. Lalu Muhammad bin Yusuf As-Sanusi (830-895 H), karya-karyanya banyak dijadikan pegangan dalam pembelajaran akidah Asy’ari. Yaitu Al-Muqaddimah, Shugra Ash-Shugra, Aqidah Ash-Shugra (Ummul Barahin), Aqidah Al-Kubra, dll. Karya madzhab Asy’ari dalam bentuk nazham diantaranya yang terkenal adalah Jauharotut Tauhid karya Ibrahim Al-Laqqani Al-Maliki (w.1041 H), Idha’atud Dujunnah fi I’tiqad Ahlis Sunnah karya Ahmad bin Muhammad Al-Maqorri Al-Maliki (986-1041 H), Al-Kharidah Al-Bahiyyah karya Ahmad Ad-Dardir (1127-1201 H), dan Aqidatul Awwam yang ditulis oleh Ahmad Marzuqi Al-Maliki (1206-1281 H). Masih sangat banyak para ulama yang berafiliasi kepada madzhab Asy’ari dalam akidah, juga karya-karya mereka yang tidak mungkin disebutkan semua di sini.

3. Madzhab Maturidi

Madzhab ini dinisbatkan kepada Abu Manshur Al-Maturidi rahimahullah (w.333 H), beliau lahir dan hidup di Samarkand, Uzbekistan. Nasab beliau sampai kepada Abu Ayyub Al-Anshari. Seperti halnya Abul Hasan Al-Asy’ari, beliau juga banyak melakukan pembelaan terhadap akidah Sunnah dengan hujjah-hujjah akal. Secara fiqih beliau bermadzhab Hanafi. Asas ijtihadnya sebenarnya banyak dipengaruhi oleh metode imam Abu Hanifah dalam berijtihad, yaitu banyak menggunakan logika. Makanya tak heran, madzhab Maturidi juga sering dikenal dengan madzhab Hanafi dalam akidah. Selain memang para ulamanya banyak dari kalangan madzhab  Hanafi. Karya-karya beliau dalam bidang akidah sangat banyak, hanya yang sampai kepada kita adalah kitab Tauhid dan dalam bentuk tafsir yaitu Ta’wilat Ahlis Sunnah. Murid-murid beliau diantaranya adalah Abul Qasim Hakim As-Samarkandi (w.340), Abu Laits Al-Bukhari, Abdul Karim bin Musa Al-Bazdawi, Abu Muhammad Al-‘Iyadh, Abul Hasan Ar-Rastaghfani. Namun murid-murid langsung beliau tidak banyak konsen ke dalam bidang akidah, mereka mencukupkan kepada karya-karya gurunya. Barulah kemudian Abul Ma’in An-Nasafi (418-508 H) meneruskan madzhab akidah Maturidi dan membela pandangan-pandangannya, sehingga dikenal sebagai pembela pertama bagi madzhab Maturidi. Karya-karyanya adalah Tabshiratul Adillah fi Ushuliddin, At-Tamhid li Qawa’idit Tauhid, Bahrul Kalam fi Ilmit Tauhid, dll. Lalu dilanjutkan oleh muridnya Najmuddin Umar An-Nasafi (461-537 H) yang menulis matan akidah yang terkenal yaitu Al-Aqaid An-Nasafiyyah. Dan syarahnya yang terpenting adalah yang ditulis oleh Sa’duddin At-Tiftazani (722-792 H). Ulama-ulama lain yang terkenal dalam madzhab Maturidi ini adalah Abu Laits As-Samarkandi (333-373 H) penulis kitab tafsir terkenal, Bahrul Ulum, Nuruddin Ash-Shabuni (w.580 H), Jamaluddin Al-Ghaznawi (w.593 H) menulis kitab Ushuluddin, Burhanuddin An-Nasafi (600-678 H), Hafizhuddin Abul Barakat An-Nasafi (w.701 H) penulis tafsir Madarikut Tanzil wa Haqaiqut Ta’wil, Asy-Syarif Al-Jurjani (740-816 H), Al-Kamal bin Al-Hamam (790-861 H) menulis kitab Al-Musayaroh fil ‘Aqaid Al-Munjiyah fil Akhirah, Jalaluddin Ar-Rumi (604-672 H), Alauddin Al-Bukhari (779-841 H) menulis kitab Aqidah, Ibnu Nujaim (926-969 H) ahli fiqih terkenal madzhab Hanafi, Mula ‘Ali Al-Qari (1014-1606 H) penulis kitab Mirqatul Mafatih syarh Misykatil Mashabih dalam bidang hadits, ia menulis dalam ilmu akidah diantaranya Minahur Raudhil Azhar fi syarhil Fiqhil Akbar, Ibnu Abidin (1198-1252 H) ahli fiqih terkenal madzhab Hanafi. Dan masih banyak lagi para ulama lainnya yang berafiliasi kepada madzhab Maturidi yang tidak mungkin disebutkan semua di sini. Serta karya-karya lainnya, hanya kebanyakannya hilang, tidak sampai kepada kita.

Itulah sekilas paparan tentang tiga madzhab akidah Ahlus Sunnah, sebagai gambaran untuk mengenalnya. Melalui para ulama dan karya-karyanya yang sangat banyak di sepanjang sejarah itu, kita dapat membaca, mempelajari dan membuka cakrawala yang lebih luas terhadap madzhab-madzhab tersebut. Sehingga tidak sembarangan bermudah-mudahan dalam menyesatkan satu sama lain dan mengeluarkannya dari koridor Ahlus Sunnah. Meskipun kita mendapatkan lisan yang cukup tajam dalam perdebatan di antara mereka, kita pahami bahwa perdebatan mereka adalah dalam ranah ijtihad yang dibolehkan. Adapun jika kita temukan sikap yang berlebih-lebihan dari mereka dengan mengeluarkan satu sama lain dari ahlus sunnah, seyogianya sikap seperti itu tidak perlu kita ikuti. Dengan pokok akidah yang sama, dan banyak persamaan-persamaan lainnya, inilah yang menjadi alasan untuk mempererat ukhuwah di antara sesama ahlus sunnah.

Banyak para ulama yang secara adil menyebut tiga madzhab di atas adalah termasuk dalam bingkai ahlus sunnah. Di antaranya dalam madzhab Hanbali misalnya, Al-Qadhi Abu Ya'la Al-Farro, sebagaimana disebutkan di dalam Thabaqah Al-Hanabilah, karya putranya, Muhammad bin Abi Ya’la, Jilid 2, hal.210, berkata :

وَقَدْ أَجْمَعَ عُلَمَاءُ أَهْلِ الْحَدِيْثِ -وَالْأَشْعَرِيَّةُ مِنْهُمْ- عَلَى قَبُوْلِ هَذِهِ الْأَحَادِيْثِ. فَمِنْهُمْ مَنْ أَقَرَّهَا عَلَى مَا جَاءَتْ وَهُمْ أَصْحَابُ الْحَدِيْثِ، وَمِنْهُمْ مَنْ تَأَوَّلَهَا وَهُمُ الْأَشْعَرِيَّةُ تَأْوِيْلُهُمْ إِيَّاهَا قَبُوْلٌ مِنْهُمْ لَهَا، إِذْ لَوْ كَانَتْ عِنْدَهُمْ بَاطِلَةً لَأَطْرَحُوْهَا كَمَا أَطْرَحُوْا سَائِرَ  الْأَخْبَارِ الْبَاطِلَةِ. وَقَدْ رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى خَطَأٍ وَلَا ضَلَالَةٍ

"Sungguh telah ijma para ulama Ahli Hadits -dan Asy'ariyyah termasuk bagian mereka- atas penerimaan terhadap hadits-hadits ini (tentang sifat-sifat Allah). Diantara mereka ada yang menetapkannya sebagaimana ia datang, mereka adalah ahli hadits. Dan diantara mereka ada yang menta'wilnya, mereka adalah Asy'ariyyah. Ta'wil mereka terhadapnya adalah penerimaan dari mereka kepadanya, karena kalaulah menurut mereka hadits-hadits itu batil, niscaya mereka akan membuangnya sebagaimana membuang seluruh hadits-hadits yang batil. Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam : "Umatku tidak bersepakat pada kesalahan, tidak pula pada kesesatan".

Abul Baqi Al-Mawahibi Al-Hanbali berkata :

طَوَائِفُ أَهْلِ السُّنَّةِ ثَلَاثَةٌ : أَشَاعِرَةٌ وَحَنَابِلَةٌ وَمَاتُرِيْدِيَّةٌ، بِدَلِيْلِ عَطْفِ الْعُلَمَاءِ الْحَنَابِلَةِ عَلَى الْأَشَاعِرَةِ فِي كَثِيْرٍ مِنَ الْكُتُبِ الْكَلَامِيَّةِ وَجَمِيْعِ كُتُبِ الْحَنَابِلَةِ

“Kelompok Ahli Sunnah itu ada tiga : Asya’iroh, Hanabilah dan Maturidiyyah. Berdasarkan dalil meng’athofkan (menyebutkans setelahnya) ulama Hanabilah terhadap Asya’iroh dalam banyak kitab-kitab ilmu kalam dan seluruh kitab-kitab Hanabilah.” (Al-‘Ain wal Atsar, hal.52)

Begitu pula Syekh Muhammad bin Ahmad As-Safarini Al-Hanbali berkata :

أَهْلُ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ ثَلَاثُ فِرَقٍ : الأَثَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَالْأَشْعَرِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو الْحَسَنِ الْأَشْعَرِيُّ، وَالْمَاتُرِيْدِيَّةُ وَإِمَامُهُمْ أَبُو مَنْصُوْرٍ الْمَاتُرِيْدِي، وَأَمَّا فِرَقُ الضَّلَالِ فَكَثِيْرَةٌ جِدًّا.

"Ahlus Sunnah wal Jama'ah itu ada tiga kelompok : Al-Atsariyah, imam mereka adalah Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Al-'Asy'ariyyah, imam mereka adalah Abul Hasan Al-'Asy'ari rahimahullah. Dan Al-Maturidiyyah, imam mereka adalah Abu Manshur Al-Maturidi rahimahullah. Adapun kelompok-kelompok kesesatan, maka banyak sekali." (Syarah Aqidah As-Safarini, Jilid 1, hal. 73)

Dari kalangan ulama Asy'ariyyah misalnya Qadhi Al-Jama’ah Abu Abdillah Muhammad Al-Bakki Al-Kumi At-Tunusi ketika mensyarah matan akidah Ibnu Hajib, ia berkata :

اِعْلَمْ أَنَّ أَهْلَ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ كُلُّهُمْ قَدِ اتَّفَقُوا عَلَى مُعْتَقَدٍ وَاحِدٍ فِيْمَا يَجِبُ وَيَجُوْزُ وَيَسْتَحِيْلُ، وَإِنِ اخْتَلَفُوا فِي الطُّرُقِ وَالْمَبَادِئِ الْمُوْصِلَةِ لِذَلِكَ، أَوْ فِي لِمِّيَّةِ الْمَسَالِكِ. وَبِالْجُمْلَةِ فَهُمْ بِالْإِسْتِقْرَاءِ ثَلَاثُ طَوَائِفَ  :

الأُوْلَى : أَهْلُ الْحَدِيْثِ، وَمُعْتَمَدُ مَبَادِيهِمْ: الأَدِلَّةُ السَّمْعِيَّةُ؛ أَعْنِي : الكِتَابُ، وَالسُّنَّةُ، وَالْإِجْمَاعُ.

الثَّانِيَةُ : أَهْلُ النَّظَرِ الْعَقْلِي وَالصِّنَاعَةِ الْفِكْرِيَّةِ، وَهُمْ : الأَشْعَرِيَّةُ، وَالْحَنَفِيَّةُ. وَشَيْخُ الْأَشْعَرِيَّةِ : أَبُو الْحَسَنِ الأَشْعَرِي، وَشَيْخُ الْحَنَفِيَّةِ : أَبُو مَنْصُوْرٍ الْمَاتُرِيْدِي، وَهُمْ مُتَّفِقُوْنَ فِي الْمَبَادِي الْعَقْلِيَّةِ فِي كُلِّ مَطْلَبٍ يَتَوَقَّفُ السَّمْعُ عَلَيْهِ، وَفِي الْمَبَادِي السَّمْعِيَّةِ فِيْمَا يُدْرِكُ الْعَقْلُ جَوَازُهُ فَقَطْ، وَالْعَقْلِيَّةُ وَالسَّمْعِيَّةُ فِي غَيْرِهَا، وَاتَّفَقُوا فِي جَمِيْعِ الْمَطَالِبِ الْإِعْتِقَادِيَّةِ إِلَّا فِي مَسْأَلَةِ التَّكْوِيْنِ وَمَسْأَلَةِ التَّقْلِيْدِ.

الثَّالِثَةُ : أَهْلُ الْوِجْدَانِ وَالْكَشْفِ؛ وَهُمُ الصُّوْفِيَّةُ، وَمَبَادِيهِمْ مَبَادِي أَهْلِ النَّظَرِ وَالْحَدِيْثِ فِي الْبِدَايَةِ، وَالْكَشْفُ وَالْإِلْهَامُ فِي النِّهَايَةِ

"Ketahuilah, bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah, semuanya sungguh telah sepakat dalam satu akidah pada apa yang wajib, jaiz dan mustahil, meskipun mereka berbeda dalam metode dan prinsip-prinsip yang mengantarkan kepadanya, atau pada kadar cara yang ditempuhnya. Secara keseluruhan berdasarkan istiqra (pengamatan menyeluruh) mereka ada tiga golongan.

Pertama : ahli hadits. Pegangan prinsip mereka adalah dalil-dalil as-ma'u, yakni Al-Qur'an, Sunnah dan Ijma.

Kedua : Ahli Nazhr aqli (pemikiran akal) dan Shina'ah Fikriyyah (disiplin ilmu berpikir). Mereka adalah Asy'ariyyah dan Hanafiyyah (Maturidiyyah-pent). Syekh Asy'ariyyah adalah Abul Hasan Al-Asy'ari, dan syekh Hanafiyyah adalah Abu Manshur Al-Maturidi. Mereka sepakat pada prinsip-prinsip akal dalam setiap pembahasan yang as-sam'u (wahyu) tawaquf terhadapnya, dan pada prinsip-prinsip as-sam'u  yang dipahami akal pada jawaz (kebolehan) saja. Dan Aqliyyah dan Sam'iyyah pada yang lainnya. Mereka sepakat dalam setiap pembahasan akidah kecuali dalam masalah takwin dan taqlid.

Ketiga : Ahli Wijdan dan Kasyf, mereka adalah Shufiyyah. Prinsip mereka adalah prinsip ahli nazhar dan ahli hadits pada permulaannya. Lalu Kasy dan ilham pada akhirnya. (Tahrirul Mathalib fima tadhammanathu ‘aqidatu ibni Hajib, hal.40-41). Wallahu A’lam.

Oleh : Muhammad Atim