Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Hukum Ta'ziyah Dengan Membawa Beras

Hukum Ta'ziyah Dengan Membawa Beras

Fikroh.com - Ada sebuah pertanyaan Bolehkah ta’ziyyah atau melayat kematian membawa beras? karena adat di tempat saya seperti itu.

Jawab: Boleh, bahkan dianjurkan. Karena ta’ziyah dengan membawa beras termasuk persoalan adat. Ada suatu kaidah yang berbunyi :”Asal hukum pada masalah adat adalah boleh, sampai ada dalil yang mengharamkannya.” Dan sejauh pemeriksaan kami tidak ada satupun dalil yang mengharamkannya/melarangnya.

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di –rohimahullah- berkata :

والأصل في عاداتنا الإباحة حتى يجيء صارف الإباحة

“Asal (hukum) pada masalah adat kami adalah boleh, sampai ada dalil yang memalingkan dari hukum boleh (kepada hukum lain).” [Risalah Fi Qowaidil Fiqhiyyah].

Diantara dalil yang menunjukkan akan kaidah di atas, hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik –rodhiallohu ‘anhu- beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ، فَقَالَ: «لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ» قَالَ: فَخَرَجَ شِيصًا، فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ: «مَا لِنَخْلِكُمْ؟» قَالُوا: قُلْتَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ: «أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ»

“Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda: "Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik." Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: 'Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab; Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu? Beliau lalu bersabda: 'Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” [HR. Muslim: 4/1836 No: 2363].

Sisi pendalilan dari hadits di atas pada ucapan Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam-: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.” Di sini beliau-shollallahu ‘alaihi wa sallam- menyerahkan urusan dunia kepada umatnya. Dan perkara adat/kebiasaan itu, termasuk perkara dunia.

Al-Imam An-Nawawi –rohimahullah- :

قَالَ الْعُلَمَاءُ قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ رَأْيِي أَيْ فِي أَمْرِ الدُّنْيَا وَمَعَايِشِهَا لَا عَلَى التَّشْرِيعِ

“Para ulama’ berkata : (Maksudnya) ucapan nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam- yang berasal dari pendapat beliau sendiri dalam masalah dunia dan kehidupannya bukan dalam masalah penetapan syari’at”. [Syarh Shohih Muslim: 15/166].

Hal ini dikuatkan pula oleh ucapan Abdullah bin Mas’ud –rodhiallohu ‘anhu- beliau berkata :

مَا رَآهُ الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وما رآه المسلمون سيئا فهو عند الله سيء

“Apa yang kaum muslimin memandang sebagai sesuatu yang baik, maka hal itu baik juga di sisi Alloh. Dan apa yang dipandang kaum muslimin jelek, maka hal itu juga jelek di sisi Alloh” [HR. Ahmad : 3600, Al-Bazzar dalam Musnad: 1816, Ath-Thobroni dalam Mu’jam Al-Ausath: 3062 dan selainnya].

Hadits ini telah dihasankan secara mauquf (dari ucapan Ibnu Mas’ud) oleh Al-Dzahabi, As-Sakhowi, Ibnu Hajar dan selainnya. Demikian pula ahli hadits abad ini, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani –rohimahullah- juga menhasankan hadits ini dalam “Adh-Dhoifah” : (2/17).

Makna ucapan Ibnu Mas’ud di atas, bahwa –secara umum- seorang muslim yang masih lurus fitrahnya dan baik agamanya, akan memandang sesuatu itu selarah dengan tuntunan Alloh. Jika memandang baik sesuatu, hal itu juga baik di sisi Alloh. Jika memandang sesuatu jelek, itu juga jelek di sisi Alloh.

Contoh: kegiatan ronda malam. Seorang muslim yang lurus fitrah dan agamanya akan secara otomatis/spontan melihat kegiatan itu baik. Maka hal itu juga baik di sisi Alloh. Zina, seorang muslim akan secara otomatis mengatakan hal itu jelek, walaupun pada saat itu belum tahu dalilnya.

Yang dimaksud adat, sebagaiaman dijelaskan ole para ulama’ :

عِبَارَةٌ عَمَّا اسْتَقَرَّ فِي النُّفُوسِ مِنَ الأُْمُورِ الْمُتَكَرِّرَةِ الْمَقْبُولَةِ عِنْدَ الطَّبَائِعِ السَّلِيمَةِ

“Ungkapan tentang suatu yang telah tetap dalam jiwa-jiwa dari perkara-perkara yang berulang-ulang yang diterima di sisi tabi’at-tabi’at yang masih selamat.” [Al-Asybah Wa Nadzoir Karya Ibnu Nujaim dengan catatan kaki dari Al-Hamawi : 1/126-127 lewat perantara kitab Al-Mausu’ah Kuwaitiyyah : 29/215].

Bahkan jika ta’ziyyah (melayat) dengan membawa beras itu merupakan adat yang sudah turun menurun di suatu daerah/negeri, maka hendaknya kita tidak menyelisihi adat tersebut. Seperti halnya di tempat kami-wilayah solo dan sekitarnya-, jika ta’ziyyah (melayat) tradisinya membawa uang, biasanya diamplop. Jumlahnya sesuai kemampuan dan kesadaran masing-masing. Karena biasanya di pintu masuk halaman rumah duka telah dipasang tempat uang. Maka ini tradisi/adat yang boleh-boleh saja. Sehingga tidak seyogyanya kita menyelisihinya.

Al-Imam Ibnu Muflih Al-Hambali –rohimahullah- (wafat : 763 H) –salah seorang murid Ibnu Taimiyyah- berkata :

وَقَالَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي الْفُنُونِ لَا يَنْبَغِي الْخُرُوجُ مِنْ عَادَاتِ النَّاسِ إلَّا فِي الْحَرَامِ فَإِنَّ الرَّسُولَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - تَرَكَ الْكَعْبَةَ وَقَالَ «لَوْلَا حِدْثَانُ قَوْمِكِ الْجَاهِلِيَّةَ»

“Al-Imam Ibnu Aqil berkata dalam kitab “Al-Funun” : Tidak seyogyanya untuk keluar dari adat-adat/tradisi-tradisi manusia kecuali daam perkara yang haram. Maka Rosul-shollallahu ‘alaihi wa sallam- meninggalkan (untuk mengembalikan) ka’bah (kepada bentuknya yang asli) seraya berkata: “Seandainya tidak karena kaummu baru saja lepas dari jahiliyyah (baru masuk Islam).” [Al-Adabu Syar’iyyah : 2/43].

Kenapa demikian? karena sering kali jika kita menyelisih adat setempat- dalam keadaan adat itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam-, akan menimbulkan berbagai kekacauan atau bahkan menjauhnya kaum muslimin dari dakwah sunnah ini. Sehingga tidak boleh kita meninggalkan perkara yang hukumnya mubah/boleh, tapi justru menimbulkan mafsadah/kerusakan.

Bahkan memberi bantuan kepada keluarga yang tertimpa musibah kematian baik berupa beras, atau uang, atau yang lain, merupakan perkara yang secara tidak langsung terdapat dalil dalam syari’at kita.

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Ja’far beliau berkata :

لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اصْنَعُوا لأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا، فَإِنَّهُ قَدْ جَاءَهُمْ مَا يَشْغَلُهُمْ

“Tatkala berita kematian Ja’far, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam- berkata : “Buatlah makanan untuk keluarga Ja’far ! Maka sesungguhnya telah datang kepada mereka sesuatu yang menyimbukan mereka.” [HR. At-Tirmidzi : 998 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rohimahullah-].

Setelah membawakan hadits ini, Al-Imam At-Tirmidzi –rohimahullah- berkata :

وَقَدْ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ العِلْمِ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُوَجَّهَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ شَيْءٌ لِشُغْلِهِمْ بِالمُصِيبَةِ، وَهُوَ قَوْلُ الشَّافِعِيِّ

“Sebagian ulama’ telah menganjurkan untuk menyodorkan/memberi sesuatu kepada keluarga mayit disebabkan tersibukannya mereka dengan mushibah. Dan ini merupakan pendapat Imam Syafi’i.” [Sunan At-Tirmidzi: 2/314].

Jangan sampai kita berdalil bahwa membawa beras atau uang ketika ta’ziyyah itu tidak ada contohnya dari Rosulullah atau dari salaf. Sehinga kita mengharamkannya. Ini merupakan pendalilan yang salah. Karena masalah adat itu tidak perlu contoh dari Rosulullah. Karena masalah ini termasuk masalah dunia.

Jika setelah itu, ternyata beras atau uang yang kita bawa ternyata digunakan untuk melukan acara-acara yang melanggar syari’at semisal selamatan kematian, maka dosanya ditanggung oleh mereka, bukan kita. Karena kita memberi bukan untuk acara tersebut. Akan tetapi membantu secara umum.

Insya Alloh-jika Alloh mudahkan-, kami akan susun artikel khusus tentang masalah adat/tradisi ini pada kesempatan yang lain dan akan kami upload di blog resmi kami.

Demikian jawaban dari kami. Semoga bermanfaat.

Dijawab oleh : Ustadz Abdullah bin Abdurrahman Al-Jirani –hafidzohullah-