Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Hukum Menerima Hadiah Kue Natal

Hukum Menerima Hadiah Kue Natal

Fikroh.com - Hukum menerima hadiah kue natal. Bismillah Afwan, ustadz. Kami punya tetangga nashrani. Dia memberi kami kue natal. Secara dzat, halal aja. Apa yg harus kami lakukan pada pemberiannya tsb? Apa kami buang saja?

Jawaban : Jika seorang tahu bahwa kue yang diberikan itu adalah kue Natal, hendaknya dia tidak menerima pemberian tersebut. Karena kita telah dijelaskan pada artikel yang lain, bahwa Natalan dalam pandangan Islam merupakan perkara yang dilarang. Pada hakikatnya natalan adalah peringatan atau tepatnya “ulang tahun” untuk kelahiran anak Tuhan ( maksudnya nabi Isa ). Karena dalam agama Nashrani, Isa diyakini sebagai anak Tuhan.

Sementara dalam agama kita, Alloh itu tunggal/esa. Tidak beranak dan tidak pernah diperanakkan. Sebagaimana ditegaskan oleh Alloh dalam surat Al-Ikhlas :

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ (4)

“( 1 ) Katakanlah: "Dialah Allah, Yang Maha Esa.( 2 ) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.( 3 ) Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,( 4 ) dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia". [QS. Al-Ikhlas : 1-4].

Demikian pula dilarang bagi umat Islam untuk ikut merayakan Natal bersama umat kristiani ataupun sekedar mengucpkan “selamat natal”. Karena dalam hal ini terkandung makna keridhoan atapun pembenaran terhadapnya.

Adapun pemberian orang-orang Nashrani yang tidak ada hubungannya dengan ritual agama mereka, maka diperbolehkan bagi kita untuk menerimanya. Sebagaimana Nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam- pernah menerima hadiah/pemberian dari mereka. Demikian pula para sahabat –rodhiallohu Ta’ala anhum-.

Akan tetapi jika kasusnya kue natal tersebut sudah terlanjur diterima, maka hendaknya kue itu jangan dibuang. Akan tetapi bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna dengan beberapa pertimbangan :

[1]. Kue itu secara dzat halal –sebagaimana dinyatakan oleh penanya juga-. Jika dzat kue itu halal, maka hal ini sebagai celah untuk memanfaatkannya. Karena salah satu sisi dibolehkannya kita untuk memanfaatkan sesuatu, ketika sesuatu itu dzatnya halal. Berbeda ketika hadiah natal yang diberikan itu secara dzat haram, seperti minuman keras, atau daging babi, atau yang lain. Maka ini dzatnya haram.

Sehingga acara natalan itu tidak bisa merubah dzat kue yang asalnya halal menjadi haram. Barang siapa yang mengharamkan dzat kue natalan, hendaknya mendatangkan dalil yang jelas dan gamblang dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Demikian pula makanan yang dzat asalnya haram, tidak bisa dirubah jadi halal dikarenakan jadi hidangan untuk acara yang baik atau bahkan sunnah. Misalnya minuman keras untuk hidangan acara walimah pernikahan. Dan ini merupakan perkara yang kita sepakati.

[2]. Ketika kue Natal itu telah diterima, secara hukum syar’I, kue itu sudah pindah kepemilikan kepada yang menerimanya. Karena sudah menjadi miliknya, maka diperbolehkan baginya untuk mendistribusikannya sesuai yang dia kehendaki. Bagi seorang muslim, tentunya akan dia distribusikan dalam perkara-perkara yang tidak melanggar hukum-hukum agamanya. Menjaga dan memelihara harta, termasuk maqoshidusy syari’at ( maksud tujuan syari’at Islam ). Tidak boleh bagi seorang muslim untuk melenyapkan atau membuang hartanya secara sia-sia, tanpa memiliki alasan yang dibenarkan syari’at.

[3]. Membuang makanan yang secara dzat halal, termasuk tindakan melenyapkan atau menyia-nyiakan harta dengan sia-sia. Dan ini dilarang dalam Islam. Terdapat beberapa dalil dalam masalah ini.

Diantaranya, Alloh melarang dari perbuatan isrof (berlebihan) dan tabdzir (boros). Dan dua hal ini termasuk bentuk menyia-nyiakan harta. Alloh berfirman :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Makan dan minumlah kalian akan tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia (Alloh) tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” [QS. Al-A’rof : 31].

Alloh juga berfirman :

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” [QS. Al-Isro’ : 26].

Nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ عُقُوقَ الْأُمَّهَاتِ وَوَأْدَ الْبَنَاتِ وَمَنَعَ وَهَاتِ وَكَرِهَ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

"Sesunhgguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka kepada ibu, mengubur anak wanita hidup-hidup, menghalangi sesuatu yang seharusnya diberikan dan memberikan sesuatu yang seharusnya dihalangi. Dan membenci kalian dari qiila wa qaola (memberitakan setiap apa yang didengar), banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta". [HR. Al-Bukhari : 2408 dan Muslim : 3237 dari Mughirah bin Syu’bah-rodhiallohu ‘ahu-].

Jika anda ingin memakan kue natal tersebut, maka dipersilahkan. Tapi jika anda tidak ingin memakannya, maka bisa dimanfaatkan untuk perkara-perkara yang bermanfaat seperti diberikan kepada orang lain yang membutuhkan seperti faqir miskin, atau diberikan kepada hewan piaraan (ayam atau burung atau yang lain), dihadiahkan kembali kepada pihak lain dll. Ini beberapa contoh pemanfaatan. Adapun diabuang sia-sia, merupakan tindakan yang kurang bijak, dengan beberapa keterangan yang telah kami sampaikan di atas.

Penetapan hukum halalnya kue natal dari sisi dzatnya, tidaklah berkonsekwensi pembenaran terhadap ritual perayaan Natal. Sebagaimana telah kami jelaskan di awal tulisan ini . Karena sesungguhnya dua hal ini pada hakikatnya masalah yang berbeda.

Betapa banyak masalah-masalah yang membutuhkan perincian detail. Karena masalah-masalah tersebut memiliki beberapa sisi dan sudut pandang, yang nantinya akan menghasilkan hukum yang berbeda-beda dari sisi dan sudut pandang masing-masing.

Mengharamkan apa yang Alloh haramkan dan menghalalkan apa yang Alloh halalkan, merupakan perkara yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Jangan sampai kita menghalalkan apa yang Alloh haramkan dan mengharamkan apa yang Alloh halalkan. Yang berhak menghalakan dan mengharamkan hanyalah Alloh dan Rosul-Nya –shollallahu ‘alaihi wa sallam-.

Jangan sampai kita seperti rahib-rahib ( pendeta-pendata Nashrani ) yang mengharamkan apa yang Alloh halalkan, dan menghalalkan apa yang Alloh haramkan. Kemudian pengikutnya mentaati hal tersebut. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits :

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ. فَقَالَ: «يَا عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الوَثَنَ»، وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِي سُورَةِ بَرَاءَةٌ: {اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ} [التوبة: 31]، قَالَ: «أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ، وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ، وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ»

“Aku mendatangi nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam dan di leherku ada salib emas, beliau bersabda: "Hai Adi, buanglah patung ini darimu." Dan aku mendengar beliau membaca dalam surat Al Baraa`ah: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah.' (At Taubah: 31) beliau bersabda: "Ingat, sesungguhnya mereka tidak menyembah mereka tapi bila mereka menghalalkan sesuatu, mereka menghalalkannya dan bila mengharamkan sesuatu, mereka mengharamkannya." [HR. At-Tirmidzi : 3095 dan dishohihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani –rohimahullah-].

Ingat! masalah tahlil (penghalalan) dan tahrim (pengharaman), termasuk masalah yang sangat berat dan perlu kehati-hatian. Jangan sampai tergesa-gesa dan sembrono tanpa didasari oleh ilmu. Karena kita sedang berbicara tentang agama yang diturunkan oleh Sang Pencipta Langit dan Bumi.

Alhamdulillah robbil ‘alamin. Semoga sholawat dan salam tercurah untuk nabi kita Muhammad-shollallahu ‘alaihi wa sallam-, keluarganya dan orang-orang yang mengikuti beliau dengan baik sampai akhir zaman.