Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Hukum Menerima Hadiah dari Pegawai Bank Ribawi

Hukum Menerima Hadiah dari Pegawai Bank Ribawi

Fikroh.com - Bolehkan menerima pemberian berupa hadiah atau shodaqoh dari pegawai maupun orang yang bekerja di bank ribawi?

Jawab :

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu kami sampaikan, bahwa bekerja di bank-bank  konvesional yang menjalankan praktek riba, termasuk dosa besar. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk bekerja di tempat seperti itu. Telah banyak dalil dari Al-Qur’an dan sunnah yang menjelaskan akan keharaman riba. 

Diantaranya Alloh berfirman :

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ فَمَن جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىٰ فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 275).

Alloh Ta’ala juga berfirman :

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Baqarah : 278).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat dari Al-Qur’an yang menjelaskan akan keharaman riba. Demikian pula hadits-hadits Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam-. Insya Alloh akan kami khususkan permasalahan keharaman riba dalam tulisan tersendiri .

Adapun menerima pemberian dari seorang yang bekerja di bank ribawi, baik berupa hadiah, shodaqoh, hibah, atau yang lain adalah boleh. Karena permasalah ini pada hakikatnya merupakan permasalahan lain yang tidak punya hubungan secara langsung dengan pekerjaan orang yang memberi dan hasil dari pekerjaannya. 

Ada suatu kaidah yang berbunyi :

إن ما حرم لكسبه فهو حرام على الكاسب فقط دون من أخذه منه بطريق مباح

“Sesungguhnya apa yang diharamkan untuk mencari nafkah dengannya, maka hal itu hanya haram untuk yang mencari nafkah dengan cara tersebut, tanpa melibatkan orang lain yang mengambil dari orang tersebut dengan cara yang dihalalkan oleh agama”

Alloh telah mengharamkan kepada umat Islam untuk mencari penghidupan/nafkah dengan cara riba. Maka keharaman hasil dari perbuatan riba tersebut hanya mengenai orang yang bermuamalah secara langsung. Adapun orang lain yang mengambil sebagian dari hartanya dengan cara yang halal, maka tidak mengapa.

Misalkan saja bapak A bekerja sebagai pegawai bank. Maka bapak B boleh untuk menerima pemberian dari A, baik berupa sedekah atau hadiah atau yang lain. Boleh juga bagi B untuk bertransaksi jual beli dengan A. Karena pemberian ataupun jual beli merupakan perkara yang dibolehkan oleh Syari’at. Adapun jika A tadi menggunakan hartanya yang dia dapatkan dari jalan riba untuk keperluan dirinya, maka dia telah berdosa. Misalkan A makan di sebuah restoran, kemudian dia membayar dengan uang hasil riba yang dia lakukan, maka dia mendapatkan dosa darinya.

Hal ini berdasarkan beberapa dalil, diantaranya bahwa Rosulullah-shollallahu ‘alalihi wa sallam- menerima pemberian dari orang-orang Yahudi dan juga bertransaksi dengan mereka. Padahal orang-orang Yahudi adalah suatu kaum yang mengambil riba. Alloh Ta’ala berfirman ketika mensifati mereka :

فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُواْ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا (160) وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُواْ عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah,dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih”. (QS. An-Nisa’: 160-161).

Alloh juga berfirman dalam ayat yang lain ketika mensifai orang-orang Yahudi :

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

“Mereka (orang-orang Yahudi) itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram”. (QS. Al-Maidah : 42).

Dari keterangan ayat di atas menunjukkan, sesungguhnya orang-orang Yahudi dikenal sebagai suatu kaum yang bermuamalah dengan riba dan memakan sesuatu yang haram. Akan tetapi bersamaan dengan keadaan ini, Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam- tetap menerima pemberian/hadiah dari mereka. Contoh untuk hal ini sebagaimana telah diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik –rodhiallohu ‘anhu- beliau berkata :

أَنَّ يَهُودِيَّةً أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَاةٍ مَسْمُومَةٍ، فَأَكَلَ مِنْهَا، فَجِيءَ بِهَا فَقِيلَ: أَلاَ نَقْتُلُهَا، قَالَ: «لاَ»، فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِي لَهَوَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Sesungguhnya seorang wanita Yahudi mendatangi Nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam- dengan membawa daging kambing yang telah diracun. Maka beliau –shollallahu ‘alaihi wa sallam- memakan sebagian dari daging tersebut. Lalu didatangkan wanita tersebut dan dinyatakan kepada beliau –shollallahu ‘alaihi wa sallam - :”Apakah tidak kita bunuh saja wanita ini ?” Nabi menjawab : “Tidak”. Maka aku terus menerus mengetahui bekas racun tersebut ada pada anak lidah Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam –“. (HR. Al-Bukhori : 2617 dan Muslim : 2190).

Al-Imam Ibnul Mulaqqin Asy-Syafi’i Al-Mishri (wafat 804 H) –rohimahullah- berkata: 

وأحاديث الباب دالة على جواز قبول هدية المشركين

“Dan hadits-hadits dalam bab ini menunjukkan akan bolehnya menerima hadiah dari orang-orang musyrikin”. ( At-Taudhih Lisyarhil Jami’ Ash-Shohih : 16/392 ).

Telah diriwayatkan pula, sesungguhnya Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam-menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi. Padahal Yahudi dikenal sebagai orang-orang yang gemar memakan dan bermu’amalah dengan riba. Sebagaimana telah dinyatakan oleh Aisyah –rodhiallohu ‘anha – beliau berkata:

«تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ، بِثَلاَثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ»

“Rosulullah-shollallahu 'alaihi wa sallam- wafat dalam kondisi baju perang beliau digadaikan pada seorang Yahudi dengan 30 sho' gandum". ( HR. Al-Bukhori : 2916 ). 

Dua hadits tersebut di atas dan yang lainnya menjadi dalil yang sangat kuat dalam masalah ini akan bolehnya menerima pemberian dari seorang yang bermuamalah dengan riba. Demikian pula bertransaksi secara umum. Karena seandainya hal ini tidak diperbolehkan, tentunya Rosulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam- tidak akan melakukannya. Hal ini juga merupakan pendapat yang dipilih oleh asy-syaikh Al-Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin –rohimahullah- sebagaimana dalam kitab “Liqo’at Babil Maftuh” ( 1/76 ).

Demikian pembahasan yang dapat kami susun secara ringkas. Semoga bermanfaat bagi kaum muslimin.