Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Asy'ari, Wahabi dan Wasathiyah Al-Azhar

Kubah Al-azhar

Fikroh.com - Ketika Al-'Allamah Syeikh Muhammad Al-Khidr Husain At-Tunisy mengemban amanah Grand Syeikh Al-Azhar pada tahun 1952, beliau menunjuk sejawatnya  Al-'Allamah Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib sebagai pemimpin redaksi Majalah Al-Azhar. Padahal guru dari Syeikh Muhammad Hamid El-Fiqi ini (pendiri organisasi Ansharussunnah Salafi) adalah seorang 'wahabi tulen' yang rajin mencetak kitab-kitab Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Muhammad Bin Abdul Wahab dan ulama-ulama salafi lain lewat Mathba'ah/percetakan Salafiyahnya di Kairo. Al-Khatib tetap dipercaya memimpin redaksi majalah Al-Azhar sampai tahun 1956 meskipun kemudian Syeikh Al-Khidr mengundurkan diri dari Masyaikhah Al-Azhar pada tahun 1954. 

Diantara ulama Islam yang punya kecenderungan salafi dan ikut berkontribusi untuk Al-Azhar adalah Alm Dr. Muhammad Imarah. Seperti halnya Al-Khatib, beliau juga diangkat sebagai Pemred majalah Al-Azhar selama 4 tahun (2011-2015). Selain itu, beliau juga termasuk anggota Hai'ah Kibar Ulama Al-Azhar dan anggota Majma' Buhuts Islamiyah Al-Azhar. Kecenderungan pemikiran salafi Dr. Muhammad Imarah terlihat jelas dalam pembelaannya terhadap Ibnu Taimiyah dalam bukunya 'Raf'u Al-Malam 'An Syeikh Al-Islam Ibnu Taimiyah'. Selain itu, beliau juga salah satu pendukung pemikiran Hasan Al-Banna sebagaimana beliau tuangkan dalam karyanya 'Ma'alim Al-Masyru' Al-Hadhary Fi Fikr Al-Imam As-Syahid Hasan Al-Banna'. Bisa jadi, sebagian orang akan mengingkari kesalafiyahan Dr. Imarah dan tidak mengapa. Karena memang Salafiyah Mesir (Salafiyah Ishlahiyah) lebih moderat ketimbang Salafiyah Nejd yang konservatif. Salafiyah Mesir seperti Sayyid Al-Khatib dan Dr. Imarah misalnya terlihat tidak memanjangkan jenggot.

Pada tahun 1950, Grand Syeikh Al-Azhar Syeikh Ibrahim Hamrusy mengutus Syeikh Sya'rawi untuk mengajar di fakultas syari'ah Makkah(cikal bakal Universitas Ummul Quro). Syeikh Sya'rawi kemudian mendengar bahwa Raja Su'ud Bin Abdul Aziz berencana untuk memindahkan maqam Ibrahim ke tempat lain pada tahun 1954 setelah bermusyawarah dengan para ulama (salafi). Syeikh Sya'rawipun menyurati Raja Su'ud dan menjelaskan kepadanya bahwa pemindahan tersebut menyalahi syariat. Beliau memintanya untuk membatalkan niat tersebut. Setelah mempelajari surat Syeikh Sya'rawi, Raja Su'ud yang Wahabi kemudian membatalkan pemindahan maqam Ibrahim karena nasehat seorang ulama Asy'ari; Syeikh Muhammad Mutawalli As-Sya'rawi. Btw, sangat banyak para ulama Al-Azhar yang Asy'ari diutus untuk mengajar di Universitas-Universitas Arab Saudi dan cabang-cabangnya seperti di LIPIA. Wallahu A'lam apakah para pembenci gerakan Islam juga akan berani mengatakan bahwa secara tidak langsung para dosen-dosen Al-azhar ini telah ikut menyebarkan ajaran Wahabi walaupun mereka tidak mengajarkan mata kuliah akidah. (Entah sejak kapan, di kampus-kampus Saudi, mata kuliah akidah biasanya hanya diampu oleh dosen asli Saudi yang jelas salafinya). 

Pada akhir tahun 1961, Universitas Islam Madinah didirikan berdasarkan titah dari Raja Su'ud Bin Abdul Aziz. Kemudian dibentuklah Dewan Penasehat Tinggi Universitas untuk membuat kurikulum dan sistem pendidikan. Diantara para ulama yang diminta untuk menjadi anggota dewan penasehat tinggi adalah para ulama Al-Azhar dan Az-Zaitunah yang notabene berakidah Asy'ari seperti Mufti Mesir Syeikh Hasanain Makhluf, Syeikh Muhammad Mahmud As-Shawwaf dan Al-Imam Thahir Ibnu Asyur At-Tunisi. Beberapa perbedaan dalam masalah akidah tidak menghalangi mereka untuk duduk bersama dengan para ulama salafi seperti Syeikh Abdul Aziz Bin Baz, Syeikh Abdul Muhsin Al-Abbad, Syeikh Albani dan lain-lain sesama anggota dewan penasehat tinggi Universitas. 

Ketika Al-Arif Billah Al-Imam Al-Akbar Syeikh Abdul Halim Mahmud mengarang kitab Fatawa 'An As-Syuyu'iyah/Fatwa-fatwa Tentang Komunisme, beliau mengawali bab pertama dari kitabnya dengan fatwa-fatwa dari para 'ulama negarawan' dari kerajaan Wahabi Saudi seperti fatwa Raja Faishal, fatwa Raja Khalid dan Fatwa Raja Fahd. Beliau begitu menghormati Ibnu Taimiyah dan menggelarinya dengan Al-Imam serta mengakui bahwa Ibnu Taimiyah adalah representasi dari pemikiran Imam Ahmad meskipun sedikit berbeda. Beliau juga bersikap hormat terhadap para ulama-ulama Salafi (begitupun sebaliknya) sekalipun ia dikenal sebagai tokoh Shufi. Tengoklah bagaimana Syeikh Bin Baz begitu hormat ketika menyurati Syeikh Abdul Halim Mahmud yang mewasiatkan agar dirinya dikuburkan disebuah mesjid di kampung halamannya, hal yang diingkari oleh Syeikh Bin Baz menurut Mazhab Salafinya. Syeikh Bin Baz memulai suratnya dengan perkataan; Dari Abdil Aziz Bin Baz kepada Hadharatil Akh Al-Mukarram yang mulia Dr. Abdul Halim Mahmud Syeikhul Azhar semoga selalu dalam taufiq Allah...

Diantara bentuk kerjasama Salafi Asy'ari adalah apa yang terjadi antara Al-'Allamah Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dengan lembaga-lembaga keagamaan Wahabisme di Saudi. Seperti ikut bergabungnya Sayyid Muhammad di Rabithah Alam Islami, King Abdul Aziz University, Fakultas Syariah Makkah (Univ Ummul Quro) disamping aktifnya beliau mengajar di Masjidil Haram menggantikan Ayahandanya yang wafat tahun 1971.Beliau punya hubungan dekat dengan Raja Abdullah. Sayyid Alawi juga termasuk salah seorang ulama Asy'ari yang menyetujui penumpasan 'pemberontakan' Juhaiman di Masjidil Haram tahun 1979. Beliau termasuk ulama yang lembut, menasehati dengan hikmah dan menghormati tokoh-tokoh Salafiyah bahkan menggelari Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab (pendiri Wahabisme) dengan Imam Tauhid dan Ra'sul Muwahhidin dalam kitabnya 'Mafahim Yajib An Tushohhah'. Dan semoga, baik Wahabi maupun Asy'ari tidak akan 'menuduh' sikap lembut dan hikmah beliau terhadap Wahabiyah sebagai sikap 'kamuflase' saat dalam posisi lemah. 

Al-'Allamah Syeikh Wahbah Az-Zuhaili yang dijuluki sebagai Imam As-Suyuthi abad ini juga punya pendapat yang moderat terhadap Wahabisme dan Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab secara khusus. Beliau menganggap Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab sebagai mujaddid abad ke 12 H dalam kitabnya 'Mujaddid Ad-Din Fi Al-Qarn Tsani Asyar'. Sikap positif dan pujian Syeikh Wahbah Az-Zuhaili terhadap Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab juga terlihat jelas dalam sebuah makalah yang ditulis Syeikh Az-Zuhaili berjudul 'Ta_attsur Ad-Dakwah Al-Ishlahiyat Al-Islamiyah Bi Dakwah As-Syeikh Muhammad Bin Abdil Wahab'. Dimana beliau menggelari Syeikh M Abdul Wahab dengan 'Za'im An-Nahdhah Ad-Diniyah Al-Ishlahiyah Al-Muntadzhar'. (Makalah ini terdapat dalam 'Buhuts Usbu' Syeikh Muhammad Bin Abdil Wahab' jilid ke II yang dicetak oleh Markaz Buhuts Universitas Al-Imam Muhammad Bin Su'ud Al-Islamiyah Riyadh-Saudi). 

Sikap para ulama Asy'ari dan Salafi/wahabi yang saling bekerjasama dan bersikap adil sesama mereka tentu sangat banyak. Di zaman dulu kita mengenal nama-nama moderat seperti Ibnu Katsir, Az-Dzahabi, As-Suyuthi, Ibnul Jauzy, Ibnu Qudamah dll. Di era modern kita juga mengenal beberapa ulama yang inshof tersebut seperti Syeikh Abu Ghuddah, Dr. Muhammad Al-Musayyar, Syeikh Dedew, Syarif Hatim Al-Auni dan lain-lain. 

Bekerjasama dan bersikap inshaf terhadap aliran-aliran yang saling mengklaim sebagai bagian dari Ahlul Sunnah ini tentunya tidak harus berarti tidak boleh membantah secara Ilmiyah. Tapi maksudnya adalah lebih kepada agar kita menempatkan prioritas 'musuh' pada tempat yang semestinya untuk kemudian mau saling tolong menolong dalam perkara yang kita sepakati dan saling bertoleransi terhadap perkara yang kita perselisihkan (kaedah yang dipopulerkan Hasan Al-Banna ini sejatinya adalah perkataan Sayyid Rasyid Ridha, Murid Imam Muhammad Abduh yang namanya diabadikan di sebuah gedung Al-Azhar; Qo'ah Al-Imam Muhammad Abduh). 

Itulah beberapa contoh sikap toleransi dan kerjasama antara Asy'ari dan Wahabi. Lalu bagaimana dengan sikap ekstrim dan cerita saling usir, kafir mengkafirkan dan lain-lain yang sampai menimbulkan korban jiwa seperti yang menimpa Imam At-Thabari, 'takfir' terhadap Hanabilah oleh Syarif Al-Bakri dan fitnah-fitnah lain yang 'memenuhi' buku sejarah? atau persekusi yang menimpa Syeikh Abu Ghuddah dan Sayyid Alawi al-Maliki dan lain-lain? Kisah persekusi, usir mengusir dan dan saling menggelari dengan gelar yang buruk sepertinya ribuan kali lebih banyak dan akan terus terjadi. Sebab, hal itu sudah menjadi 'jalan' masing-masing sebagian umat ini. Dimana sebagiannya cenderung tekstualis, sementara yang lain cenderung lebih rasionalis. Meminjam ungkapan Al-Arif Billah Al-Imam Al-Akbar Grand Syeikh Al-Azhar Syeikh Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya 'Qadhiyah At-Tashawwuf-Al-Munqid Min Ad-Dhalal' ketika menceritakan konflik antara Mu'tazilah, Salafiyah/Hanabilah dan Shufiyah di sisi yang lain beliau berkata: "itulah kecendrungan yang berbeda berdasarkan fitrah manusia yang akan terus abadi selama abadinya jenis manusia itu diatas muka bumi ini. Maka, adalah sebuah kesalahan mereka yang coba memerangi tasawwuf, i'tizal dan kaum tekstualis dengan  harapan untuk memusnahkan total ketiga kecenderungan tersebut." Rahimahullah. 

Lalu, apakah diskusi yang sehat bisa menyelesaikan konflik? Bukankah ribuan kitab yang saling counter mengcounter telah ditulis? Kemungkinan juga tidak akan bisa mengakhiri 'perang' ini. Apalah lagi sanggah menyanggah dan perdebatan yang tendensius. Ibarat sebuah peperangan, yang hari ini kalah takkan pernah mengakui kekalahannya, mereka akan membersihkan dan membalut luka-luka itu, menyiapkan kembali senjata dan kekuatan baru untuk kemudian terjun ke pertempuran selanjutnya. 

Semoga Allah merahmati 'Alim Azhari putra 'Alim Azhari yang pernah mengajar di Saudi, Almarhum Dr. Muhammmad Sayyid Ahmad Al-Musayyar ketika berkata: 

"Wahai tuan-tuan, Salafiyah (Wahabisme) takkan (bisa) dilenyapkan, Shufiyah takkan (bisa) dilenyapkan, Asy'ariyah takkan (bisa) dilenyapkan, Mu'tazilah takkan bisa dilenyapkan. Mazhab-mazhab ini telah diperangi (sedemikian rupa oleh musuh-musuhnya) namun ia tetap bertahan dan akan terus bertahan. 

Alangkah baiknya kita 'bertemu' dalam hal-hal yang telah disepakati dari prinsip-prinsip agama yang tidak ada perbedaan disekitarnya dan saling bertoleransi dalam hal-hal furu' yang kita perselisihkan. Dan hendaknya hikmah kenabian "Barangsiapa yang berijtihad dan dia benar maka baginya dua pahala, dan barangsiapa yang berijtihad lalu salah maka baginya satu pahala" menjadi syi'ar kita semua. (Sementara itu, para pembenci gerakan Islam tak berhenti mengatakan bahwa kaedah toleransi ini adalah kaedah rancu Hasan Al-Banna). Wallahu A'lam.

Oleh: Taufik M. Yusuf Njong