Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

3 Contoh Berbohong yang Dibolehkan Menurut Hadits Nabi

3 Contoh Berbohong yang Dibolehkan Menurut Hadits Nabi

Fikroh.com - Islam melarang umatnya berdusta dalam bentuk apapun, kecuali dalam 3 keadaan yang diperbolehkan untuk berbohong. Telah diriwayatkan dari Ummu Kutsum binti ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, sesungguhnya beliau pernah mendengar Rosululloh-shollallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

« لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِى يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِى خَيْرًا ». قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِى شَىْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا.

“Bukanlah pendusta seorang yang mendamaikan diantara manusia yang berselisih, dia mengucapkan kebaikan dan akan tumbuh kebaikan”. Ibnu Syihab berkata : Aku belum pernah mendengar (Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam) memberikan rukhshoh (keringanan) pada sesuatu dari apa-apa yang manusia menyebutnya sebagai kedusataan kecuali dalam tiga perkara, pada perang, mendamaikan orang yang berselisih, dan pembicaraan seorang suami terhadap istrinya dan pembicaraan seorang istri kepada suaminya”. [HR. Muslim : 6799].

Dari hadits di atas terdapat dalil bolehnya untuk berdusta dalam tiga keadaan :

  • Ketika perang
  • Mendamaikan dua orang yang berselisih
  • Perkataan seorang suami kepada istrinya dan sebaliknya, agar terwujud keridhaan diantara keduanya.

Al-Imam An-Nawawi –rohimahullah- berkata :

قال القاضي لا خلاف في جواز الكذب في هذه الصور...

“Al-Qodhi ‘Iyyadh –rohimahullah- berkata : Tidak ada perselisihan dalam bolehnya berdusta dalam tiga bentuk ini…” [Syarh Shohih Muslim: 16/158].

Al-Imam Al-‘Izzu bin Abdus Salam –rohimahullah- berkata :

والتحقيق أن الكذب يصير مأذونا فيه ويثاب على المصلحة التي تضمنها على قدر رتبة تلك المصلحة من الوجوب في حفظ الأموال والأبضاع والأرواح. ولو صدق في هذه المواطن لأثم إثم المتسبب إلى تحقيق هذه المفاسد

“Pendapat yang kuat, sesungguhnya berdusta itu menjadi diijinkan di dalamnya dan diberi pahala atas kemashlahatan yang dikandungnya sesuai dengan tingkatan kemashlahatan tersebut dari perkara yang wajib dalam menjaga harta, anggota tubuh, dan nyawa. Jika seandainya seorang jujur dalam kondisi-kondisi seperti ini, sungguh dia telah berdusta dengan suatu dosa yang menyebabkan terealisasinya kerusakan-kerusakan ini”. [Qowa’idul Ahkam Fi Masholihul Anam: 1/113].

Al-Imam Ash-Shon’ani –rohimahullah- berkata :

واعلم أنه يجوز الكذب اتفاقا في ثلاث صور كما أخرجه مسلم في الصحيح قال ابن شهاب لم أسمع يرخص في شيء مما يقول الناس كذب إلا في ثلاث الحرب والإصلاح بين الناس وحديث الرجل امرأته وحديث المرأة زوجها قال القاضي عياض: لا خلاف في جواز الكذب في هذه الثلاث الصور وأخرج ابن النجار عن النواس بن سمعان مرفوعا "الكذب يكتب على ابن آدم إلا في ثلاث الرجل يكون بين الرجلين ليصلح بينهما والرجل يحدث امرأته ليرضيها بذلك والكذب في الحرب"

“Ketahuilah ! sesungguhnya diperbolehkan untuk berdusta menurut kesepakatan para ulama’ dalam tiga bentuk. Sebagaimana dikeluarkan oleh Muslim dalam “Shohih” beliau. Ibnu Syihab berkata : Aku belum pernah mendengar (Rosulullah-shollallahu ‘alaihi wa sallam) memberikan rukhshoh (keringanan) pada sesuatu dari apa-apa yang manusia menyebutnya sebagai kedusataan kecuali dalam tiga perkara, pada perang, mendamaikan orang yang berselisih, dan pembicaraan seorang suami terhadap istrinya dan pembicaraan seorang istri kepada suaminya. Al-Imam Al-Qodhi ‘Iyyadh –rohimahullah- berkata : Tidak ada perselisihan tentang bolehnya berdusta dalam tiga bentuk ini. Ibnu Najjar telah mengeluarkan sebuah riwayat dari An-Nawwas bin Sam’an secara marfu’ : “Berdusta itu akan ditulis atas Ibnu Adam kecuali dalam tiga perkara : seorang yang berada di antara dua orang untuk mendamaikan antara keduanya, seorang suami berbicara kepada istrinya untuk membuat dia ridho dengan hal itu, dan berdusta dalam peperangan”. [Subulus Salam : 4/202].

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rohimahullah- berkata :

فالواجب تحري الصدق والحذر من الكذب أينما كان إلا في الأوجه التي يجوز فيها الكذب، تقول أم كلثوم بنت عقبة رضي الله عنها: ((لم يسمع النبي صلى الله عليه وسلم يرخص في شيء من الكذب إلا في ثلاث في الحرب، والإصلاح بين الناس، وحديث الرجل امرأته والمرأة زوجها)) ، في هذا لا بأس في الثلاث إذا كذب للمصلحة،

“Maka wajib untuk senantiasa berusaha jujur dan meninggalkan dusta dimanapun seorang berada kecuali pada keadaan-keadaan yang dibolehkan di dalamnya untuk berdusta. Ummu Kultsum binti ‘Uqbah –rodhiallohu ‘anha- : Aku belum pernah mendengar dari Nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan rukhshoh (keringanan) dalam suatu perkara kecuali dalam tiga hal : ketika perang, mendamaikan antara dua orang yang berselisih, dan pembicaraan seorang suami terhadap istrinya dan sebaliknya. Tidak mengapa untuk berdusta dalam tiga keadaan ini apabila dia berdusta untuk suatu kemashlahatan”. [Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh bin Baz –rohimahullah- : 28/435].

Dari pembahasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

1. Berdusta pada asalnya termasuk perkara yang diharamkan oleh agama kita. Sangat banyak dalil yang menunjukkan akan hal ini.

2. Akan tetapi diperbolehkan dalam keadaan-keadaan tertentu, karena mashlahat yang akan muncul jauh lebih besar dari mudhorot kedustaaan itu sendiri, contohnya apa yang telah disebutkan dalam hadits di atas, yaitu ketika perang, mendamaikan dua pihak yang berselisih, dan perkataan seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya.

3. Diperbolehkannya berdusta dalam tiga keadaan di atas, ketika seorang yang melakukannya berada di atas kebenaran/kebaikan dalam rangka untuk membela diri atau untuk menghindar dari kemudhorotan yang besar Adapun untuk berdusta dalam rangka untuk mengambil hak orang lain, atau untuk membela suatu kebatilan, atau untuk atau terhindar dari suatu sanksi hukum, maka tidak termasuk dalam perkara yang diperbolehkan.

Abu Anas Al-Jirani –hafidzohullah-