Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Tadabbur Ayat Surat Al-A’rāf: 204-206

Tadabbur Ayat Al-A’rāf: 204-206


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ ، أَمَّا بَعْدُ

Ikhwatal Iman, kaum muslimin dan muslimat di mana saja antum berada. Semoga Allāh Tabaraka Wa Ta'ala senantiasa memberikan pertolongan dan kemudahan kepada kita untuk memaksimalkan ibadah di bulan yang penuh berkah ini. 

Mari kita senantiasa memuji dan memuja Allāh, hati meyakini bahwa seluruh nikmat hanya datang dari Allāh kemudian lisan memuji dan memuja Allāh dengan menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya. 

Kemudian kita bersungguh-sungguh untuk memanfaatkan nikmat dan karunia yang Allāh berikan kepada kita untuk meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allāh. Karena sesungguhnya itulah hakikat dari kesyukuran kepada Allāh Tabaraka Wa Ta'ala.

Shalawat dan salam mari kita perbanyak ucapkan untuk Nabi kita yang mulia Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam. 

اللهم صلي على محمد وعلى ال محمد

Ikhwatal Iman Rahimakumullah, di bulan yang penuh berkah ini, tentunya amal ibadah adalah amal ibadah yang sangat mulia di sisi Allāh. Di antara amalan yang sangat mulia kita memperbanyak membaca Al-Qurān serta berusaha merenungi dan mentadabbur isi kandungan dari ayat-ayat yang kita baca. 

Ikhwatal Iman Rahimakumullah, kesempatan yang mulia ini kita akan bersama-sama mentadabur firman Allāh Tabaraka Wa Ta'ala di dalam Surat Al-A'raf ayat 204–206. Yang menjelaskan perintah untuk mendengar dan mentadabur Al-Qurān serta juga bagaimana adab-adab kita di dalam berdzikir kepada Allāh Tabaraka Wa Ta'ala. 

Di dalam QS Al-A'raf ayat 204 – 206 

:قال الله تعالى 

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ ،

وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (٢.٤)

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ (٢.٥)

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ (٢.٦)

Adapun arti dari ayat yang kita bacakan tadi, kata Allāh Subhanahu Wa Ta'ala yang artinya: 

Apabila dibacakan Al-Qurān, 

فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟

Dengarkan baik-baik dan perhatikan.

لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Mudah-mudahan kalian mendapatkan rahmat.

Dan sebutlah Rabbmu, berdzikirlah kepada Rabbmu.

فِي نَفْسِكَ 

Dalam dirimu,

 تَضَرُّعًا وَخِيفَةً

Dalam keadaan merendahkan diri dan memiliki rasa takut.

وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

Dan tanpa mengeraskan suara, di pagi dan di petang hari. 

وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Jangan engkau menjadi orang-orang yang lalai. 

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ

Sesungguhnya para malaikat yang ada di sisi Rabbmu, mereka tidak pernah menyombongkan diri dari beribadah kepada Allāh. 

Mereka, 

يُسَبِّحُونَهُ 

Selalu bertasbih kepada Allāh. 

وَلَهُ يَسْجُدُونَ

Dan mereka sujud kepada Allāh Tabaraka Wa Ta'ala.

Ikhwatal Iman Rahimakumullahu, 3 ayat yang mulia tadi menjelaskan kepada kita banyak pelajaran. Akan tetapi sebelumnya kita jelaskan makna ke 3 ayat tersebut secara global. 

Ayat 204 tadi, memerintahkan kita apabila kita mendengar Al-Qurān yang dibaca, maka tugas kita adalah untuk mendengarkan dengan seksama, memperhatikan, sembari berusaha untuk mentadabur dan menghayati makna yang terkandung di dalamnya. 

Bukan sekedar mendengar dengan telinga tetapi menghayati apa yang dibaca. Bukan sekedar mendengar dengan telinga, tetapi berusaha memahami apa yang kita dengar. Oleh karena itu dalam ayat tersebut ada perintah anshitu (أَنصِتُوا۟) dan juga (ٱسْتَمِعُو).

وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُ ، وَأَنصِتُوا۟

فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُ

Yaitu dengarkan baik-baik, hati memahami. Telinga kita mendengar, hati memahami, kemudian kita gunakan akal kita untuk mentadabbur ayat demi ayat yang kita dengar. 

Dan, ٱسْتَمِعُوا۟ lebih istimewa dari أَنصِتُوا۟ 

Kata أَنصِتُوا۟ sekedar mendengar, kita diam tidak berbicara. Telinga kita mendengarkan. Tapi di dalamnya tidak terkandung makna yang spesial, yaitu memperhatikan dengan seksama. Meninggalkan hal-hal yang menyibukkan kita dari mendengarkan Al-Qurān yaitu أَنصِتُوا۟ 

Tapi ٱسْتَمِعُوا۟ mendengarkan baik-baik, telinga mendengarkan dengan baik, kemudian akal kita berusaha memahami, menghayati apa yang kita dengar dan hati berusaha untuk selalu menghayati, memahami apa yang dibaca.

Kemudian kata Allāh, 

لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Mudah-mudahan kalian akan mendapatkan rahmat.”

Menjelaskan kepada kita mendengarkan bacaan Al-Qurān disertai dengan mentadabbur dan menghayati isi kandungannya itu merupakan bentuk pengagungan terhadap Al-Qurān dan itu merupakan sebab utama untuk mendapatkan rahmat Allāh Tabaraka Wa Ta'ala. 

Semoga Allāh Tabaraka Wa Ta'ala memberikan taufik dan hidayah kepada kita. Serta kemudahan dan pertolongan di dalam berubudiyah kepada-Nya  dengan banyak berdzikir terutama di bulan yang penuh berkah ini. 

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ

Sebutlah nama Rabbmu, sebutlah Rabbmu. Berdzikirlah kepada Rabbmu. 

فِي نَفْسِكَ

Dalam hatimu,

تَضَرُّعًا وَخِيفَةً

Dengan penuh merendahkan diri,

وَخِيفَةً

Dan disertai dengan rasa takut, 

دُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

Tanpa dikeraskan. Kapan kita berdzikir? Di pagi dan petang hari. 

Kemudian Allāh melarang kita,

وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Dan jangan menjadi orang yang lalai. 

Dalam ayat yang mulia ini, perintah kepada kita untuk selalu banyak berdzikir, untuk senantiasa ingat kepada Allāh, ingat kepada negeri akhirat. Tidak menjadi orang-orang yang lalai. Karena orang-orang yang lalai dari berdzikir kepada Allāh, merekalah orang-orang yang merugi. 

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ

Ini menunjukkan kepada kita bahwa di dalam berdzikir adalah kita senantiasa berdzikir فِي نَفْسِكَ (dalam hati kita), ini dzikir dengan hati. 

Bagaimana maksud dari ayat tersebut? Tatkala kita memuji memuja Allāh menyebut namanya, hati kita memahami, menghayati apa yang kita baca serta meyakini tentang keagungan dan kebesaran Allāh. Dzikir بلقب (bil qolbi). 

Kemudian,

تَضَرُّعًا وَخِيفَةً

Dengan merendahkan diri, وَخِيفَةً (dengan rasa takut). Jadi, رَغَبًا وَرَهَبًا (takut dan berharap). رَغَبًا itu berharap ketika merendahkan diri kepada Allāh, berharap rahmat. وَخِيفَةً (rasa takut). Karena 2 inilah yang menjadi rukun dalam setiap amal yang kita lakukan. Yaitu selalu ada dalam diri kita rasa takut dan juga berharap. 

Kemudian, 

دُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

Tanpa dikeraskan, berdzikir tanpa dikeraskan. Tidak teriak-teriak (mengeraskan suara). Kenapa demikian ikhwatal iman? 

Karena Allāh yang kita seru, Allāh yang kita sebut namanya yang kita selalu berdzikir dan ingat kepadanya, itu dekat (mendengar) apa yang kita sebut, apa yang kita puji dari nama-nama dan sifat-sifat Nya, apa yang kita panjatkan dan kita mohonkan kepada Allāh Tabaraka Wa Ta'ala. 

Sehingga pada suatu ketika Nabi ditanya oleh para sahabatnya, 

 يَا رَسُولَ اللَّهِ قَرِيبٌ رَبُّنَا فَنُنَاجِيهِ ؟ أَوْ بَعِيدٌ فَنُنَادِيهِ

Kemudian Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan firman-Nya, di dalam QS Al-Baqarah 186.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Ya Rasulullah, apakah Rabb kita itu dekat? sehingga kita menyerunya dengan suara yang lembut? atau بعيد (jauh) sehingga kita harus menyerunya dengan mengangkat suara?

Maka Allāh Subhanahu Wa Ta'Ala menurunkan firman-Nya, “Wahai Muhammad apabila hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, katakan pada mereka, فَإِنِّي قَرِيبٌ (Aku dekat). Sehingga aku akan memperkenankan doa orang yang berdoa kepadaKu.”

Ikhwatal iman, di dalam berdzikir tidak perlu teriak-teriak. Kenapa demikian? Karena Allāh yang kita seru, Allāh yang kita puji, Allāh yang kita sebut nama dan sifatNya Maha dekat, tapi dekat di sini bukan dekat fisiknya. Naudzubillahi mindzalik. 

Dekat bersama Tingginya Allāh, karena Dzatnya Maha Tinggi dan bukti kedekatan Allāh dengan hambaNya Allāh mendengar apa yang kita baca, apa yang kita panjatkan, permohonan apa yang kita panjatkan kepada Allāh. Kita menyeru Allāh, memuji Allāh, Allāh mendengar hal itu. Sehingga apabila kita berdoa Allāh akan mengabulkannya. Tidak perlu teriak-teriak di dalam berdzikir, dalam berdoa. 

Kemudian dalam sebagian hadits disebutkan, hadits Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhu. Dalam suatu perjalanan sebagian para sahabat mengeraskan suara mereka dalam berdoa dan berdzikir kepada Allāh. Tatkala Nabi mendengar hal itu, Beliau menegur para sahabatnya sembari berkata, 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Wahai para sahabatku, kasihani diri kalian, artinya tidak perlu kalian teriak-teriak dan mengangkat suara dalam berdoa dan berdzikir. Sesungguhnya Rabb yang kalian seru, Rabb yang kalian berdoa kepadanya itu dekat. Bukanlah Rabb yang tiada (ghaib) atau Rabb yang tuli (tidak mendengar) tapi yang kalian seru itu سَمِيعٌ قَرِيبٌ (mendengar dan Maha dekat).

Ikhwatal iman Rahimakumullah, ini makna,

دُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ

Firman Allāh,

دُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ 

Dan sebelumnya,

 وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ

Maka di dalam berdzikir ada tingkatan dan ahwalnya. 

• Yang pertama, berdzikir dengan hati,

• Kemudian yang kedua berdzikir dengan lisan,

• Dan yang ketiga berdzikir dengan hati dan lisan. Inilah yang paling sempurna. Kondisi seorang hamba yang paling sempurna dalam berdzikir adalah menggabungkan hati dan lisan. 

Kemudian kapan waktu yang paling utama untuk berdzikir? Allāh sebutkan di dalam ayat tersebut,

بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ 

Di pagi dan di petang hari.

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelam.” [QS Thaha:130]

Maka waktu yang paling utama untuk berdzikir disebutkan dalam ayat ini adalah pada pagi dan petang hari. Makanya kita mengenal dan mengetahui ada dzikir pagi dan petang hari.

Ikhwatal iman, kemudian kata Allāh,

وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Jangan kamu menjadi orang yang lalai jangan kamu menjadi orang-orang yang tidak pernah berdzikir kepada Allāh.

Maka ikhwatal iman Rahimakumullah, firman Allāh

وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Menunjukkan kepada kita bahwasanya 2 hal yang bertentangan antara dzikir dengan kelalaian. Orang yang lalai berarti dia tidak berdzikir dan orang yang berdzikir berarti selamat dari kelalaian. 

Maka tiada cara, tiada sebab untuk menyelamatkan diri dari kelalaian kecuali banyak berdzikir kepada Allāh. Di awal ayat Allāh menyebutkan, 

وَاذْكُرْ رَبَّكَ

Ingatlah, sebutlah nama Rabbmu, pujilah Rabbmu, berdzikirlah kepada-Nya. Kemudian di akhir ayat Allāh menyebutkan

 وٙلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

Janganlah menjadi orang yang lalai.

Menjelaskan kepada kita bahwa antara dzikir dan kelalaian itu 2 hal yang bertentangan. Dua hal yang berlawanan. Siapa tidak berdzikir, maka terjebak ke dalam kelalaian. Siapa yang banyak berdzikir berarti dia selamat dari kelalaian.

Ikhwatal iman Rahimakumullah, kemudian ayat 206 Allāh menjelaskan,

إِنَّ الَّذِينَ عِنْدَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ 

Sesungguhnya para malaikat yang ada di sisi Rabbmu, ini menjelaskan kepada kita tempat malaikat itu di langit, tinggi. Dan Allāh Maha Tinggi di atas Arasy. 

Para malaikat yang ada di sisi Allāh (penghuni langit) mereka tidak pernah sombong dalam beribadah kepada Allāh. Menjelaskan kepada kita bahwa malaikat tersebut diciptakan untuk beribadah. Tugasnya beribadah. Mereka hamba Allāh. 

Oleh karenanya Allāh Subhanahu Wa Ta'ala melarang kita untuk sombong beribadah kepadanya. Di dalam QS Ghafir ayat 60.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Rabb kalian telah berfirman, 

ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Berdoalah kalian kepadaKu, maka sesungguhnya akan Aku kabulkan.

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dalam beribadah kepadaKu, kata Allāh 

سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina. Malaikat diciptakan adalah untuk beribadah maka tugas mereka beribadah dan tidak menyombongkan diri. 

Mereka melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allāh, [QS An-Nahl: 50]

يَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Melaksanakan apa yang diperintahkan.

Dan mereka selalu mensucikan Allāh, bertasbih ini amalan mereka. Bertasbih, beribadah, berdzikir kepada Allāh, [QS Al-A’raf: 206]

وَلَهُۥ يَسْجُدُونَ

Dan di antara ibadah mereka, mereka bersujud. 

Kenapa Allāh Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan di akhir ayat surat Al-A'raf ini setelah sebelumnya menyebutkan perintah untuk berdzikir kemudian melarang dari kelalaian? Allāh ingin memberikan kepada kita peringatan dan juga wejangan. Bahwa para malaikat makhluk yang mulia di sisi Allāh, mereka tidak pernah menyombongkan diri dalam beribadah. 

Maka “Wahai Orang yang beriman, wahai hambaKu.” Kata Allāh Subhanahu Wa Ta'ala, “Hendaklah kalian mencontoh mereka di dalam ketaatan, di dalam beribadah, banyak beribadah kepada Allāh. Janganlah menjadi orang yang lalai, banyaklah bertasbih, banyaklah mengagungkan Allāh Tabaraka Wa Ta'ala. 

Karena para malaikat tidak pernah bosan, tidak pernah lalai dalam beribadah. Maka, contohlah sifat mereka dalam kesungguhan di dalam beribadah dan tidak pernah lalai.

Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Nur Ihsan, M.A. حفظه الله تعالى