Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Sariyah Sebelum Pertempuran Badar Al Kubra

Sariyah Sebelum Pertempuran Badar Al Kubra

Oleh: Abdurrahman Al Buthony

Dalam buku-buku sejarah, aktivitas militer kaum muslimin yang baru tumbuh di Madinah dibagi menjadi dua jenis, yaitu Ghozwah dan Sariyah (Ba'ts).

Ghozwah adalah pemberangkatan pasukan dengan dipimpin langsung oleh Rasulullah ﷺ sendiri, baik terjadi pertempuran atau tidak. Selama hidupnya, beliau ﷺ telah memimpin pasukan secara langsung sebanyak 27 kali.

Sementara Sariyah adalah pemberangkatan pasukan yang diutus oleh Rasulullah ﷺ dimana kepemimpinan pasukan diberikan kepada para Sahabat, baik itu terjadi pertempuran ataupun tidak. Tercatat, sebanyak 38 Sariyah pernah diutus dari Madinah selama masa kehidupan Rasulullah ﷺ.

Sebelum meletusnya pertempuran Badar Al Kubra, kaum muslimin Madinah telah beberapa kali melakukan aktivitas militer -baik Ghozwah ataupun Sariyah- namun kebanyakannya tidak terjadi pertempuran.

Berikut beberapa ekspedisi militer (sariyah) yang sempat mengalami konfrontasi bersenjata dengan musyrikin Quraisy sebelum terjadinya perang Badar Al Kubra.

- Sariyah (Batalyon) Ubaidah bin Al-Harits رضي الله عنه

Ubaidah bin Al-Harits رضي الله عنه ditunjuk sebagai pemimpin bendera komando pertama yang telah dibentuk Rasulullah ﷺ. Dengan beranggotakan 60 personel yang berasal dari kaum Muhajirin, batalyon Ubaidah bin Al-Harits berhadapan dengan musyrik Quraisy yang berkekuatan lebih dari 200 personel. Komandan pasukan Quraisy adalah Abu Sufyan bin Harb -yang masih musyrik pada saat itu-.

Kedua pasukan terlibat pertempuran singkat di sebuah mata air di lembah Rabigh. Dalam pertempuran tersebut, para pemanah menjadi kekuatan utama di masing-masing kubu.

Beberapa hal penting yang terjadi:

- Salah seorang sahabat yang terkenal dengan ketepatan bidikannya, Sa'ad bin Abi Waqqash رضي الله عنه, menjadi orang pertama yang melontarkan anak panah ke arah musyrikin Quraisy. Anak panah tersebut merupakan anak panah pertama yang dilontarkan untuk islam.

- Utbah bin Ghazwan dan Al-Miqdad bin Al-Aswad yang sebelumnya berada di dalam kelompok musyrikin Quraisy berhasil melarikan diri dan bergabung dengan batalyon Ubaidah bin Al-Harits. Kedua tokoh

ini (رضي الله عنهما) telah masuk Islam sebelumnya.

- Sariyah (Batalyon) Abdullah bin Jahsy رضي الله عنه

Pada hari terakhir di bulan Rajab tahun 2 H, Rasulullah ﷺ mengirim Abdullah bin Jahsy رضي الله عنه bersama delapan orang Muhajirin lainnya ke daerah Naklah -sebelah selatan kota Makkah- guna memata-matai pergerakan kaum musyrik Quraisy. Namun batalyon ini bertemu dengan sebuah kafilah dagang Quraisy hingga terjadi kontak senjata antara kedua belah pihak yang berhasil dimenangkan oleh pasukan islam.

Waqid bin Abdullah At-Tamimi رضي الله عنه berhasil membunuh komandan kafilah dagang Quraisy yang bernama Amr bin Al-Hadhrami. Kemudian batalyon Abdullah bin Jahsy kembali ke Madinah dengan membawa serta ghanimah dan dua orang tawanan, yaitu Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan.

Beberapa hal penting yang terjadi:

- Dengan peristiwa ini maka Amr bin Al-Hadhrami merupakan korban tewas pertama di tangan kaum muslimin.

- Ghanimah yang didapatkan dalam peristiwa ini adalah ghanimah pertama dalam islam.

- Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan merupakan orang pertama yang menjadi tawanan kaum muslimin. Pada akhirnya Al-Hakam bin Kaisan memeluk Islam dihadapan Rasulullah ﷺ.

- Musyrik Quraisy sempat mengeksploitasi ekspedisi militer batalyon Abdullah bin Jahsy رضي الله عنه yang terjadi di salah satu bulan haram tersebut. Mereka mempropagandakan statement-statement negatif untuk memojokkan islam dengan tuduhan tidak menghormati bulan-bulan haram yang merupakan peninggalan ajaran Nabi Ibrahim 'alaihis salam.

Hal ini sempat menimbulkan dampak yang besar bahkan membuat kaum muslimin di Madinah terpecah menjadi dua kelompok dan kaum Yahudi Madinah pun ikut menggoreng isu panas ini. Hingga akhirnya turun wahyu kepada Rasulullah ﷺ yang menjadi penyejuk hati bagi kaum muslimin dan membungkam mulut-mulut musuh islam,

"Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah: 217)