Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Maryam Binti Imran Wanita Istimewa, Pilihan Tuhan

Maryam Binti Imran Wanita Istimewa, Pilihan Tuhan

Fikroh.com - Allah di dalam kitab-Nya yang mulia telah menceritakan kisah para nabi dan rasul untuk dijadikan sebagai pelajaran bagi kita. Dan di antara kisah yang Allah kisahkan adalah tentang seorang wanita. Allah jadikan perjalanan kehidupan wanita tersebut sebagai pelajaran bagi wanita manapun di dunia. Cukup banyak ayat di dalam Al Quran menceritakan tentang perjalanan hidup wanita ini. Bahkan namanya telah Allah abadikan menjadi salah satu nama surat dalam Al Quran. Dialah Maryam binti Imran, Ummu Isa ‘alaihis salam.

Beliau terlahir dari keluarga terpilih. Ayahnya adalah Imran bin Yasyim bin Amwan bin Maisyan, nasabnya disebutkan oleh Ibnu Katsir di dalam tafsirnya sampai kepada Sulaiman bin Dawud ‘alaihis salam yang menunjukkan bahwa dia termasuk keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ibunya bernama Hannah binti Faakudz, beliau adalah salah seorang putri pemuka Bani Israil yang beriman dan taat beragama. Keshalihan ibunya terlihat ketika dia menazarkan bayi yang ada di dalam kandungannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dia berkata sebagaimana yang Allah ceritakan:

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepadamu anak yang ada dalam kandunganku untuk menjadi anak yang shalih dan berkhidmat (ke Baitul Maqdis), maka terimalah (nazar) itu dariku sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Q.S. Ali Imran: 35]

Hannah melakukan nazar dikarenakan prasangkanya yang kuat bahwa bayi yang dikandungnya adalah laki-laki. Akan tetapi Allah menakdirkan Hannah melahirkan bayi wanita yang diberi nama Maryam. Dan laki-laki tidaklah sama dengan wanita dari banyak sisi. Dari kekuatannya, pemikirannya, keadaannya dan lain sebagainya. Nazar tetaplah dilakukan disertai doa kepada Allah agar memberikan perlindungan kepada Maryam serta anak keturunannya dari godaan dan gangguan setan yang terkutuk.

Allah kemudian menerima nazarnya dengan penerimaan yang baik, dan juga mengabulkan harap pintanya agar melindungi Maryam dari gangguan setan. Maka ketika ibunya membawanya kepada penghuni Baitul Maqdis, mereka berselisih atas pengasuhan putri dari salah seorang pembesar mereka tersebut. Akhirnya mereka mengundi dengan anak-anak panah untuk menentukannya. Kemudian, Allah takdirkan undian jatuh pada Nabi Bani Israil ketika itu yaitu Nabi Zakaria ‘alaihis salam sebagai bentuk penjagaan dan perlindungan kepada Maryam dari kejelekan. Allah memberikan pendidikan yang baik untuk Maryam dengan mengumpulkan pendidikan jasmani dan rohani dalam asuhan seorang yang shalih dan terpilih. Ini adalah nikmat besar yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada seorang hamba ketika Allah menakdirkan baginya seorang pengasuh yang shalih dan beriman. Sebab, seorang pengasuh akan memberikan pengaruh yang besar bagi anak yang diasuhnya. Subhanallah… sungguh suatu teladan yang mulia bagi para orangtua di manapun berada. Keinginan yang kuat agar anak keturunannya menjadi hamba Allah yang shalih, yang dapat memberikan sumbangsih untuk agamanya, disertai dengan melakukan sebab-sebab yang dapat merealisasikan niatnya terhadap anak tersebut dengan mengupayakan adanya pengasuh yang baik bagi anak keturunannya, tidak lupa mengiringinya dengan doa kepada Allah agar melindungi anak keturunannya dari gangguan setan yang terkutuk. Bagaimana dengan kita… para orangtua?

Maka, di bawah pengasuhan Nabi Allah tersebut, Maryam berkembang menjadi seorang wanita yang shalihah. Dia senantiasa mengurung diri beribadah kepada Rabbnya di tempat ibadah. Bahkan dengan sebab keshalihannya Allah berikan karamah berupa makanan yang tersedia untuk dirinya, sehingga setiap Nabi Zakaria ‘alaihis salam menemuinya di dalam mihrabnya, beliau mendapati selalu ada makanan di sisi Maryam. Maka Nabi Zakaria bertanya: “Wahai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini?”

Maka Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah, sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan.”

Allahu Akbar… Sungguh suatu jawaban yang menunjukkan besarnya keimanan.

Besarnya keimanan Maryam bahkan dapat menggugah hati Nabi Zakaria ‘alaihis salam dan mengingatkan beliau akan kebesaran dan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga beliaupun mengharapkan rahmat dari Allah agar mengaruniakan beliau seorang putra sekalipun usia beliau telah sangat tua dan istri beliau dalam keadaan mandul. Allah subhanahu wa ta’ala pun menjawab doa beliau dengan mengaruniakan putra kepadanya yang bernama Yahya ‘alaihis salam, yang Allah beri keistimewaan padanya berupa ilmu dan kenabian sejak dia masih kanak-kanak.

Adapun Maryam, dia mengasingkan diri dari kaum dan keluarganya untuk lebih menyibukkan diri beribadah kepada Rabbnya. Maka Allah subhanahu wa ta’ala kemudian mengutus Ruhul Amin yaitu Jibril, mendatanginya dalam bentuk manusia yang sempurna yaitu seorang laki-laki yang tampan rupawan. Maryam kembali menunjukkan keshalihan dirinya di dalam menghadapi ujian di dalamnya. Ia berkata kepada Jibril: “Sesungguhnya aku berlindung kepada Dzat Yang Maha Pemurah darimu, jika kamu orang yang bertaqwa.”

Maryam memohon perlindungan kepada Allah seraya mengingatkan akan wajibnya seseorang untuk bertaqwa dan takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya, Allah tinggikan kedudukannya, Allah gambarkan sifat iffahnya (menjaga kehormatan) yang sempurna di dalam Al Quran, dan Allah tetapkan Maryam termasuk hamba Allah yang benar lagi taat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَرْيَمَ ٱبْنَتَ عِمْرَ‌ٰنَ ٱلَّتِىٓ أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَـٰتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِۦ وَكَانَتْ مِنَ ٱلْقَـٰنِتِينَ

“Dan Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” [Q.S. At Tahrim: 12]

Jibril menjelaskan bahwa dia hanyalah seorang utusan dari Allah yang diutus untuk memberikan seorang anak yang suci, yang dapat berbicara ketika masih dalam buaian, yang Allah ciptakan dari kalimat-Nya “kun” (jadilah) maka jadilah apa yang Dia kehendaki. Seorang anak yang terkemuka di dunia dan akhirat, dan termasuk orang yang didekatkan kepada Allah. Maryam terperanjat. Bagaimana mungkin akan ada baginya seorang anak dalam keadaan tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhnya dan diapun bukanlah termasuk seorang pezina. Maka Allah menjelaskan melalui perantara Jibril bahwa yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Allah Maha Kuasa untuk menciptakan apapun yang Dia kehendaki.

Maka Maryam menerima keputusan Allah tersebut. Dia mengandung anak itu kemudian mengasingkan diri dari kaumnya karena khawatir akan gangguan dan tuduhan yang akan mereka timpakan kepadanya. Maka, ketika rasa sakit akan melahirkan menderanya, memaksanya untuk bersandar pada sebuah pangkal pohon kurma. Di saat dia merasakan rasa sakit, merasakan sedihnya bersendirian, tanpa makanan dan minuman, membayangkan bagaimana perkataan manusia kepadanya, dan ada kekhawatiran di hatinya akan hilangnya kesabarannya, Maryampun berangan-angan alangkah baiknya jika dia mati sebelum peristiwa itu terjadi, kemudian menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.

Angan-angan ini terucap karena kecemasan yang menimpanya. Walaupun kebaikan sejati tidaklah diukur sekadar dengan angan, namun diukur dari hasil amalan seseorang.

Ketika itu Maryam sedang berada di sebuah tempat asing nan tinggi, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala;

“Dan telah Kami jadikan (Isa) putera Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” [Q.S. Al Mukminun: 50]

Maka untuk menenangkan hatinya, Allah mengutus malaikat Jibril agar ia berkata kepada Maryam;

Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu. Maka makan, minum, dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini.” [Q.S. Maryam: 24-26]

Kemudian Maryam makan dan minum di tempat tersebut, serta menyambut gembira kelahiran putranya Isa ‘alaihis salam dan berusaha menghilangkan ketakutan dan kekhawatirannya sehingga hatinya menjadi tenang dan hilanglah apa yang dia rasakan sebelumnya.

Maka setelah berakhir masa nifasnya dan keadaan dirinya telah membaik, Maryam menggendong dan membawa anak tersebut kepada kaumnya. Yang demikian dia lakukan dikarenakan dia mengetahui dengan pasti akan kesucian dirinya dari apa yang mungkin dituduhkan kaumnya kepadanya, maka dia mendatangi kaumnya tanpa rasa takut dan tidak memedulikan apa yang akan dituduhkan kaumnya.

Dan benarlah dugaannya. Ketika kaumnya melihatnya membawa seorang anak, dalam keadaan mereka mengetahui bahwa dia tidak memiliki suami, maka mereka serta merta melontarkan ucapan kepadanya;

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina.” Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam buaian?” [Q.S. Maryam: 27-29]

Maka sebagaimana yang diperintahkan Rabbnya, Maryam menunjuk kepada bayinya. Merekapun menyangkal dengan perkataan: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam gendongan?” Lalu dengan ijin Allah bayi Isa menjawab sebagaimana dalam (Q.S. Maryam: 30-33)

Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Ucapan bayi Isa ‘alaihis salam tersebut merupakan salah satu mukjizat yang Allah berikan kepada bayi Maryam yang sekaligus menjadi bukti akan kerasulannya Nabi Isa ‘alaihis salam. Dengan kelahiran bayinya tersebut serta kemampuan bayi itu berbicara walaupun masih dalam buaian, Allah muliakan diri Maryam, Allah bersihkan dan sucikan nama Maryam dari semua prasangka kaumnya kepadanya. Allahu Akbar… Maha Besar Allah dengan segala takdirnya. Pantaslah kalau Allah memilihnya, menyucikannya dan memuliakannya melebihi atas semua wanita di dunia, sebagaimana firman-Nya “Dan (ingatlah) ketika malaikat Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” [Q.S. Ali Imran: 42]

Demikianlah gambaran sosok Maryam binti Imran. Sebuah cerminan seorang wanita dengan keilmuan dan keimanan yang kokoh, ibadah yang terus menerus, kekhusyuan yang besar kepada Allah. Sungguh sebuah kisah kehidupan yang mengandung banyak pelajaran bagi kita semua. Maha benar Allah Ta’ala yang telah berfirman

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِى هَـٰذِهِ ٱلْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan htaimu; dan telah datang dalam risalah ini kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” [Q.S. Hud: 120]


Referensi:

  • Qashshul Anbiya Syaikh Abdurrahman As Sa’di
  • Taisir Karimir Rahman Syaikh Abdurrahman As Sa’di
  • Tafsirul Qur’anul Adzim Al Imam Ibnu Katsir


Sumber: Majalah Qudwah edisi 20 vol. 2 1435 H/ 2014 M rubrik Niswah. Pemateri: Ustadz Abu Abdillah Muhammad Rifa’i Ngawi.