Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bukan Bid'ah, Takbiran Syiar Islam Di Hari Kemenangan

Bukan Bid'ah, Takbiran Syiar Di Hari Kemenangan Umat Islam

Fikroh.com - Takbiran di masjid, khususnya menjelang hari raya Idul Fitri, merupakan suatu pemandangan nan begitu indah dan mengharukan. Di berbagai tempat di tanah air tercinta, dari Sabang sampai Merauke gema takbir menggema sepanjang malam sebagai tanda berakhirnya Puasa bulan Ramadhan dan menyambut hari kemengangan. Tidak sampai disitu saja. Setelah sholat, dan saat jutaan kaum muslimin berjalan menuju tanah lapang serta menanti sholat hari raya Idul Fitri, gema takbir tak pernah putus.

Rasa bahagia, haru, bangga, kesejukkan hati, bercampur dalam dada seorang muslim ketika mendengar lantunan gema takbir yang mengagungkan Sang Pencipta alam jagad raya ini. Wakti kecil kita terasa indah dan penuh dengan kenangan, saat kita ‘nimbrung’ dalam acara takbiran. Ada yang di masjid, dan ada pula yang berjalan keliling desa dengan membawa oncor/obor. Benar-benar kenangan yang mungkin tak pernah terlupakan.

Namun, waktu-waktu akhir ini, ada sebagian pihak yang mengkritisi fenomena takbiran dengan sangat keras. Mereka menyatakan, bahwa takbiran hukumnya bid’ah dan harus ditinggalkan oleh kaum muslimin. Beberapa da’i bahkan menjadikan hal ini sebagai salah satu ciri untuk menetapkan apakan seorang dianggap sebagai salafy atau sunni, ataukah sebagai hibzi atau ahli bid’ah? lalu paham ini diikuti oleh para murid-murid serta jama’ah pengajian para da’i itu.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, kami pernah diminta khuthbah sholat Idul Fitri di suatu daerah. Saat kami telah tiba di tanah lapang, kami kaget campur bingung. Karena ada pemandangan aneh yang kami saksikan. Tidak ada gema takbir sama sekali di tempat tersebut. sepi senyap tanpa lantunan pengagungan kepada Alloh.

Setelah duduk di shoff terdepan, akhirnya kami memberanikan diri untuk bertanya kepada beberapa orang yang duduk di dekat kami. Pak, kenapa tidak takbiran ?” demikian pertanyaan yang kami ajukan penuh selidik. Mereka menjawab : “Tidak boleh sama si fulan dan si fulan”. Katanya itu bid’ah !”. Perlu untuk diketahui, bahwa yang dimaksud beberapa fulan oleh masyarakat setempat adalah beberapa ikhwah yang sudah ngaji salaf yang tinggal di daerah itu.

Akhirnya kami mempersilahkan kepada jama’ah untuk takbiran, dan mulailah terdengar gema takbir yang begitu indah di lapangan tersebut. Kami tidak sempat untuk mejelaskan permasalah ini secara ilmiyyah saat itu, karena terbatasnya waktu dan kesempatan.

Oleh karena itu, saat ini kami haturkan kepada para pembaca sekalian pemahasan tentang perincian hukum takbiran, yang ditimbang dari sisi ilmiyyah, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta pendapat pada ulama’ salaf dalam masalah ini. Paling tidak, dengan tulisan ini kita akan mengetahui, bahwa masalah ini ada bentuk khilafiyyah (perbedaan pendapat di kalangan para ulama’). Bukan hanya satu pendapat, sebagaimana disangka oleh sebagian orang. Hal ini akan melahirkan sikap yang lebih hikmah dari kita sekalian dalam menyikapi perbedaan yang ada. Wallohu a’lam.

Disyari’atkannya Bertakbir

Takbir di hari raya, baik Idul Fitri atau Idul Adha, merupakan salah satu syi’ar besar umat Islam yang dianjurkan kepada kaum muslimin untuk mengamalkannya. Hal ini berdasarkan firman Alloh Ta’ala :

شَهْرُ رَمَضانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدىً لِلنَّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الْهُدى وَالْفُرْقانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كانَ مَرِيضاً أَوْ عَلى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلى مَا هَداكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [QS. Al-Baqarah : 185].

Sisi pendalilan dari ayat di atas, dari kalimat “….dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh…”. Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thabari –rohimahullah- (wafat : 310 H) :

يعني تعالى ذكره: ولتعظِّموا الله بالذكر له بما أنعم عليكم به

“Alloh Ta’ala memaksudkan dengan mengingat-Nya, artinya: hendaknya kalian mengagungkan Alloh dengan menyebut bagi-Nya apa yang telah Dia karuniakan kepada kalian….”. [Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an : 3/478].

Dan yang dimaksud dengan dzikir yang Alloh anjurkan di dalam ayat di atas, adalah kalimat takbir sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama’ salaf. Diantara mereka adalah :

[1]. Zaid bin Aslam. Al-Imam Ath-Thabari –rohimahullah- berkata : Al-Mutsanna telah menceritakan kepadaku, dia berkata : Suwaid bin Nashr telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Ibnul Mubarak telah mengabarkan kepada kami, dari Dawud bin Qois, dia berkata : aku mendengar Zaid bin Aslam berkata :

ولتكبروا الله على ما هداكم"، قال: إذا رأى الهلال، فالتكبيرُ من حين يَرى الهلال حتى ينصرف الإمام، في الطريق والمسجد، إلا أنه إذا حضر الإمامُ كفّ فلا يكبرِّ إلا بتكبيره

“….dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh…” beliau berkata : Jika seorang melihat hilal, maka hendaknya dia bertakbir dimulai sejak dia melihat hilal sampai imam selesai di jalan, dan di masjid kecuali apabila imam telah datang, dia tahan jangan bertakbir kecuali dengan takbirnya”. [Jami’ul Bayan : 3/479 No : 2901. Simak pula “Tafsir Ibnu Abi Hatim” : 1/314].

[2]. Sufyan Ats-Tsauri –rohimahullah-. Al-Imam Ath-Thabari –rohimahullah- berkata : Al-Mutsanna telah menceritakan kepadaku, dia berkata : Suwaid telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Ibnul Mubarok telah mengabarkan kepada kami, dia berkata : Aku mendengar Sufyan (Ats-Tsauri) berkata :

ولتكبِّروا الله على ما هداكم"، قال: بلغنا أنه التكبير يوم الفطر

““….dan hendaklah kamu mengagungkan Alloh…” , beliau berkata : Telah sampai kepada kami, sesungguhnya ia adalah ucapan takbir di hari raya Idul Fitri”. [Jami’ul Bayan : 3/479 No : 2902].

[3]. Ibnu Abbas –rodhiallohu ‘anhu-. Al-Imam Ath-Thobari –rohimahullah- berkata : Yunus telah menceritakan kepadaku, dia berkata : Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami, dia berkata Ibnu Zaid berkata : Ibnu Abbas pernah berkata :

حقٌّ على المسلمين إذا نظروا إلى هلال شوال أن يكبرِّوا الله حتى يفرغوا من عيدهم، لأن الله تعالى ذكره يقول:"ولتكملوا العدة ولتكبروا الله على ما هداكم"

“Hak atas kaum muslimin apabila mereka telah melihat hilal (tanggal satu) bulan Syawwal untuk bertakbir (mengagungkan) Alloh sehingga selesai dari ‘Ied mereka. Karena sesungguhnya Alloh Ta’ala berfirman : “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,.” - QS. Al-Baqarah : 185 -. [Jami’ul Bayan : 3/479 No : 2903].

Al-Imam Al-Qurthubi –rohimahullah- (671 H) berkata :

قَوْلُهُ تَعَالَى:" وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ" عَطْفُ عَلَيْهِ، وَمَعْنَاهُ الْحَضُّ عَلَى التَّكْبِيرِ فِي آخِرِ رَمَضَانَ فِي قَوْلِ جُمْهُورِ أَهْلِ التَّأْوِيلِ

“Firman Alloh : “dan hendaklah kamu mengagungkan Allah”, penghubungan atasnya. Maknanya : Dorongan untuk bertakbir di akhir bulan Ramadhan menurut pendapat mayoritas ulama’ ahli takwil ( tafsir ).” [Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an : 2/306].

Al-Imam Abu Bakar Al-Jurjani –rohimahullah- (wafat : 471 H) berkata :

وقيل: تكبير يوم الفطر، وذلك سُنَّة أشار إليها القرآن من غير أمر بها

“(Firman Alloh : “dan hendaklah kamu mengagungkan Allah”) ,Ada yang berpendapat : takbir di hari raya. Dan hal itu merupakan sunnah yang telah diisyaratkan oleh Al-Qur’an tanpa diperintahkan dengannya.” [Darju Durar : 1/349].

Al-Imam Abu Mudzoffar As-Sam’ani –rohimahullah- (wafat : 489 H) berkata :

أَي: لتعظموه على مَا أرشدكم إِلَى مَا رضى بِهِ من صَوْم رَمَضَان. قَالَ ابْن عَبَّاس: هُوَ تَكْبِيرَات لَيْلَة الْفطر وَهُوَ مَرْوِيّ عَن ابْن عمر، وَعَائِشَة رَضِي الله عَنْهُمَا. وَقَالَ: حق على كل مُسلم أَن يكبر لَيْلَة الْفطر إِلَى أَن يفرغ من صَلَاة الْعِيد

“Artinya : hendaknya kalian mengagungkan-Nya atas apa yang Dia telah memberi petunjuk kepada kalian kepada apa yang telah Dia ridhoi dari puasa bulan Ramadhan. Ibnu Abbas berkata : ia adalah takbir-takbir malam hari raya Idul Fithri. Dan hal ini juga diriwayatkan dari Ibnu Umar, dan Aisyah –rodhiallohu ‘anhuma-. Dia berkata : hak atas setiap muslim untuk bertakbir di malam hari raya Idul Fitri sampai selesai dari sholat Ied.” [Tafsir Abu Mudzoffar : 1/185].

Dari beberapa keterangan para ulama’ ahli tafsir di atas dapat kita simpulkan, bahwa takbir ( pengagungan kepada Alloh dengan ucapan Allohu akbar ) di malam hari raya Idul Fitri sampai dimulainya sholat hari raya, merupakan perkara yang disyari’atkan.

Takbir, Berjama’ah Atau Sendiri-sendiri?

Setelah para ulama’ sepakat, bahwa takbir disyari’atkan, mereka berselisih dalam masalah kaifiyyatnya ( tata cara pelaksanaannya ) apakah sendiri-sendiri atau boleh berjama’ah  :

Golongan pertama :

Sebagian ulama’ mu’ashirin ( ulama’ di zaman ini ) berpendapat, bahwa takbir di sini dilakukan sendiri-sendiri. Mereka beralasan dengan kaidah yang berbunyi : “Asal ibadah itu haram/bersifat tauqifiyyah ( harus merujuk kepada dalil ). Tidak boleh untuk menetapkan suatu ibadah kecuali ada dalil yang secara jelas menunjukkan kepada hal itu.”

Apa yang diamalkan oleh Nabi –shollallahu ‘alaihi wa sallam- dan juga para sahabat, mereka bertakbir sendiri-sendiri. Tidak dinukil dari mereka sesungguhnya mereka melakukannya dengan berjama’ah. Barang siapa yang menetapkan bolehnya takbir berjama’ah, maka dituntut untuk mendatangkan dalil.

Golongan kedua :

Takbir di hari raya boleh dilakukan sendiri-sendiri atau berjama’ah. Ini merupakan pendapat sekelompok para ulama’ salaf. Bahkan sebagian ulama’ ada yang menyatakan sebagai pendapat jumhur (mayoritas ulama’).

Yang rajih (kuat) dalam masalah ini, adalah pendapat kedua. Bahwa takbiran boleh dilakukan sendiri-sendiri ataupun berjama’ah. Hal ini berdasarkan beberapa argument, diantaranya :

Pertama :

Perintah takbir dalam surat Al-Baqarah ayat : 185, sifatnya mutlak. Tidak dibatasi oleh sesuatupun. Dalam kaidah ushul fiqh, dalil yang mutlak diamalkan sesuai kemutlakannya, sampai ada dalil lain yang mentaqyidnya ( membatasinya ). Sehingga dibolehkan bertakbir secara sendiri-sendiri ataupun berjama’ah. Barang siapa yang mengeluarkan surat Al-Baqarah : 185 dari kemutlakannya, dan membatasi hanya takbir sendiri-sendiri, maka dituntut untuk mendatangkan dalil yang shohih dan jelas yang mengeluarkan dari makna asalnya.

Adapun pihak yang mengamalkan ayat di atas sesuai kemutlakannya, maka jangan ditanya dalil lagi. Karena mereka telah beramal di atas dalil. Yang perlu ditanya dalil, orang yang membatasi takbiran harus sendiri-sendiri. ( yang tidak paham masalah ini, kami persilahkan untuk belajar ushul fiqh dulu dengan baik, benar dan sampai tamat. Minimal sampai pelajaran kitab “Mudzakkirah Fi Ushulil Fiqh” karya ulama’ besar, Asy-Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syanqithi –rohimahullah-. )

Kedua :

Adapun dari hadits nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam-, diantaranya :

A. Hadits Ummu Athiyyah –rodhiallohu ‘anha- beliau berkata :

«كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ العِيدِ حَتَّى نُخْرِجَ البِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا، حَتَّى نُخْرِجَ الحُيَّضَ، فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ، فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ، وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ اليَوْمِ وَطُهْرَتَهُ»

“Pada hari Raya Ied kami diperintahkan untuk keluar sampai-sampai kami mengajak para anak gadis dari kamarnya dan juga para wanita yang sedang haid. Mereka duduk di belakang barisan kaum laki-laki dan mengucapkan takbir mengikuti takbirnya kaum laki-laki, dan berdoa mengikuti doanya kaum laki-laki dengan mengharap barakah dan kesucian hari raya tersebut." [ HR. Al-Bukhari : 971 ].

Sisi pendalilan dari riwayat di atas, pada kalimat “( mereka para wanita ) mengucapkan takbir mengikuti takbir kaum laki-laki”. Makna yang dzohir ( tampak ) dari kalimat ini, takbir dilakukan secara bersama-sama ( jama’ah ).

Dalam kaidah ushul fiqh, suatu dalil yang memiliki makna dzohir, maka dipahami dan diamalkan sesuai dzohirnya. Tidak boleh bagi kita untuk keluar dari makna dzohirnya, sampai ada dalil yang mengeluarkannya dari makna asal kepada makna yang lain.

A. Telah diriwayatkan al-imam Al-Bukhari –rohimahullah- secara mu’allaq dari Abdullah bin Umar –rodhiallohu ‘anhu- :

«يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ المَسْجِدِ، فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا»

“Sesungguhnya beliau bertakbir di atas menaranya di Mina, maka orang-orang di masjid mendengar hal itu, lalu mereka bertakbir, dan bertakbir pula orang-orang di pasar sehingga Mina goncang dan bergerak ( maksudnya : gegap gempita ) dengan suara takbir.” [ Shohih Al-Bukhari : 2/20 ].

Ibnu Hajar –rohimahullah- mengatakan :

وَصَلَهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مِنْ رِوَايَةِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ السُّوقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا وَوَصَلَهُ أَبُو عُبَيْدٍ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ بِلَفْظِ التَّعْلِيقِ وَمِنْ طَرِيقِهِ الْبَيْهَقِيُّ

“Riwayat ini telah dimaushulkan ( disambung sanadnya ) oleh Sa’id bin Manshur dari riwayat ‘Ubaid bin ‘Umari dia berkata : “Sesungguhnya beliau bertakbir di atas menaranya di Mina, maka orang-orang di masjid mendengar hal itu, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang di pasar sehingga Mina goncang dan bergerak ( maksudnya : gegap gempita ) dengan suara takbir.” Dan hal ini telah dimaushulkan oleh Abu ‘Ubaid dari sisi yang lain dengan lafadz ta’liq. Al-Baihaqi juga telah meriwayatkan dari jalurnya”. [Fathul Bari : 2/462].

Saya (penulis) berkata : Ucapan Ibnu Hajar –rohimahullah- “Al-Baihaqi juga telah meriwayatkan dari jalurnya”, maksudnya Al-Baihaqi telah meriwayatkan atsar dari Umar di atas, dari jalur periwayatan Abu Ubaid. Sebagaimana beliau berkata dalam “Sunan Al-Baihaqi” : 3/312 : Abu Abdillah Al-Hafidz telah mengabarkan kepada kami, dia berkata : Abu Bakar bin Ishaq telah menceritakan kepada kami, dia berkata : Abu Ubaid berkata : Yahya bin Said telah menceritakan kepadaku, dari Ibnu Juraij dari Atho’ dari Ubaid bin Umair dari Umar……-kemudian beliau menyebutkan riwayat di atas .”

Kemudian beliau ( Ibnu Hajar ) –rohimahullah- berkata :

وَقَوْلُهُ تَرْتَجُّ بِتَثْقِيلِ الْجِيمِ أَيْ تَضْطَرِبُ وَتَتَحَرَّكُ وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رفع الْأَصْوَات

“Ucapannya “tartajju” dengan tatsqiil di huruf jim, artinya : goncang dan bergerak. Dan ini ( maknanya ) : menunjukkan berlebihan di dalam berkumpul/berjama’ah dalam mengeraskan suara”. [ Fathul Bari : 2/462 ].

Al-Imam Al-‘Aini –rohimahullah- ( wafat : 855 H ) berkata :

قَوْله: (حَتَّى ترتج) يُقَال: ارتج الْبَحْر، بتَشْديد الْجِيم إِذا اضْطربَ، والرج: التحريك. قَوْله: (منى) فَاعل: ترتج. قَوْله: (تَكْبِيرا) نصب على التَّعْلِيل، أَي: لأجل التَّكْبِير، وَهُوَ مُبَالغَة فِي إجتماع رفع الْأَصْوَات.

“Ucapannya “sehingga tartajju”, dikatakan :: “Laut itu irtajja” dengan ditasydiid di huruf jim, ( artinya ) : Apabila bergelombang atau goncang atau bergerak. Ar-rajju artinya bergerak. Dan ucapannya “Mina”, sebagai fail ( pelaku perbuatan ) dari kata kerja tartajju. Ucapannya “takbiran”, dalam kondisi manshub sebagai ta’lil ( sebab ), artinya : karena takbir. Dan hal ini sebagai bentuk berlebihan/menyangatkan dalam berkumpul/berjama’ah dalam mengangkat suara.” [Umdatul Qori’ : 2/292 ].

Al-Imam Asy-Syaukani –rohimahullah- berkata :

وَقَوْلُهُ: (تَرْتَجُّ) بِتَثْقِيلِ الْجِيمِ: أَيْ تَضْطَرِبُ وَتَتَحَرَّكُ، وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رَفَعَ الْأَصْوَاتِ.

“Ucapannya “Tartajju”, dengan tatsqiil di huruf jim, artinya : goncang dan bergerak. Dan ini menunjukkan akan bentuk berlebihan/menyangatkan dalam berkumpul/berjama’ah dalam mengangkat suara.” [ Nailul Author : 3/374 ].

C. Pendapat Imam Asy-Syafi’i.

Al-Imam Asy-Syafi’i –rohimahullah- berkata :

فاذاراواهلال شوال احببت ان يكبر الناس جماعة و فرادي في المسجدوالاسواق والطرق والمنازل و مسافرين ومقيمين في كل حال واين كانوا و ان يظهروا التكبير

“Maka apabila mereka melihat hilal bulan Syawwal, aku sangat menganjurkan agar manusia bertakbir berjama’ah atau sendiri-sendiri di masjid, pasar-pasar, jalan-jalan, rumah-rumah, musafir dan muqim di seluruh keadaan dan di manapun mereka berada untuk menampakkan takbir”. [ Al-Umm : 1/353 ].

Beliau –rohimahullah- juga berkata :

ويستحب الانفرادفي التكبير حالة المشي للمصلي و اما تكبير جماعة وهم جالسون في المصلي فهذا هوالذي استحسن

“Dianjurkan sendiri-sendiri dalam takbir dalam keadaan berjalan bagi orang yang akan sholat. Adapun takbir secara berjama’ah dan mereka dalam kondisi duduk di musholla, maka ini perkara yang  baik”. [ Bulghatus Salik : 1/304 ].

Demikian secara jelas dan tegas Al-Imam Asy-Syafi’i –rohimahullah- memperbolehkan untuk bertakbir sacara berjama’ah.

Adapun tanggapan bagi pihak yang membid’ahkannya sebagai berikut :

Pertama :

Para ulama’ menyatakan : Bahwa sepanjang pemeriksaan dalam kitab-kitab para ulama’ salaf, belum diketemukan satu pendapatpun yang menyatakan secara tegas dan jelas bahwa takbir hari raya secara berjama’ah adalah bid’ah. Perhatikan ulama’ salaf ya, bukan ulama’ belakangan, apalagi ulama’ abad ini. Dan kami secara pribadi, tidak mendapatkan akan hal itu. Oleh karena itu, jika ada yang dapat memberi faidah kepada kami minimal satu saja ucapan ulama’ salaf yang secara tegas membid’ahkan takbir hari raya berjama’ah dengan mencantumkan nama, judul buku, no halaman dan jilid, serta lafadz arabnya, tentu kami sangat berterima kasih sekali.

Jika hal ini tidak diketemukan, padahal ilmu agama itu istilahnya “milik mereka” ( para ulama’ salaf ), ini merupakan sesuatu yang sangat ganjil dan aneh. Seyogyanya kita harus hati-hati.

Faidah :

Saat kami belajar di negeri orang saat itu, ada suatu hadits yang telah didhoifkan ( dilemahkan ) oleh Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi –rohimahullah-. Hadits tersebut adalah hadits do’a keluar dari WC yang berbunyi “ghufronaka”.

Saat itu, salah satu guru kami menyatakan, bahwa tidak ada satupun ulama’ ahli hadits dari kalangan salaf yang melemahkan hadits ini. Sekian banyak pakar hadits dan para gunung-gunung besar dalam ilmu hadits tidak ada satupun dari mereka yang melemahkannya. Ini sesuatu yang sangat aneh dan ganjil. Padahal kaidah-kaidah ilmu hadits yang kita pelajari saat ini, buah karya susunan mereka. Ini dari satu sisi. Belum sisi keilmuan mereka dibandingkan dengan ulama’ di zaman ini. Tentu amat sangat jauh sekali untuk dibandingkan, dan mungkin tidak layak untuk diperbandingkan.

Setelah itu guru kami menjelaskan kedudukan hadits itu secara ilmiyyah dan berakhir pada kesimpulan, bahwa hadits tersebut hasan, menyelisihi pendapat Asy-Syaikhh Muqbil bin Hadi. Padahal beliauu adalah salah satu gurunya.

Kedua :

Al-Imam Asy-Syafi’i –rohimahullah- berpendapat bolehnya takbiran secara berjama’ah sebagaimana telah disebutkan di atas. Thobaqoh beliau sangat tinggi, karena beliau wafat tahun : 204 H. Dan tentunya pendapat beliau ini telah tersebar di kalangan para ulama’ yang sezaman dengan beliau atau setelahnya.

Namun, sejauh pengamatan kami, tidak ada ulama’ sezamannya dan setelahnya ( ulama’ salaf ya, bukan ulama’ sekarang ), yang membantah dan menyalahkan pendapat beliau. Jika ada yang memiliki referensi bantahan ulama’ yang sezaman dengan Al-Imam Asy-Syafi’i atau setelahnya ( ulama’ salaf ya, bukan ulama’ zaman ini ), maka kami akan sangat berterima kasih.

Ketiga :

Jika tidak diketahui bahwa nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam- pernah takbir secara berjama’ah, maka hal ini dapat dijawab dengan suatu kaidah yang berbunyi :

عدم العلم لا يلزم العدم

“Tidak adanya ilmu terhadap sesuatu, tidaklah mengharuskan sesuatu itu tidak ada”.

Jika anda tidak tahu bahwa di daerah A itu ada masjid, tidaklah mengharuskan masjid itu tidak ada di sana. Jika kita tidak mengetahui nabi-shollallahu ‘alaihi wa sallam- melakukan takbir secara berjama’ah, hal ini tidak mengharuskan hal itu tidak ada. Apalagi telah ada indikasi dalil, baik dari Al-Qur’an, As-Sunnah, amaliah sahabat, serta ucapan para ulama’ salaf tentang masalah ini, yang mengerucut bolehnya untuk takbir hari raya secara berjama’ah. ( yang belum paham kaidah ini, kami sarankan untuk belajar dahulu ilmu ushul fiqh ).

Keempat :

Telah tetap dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang memerintahkan kita untuk berbuka puasa. Tapi dalil-dali tersebut sifatnya mutlak, tidak dibatasi oleh suatu kaifiyyat tertentu. Oleh karena itu, boleh dilakukan sendiri-sendiri atau berjam’ah ( buka puasa bersama ).

Barang siapa yang melarang takbir hari raya secara berjama’ah, hal itu akan berkonsekwensi –jika dia jujur dan konsisten dengan kaidahnya-, larangan untuk buka puasa secara berjama’ah ( bersama-sama ).

Kesimpulan Pembahasan :

Takbir hari raya, boleh dilakukan sendiri-sendiri dan juga berjama’ah. Oleh karena itu, walaupun amaliah kami takbir hari raya sendiri-sendiri, namun kami berlapang dada terhadap mereka yang takbir dengan berjama’ah. Kami juga tidak menvonis sebagai amalan bid’ah dan pelakunya sebagai ahli bid’ah.

Nasihat

Masalah takbir hari raya apakah boleh berjama’ah atau harus sendiri-sendiri, termasuk masalah khilafiyyah ijtihadiyyah ( perbedaan pendapat yang lahir karena ijtihad ). Oleh karenanya, jika ternyata diantara kita termasuk dari golongan yang menyakini tidak disyari’atkan takbir secara berjama’ah, maka hendaknya kita menghormati orang lain yang menyakini bolehnya hal tersebut.

Hal ini tidak boleh dijadikan sebab untuk saling bermusuhan, saling membenci, saling mencaci, berpecah belah, apalagi sampai menvonis sesat atau ahli bid’ah. Ini merupaka manhaj salaf ahlus sunnah wal jama’ah.

Asy-Syaikh Muhammad bin Sholihh Al-Utsaimin –rohimahullah- berkata :

أما عمل السلف الصالح: فإن من أصول السنة والجماعة في المسائل الخلافية أ، ما كان الخلاف فيه صادراً عن اجتهاد وكان مما يسوغ فيه الاجتهاد فإن بعضهم يعذر بعضاً بالخلاف ولا يحمل بعضهم على بعض حقداً، ولا عداوة، ولا بغضاء بل يعتقدون أنهم إخوة حتى وإن حصل بينهم هذا الخلاف،... كل هذا لأنهم يرون أن الخلاف الناشئ عن إجتهاد فيما يسوغ فيه الاجتهاد ليس في الحقيقة بخلاف لأن كل واحد من المختلفين قد تبع ما يجب عليه إتباعه من الدليل الذي لا يجوز له العدول عنه

“Adapun amalan para salaf sholih : Maka sesungguhnya termasuk pokok dari pokok-pokok manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah khilafiyyah, suatu perbedaan pendapat yang muncul dari ijtihad, dan termasuk perkara yang dibolehkan untuk ijtihad di dalamnya, maka sesungguhnya sebagian mereka ( ahlus sunnah ) memberikan udzur/kelonggaran terhadap sebagian yang lain dalam masalah perbedaan pendapat. Tidak boleh sebagian mereka untuk memaksa ( kan pendapatnya ) kepada sebagian yang lain karena dengki, tidak boleh karena permusuhan, dan tidak boleh juga karena kebencian. Bahkan mereka ( ahlus sunnah ) menyakini, sesungguhnya mereka bersaudara walaupun telah terjadi perbedaan pendapat ini….semua ini, karena mereka ( ahlus sunnah ) berpandangan, sesungguhnya perbedaan pendapat yang muncul dari ijtihad di dalam perkara yang dibolehkan di dalamnya untuk ijtihad, pada hakikatnya bukan khilaf ( bukan perbedaan pendapat ). Karena sesungguhnya setiap orang dari yang berbeda pendapat, telah mengikuti apa yang seharusnya dia ikuti berupa dalil yang tidak boleh bagi seseorang untuk berpaling darinya….” [Syarah Al-Ushul As-Sittah : 155].

Minimal, mereka yang takbir hari raya secara berjama’ah telah mengikut imam salaf.Perhatikan dengan baik nasihat Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsamin –rohimahullah- berikut !. Asy-Syaikh Muhammad bin Sholihh Al-Utsaimin –rohimahullah- berkata :

إذا كان هذا الرجل صادقاً في أنه اتبع فتوى هذا العالم، وليس قصده تتبع الرخص فليس عليه إثم أصلاً؛ لأن الله يقول: فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ [النحل:43] ، وهذا قد اقتدى بعالم وليس عليه شيء، كما لو أن إنساناً أكل لحم جزور وسأل عالماً من العلماء فقال له: إن أكل لحم الجزور لا ينقض الوضوء، فصلى وهو آكل لحم الجزور فهل تبطل صلاته؟ لا

“Apabila laki-laki ini jujur bahwa dia mengikuti fatwa alim ini dan niatnya bukan untuk mencari-cari keringanan, maka dia tidak berdosa secara asal. Karena Alloh Ta’ala telah berfirman : “Hendaklah kalian bertanya kepada ahli dzikir ( para ulama’ ) jika kalian tidak mengetahui”. – An-Nahl : 43- . Orang ini telah mengikuti seorang alim, maka tidak ada sesuatupun atasnya. Sebagaimana seorang yang makan daging onta kemudian dia bertanya kepada seorang alim dari para ulama’, lalu alim tersebut menyatakan : bahwa makan daging onta tidak membatalkan wudhu. Maka dia sholat dalam kondisi ( sebelumnya ) makan daging onta. Apakah sholatnya batal ? tidak..” [ Liqo’ Babil Maftuh : 24/126 ].

Demikian pembahasan dari kami. Alhamdulillah rabbil ‘alamin.

Abdullah bin Abdurrahman Al-Jirani Abu Anas