Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Anjuran dan Tata Cara Takbiran Hari Raya Idhul Adha

Anjuran dan Tata Cara Takbiran Hari Raya Idhul Adha

Fikroh.com - Dianjurkan untuk bertakbir di belakang/usai setiap salat, baik salat fardhu, salat nafilah, salat sunah rawatib, salat jenazah, dan salat sunah mutlak, mulai salat Subuh hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) sampai salat Ashar hari tasyariq yang terakhir (tanggal 13 Dzulhijjah). Dalam istilah fuqaha, takbir di sini disebut takbir muqayyad (takbir yang dibatasi oleh waktu tertentu, yaitu selepas salat). Dalam kitab Fathul Qarib hlm. (103) karya imam Muhammad bin Qasim Al-Ghazzi –rahimahullah- (wafat : 918 H) berkata :

(و) يكبر (في) عيد (الأضحى خَلف الصلوات المفروضات) من مؤداة وفائتة؛ وكذا خلف راتبة ونفل مطلق وصلاة جنازة، (مِن صُبح يوم عرفةَ إلى العصر من آخر أيام التشريق).

“Dianjurkan untuk bertakbir di hari raya ‘Idul Adha di belakang setiap salat fardhu, berupa penunaian di waktunya dan penunaian di luar waktunya karena adanya sebab. Dan dianjurkan pula di belakang setiap salat sunah rawatib, nafilah mutlak dan salat jenazah dari Subuh hari Arafah sampai Ashar hari tasyriq yang terakhir.”

Sebagian ulama menambahkan, bahwa di anjurkan pula di hari raya Idul Adha untuk mengumandankan takbir mursal/mutlak sebagaimana hari raya Idul Fithri, yaitu takbir yang dikumandangkan secara bebas tanpa terbatas oleh waktu (setiap saat), baik di masjid, di jalan, di rumah, dan sebagainya dengan jalas qiyas (analogi). Allah Ta’ala berfirman :

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلى مَا هَداكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [QS. Al-Baqarah: 185].

Jadi amalan takbiran secara mutlak yang dilakukan di masyarakat kita di hari raya Idul Adha, merupakan perkara yang memiliki landasan dalil, serta memiliki sandaran dari pendapat para ulama salaf. Disebutkan dalam kitab Kifayatul Akhyar hlm. (150-151) karya Imam Abu Bakar Al-Hishni Asy-Syafi’i –rahimahullah- (wafat : 829 H) berkata :

يسْتَحبّ التَّكْبِير بغروب الشَّمْس لَيْلَتي الْعِيد الْفطر والأضحى وَلَا فرق فِي ذَلِك بَين الْمَسَاجِد والبيوت والأسواق وَلَا بَين اللَّيْل وَالنَّهَار وَعند ازدحام النَّاس ليوافقوه على ذَلِك وَلَا فرق بَين الْحَاضِر وَالْمُسَافر دَلِيله فِي عيد الْفطر قَوْله تَعَالَى {ولتكبروا الله على مَا هدَاكُمْ} وَفِي عيد الْأَضْحَى بِالْقِيَاسِ عَلَيْهِ

“Dianjurkan untuk mengumandangkan takbir mulai tenggelamnya Matahari di dua malam hari raya, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha. Tidak ada bedanya dalam hal itu, antara di masjid, di rumah, dan di pasar. Dan tidak ada bedanya antara malam dan siang dan ketika manusia berdesakan agar mereka bisa mencocokinya di atas hal itu. Dan tidak ada bedanya antara yang hadir dan musafir. Dalil untuk Idul Fithri, firman Allah Ta’ala : “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu”. Dan di Idul Adha, diqiyaskan kepadanya (Idul Fithri).”

Lafadz takbirnya sebagaimana disebutkan dalam Al-Iqna’ fi Halla Al-Fadzi Abi Syuja’ karya Imam Asy-Syarbini Asy-Syafi’i –rahimahullah- (wafat : 977) sebagai berikut :

الله أكبر الله أكبر الله أكبر لَا إِلَه إِلَّا الله وَالله أكبر الله أكبر وَللَّه الْحَمد

Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah- menganggap baik untuk ditambahkan setelah lafadz takbir ketiga kalimat sebagai berikut :

الله أكبر كَبِيرا وَالْحَمْد لله كثيرا وَسُبْحَان الله بكرَة وَأَصِيلا لَا إِلَه إِلَّا الله وَلَا نعْبد إِلَّا إِيَّاه مُخلصين لَهُ الدّين وَلَو كره الْكَافِرُونَ لَا إِلَه إِلَّا الله وَحده صدق وعده وَنصر عَبده وأعز جنده وَهزمَ الْأَحْزَاب وَحده لَا إِلَه إِلَّا الله وَالله أكبر

Simak kitab: Al-Iqna’ fi Halla Al-Fadzi Abi Syuja’, karya Imam Asy-Syarbini Asy-Syafi’i –rahimahullah- (wafat : 977) juz 1 hlm. 188.

Dalam mengumandangkan takbir di sini, diajurkan untuk dilakukan secara berjama’ah, sehingga lebih rapi, teratur dan lebih keras. Ada beberapa dalil dalam masalah ini, diantaranya riwayat dari Abdullah bin Umar –radhiallahu ‘anhu- :

«يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى فَيَسْمَعُهُ أَهْلُ المَسْجِدِ، فَيُكَبِّرُونَ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الأَسْوَاقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا»

“Sesungguhnya beliau bertakbir di atas menaranya di Mina, maka orang-orang di masjid mendengar hal itu, lalu mereka bertakbir, dan bertakbir pula orang-orang di pasar sehingga Mina goncang dan bergerak (maksudnya : gegap gempita) dengan suara takbir.” [Shahih Al-Bukhari : 2/20].

Ibnu Hajar –rahimahullah- (wafat : 852 H) mengatakan :

وَصَلَهُ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ مِنْ رِوَايَةِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ كَانَ عُمَرُ يُكَبِّرُ فِي قُبَّتِهِ بِمِنًى وَيُكَبِّرُ أَهْلُ الْمَسْجِدِ وَيُكَبِّرُ أَهْلُ السُّوقِ حَتَّى تَرْتَجَّ مِنًى تَكْبِيرًا وَوَصَلَهُ أَبُو عُبَيْدٍ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ بِلَفْظِ التَّعْلِيقِ وَمِنْ طَرِيقِهِ الْبَيْهَقِيُّ

“Riwayat ini telah dimaushulkan (disambung sanadnya) oleh Sa’id bin Manshur dari riwayat ‘Ubaid bin ‘Umari dia berkata : “Sesungguhnya beliau bertakbir di atas menaranya di Mina, maka orang-orang di masjid mendengar hal itu, lalu mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang di pasar sehingga Mina goncang dan bergerak (maksudnya: gegap gempita) dengan suara takbir.” Dan hal ini telah dimaushulkan oleh Abu ‘Ubaid dari sisi yang lain dengan lafadz ta’liq. Al-Baihaqi juga telah meriwayatkan dari jalurnya”. [Fathul Bari : 2/462].

Kemudian beliau (Ibnu Hajar) –rahimahullah- (wafat : 852 H) berkata :

وَقَوْلُهُ تَرْتَجُّ بِتَثْقِيلِ الْجِيمِ أَيْ تَضْطَرِبُ وَتَتَحَرَّكُ وَهِيَ مُبَالَغَةٌ فِي اجْتِمَاعِ رفع الْأَصْوَات

“Ucapannya “tartajju” dengan tatsqiil di huruf jim, artinya: goncang dan bergerak. Dan ini (maknanya): menunjukkan berlebihan di dalam berkumpul/berjama’ah dalam mengeraskan suara”. [Fathul Bari : 2/462].

Al-Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah- (wafat : 204 H) berkata :

فاذاراواهلال شوال احببت ان يكبر الناس جماعة و فرادي في المسجدوالاسواق والطرق والمنازل و مسافرين ومقيمين في كل حال واين كانوا و ان يظهروا التكبير

“Maka apabila mereka melihat hilal bulan Syawwal, aku sangat menganjurkan agar manusia bertakbir berjama’ah atau sendiri-sendiri di masjid, pasar-pasar, jalan-jalan, rumah-rumah, musafir dan muqim di seluruh keadaan dan di manapun mereka berada untuk menampakkan takbir”. [Al-Umm : 1/353].

Demikian artikel kali ini. Semoga bermanfaat dan bisa menambah wawasan keilmuan kita sekalian. Amin ya Rabbal ‘alamin. Selamat hari raya Idul Adha.

Oleh : Abdullah Al-Jirani