Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Abuya Assayyid Muhammad Bin Alwi Almaliki Alhasani, Imam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah Abad 21

Abuya Assayyid Muhammad Bin Alwi Almaliki Alhasani, Imam Ahlus Sunnah Wal Jama`ah Abad 21

Fikroh.com - Mengenal Abuya Assayyid Muhammad Bin Alwi Almaliki. Dalam dunia tulis menulis dan karya ilmiah, Abuya berhasil menulis puluhan kitab dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, antara lain Aqidah Islam, Ulumul Quran, Musthalah Hadits, Fiqh, dan Sirah Nabawiyyah.

Nama lengkap beliau adalah Prof. Dr. Assayyid Muhammad Bin Assayyid Alwi Bin Assayyid Abbas Bin Assayyid Abdul Aziz Almaliki Alhasani Almakki Alasy`ari Assyadzili. 

Sehari-hari beliau dipanggil Abuya. 

Abuya lahir di Makkah Al Mukarramah, pada tahun 1362 H / 1943 M.

Ayah beliau bernama Assayyid Alwi Bin Abbas Almaliki, seorang ulama terkemuka di Makkah Al Mukarramah, dan seorang mudarris (pengajar) di Masjidil Haram.

Awal masa pendidikan yang ditempuh oleh Abuya adalah berbentuk halaqah-halaqah ilmiyah yang diasuh oleh sang ayah yang  bertempat di Masjid Alharam. 

Selain belajar kepada ayahnya sendiri, beliau juga belajar kepada beberapa para Ulama, di antara guru beliau adalah Syeikh Hasan Muhammad Almassyath, Asayyid Amin Kutbi, Syeikh Muhammad Nur Saif, Syeikh Sa`id Yamani, dan ulama-ulama lainnya

Abuya juga belajar di Madrasah Alfalah, Madrasah Shaulatiyyah, dan Madrasah Tahfidz Alquran yang berada di kota Makkah. 

Beliau menimba ilmu Hadits kepada beberapa ulama di India dan Pakistan.

Beliau memperoleh sertifikasi mengajar (ijazah) dan rantas transmisi (isnad) dari Alhabib Ahmad Almasyhur Alhaddad di Jiddah, Syeikh Hasanain Makhluf dari Mesir, Syeikh Ghumari dari Maroko, dll.

Pada fase selanjutnya, beliau menempuh studi akademis di Universitas Al Azhar, Mesir, dan berhasil meraih gelar Magister dan Doktoral dari Fakultas Ushuluddin.

Beliau juga pergi ke Maroko untuk belajar kepada ulama-ulama di negeri ujung barat benua Afrika itu.

Pada tahun 1390 H / 1970 M, beliau diberi tugas mengajar di Fakultas Syari`ah di kota Makkah (1390-1399 H).

Beliau juga termasuk salah seorang staf pengajar program pasca sarjana Universitas King Abdul Aziz, Makkah.

Ketika sang ayah wafat pada tanggal 25 Safar 1391, Abuya ditunjuk menjadi pengajar di Masjidil Haram menggantikan sang ayah yangtelah mengajar di majelis tersebut selama 50 tahun lamanya. 

Selain halaqah di Masjidil Haram, banyak ceramah agama yang telah beliau sampaikan, baik di radio maupun televisi, juga yang terekam dalam bentuk kaset dan CD. 

Beliau selalu berperan aktif dalam Pekan Budaya (Almawasim Astsaqafiyyah) yang digelar oleh Rabithah Alam Islami.

Sebagaimana beliau juga aktif dalam seminar-seminar agama yang diselenggarakan di dalam maupun luar Saudi Arabia.

Dalam momen MTQ tingkat internasional, beliau terpilih sebagai Ketua Dewan Juri pada kisaran tahun 1399, 1400, dan 1401 H. 

Beliau merupakan orang pertama yang mengetuai dewan tahkim MTQ tingkat internasional tersebut.

Abuya juga telah mengunjungi banyak negara Islam. 

Tercatat, beliau berperan aktif membantu di berbagai pesantren dan madrasah di Asia Timur dan Asia Tenggara. 

Bentuk bantuannya, termasuk segi peletakan metodologi (manhaj), pemberian bantuan dana, penataran guru, perekrutan murid pesantren atau madrasah tersebut untuk dididik di Makkah dengan beasiswa penuh dari beliau rahmatullah alaihi.

Dalam dunia tulis menulis dan karya ilmiah, Abuya berhasil menulis puluhan kitab dalam berbagai disiplin ilmu keislaman, antara lain Aqidah Islam, Ulumul Quran, Musthalah Hadits, Fiqh, dan Sirah Nabawiyyah. 

Hingga akhir hayat, beliau tetap istiqamah mengajar di majelis ta`lim yang dirintis di tempat kediamannya di Syari` Almaliki Distrik Rushaifah Makkah, yang dihadiri oleh berbagai lapisan masyarakat, mulai kalangan anak muda hingga orang tua,  selain santri beliau sendiri yang berdomisili di Rushaifah. 

Adapun para santri beliau baik yang berdomisili dikediaman beliau, maupun yang mukim di luar, mayoritas berasal dari luar negeri Saudi Arabiah, dan ada pula yang berasal dari masyarakat setempat. 

Banyak pula dari para muridnya itu, sekembalinya ke negara masing-masing, menjadi da`i, ustadz, dan ulama terkemuka.

Pada tanggal 2 Safar 1421 H / 6 Mei 2000, Universitas Alazhar Mesir, memberi Abuya gelar Profesor, berkat dedikasi beliau yang panjang dalam riset ilmiah dan karya tulis, yang memenuhi standar akademi. 

Selain itu, gelar honoris tersebut merupakan penghargaan atas jasa-jasa perjuangan beliau yang cukup lama, dalam dunia dakwah dan penyebaran ilmu syariat di banyak negara Islam.

Ayah dan kakek beliau, adalah ketua para khatib dan da`i di kota Makkah.

Demikian juga dengan Abuya, profesi tersebut digeluti yakni sejak tahun 1971 dan harus berakhir pada tahun 1983, saat beliau dicekal dari kedudukan terhormat itu akibat penerbitan kitabnya yang berjudul; Mafahim Yajibu an Tushahhhah (Pemahaman-Pemahaman yang Harus Diluruskan), sebuah kitab yang banyak meluruskan paham yang selama ini diyakini oleh ulama-ulama Wahabi.

Paham Wahabi sangat menguasai keyakinan mayoritas ulama Saudi Arabia dan mempunyai peran pesar dalam mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah.

Setelah pencekalan beliau dari pengajian umum dan khutbah, beliau mendedikasikan dirinya dalam pendidikan secara privat kepada ratusan murid-muridnya, dengan penekanan murid-murid dari Asia Tenggara, di kediaman di jalan Al Maliki di distrik Rushaifah Makkah. 

Setiap harinya, mulai ba`da Maghrib hingga ba`da Isya, Abuya menyampaikan pelajarannya, serta menyambut para tamu dan thalibul ilmi di tempat itu yang jumlahnya tidak kurang dari 500 orang. 

Bahkan, majelis beliau selalu dihadiri oleh para ulama dan pejabat, baik dari Saudi Arabia sendiri maupun dari luar negeri, yang datang untuk melaksanakan ibadah haji atau ziarah.

Praktis, majelis itu menjadi ajang ta`aruf dan shilaturrahim yang diformat oleh Sayyid Muhammad secara simpel, sederhana, dengan didukung oleh sifat beliau yang begitu simpatik.

Beliau selalu menanyakan kabar para jama`ah, mencari yang tidak hadir di antara muridnya, atau para jamaah yang istiqamah datang ke majelis tersebut.

Abuya dikenal sebagai figur yang sangat tawadlu, bijaksana, dan tidak ghuluw (fanatik secara berlebihan).

Beliau selalu bersedia dan selalu siap bila diajak berdiskusi hingga beddebat. 

Beliau bukan figur yang senang mencerca atau marah kepada orang yang berbeda pendapat dengannya. 

Namun sikap tegas dan wibawah sudah menjadi bagian dari karakter hidupnya.

Maka tak heran, semasa hidupnya, beliau adalah otoritas yang paling dihormati oleh kalangan Ahlussunnah Wal Jama`ah.

Di antara faktor yang menjadikan beliau mudah diterima oleh masyarakat adalah kelembutan bicara dan akhlaqnya, terutama kepada orang yang membutuhkan bantuan kepada beliau..

Pada tahun-tahun terakhir masa hidupnya, banyak sikap kelompok yang menyerang pendapat ilmiah beliau. 

Namun dengan kebesaran hatinya, Abuya menerima semua itu dengan penuh kesabaran. 

Beliau menjawab semua serangan tersebut dengan cara yang baik, dan menjelaskan duduk permasalahan dengan dalil-dalil syar`i. 

Abuya selalu mempunyai keyakinan, bahwa sejak ribuan tahun, tidak pernah tercatat dalam sejarah, adanya ulama yang berbeda pendapat dengan ulama lain, lantas menyerang dengan menggunakan cara-cara yang tidak etis, yang tidak layak dilakukan oleh seorang alim.

Sikap beliau ini, berhasil meluluhkan hati banyak orang, yang pada asalnya berbeda pendapat dan menyerang beliau. 

Pada akhirnya mereka makin mengetahui ketulusan hati dan tujuan beliau dalam dakwah dan menyebarkan ilmu yang bersumber dari Alquran dan Sunnah.

Setelah berjuang panjang dalam dunia dakwah dan keilmuan, pada Jumat pagi hari, tanggal 15 Ramadhan 1425 H, setelah terkena serangan penyakit yang mendadak, beliau berpulang ke rahmatullah. 

Meninggalkan beberapa putra (Assayyid Ahmad, Assayyid Abdullah, Assayyid Alwi, Assayyid Ali, Assayyid Hasan, Assayyid Husain) dan beberapa putri. 

Beliau dimakamkan di pemakaman Ma`la Makkah Almukarramah.

Pemakaman beliau dihadiri para pentakziah dalam jumlah yang sangat besar. 

Jenazahnya dishalati di Masjid Alharam setelah shalat Isya pada hari itu. 

Abuya meninggal dunia dengan meninggalkan banyak pusaka yang sulit untuk dilupakan ummat Islam. 

Ribuan murid yang menyebar di berbagai negara, serta ratusan karya tulis dalam bentuk buku, monograf, makalah, dalam berbagai topik keislaman. 

Belum lagi kumpulan ceramah beliau yang terekam dalam kaset dan CD, Kitab-kitab maupun rekaman ceramah beliau, tidak bertujuan mencari keuntungan materi.

Hal ini makin membuat beliau dicintai dan dihormati ummat. 

Abuya Assayyid Muhammad Bin Alwi Almaliki Alhasani akan terus berada dalam sanubari terdalam ummat Islam, karena wacana keilmiahannya masih terus dapat dinikmati generasi demi generasi, dan tak akan lekang oleh pergantian zaman.

(Dalam rangka Haul ke - 17, pada tgl 15 Ramadhan 1442 H)