Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menjawab Fitnah dan Tuduhan Terhadap HAMAS

Menjawab Fitnah dan Tuduhan Terhadap HAMAS

Fikroh.com - Bidang Media Israel berbahasa Arab, mrenggelontorkan 500 juta US dollar kepada Da'i Emirates Arab asal Jordania, Wasim Yousuf, untuk menyiapkan buzzer dan tim media, menciptakan opini publik dunia Arab agar antipati dengan perjuangan bersenjata HAMAS vis a vis Israel. 

Tuduhan yang disebar adalah: HAMAS made in Israel, Inggris atau antek AS. Di sisi lain, HAMAS sangat pro Syiah, tidak sesuai manhaj, dan antek Demokrasi. Suara sumbang yang jamak kita dengar dari kelompok Salafy, HT, Wahabi, dan beberapa entitas Islamophobia. 

Mari sejenak kita telisik. HAMAS adalah organisasi perjuangan yang dibuat oleh Syaikh Mujahid Ahmad Yasin bersama tim 7 kader Harakah Islamiyyah. Tepatnya tanggal 14/12/1987. Sebagai tindak lanjut dari kebangkitan perlawanan rakyat Palestina, memprotes kebengisan warga Israel yang menabrakkan truk tronton besar hingga menelan korban jiwa 4 orang.

Jika Syaikh Ahmad Yasin, adalah agen Israel yang disusupkan, mengapa beliau harus dipenjarakan tanggal 18 Mei 1989 bersama ratusan kader militannya. Vonis hukuman bukan kaleng-kaleng: hukuman penjara seumur hidup plus 15 tahun tambahan. Tuduhannya: memprovokasi rakyat Palestina untuk membunuh militer Israel dan mendirikan gerakan politik illegal (HAMAS). 

Syaikh Ahmad Yasin kemudian dibebaskan, usai pertukaran tawanan dengan intel Mossad yang ditangkap HAMAS. Pertanyaannya, jika Syaikh Ahmad Yasin adalah agen Israel, mengapa beliau harus dirudal beberapa kali menggunakan F16 dan helikopter Apache. Di antaranya bom bulan 13 Juli 2003, bom deberat 500 kg yang meluluhlantahkan bangunan di dalamnya ada Syaikh Ahmad Yasin dan Ismail Haniyya. 

Mengapa beliau harus dirudal Apache, padahal hanya seorang tua berumur 65 tahun dan kondisi beliau cacat permanen hingga paha tepat di tanggal 22 Maret 2004, usai shalat Shubuh di pagi buta. Operasi khusus yang langsung di bawah komando PM Israel Sharon. Tiga rudal langsung ditembakkan, menyasar mobil beliau? Akhirnya 2 putra beliau dan 7 kader HAMAS menemui syahid.

Sejak lama, kalangan Liberal-Sekuler Arab dan kalangan anti HAMAS dari kelompok taat mutlak terhadap kerajaan, menuduh HAMAS mengorbankan rakyat sipil. Sebab setiap perlawanan HAMAS dan Jihad Islam di Gaza, dibalas serangan membabi buta Israel terhadap rakyat sipil. 

Semua tahu, bahwa Israel satu-satunya negara setelah AS yang merasa berada di atas aturan PBB. Setiap kali menyerang, Israel hanya memberikan pemberitahuan bombardir dengan jeda 2 menit saja dari ultimatum serangan. 

Kalangan Liberal, Sekuler dan kelompok anti HAMAS dari kalangan tegak lurus terhadap kerajaan, sama sekali tutup mata dengan fakta: Israel menerima dialog dan perdamaian, ketika sudah terdesak di Medan tempur. Kebengisan Israel lebih dahsyat di Tepi Barat, wilayah yang dikuasai FATAH (Mahmud Abbas), dimana setiap jam, selalu ada penangkapan, pembunuhan, perampasan tanah termasuk area sekitar Masjid Al-Aqsha. 

Pihak keamanan otoritas Palestina di Tepi Barat, justru berulah seperti informan dan preman bayaran yang memberikan informasi dan akses kepada setiap person HAMAS di Tepi Barat. Israel sangat terbantu dan diuntungkan dengan kerjasama "koordinasi keamanan", sebagai kompensasi dari akses VVIP bagi kelompok FATAH memegang otoritas di Tepi Barat, walau terbatas.

Lain halnya dengan Gaza. Area yang hanya 1% dari total keseluruhan Palestina, 150 km persegi, dihuni 2 juta manusia dengan kehidupan tidak manusiawi. Di hadapan mereka hanya ada dua pilihan: mati kelaparan atau mati menjadi martir membela kehormatan 400 juta Arab dan 1.5 milyar Muslim. 

Maka pelbagai upaya pelemahan terhadap HAMAS, selalu gagal. Termasuk perlawanan Saif Al-Quds Ramadhan 1422 H/Mei 2021 saat ini. Korban syuhada dan kerugian materi yang dihancurkan Israel pasti lebih besar. Namun mereka kini menemukan fakta: warga Gaza terlatih dan terbiasa dengan rasa sakit. Hal yang tidak mungkin kuat dirasakan bangsa Arab pemuja Zionis atau bangsa Israel sendiri. 

Tahun 2014, militer dan warga pemukiman ilegal Israel menertawakan roket-roket HAMAS yang berdaya ledak rendah. Siapa kira, 2021, roket-roket HAMAS selain jauh, kini memikul daya ledak tinggi. Dampaknya dahsyat: Bandara tutup, jutaan warga masuk bungker, perisai langit Made in US letoy, 120 pasukan AS terpaksa hengkang, target-target vital tertembus roket, alarm berbunyi sepanjang hari, sekolah dan perkantoran libur. Takut. Histeris. Sedih. Sakit. Kini dirasakan bangsa maling: Israel.

Melihat Israel kelimpungan, beberapa negara Arab mulai cari muka: memanfaatkan kelemahan Israel dan keunggulan HAMAS untuk memasukkan agenda dalam negeri: bisa mencari simPATI, bisa juga meraih posisi tawar lebih di hadapan Israel dan AS. Mesir, Saudi, Jordania melakukan hal itu. 

AsSisi marah terhadap Israel yang di kasus bendungan The Renaissance, Israel memihak Eriteria. Lalu Biden dan Netanyahu, tidak lagi menempatkan Mesir sebagai "partner" penting perdamaian Timur Tengah, seiring Sudan, UAE, Bahrain dan Maroko tunduk tanpa peran Mesir sama sekali. 

Maka kita dengar, Prof. Dr. Omar Hasyim, mantan rektor Al-Azhar yang mengajar kelas hadis saat saya kuliah, lantang menyerang Israel bahkan menyerukan jihad. Lalu pihak perbatasan Rafah, membuka dan menyiapkan RS untuk korban kebrutalan Israel di Gaza. Hal yang sebenarnya mengantarkan Presiden Mursi dipenjara hingga wafat. 

to be continued...

Oleh Dr. Nandang Burhanudin