Menggapai Jiwa yang Tenang Dengan Istiqamah

Fikroh.com - Bila kita mau menyadari, Tuhan kadang membenturkan kita pada sebuah dinding fenomena yang keras. Mampukah kita bersabar pada tumburan pertama? Itulah sebenarnya yang hendak Ia lihat. Dengan cara itu Dia  memilih siapa hamba yang pantas dibuai dalam pelukanNya. Mereka adalah pemilik jiwa yang tenang yang penuh keridhaan dan sabar  dalam menegakkan kalimatNya, sadar bahwa benturan itu memang harus dihadapi.

Saya percaya bahwa Anda pernah merasa  risau dan senang. Merasa  risau karena telah berbuat kesalahan  sehingga khawatir diketahui orang lain, atau karena sesuatu yang Anda harap tidak sesuai kenyataan atau karena Anda telah mendapat hinaan dari orang lain. Saya juga percaya bahwa Anda pernah merasa senang karena mendapat apa yang menjadi harapan,  mendapat pujian atau karena Anda telah mampu menunaikan kewajiban yang menjadi beban. Situasi risau dan senang inilah kondisi yang selalu mengiring manusia dalam perjalanan hidupnya.

Yang penting bukan mencari sebab mengapa kita senang dan risau, tetapi kesadaran mengedepankan pemahaman bahwa perjalanan manusia itu selalu diliputi dua situasi tersebut.  Sebenarnya perintah seperti ini telah beberapa kali disampaikan Allah SWT dalam Al-Qur’an, seperti kalimat berikut:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ 

Setiap jiwa akan mengalami kematian, dan kami hendak mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan kepada Kamilah kamu dikemblikan (QS Al-Ambiya [21]:35)

Dia yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalannya. (QS Al-Mulk [67]: 2).

Kesadaran tinggi tentang lumrah-nya mendapat dua situasi tersebut menimbulkan pancaran ketenangan jiwa bagi pemiliknya, sebab kesadaran demikian menggambarkan kuatnya manusia berpegang pada petunjuk Allah SWT dan juga sebagai tanda telah sampainya bisikan para malaikat padanya, sebagaimana firman Allah SWT sbb;

فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ

“Maka barang siapa mengikuti petunjukku  tidak ada rasa takut dan sedih bagi mereka, sedangkan orang yang mengingkari dan mendustakan terhadap ayat2-Ku (kitabku) mereka adalah penghuni neraka”. (QS Al Baqarah [2]: 39).

   إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُون نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

”Sesungguhnya orang yang mengatakan:”Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka seraya berseru: ”Janganlah kamu merasa takut dan kamu bersedih, sebaliknya bergiranglah dengan sorga yang telah dijanjikan untukmu. Kamilah pelindungmu dalam kehidupanmu di dunia dan di akhirat”. (Al Fushilat [41]:30-31 ).

Syarat meraih ketenangan, sebagaimana telah diterangkan dalam Surat Al-Fushilat [41]: 30 adalah istiqomah (teguh pendirian) dalam menerima segala perintah Allah ( ألتَّسلِيْمُ لأَمْرِاللهِ ).  Taslim liamrillah, adalah sebuah ucapan Rasul yang di dalamnya menjelaskan bahwa  ketenangan jiwa itu bukan disebabkan oleh keberadaan harta dan kedudukan atau ketiadaan harta dan jabatan, tetapi ketenangan jiwa itu sangat ditentukan oleh kuatnya manusia berpegang pada petunjuk Allah SWT dan kesadaran kebersamaan dengan-Nya dalam setiap sudut ruang dan waktu, dengan sarana yang dimilikinya.

Allah SWT berfirman;

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah (niscaya) hati menjadi tenang.” (QS Ar Ra’d [13] : 28). 

Bahkan dalam ayat lain Allah berfirman agar para hamba selalu mengingat Dia sebanyak-banyaknya (QS Al-ahzab [33]: 41).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا 

“Wahai orang yang beriman dzikirlah (dengan menyebut nama Allah) sebanyak-banyaknya.”

Perintah ini bisa saja kita artikan sebagai perintah agar sesering mungkin menyebut dan  mengingat-Nya. Sebenarnya bukan sekedar  dalam arti kwantitas itu saja memaknai arti dzikir, tetapi di dalamnya mengandung kebersamaan pengerahan fikir untuk mempelajari makna firman-firman-Nya secara gigih. Jadi dzikir mengandung pengertian bukan sekedar kwantitas tetapi menukik pada kwalitas sebagai tujuan akhir.  

Kini kita dapat merasakan bahwa kwantitas dan kwalitas dzikir seseorang menunjukkan kematangan jiwa yang bersangkutan  di hadapan Allah SWT. Kematangan jiwa inilah yang menjadikan ketenangan  bagi pemiliknya.   Inilah sebenarnya hakekat orang berilmu.   Dalam suatu hadist disebutkan bahwa Ibadah seorang yang berilmu sebanding dengan 1000 ahli ibadah yang tidak berilmu.

Pemilik jiwa yang tenang inilah kelak yang akan mendapat sambutan hangat dari Allah SWT,  sebagaimana firman-Nya dalam Surat Al Fajr sbb;. 

يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً  فَادْخُلِي فِي عِبَادِي  وَادْخُلِي جَنَّتِي 

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridaiNya. Maka masuklah ke golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS Al-Fajr [89]:27-30).

Semoga kita termasuk golongan orang yang memiliki jiwa yang tenang dan mendapat ridhaNya. Amiin.

Bila kita mau menyadari, Tuhan membenturkan kita pada sebuah dinding fenomena yang keras. Mampukah kita bersabar pada tumburan pertama? Itulah sebenarnya yang hendak Ia lihat. Dengan cara itu Dia memilih siapa hamba yang pantas dibuai dalam pelukanNya. Mereka adalah  pemiliki jiwa yang tenang yang penuh keridhaan dan sabar dalam menegakkan kalimatNya,  sadar bahwa benturan itu memang harus dihadapi.

وصلّ الله على سيّدنا محمّد و على آله وصحبه وسلّم

WaAllahu ‘alamu bishawab.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama