Benarkah Lelaki Baik Itu Tidak Mudah Terpicu Syahwat?

Fikroh.com - Benarkah Lelaki Baik Itu Tidak Mudah Terpicu Syahwat? Mungkin ada sebagian anggapan itu keluar dari benak kita. Namun benarkah demikian?

Terbalik!

Justru lelaki yang bertakwa yang normal  itu yang paling hebat syahwatnya terhadap wanita.

Mengapa?

Sebab dia terbiasa menahan pandangan, terbiasa menjaga kehormatan, dan terbiasa membendung gejolak syahwatnya. Seperti air, gejolak birahi itu lama-lama mengumpul, membentuk seperti danau dalam bendungan dan siap menyembur dahsyat menyapu apapun yang dilewatinya jika saluran bendungan itu dibuka. Begitu dia mendapatkan wanita yang halal untuk melampiaskan syahwat tersebut, maka kekuatan dia menggauli wanita mencapai taraf yang “mengesankan”.

Berbeda dengan lelaki yang tidak bertakwa. Matanya terbiasa melihat yang haram dan syahwatnya terbiasa dilepaskan tanpa kontrol di mana-mana. Orang seperti ini syahwatnya jadi melemah, bahkan karena seringnya dia melihat ketelanjangan dan syahwatnya terbisa dilampiaskan dengan cara haram tersebut, maka dia tidak bangkit birahinya jika “hanya” melihat telanjang saja. Dia perlu “stimulus tambahan” yang lebih dari sekedar telanjang untuk membuat syahwatnya bangkit.

Oleh karena itu, wajar kebanyakan mereka yang bertakwa (dan memiliki kemampuan) memilih poligami untuk tetap menjaga mata dan kehormatannya.  Sebab, jika dia tidak poligami, maka peluang dia terjatuh ke dalam kemaksiatan lebih besar lagi.  Dia bisa berselingkuh dan berzina diam-diam, atau mencari pemuasan menyimpang di luar jalur pernikahan.

Demikianlah penjelasan sejumlah ulama terkait topik ini. Abū al-Laiṡ al-Samarqandī berkata,  

إن كل من كان أتقى كانت شهوته أشد، لأن الذي لا يكون تقياً إنما ينفرج بالنظر واللمس  (تفسير السمرقندي = بحر العلوم (1/ 310)

Artinya, “Sesungguhnya setiap orang yang bertakwa maka syahwatnya lebih hebat karena orang yang tidak bertakwa dia terbiasa melepaskan pandangan dan rabaan”

Senada dengan itu, al-Qurṭubī berkata, 

إِنَّ كُلَّ مَنْ كَانَ أَتْقَى فَشَهْوَتُهُ أَشَدُّ (تفسير القرطبي (5/ 253)

Artinya, “Sesungguhnya setiap orang yang bertakwa maka syahwatnya lebih hebat”

Ismail ḥaqqī juga berkata,

قال بعض الكبار من كان اتقى كانت شهوته أشد وذلك ان حرارة الشهوة الحقيقية انما هى بعد نار العشق التي بعد نور المحبة فانظركم من فرق بين شهوة اهل الحجاب وشهوة اهل الشهود (روح البيان (7/ 183)

Artinya, “Sebagian ulama besar berkata, ‘Semakin bertakwa seseorng, maka semakin hebat syahwatnya karena panas syahwat yang hakiki itu muncul sesudah api rindu yang timbul setelah cahaya cinta. Maka lihatlah betapa bedanya antara syahwat ahli hijab dan syahwat ahli syuhud”

Orang bertakwa tidak takut banyak berhubungan badan dengan wanita yang halal, karena perbuatan itu tidak membuat hati keras. Keistimewaan jimak adalah ia menjadi satu-satunya pelampiasan syahwat yang tidak membuat hati keras, sebaliknya itu justru malah membuat hati jernih.  Oleh karena itulah, para nabi banyak yang melakukannya dan tidak menjadi aib melakukannya. Seperti Nabi Dawud yang diriwayatkan memiliki 100 istri dan Nabi Sulaiman yang memiliki 700 istri + 300 sariyyah. Nabi kita, Nabi muhammad ﷺ  pun memiliki 9 istri. Wajar jika ada riwayat bahwa di antara semua dunia, hanya dua dunia yang disukai nabi Muhammad ﷺ  yakni wanita dan parfum. Empat khulafaur rasyidin yang dijamin masuk surga pun semuanya juga berpoligami. Abu Bakr al-Warrāq berkata,

كل شهوة تقسي القلب إلا الجماع، فإنه يصفي القلب، ولهذا كان الأنبياء عليهم السلام يفعلون ذلك (تفسير السمرقندي = بحر العلوم (1/ 310)

Artinya, “Setiap syahwat itu mengeraskan hati kecuali jimak karena ia justru menjernihkan hati. Oleh karena itu para nabi alaihissalam itu melakukan hal tersebut”

Jadi, jangan buruk sangka dengan lelaki yang bersyahwat besar karena itu justru cerminan betapa bersih mata dan hatinya karena menolak melihat yang haram. Sebaliknya, kuatirlah dengan lelaki normal  yang tidak gampang terpicu syahwat, sebab bisa jadi dia seperti itu karena sudah saking terbiasanya melihat yang haram di luar sepengetahuan Anda. 

Kecuali jika dia terkena masalah kesehatan, atau karena faktor usia, atau teralihkan mengurusi perkara yang dianggapnya lebih penting (misalnya; sangat sibuk dengan ilmu, atau penelitian, atau hobi, atau olahraga, atau kegiatan sosial dan semisalnya). Yang seperti ini masih wajar dan bukan lemah syahwat yang disebabkan karena penyimpangan perilaku.

اللهم جنبنا الفواحش ما ظهر منها وما بطن 

Oleh : Muafa (Mokhamad Rohma Rozikin/M.R.Rozikin)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama