Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Berhari Raya Tanpa Harus Menyelisihi Syari'at

Berhari Raya Tanpa Harus Menyelisihi Syari'at

Fikroh.com - Hari raya Idul Fitri adalah waktu yang paling dinanti-nantikan oleh kaum muslim. Moment yang terjadi hanya setahun sekali ini kerap dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga. Namun sayang tidak sedikit yang salah memaknai hari raya yang justru diisi dengan hal-hal negatif dan bertentangan dengan syariat.

Oleh karena itu melalui tulisan ini kami uraikan panduan berhari raya sesuai sunnah agar suasana gembira di hari raya mendapatkan berkah dan pahala.

Masuknya Syawwal dengan Ru’yatul Hilal

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam bersabda :

إذَا رأيْتُمُوهُ فَصُومُوا، وَإذا رَأيْتُمُوهُ، فَأَفْطِرُوا، فَإنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَعُدُّوا ثَلاثِينَ

“Jika kalian melihatnya [hilal] maka shaumlah. Dan jika kalian melihatnya juga, maka berbukalah. Kalaupun seandainya mendung menghalangi kalian, maka sempurnakan sya'ban 30 hari” (HR. Muslim No. 2517, An-Nasai No. 2125)

Mengiringi Shaum Ramadhan dengan 6 hari Shaum Syawwal

Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam bersabda :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتاً مِنْ شَوَّالٍ، فَقَدَ صَامَ الدَّهرَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang shaum, kemudian mengiringkannya dengan shaum 6 hari di bulan Syawwal, maka seolah-olah ia shaum setahun penuh” (HR. Muslim No. 2758, Abu Dawud No. 2433)

Syaikh Al-Abadi mengatakan : “Hadits ini menjadi dalil disunnahkannya shaum di bulan Syawwal. Kalangan yang berpandangan seperti ini ialah Syafi’I, Ahmad, Ibnul Mubarak dan yang lainnya. Sedangkan sebagian ulama termasuk Imam Malik memakruhkannya karena kalangan jahiliyyah memasukkannya ke dalam Ramadhan” (‘Aunul Ma’bud, 7/63)

Madzhab Syafi'I memandang bahwa keutamaan Shaum Syawwal ini bagi siapa saja yang muslim, entah ia sempurna shaum Ramadhannya atau ia yang harus qadha. Tetap disunnahkan shaum syawwal. (Al-Mawsu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, 28/93)

Namun, afdholnya mendahulukan qadha Ramadhan yang telah lalu ketimbang menunaikan shaum syawwal [jika punya hutang shaum].

Bahkan madzab Hanbali dalam hal ini mengharamkan shaum syawwal, sebelum ditunaikannya qadha terlebih dahulu. Karena yang wajib di dahulukan daripada yang sunnah. (Al-Mawsu'ah, 28/100)

Berangkat Sholat Ied dan pulang dengan jalan yang berbeda

Dari Sa’ad Ibn Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alayhi wasallam bersabda:

كانَ يَخْرُجُ إلى العِيدِ ماشِياً في طَرِيقٍ، وَيَرَجَعُ ماشِياً فِي طَرِيقٍ غَيرِهِ

“Jika ia keluar untuk sholat ‘Ied, ia berjalan di suatu jalan, kemudian pulang dengan memilih jalan yang lain” (HR. Al-Bazzar No. 653, Al-Bayhaqi No. 6145)

Makan sebelum berangkat Sholat

Dari ‘Abdullah Ibn Buraydah, dari Ayahnya ia berkata :

كانَ النَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم -، إذا كانَ يَوْمُ الْفِطْر، لمْ يخرُجْ، حتَّى يَطْعمَ، فإذا كانَ يَوْم النَّحْر، لَمْ يَأكُلْ، حتَّى يَذْبَحَ

“Dahulu Nabi jika hari raya ‘Iedul Fithri, beliau tidak keluar hingga beliau makan terlebih dahulu. Dan jika berada di hari raya ‘Iedul Adha, beliau tidak makan hingga beliau memotong hewan” (HR. At-Tirmidzi No. 542, Ibn Majah No. 1756)

Imam At-Tirmidzi berkata :

وَقَدْ اسْتَحَبَّ قَوْمٌ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ لَا يَخْرُجَ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ شَيْئًا وَيُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يُفْطِرَ عَلَى تَمْرٍ وَلَا يَطْعَمَ يَوْمَ الْأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ

“Segolongan ulama menyunahkan agar jangan keluar terlebih dulu pada hari Idul Fithri hingga ia makan sesuatu, dan disunahkan baginya untuk makan kurma. Dan jangan dia makan dulu pada hari Idul Adha hingga ia pulang.” (Sunan At-Tirmidzi No. 542)

Memakai Pakaian Terbaik, meski tidak harus baru dan Memakai Wewangian

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, ia berkata :

أمرنا رسول الله صلى الله عليه و سلم في العيدين أن نلبس أجود ما نجد و أن نتطيب بأجود ما نجد و أن نضحي بأسمن ما نجد

“Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang kami punya, dan memakai wangi-wangian yang terbaik yang  kami punya, dan berkurban dengan hewan yang paling mahal yang kami punya.” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak No. 7560)

Do’a tatkala memakai pakaian baru dan melihat orang lain memakai pakaian baru

Dalam kitab Al-Adzkar, Imam An-Nawawi rahimahullah memuat judul : Bab Tentang Apa yang Harus Diucapkan Tatkala Memakai Baju Baru; Sendal Baru; atau Semisalnya [Bāb Mā Yaqūlu Idzā Labisa Tsaub Jadīd Au Na’l Au Syibhahu]

Di dalam kitab tersebut Imam An-Nawawi berkata : “Disunnahkan berdo’a tatkala menggunakan pakaian baru dengan do’a yang telah kita paparkan di bab sebelumnya”

Do’a tersebut ialah : 

اللّٰهُمّٙ إِنِّي أٙسْأٙلُكٙ مِنْ خٙيْرِهِ وٙخٙيْرِ مٙا هُوٙ لٙهُ ، وٙأٙعُوْذُ بِكٙ مِنْ شٙرِّهِ وٙشٙرِّ مٙا هُوٙ لٙهُ

Allahumma inni as-aluka min khoyrihi wa khoyri ma huwa lahu, wa a‘udzubika min syarrihi wa syarri ma huwa lahu.

“Ya Allah, aku memohon kepada Engkau kebaikan dari pakaian ini dan kebaikan dari apa yang ada padanya... Dan aku berlindung kepada Engkau dari keburukan pakaian ini dan keburukan dari apa yang ada padanya” (HR. Ibnus Sunniy No. 14)

Dan do’a: dari Mu’adz Ibn Jabal radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

 مَنْ لَبِسَ ثَوْبًا فَقَالَ : الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

“Barangsiapa mengenakan pakaian kemudian berdo’a : Alhamdulillahilladzi kasāni hadza ats-tsaub wa rozaqonīhi min ghoyri haul minni wa laa quwwah.

Maka akan diampuni dosa-dosa nya yang lampau” (HR. Ibnus Sunniy No. 271; Al-Bayhaqi dalam Syu’abul Iman [8/307])

Kemudian dalam Bab itu sendiri Imam An-Nawawi memuat hadits:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ ، إِمَّا قَمِيصًا أَوْ عِمَامَةً ، ثُمَّ يَقُولُ :

اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ ، أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam jika mengenakan pakaian baru beliau menyebutkannya dengan penyebutan yang sesuai, baik itu pakaian gamis maupun sorban, kemudian berdo’a:

Allahumma lakal hamdu, anta kasautanihi, as-aluka min khoyrihi wa khoyri ma suni’a lahu, wa a’udzubika min syarrihi wa syarri ma suni’a lahu.

Ya Allah bagimu segala pujian... Engkau memakaikan kepadanya padaku... Aku memohon kepada engkau atas kebaikan pakaian ini dan kebaikan dari apa yang bisa muncul darinya... Dan aku berlindung kepada engkau dari keburukan pakaian ini dan keburukan yang bisa muncul darinya.” (HR. Abu Dawud No. 4520)

Sedangkan jika kita melihat orang lain yang mengenakan pakaian baru, maka do’anya sebagai berikut.

Dari Ibn ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma : bahwasanya Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam melihat dari ‘Umar pakaian yang bagus, maka Rasulullah berkata : “Apakah baju itu baru atau hanya selesai di cuci?”

Umar menjawab : “Ini hanya baru selesai dicuci”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam berkata,

اِلْبٙسْ جٙدِيْدًا، وٙعِشْ حٙمِيْدًا، وٙمُتْ شٙهِيْدًا

Ilbas jadīd, wa isy hamīd, wa mut syahīd

“Pakai lah pakaian baru, dan hiduplah dengan penuh kebaikan, serta matilah dalam keadaan syahid” (HR. Ibn Majah No. 3558, Ibnus Sunniy No. 262)

لَيْسَ العِيْدُ لِمَنْ ثَوْبُهُ جَدِيْد..

وَ لَكِنَّ العِيْد لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْد..


"Ied bukan bagi mereka yang memiliki baju baru.. 

Akan tetapi 'Ied, bagi mereka yang ketaatannya bertambah..."

Oleh: Ustadz Muhammad Rivaldy Abdullah