Bagaimana Cara Shalat 'Ied Di Rumah?

Fikroh.com - Pandemi covid-19 telah merubah tatanan kehidupan sosial dan merambah pada tata laksana ibadah seperti shalat. Dalam hal ini muncul pertanyaan: bagaimana pelaksanaan shalat idul fithri, di tengah kondisi yang membuat orang-orang terpaksa tidak bisa berkumpul dan berkerumun dalam satu tempat?

Pertama, Shalat Id hukumnya sunnah mu’akkadah.

وٙصٙلٙاةُ العِيْدٙيْنِ سُنّٙةٌ مُؤٙكّٙدٙةٌ. وٙهِيٙ رٙكْعٙتٙانِ يُكٙبِّرُ فِيْ الأُوْلٰى سٙبْعًا سِوٙى تٙكْبِيْرٙةِ الإِحْرٙامِ، وٙفِيْ الثّٙانِيٙةٙ خٙمْسًا سِوٙى تٙكْبِيْرٙةِ القِيٙامِ

“Shalat Idayn [dua hari raya] hukumnya sunnah mu’akkadah [yang sangat ditekankan untuk dikerjakan]. Dan shalatnya dikerjakan dua rakaat, dengan jumlah takbir di rakaat pertama sebanyak tujuh kali, diluar takbiratul ihram. Dan di rakaat kedua sebanyak lima kali takbir, di luar takbirotul qiyam.” (Taqiyuddin Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, hal. 152)

Jadi, setelah bertakbir mengangkat tangan ketika memulai shalat, dia bertakbir tujuh kali. Di rakaat kedua, setelah berdiri dari sujud dan bertakbir [mengucapkan “Allahu Akbar”], dia kemudian bertakbir sebanyak lima kali. Inilah penjelasannya.

Kedua. Dalam madzhab Syafi’I terdapat dua pendapat mengenai hukum shalat id di rumah. Pendapat pertama memandang boleh shalat id dikerjakan di rumah. Dan pendapat kedua menyatakan : shalat id tidak dikerjakan kecuali di tempat yang biasa dikerjakan shalat id secara berjamaah. Syaratnya sebagaimana syarat pelaksanaan shalat jum’at. (Al-‘Imroni, Al-Bayan fi Madzhab Al-Imam As-Syafi’I, 2/649)

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menulis,

هل تُشرع صلاة العيد للعبد والمسافر والمرأة والمنفرد في بيته أو في غيره؟ فيه طريقان أصحهما وأشهرهما القطع بأنها تُشرع لهم

“Apakah disyari’atkan shalat id bagi budak, musafir, perempuan dan yang shalat berkesendirian di rumahnya atau ditempat selain itu? Dalam masalah ini terdapat dua pendapat. Yang ashoh/paling shahih dan asyhar/paling masyhur adalah pendapat yang mengatakan disyari’atkannya hal tersebut atas mereka.” (Al-Majmu’, 5/26)

Lafadz “ashoh [أصح]” dalam madzhab Syafi’I merujuk kepada pendapat terpilih bagi madzhab Syafi’I. Sedangkan lafadz “asyhar [أشهر]” merujuk kepada pendapat terpilih bagi Imam Syafi’I rahimahullahu. Begitu lah penjelasan guru kami Habib Ahmad Al-Maqdi As-Syafi’I.

Artinya boleh shalat id dikerjakan di rumah, dengan munfarid [sendirian].

تُشرع للمنفرد والعبد والمرأة والمسافر فلا تتوقف على شروط الجمعة من اعتبار الجماعة والعدد وغيرهما، ويُسن الاجتماع لها في موضع واحد

“Disyari’atkan [shalat id] bagi munfarid [orang yang tidak dapat menghadiri jamaah id], budak, perempuan, dan musafir tanpa harus memperhatikan syarat-syarat sebagaimana shalat jum’at dari sisi wajibnya berjamaah, batasan jumlah dan sebagainya. Dan hukum asalnya disunnahkan untuk berkumpul [melaksanakan shalat id] terpusat di satu tempat.” (As-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj, 1/587)

Apakah boleh dikerjakan berjamaah, meski dirumah dengan sanak keluarga? Dan jika dikerjakan dirumah, sunnah kah diadakan khutbah?

Al-Imam Al-Bukhari menulis dalam kitab Shahih-nya : 

بَابٌ : إِذَا فَاتَهُ العِيدُ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، وَكَذَلِكَ النِّسَاءُ ، وَمَنْ كَانَ فِي البُيُوتِ وَالقُرَى لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَذَا عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَأَمَرَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ مَوْلاَهُمْ ابْنَ أَبِي عُتْبَةَ بِالزَّاوِيَةِ فَجَمَعَ أَهْلَهُ وَبَنِيهِ ، وَصَلَّى كَصَلاَةِ أَهْلِ المِصْرِ وَتَكْبِيرِهِمْ 

Bab Jika Seseorang Tertinggal Pelaksanaan Id, Maka Ia Shalat Dua Rakaat. Begitu Pula Bagi Perempuan, Dan Siapa Saja Yang Berada di Rumah-Rumah dan Tempat Terpencil [jauh dari tempat pelaksanaan berjamaah Id] Berdasarkan Hadits Nabi : “Ini adalah Hari Raya Kita, Seluruh Ummat Islam.” Anas Ibn Malik Memerintahkan Pembantunya -yakni Ibn Abi ‘Utbah- untuk Mengumpulkan Keluarga dan Anak-Anaknya, dan Mereka Shalat sebagaimana Shalatnya Para Warga di Pusat Pelaksanaan Id dan Bertakbir Seperti Mereka.

Syaikhul Islam Ibn Hajar Al-Asqalani men-syarh keterangan ini :

 وَهَذَا الْأَثَرُ وَصَلَهُ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ " عَنِ ابْنِ عُلَيَّةَ عَنْ يُونُسَ هُوَ ابْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنِي بَعْضُ آلِ أَنَسٍ أَنَّ أَنَسًا كَانَ رُبَّمَا جَمَعَ أَهْلَهُ وَحَشَمَهُ يَوْمَ الْعِيدِ فَيُصَلِّي بِهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي عُتْبَةَ مَوْلَاهُ رَكْعَتَيْنِ " وَالْمُرَادُ بِالْبَعْضِ الْمَذْكُورِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَنَسٍ ، رَوَى الْبَيْهَقِيُّ مِنْ طَرِيقِهِ قَالَ " كَانَ أَنَسٌ إِذَا فَاتَهُ الْعِيدُ مَعَ الْإِمَامِ جَمَعَ أَهْلَهُ فَصَلَّى بِهِمْ مِثْلَ صَلَاةِ الْإِمَامِ فِي الْعِيدِ " 

“Dan atsar/keterangan dari Anas ini tersambung sanadnya dalam riwayat Ibn Abi Syaibah : 

“Dari Ibn ‘Ulayyah, daripada Yunus -dia adalah Ibn ‘Ubaid- , telah menceritakan kepadaku sebagian keluarga Anas bahwasanya Anas mengumpulkan keluarga dan pembantu nya pada hari Id kemudian mereka shalat Id berjamaah diimami oleh Abdullah Ibn Abi ‘Utbah yang notabene mantan budaknya, sebanyak dua rakaat.”

Dan maksud sebagian keluarga Anas ialah : Abdullah Ibn Abi Bakr Ibn Anas. Kemudian Imam Al-Bayhaqi meriwayatkan dari jalur sanad beliau : “Dahulu Anas jika tertinggal shalat berjamaah Id bersama Imam Kampung, maka ia mengumpulkan keluarga nya dan mengimami mereka shalat sebagaimana imam kampung di hari Id.” (Fathul Bari, 2/549)

Karena itu jika di lakukan di rumah, boleh dikerjakan berjamaah bersama keluarga berdasarkan atsar dari sahabat tersebut.

Juga sunnah dilakukan khutbah, jika memang di rumah tersebut di adakan berjamaah shalat id. Adapun jika shalat nya munfarid [masing-masing], maka tidak perlu ada khutbah. Khutbah dikerjakan setelah shalat Id. (Tuhfatul Muhtaj, 3/40). Wallahu a’lam.

Oleh: Ust. Muhammad Rivaldy Abdullah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama