Fikroh.com - Majelis Tafsir Al-Qur'an kini kehilangan sosok pemimpin generasi kedua Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina. Beliau wafat pada hari Kamis 25 Februari 2021 yang bertepatan dengan 13 Rajab 1442 H di RSDM Solo.

Siapakah Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina? Berikut ini biografi singkat atau perjalanan hidupnya hingga menjadi pimpinan MTA.

Selayang Pandang, Profil Pimpinan MTA, Ustadz Ahmad Sukina

Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina lahir di Gawok, Sukoharjo pada 27 Oktober 1948. Ia merupakan anak dari pasangan Siti Sa’diyah dan Muhammad Bisri. Sebagai pegawai negeri sipil, orang tua Ahmad Sukina mendapat tugas untuk berdinas di luar kota dan akhirnya menetap di desa Pelok Sepur Kecamatan Ngrampal, Sragen.

Kedua orang tuanya yang dikenal sebagai aktivis Masyumi dan Muhammadiyah yang bergiat dalam dakwah Islam. Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina, juga belajar mengaji kepada kakeknya yang bernama Abdullah Manan, seorang aktivis Masyumi di Surakarta. Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan di Surakarta. Cita-cita Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina sejak kecil ingin menjadi guru agama sepenuhnya mendapat dukungan dari kedua orang tua.

Meski tinggal di desa, hal ini tak menyurutkan nyali Ahmad Sukina untuk menamatkan pendidikan di jurusan Tarbiyah, Institut Agama Islam Muhammadiyah (IAIM) atau sekarang dikenal sebagai Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Di saat merasakan dunia perkuliahan inilah ia mulai aktif berorganisasi. Beberapa organisasi pergerakan mahasiswa yang ia ikuti seperti, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pelajar Islam Indonesia (PII), dan Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM).

Selepas lulus dari bangku perguruan tinggi, ia kemudian menjadi pendidik di Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Kartasura selama tujuh tahun. Selanjutnya ia berpindah tempat mengajar  di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Kartasura, Sukoharjo dan mengajar pelajaran agama Islam. Di sekolah ini, ia sempat mendapat teguran keras dari kepala Departemen Agama (Depag) Sukoharjo. Akibat teguran keras ini Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina dilarang mengajar dan dipindah tugaskan ke bagian administrasi di kantor Depag Sukoharjo.

Oleh pihak SMPN 3 Kartasura, ia dianggap meresahkan karena tak mau berjabat tangan dengan siswa putri dan guru putri yang merupakan rekan kerjanya sesama guru. Menurut Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina, tidak berjabat tangan dengan lawan jenis merupakan implementasi dari hasil mengaji Tafsir Al Qur’an bersama (Alm.) Al Ustadz Abdullah Thufail Saputra sejak tahun 1974. Meski mendapat tentangan, ia tetap melanjutkan prisipnya tersebut.

Hingga pada tahun 1985 ia dipindahkan lagi untuk mengajar di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo selama empat tahun. Selepas itu, ia dipindahkan lagi ke MAN Sukoharjo. Karena jaraknya yang dirasa terlalu jauh dengan Kota Solo, akhirnya ia memutuskan untuk berpindah tempat mengajar di SMA MTA Solo.

Perlu diketahui bersama, Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina bersama istri pertamanya, (alm.) Fathiyati Sukino, mulai berguru dengan Al Ustadz K.H. Abdullah Thufail Saputro sejak tahun 1974. Pada saat itu Drs. Ahmad Sukina mengikuti pengajian rutin Tafsir Al Qur’an di daerah Kebonan Sriwedari, Solo. Sejak saat itu, Drs. Ahmad Sukina mengaku tidak pernah bolos dari pengajian dan jadwal khotbah yang dilaksanakan oleh Al Ustadz K.H. Abdullah Thufail Saputra.

Bahkan hingga pengajian selesai, Drs. Ahmad Sukina sering mengajak Al Ustadz K.H. Abdullah Thufail Saputro berbincang dan baru akan pulang ketika Al Ustadz K.H. Abdullah Thufail Saputro sudah beranjak pulang. “Sampai akhirnya tanggal 14 September 1992 beliau wafat. Saat itu, saya menjadi salah satu orang yang mengurus jenazah beliau, sedangkan pada saat yang bersamaan sejumlah perwakilan MTA bermusyawarah memilih pengganti beliau,” jelas Al Ustadz Drs. Ahmad Sukina seperti yang dikutip harian Joglosemar.

Beberapa tahun sebelum Ahmad Sukina bergabung dengan pengajian rutin Tafsir Al Qur’an di daerah Kebonan, Sriwedari, Solo, ia adalah pimpinan Persatuan Bela Diri tenaga dalam Barisan Syuhada Tega Pati. BS TePa, demikian aliran ini disebut, oleh Ahmad Sukina dibubarkan pada 14 Juli 1975. Menurutnya, langkah-langkah dan itikat gerakan BS TePa itu keliru bahkan lebih condong ke arah menyesatkan. Pada kesempatan yang sama, Ahmad Sukina mengajak mantan anak buahnya di BS TePa untuk mengadakan kegiatan kelompok pengajian Tafsir Al Qur’an di Makamhaji, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.

Berselang satu pekan setelah membubarkan BS TePa, tepatnya tanggal 21 Juli 1975 MTA Cabang Makamhaji telah resmi dibuka oleh kepala desa Makamhaji, H. Sangidi Sastro Daryono, dan direstui oleh  para sesepuh yang hadir. Sebanyak 50 orang yang terdaftar sebagai peserta pengajian MTA Cabang Makamhaji hadir dalam peresmian tersebut.

Sumber: Satugoresanpena

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama