Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Aktifis Islam dan Pejuang Tiga Zaman, KH Abdul Qadir Djaelani Tutup Usia

Aktifis Islam dan Pejuang Tiga Zaman, KH Abdul Qadir Djaelani Tutup Usia

Fikroh.com - Umat islam kembali berduka atas wafatnya KH. Abdul Qadir Djaelani pada hari ini, 23 Februari 2021 pukul 10.00 WIB. Beliau dikenal sebagai aktifis dan pejuang Islam yang menghabiskan seluruh usianya untuk kemuliaan Islam. 

Beliau aktif berjuang selama tiga zaman, zaman orde lama, orde baru dan Reformasi. Hampir tak ada yang beruabah dalam hal semangat menyuarakan kebenaran.

Bagi anda yang belum mengenal sosok KH Abdul Qadir Djaelani berikut ini penulis suguhkan Obituari Kecil untuk Pak Qadir.

Beliau adalah mantan Ketua Umum PII awal 60-an. Di antara anak-anak Masyumi, Pak Qadir mungkin yang paling sering dipenjara. Dalam pengantar puisinya, "Berbeda Pendapat", Taufiq Ismail menulis:

Kucatat ahli masuk bui, A. Qadir Djaelani

di zaman demokrasi terpimpin dua kali

di zaman demokrasi pancasila lagi dua kali

Di sepanjang puisi itu, Pak Taufiq menceritakan bagaimana keakraban tokoh-tokoh Masyumi dengan lawan politik mereka, baik yang dari PNI, Katolik, bahkan PKI. Tetapi, mengapa puisi itu diawali dengan ingatan pada Pak Qadir?

Bagi anak-anak muda muslim di Tanjung Priok, Jakarta Utara, sosok Abdul Qadir Djaelani adalah orator ulung yang mengritik Orde Baru dengan tajam. Tapi, ketajamannya itu tidak berhenti di retorika, karena semua memiliki isi berupa argumentasi. Apalagi kalau di forum yang sama terdapat Mat Natsir, sebutan orang Betawi untuk Mohammad Natsir. Orang-orang akan rela berjalan kaki ketika tak punya ongkos naik bemo, hanya untuk menyimak salah satu atau keduanya.

Di antara anak muda yang terpukau itu, terdapat dua orang yang kini menjadi ayah dan ibu saya.

Mereka masuk PII sejak remaja, ketika bersekolah di SMAN 13 Jakarta. Dalam setiap training dan diskusi PII, Pak Qadir kerap menyampaikan argumen di dekat buku yang bertumpuk. Pembahasan isu-isu filsafat, politik, sejarah, dan kebudayaan menjadi makanan sehari-hari di sana. Setajam apapun kritik tersebut dilotarkan Pak Qadir, beliau memilih cara-cara damai untuk memperjuangkan kepentingan umat.

Inilah yang membuat beliau rela dipenjara di beberapa kesempatan; yang terakhir, ketika beliau menolak Asas Tunggal Pancasila. Di penjara, beliau menulis buku Menelusuri Kekeliruan Pembaharuan Pemikiran Islam Nurcholish Madjid, yang kemudian terbit setelah beliau bebas.

Terhadap pidato sekularisasi Cak Nur, 1970, Pak Qadir memang menunjukkan kemarahan yang besar. Beliau bahkan membawa golok dan mendatangi Pak Natsir, meminta izin untuk menyembelih Cak Nur. Tetapi, Pak Natsir menenangkannya dan berkata, "Dul Qadir, Nurcholish hanya menulis. Kau bantahlah lagi dengan tulisan."

Pesan itu lantas ditunaikannya selepas dari penjara.

Memasuki Reformasi, Pak Qadir dan anak-anak Masyumi lain turut mendirikan Partai Bulan Bintang, meski ada akhirnya berselisih dengan Yusril. Ayah saya, yang juga menjadi pengurus PBB di Bogor, masuk di dalam kubu Pak Qadir, meski tak sampai meninggalkan PBB.

Aktifis Islam dan Pejuang Tiga Zaman, KH Abdul Qadir Djaelani Tutup Usia

Di dalam PBB itu pula, saya berjumpa untuk pertama kali dengan Pak Qadir, meski waktu itu tak mengerti karena usia saya masih sangat kecil. Tapi, yang saya ingat dan berkesan sampai sekarang adalah kisah-kisah Masyumi, baik partai maupun tokoh-tokohnya, dan bagaimana umat Islam melakukan perlawanan terhadap Orde Baru. Cerita yang turut memupuk kesadaran keislaman dan keindonesiaan saya itu begitu berkesan sampai sekarang.

Dalam beberapa kesempatan, saya dan ayah saya juga mengunjungi beliau di rumahnya, Leuwiliang. Semakin hari, kondisi beliau semakin ringkih. Ketika saya mulai memasuki kuliah dan bergabung dengan HMI, ayah saya bahkan memerintahkan saya untuk bersilaturahim seorang diri ke sana, mendengarkan wejangan beliau tentang bagaimana menjalani hidup sebagai aktivis Islam di organisasi sebesar HMI.

Kala itu, 2010 atau 2011, beliau menerima saya dalam keadaan pendengarannya melemah. Kata beliau, itu akibat siksaan semasa di penjara, bersamaan dengan siksaan lain seperti pencabutan kuku. Satu hal yang saya ingat dari pesan beliau kala itu:

"Kalau mau jadi politisi, masuk partai politik! Gerakan mahasiswa Islam itu harusnya mengkader intelektual, supaya bisa kritis terhadap siapapun bahkan politisi Islam itu sendiri!"

Aktifis Islam dan Pejuang Tiga Zaman, KH Abdul Qadir Djaelani Tutup Usia

Saya tak begitu banyak menulis obituari secara khusus, kecuali terhadap orang yang benar-benar berkesan, dan Pak Qadir salah satu di antaranya.

Allahumaghfirlahu, warhamhu, wa'aafihi, wa'fu'anhu.

Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara, Dusun Pogung Lor, 23 Februari 2021, jam 13:39 WIB.

Penulis: Ismail Al Alam

Keterangan foto:

  • Buku puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia milik santri PEMBINA, Fardhan
  • Buku Menelusuri Kekeliruan Pemikiran Pembaharuan Islam milik ayah saya, Bachruddin, yang saya simpan di rak buku PEMBINA