Nikmat Itu Ada Pada Ridha⁣

Fikroh.com - Lauk terbaik yang menjadikan makanan sangat terasa kenikmatannya adalah lapar. Ungkapan ini saya rasakan betul ketika tadi malam bakda Isya’ saya merasa lapar betul karena seharian hanya makan sekali, itu pun sangat sedikit. Nikmat itu kian terasa manakala anak bungsu saya menawarkan untuk membuatkan lauk. “Omelete,” katanya. Omelete ala-ala tetapi nikmatnya luar biasa ketika betul-betul lapar.

Hal yang sama juga berlaku untuk kopi. Saya biasanya menikmati kopi Arabika specialty. Tetapi sudah sekitar dua pekan lebih hamper tak pernah bertemu specialty (atau malah satu bulan, ya?). Seringnya bertemu kopi yang jauh di bawah specialty dan banyak mengkonsumsi Robusta. Itu pun bukan fine Robusta. Sebenarnya masih ada kopi Arabica Specialty, tetapi saya sengaja tidak menggilingnya. Agar kopi terasa lebih nikmat, adakalanya yang kita perlukan bukan menaikkan standar, tetapi belajar menikmati apa yang ada. Termasuk belajar menikmati kopi yang sudah pudar aroma dan rasanya.⁣

Jadi teringat dua tahun lalu saat saya sakit yang mengharuskan saya menjalani operasi bedah. Ketika itu saya sebenarnya dianjurkan minum kopi. Tetapi saya memilih berhenti minum kopi. Lebih dari 2 bulan atau bahkan mencapai 3 bulan tidak meminum kopi. Begitu menikmati kopi, dan saya memilih bukan dari kopi yang terbaik, nikmatnya luar biasa.⁣

Pagi menjelang siang, ada layanan antar yang menghubungi. Ada kiriman kopi. Yang bersangkutan rupanya kebingungan mencari rumah saya. Maka saya pun bergegas agar mudah mengantarkan. Ada hadiah specialty Gayo Natural. Ma sya Allah….. Sudah Gayo, specialty pula. Sudah specialty, natural pula.⁣

Sebagaimana makan maupun kopi, begitu pula dalam rumah-tangga. Agar kita lebih merasakan kesyukuran dan kebahagiaan yang lebih dalam, lebih kokoh, jalannya bukanlah dengan menaikkan standar dalam hal-hal tidak mendasar. Apalagi berurusan dengan penampilan, ketampanan dan kecantikan karena secara pasti kita akan menua. Yang kita perlukan adalah memegangi seruan RasuluLlah ﷺ untuk bersibuk mencari apa yang menjadikan kita ridha.⁣

Rasulullah ﷺ bersabda:⁣

لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ⁣

“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak suka sebagian akhlaknya, ia ridha (senang) dengan akhlaknya yang lain.” (HR. Muslim).⁣

Bukankah ini larangan membenci istri jika suami tidak suka dengan sebagian akhlaknya? Betul. Tetapi frasa “رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ” (ia ridha dengan akhlaknya yang lain) memberi pelajaran bahwa jika suami –sebagaimana istri—menyengaja bersibuk mencari, menemukan dan mengingat akhlak istrinya (atau suaminya) yang ia sukai, maka ia pasti akan menemukan akhlak yang membuatnya ridha.⁣

Akhlak yang tidak kita sukai bukanlah soal kekurangan, bukan pula soal keburukan. Kadang ada akhlak yang bukan termasuk kekurangan, bukan pula keburukan, tetapi kita tidak menyukainya. Ada yang sedari awal, bahkan sebelum menikah, kita tidak menyukai akhlak tersebut. Dan begitu menikah, ternyata akhlak yang tidak kita sukai —bahkan kita benci— itu ada pada suami atau istri kita. Ada pula akhlak maupun keadaan fisik maupun non fisik yang pada awalnya kita senang kepadanya, tetapi belakangan kita merasakannya sebagai kekurangan.⁣

Tidak ada yang membuat kita merasa kurang atas istri maupun suami manakala kita tidak membanding-bandingkan. Adapun tatkala seorang suami misalnya, saat ke luar rumah tiba-tiba merasa tergoda dengan seseorang yang entah siapa, maka Rasulullah ﷺ perintahkan untuk segera menemui istrinya untuk bersenang-senang dengan istrinya. Di antara faidahnya ialah ia segera lupa dan karena itu tak membanding-bandingkan dengan bayangannya mengenai apa yang dianggapnya lebih “baik”.⁣

Sama seperti laptop. Selama ini saya merasa tidak ada kekurangan pada laptop saya. Tetapi ketika saya mensetting laptop istri saya, terasa betul betapa sangat berbedanya kecepatan laptop saya. Di laptop istri saya, cukup 7 detik untuk proses shutdown sampai selesai dengan sempurna. Begitu pula saat menghidupkan laptop, hanya hitungan detik. Seketika laptop saya terasa lambat. Mengapa? Karena membandingkan. Tetapi rasa syukur itu ada sehingga merasa senang dengan laptop yang sekarang saya pakai ketika mengingat webcam bawaannya yang jernih, baterainya yang tahan lama dan audionya yang tidak memerlukan mic tambahan saat webinar.⁣ Semoga tulisan ringkas ini bermanfaat dan barakah.

Oleh: Ustadz Mohammad Fauzil Adhim⁣

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama