Mengenal Varietas Beras dan Ciri Khasnya

Fikroh.com - Sebagian orang Jakarta, mungkin tahunya, jenis beras itu setra ramos. Nama beras yang tidak ada varietasnya, karena memang isinya campuran. Pandanwangi, dan Rojolele mungkin masih paham, meski tidak dari pengalaman saya blusukan di pasar saat mburuh di Jakarta dulu, rata-rata sudah campuran, bahkan campurannya lebih banyak, misal beras yang katanya Rojolele, menthikwanginya 70 %, Rojolelenya hanya sekitar 30 %. Kalau yang Pandangwangi Cianjur, malah hampir bisa dipastikan, truk berasnya ngangkut beras dari Cilamaya, bukan Cianjur.

Sebenarnya, Jawa, yang dikenal sebagai pulau beras sejak dulu kala, sampai sekarang masih menyisakan ragam varietas beras lokal. Tiap varietas beras itu punya ciri khas rasa dan aromanya sendiri, selain juga kecocokan jenis lahan untuk tempat tumbuh. Misalkan, untuk beras jenis Rojolele, area yang terbaik untuk penanamannya adalah wilayah Pengging ke selatan sampai ke wilayah Cokro yang lahannya memang lahan vulkanik dengan pengairan jernih. Beras Rajalele ini kalau disajikan murni, malah kurang enak, untuk mencapai rasa dan aroma yang optimum, beras rajalele ini perlu dicampur dengan pandanwangi, 70 % Rajalele dengan 30 % Pandanwangi.

Ada beras yang seringkali orang tertukar nama, karena bentuk bulirnya mirip, yakni bulat. Menthikwangi dan Pandanwangi. Menthikwangi bulatan bulirnya lebih kecil dibanding Pandanwangi. Meski sama-sama aromatik, yakni berasnya mempunyai aroma wangi alami, yang akan keluar saat ditanak, pandanwangi tekstur nasinya sedikit lebih empuk, sehingga saat masak takaran airnya dikurangi sedikit dari biasanya.

Ada juga beras menthiksusu, nama beras yang sama teman saya diwanti-wanti, ati-ati kalau nulis, jangan sampai typo. Warna beras menthiksusu ini memang putih susu, sehingga bagi mereka yang pertama kali melihat pasti mengira beras ketan. Uniknya beras ini adalah, meski tekstur nasinya lembut tapi tidak mblenyek. Saat dimasak mengeluarkan aroma wangi, dan lebih kerasa lagi saat nasi sudah dingin (tidak ditaruh di magicom), saat dikunyah, aroma wanginya akan keluar.

Beda lagi dengan beras hitam. Ini beras langka, sedikit yang menanam, sehingga saya selalu tidak pernah kebagian stok, karena usia panennya yang panjang, yakni 6 bulan. Beras ini tidak hanya enak untuk ditanak, karena meski pecah kulit tekstur nasinya tetap empuk, kandungan anti oksidannya yang tinggi, sering menjadikan beras ini disangrai, ditumbuk dan diminum layaknya kopi.

Adalagi beras merah, yang merupakan beras pecah kulit paling banyak dikonsumsi, terutama mereka yang ingin diet atau menjaga stabilitas gula darah. Beras merah ini beragam jenisnya. Ada beras merah slegreng, yang biasanya hanya untuk pakan burung, karena kalau dimasak tekstur nasinya sangat kasar dan keras. Ada juga beras merah mendhel, asal gunung kidul dan wonogiri, yang memang untuk konsumsi manusia, rasanya sepo dan tekstur nasinya kasar, agak seret kalau dimakan. Beras ini yang paling banyak digunakan untuk mereka yang diet atau menjaga kadar gula darah. Ada juga beras merah asal Bali yang dikembangkan di Magelang. Beras merah ini, meski pecah kulit, tapi nasinya pulen dan ada aroma wanginya saat dimasak

Ini baru keterangan umum aneka beras yang ada di pasaran khusus, terutama jaringan petani organik / semi organik yang masih melestarikan aneka varietas lokal.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama