Politisi CHP: Saya Rela Mati Agar Erdogan Terguling Dari Kursi Kekuasaan

Fikroh.com - Mantan anggota parlemen oposisi dari Partai Rakyat Republik (CHP), Aytuğ Atıcı, pada hari Minggu (24/1) mengatakan bahwa dirinya akan mengorbankan hidupnya untuk melihat Presiden Recep Tayyip Erdoğan kalah dalam pemilihan dan meninggalkan jabatannya.

“Kami ingin melihat Erdoğan mundur secepat mungkin. Jelas. Tapi bagaimana caranya? Kami ingin dia dicopot dari kekuasaan melalui pemilihan. Terus terang, saya akan memberikan hidup saya untuk ini. Saya memiliki banyak dedikasi untuk masalah ini,” kata Atıcı dalam sebuah program TV.

Saat menanggapi kritik dari komentator lain pada program tersebut, Atıcı mengulangi kata-katanya. Ia mengatakan bahwa dirinya hanya mengacu pada proses demokrasi untuk penggulingan Erdogan.

“Saya telah berpartisipasi dalam siaran langsung ribuan kali. Penonton saya tahu apa maksud kata-kata saya. Sekali lagi, saya akan melakukan semua yang saya bisa untuk menyingkirkan Erdoğan dengan cara yang demokratis,” katanya.

Awal bulan ini, jurnalis oposisi Can Ataklı secara kontroversial menyatakan bahwa Turki membutuhkan bencana yang begitu besar sehingga kemarahan publik akan mengarah pada pencopotan Erdoğan dari kursi kepresidenan. Investigasi diluncurkan dan Ataklı mengatakan bahwa pernyataannya disalahartikan.

Erdogan telah mendominasi politik Turki sejak berdirinya Partai Keadilan dan Pembangunan (Partai AK/AKP) yang berkuasa pada tahun 2001. Di bawah kepemimpinannya, AKP dengan cepat mendapatkan momentum, muncul sebagai partai utama dalam pemilihan umum 3 November 2002, menerima 34,28% suara.

Sejak itu, AKP telah berpartisipasi dalam enam pemilihan umum – pada tahun 2002, 2007, 2011 dan Juni 2015, ditambah dalam pemilihan umum November tahun 2015 dan 2018 – dan memenangkan semuanya. Alhasil, selama 19 tahun terakhir, dua presiden dan empat perdana menteri telah dipilih dari Partai AK. Dalam pemilihan presiden tahun 2018, Erdogan yang saat ini juga menjadi ketua Partai AK, menjadi pemimpin pertama yang dipilih secara demokratis di bawah sistem baru pemerintahan presidensial Turki.

Sumber: Daily Sabah

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama