Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Hasil Ijtihad Ustadz Dan Ulama Jangan Sebut Sebagai Hukum Allah Atau Syariat Allah

Hasil Ijtihad Ustadz Dan Ulama Jangan Sebut Sebagai Hukum Allah Atau Syariat Allah

Fikroh.com - Terjadinya perbedaan pendapat diantara ulama dan asatidzah merupakan sunnatullah yang terjadi di muka bumi ini. Allah telah menetapkan itu, dan kita berupaya semaksimal mungkin untuk menghindari perbedaan itu, serta berupaya untuk senantiasa menjauhi perpecahan.

Salah satu sebab terjadinya perbedaan pendapat adalah karena adanya perbedaan tingkatan pendalilan, sebagaimana yang dibagi oleh ulama Ushul fiqh; yaitu Qath'iyyu ats-Tsubut, Zhanniyyu Ats-Tsubut, Qath'iyyu ad-Dalalah dan Zhanniyu ad-Dalalah.

Qath'iyyu ats-Tsubut maksudnya adalah dalil yang yang dipastikan penisbatannya pada syariat, seperti al-Qur'an dan hadits sahih yang mutawatir.

Zhanniyyu Ats-Tsubut maksudnya dalil yang belum disepakati oleh ummat penerimaannya. Beberapa ulama memasukkan hal ini pada hadits Ahad walau iya adalah hadits yang sahih. Karena itu, diantara ulama Mazhab ada yang mendahulukan Qiyas Jaliy daripada hadits Ahad, walau hadits Ahad itu sahih.

Misalnya, pada Mazhab Malikiyah yang tidak mengamalkan hadits tetang anjing yang menjilati bejana harus dicuci 7 kali. Hadits itu muttafaq 'alaihi, namun merupakan hadits Ahad yang menyelisihi qiyas. Tentu, tidak ada ulama yang mengeluarkan mereka dari ahlussunah atau menuduh mereka sebagai Mazhab pengingkar sunnah karena satu prinsip Mazhab mereka ini.

Qath'iyyu ad-Dalalah maksudnya adalah penyebutan hukum dalam dalil yang tidak mengandung makna yang lain. Hukum disebutkan secara terang dan tegas, maknanya satu, tidak mengandung kemungkinan lain. 

Adapun Zhanniyyu ad-Dalalah maksudnya adalah penyebutan hukum dalam dalil mengandung kemungkinan lain. Penyebutan hukum tidak jelas dan tidak tegas, sehingga masing-masing yang melihat dalil itu bisa berinterpretasi sesuai apa yang mereka kuatkan.

Para penuntut ilmu yang masih awam dan kurang paham akan hal ini,sebaiknya tidak banyak berbicara dan berdebat di media sosial tentang hukum-hukum. Apalagi, pada taraf sesat menyesatkan orang lain, sementara ia hanya mengandalkan tulisan gurunya yang tidak ia ketahui darimana asal-usul pengambilan dalilnya. Istilahnya taklid buta, walau mereka memperhalus bahasaya dengan istilah 'Muttabi' (pengikut sunnah), padahal hakikatnya mengikuti pendapat gurunya.

Itulah alasan imam Abu Hanifah rahimahullah melarang orang lain menukil perkataannya dan menjadikannya sebagai fatwa dan hujjah, jika orang yang ingin menukil perkataan tersebut tidak mengetahui asal-usul lahirnya kesimpulan hukum dari ijtihadnya itu. Beliau berkata:

حرام على من لم يعرف دليلي أن يفتي بكلامي فإننا بشر نقول القول اليوم ونرجع عنه غدا 

"Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku lalu berfatwa dengan perkataan ku. Karena kami hanyalah manusia biasa, yang boleh jadi hari ini berkesimpulan tentang satu pandapat, lalu keesokan harinya rujuk dari perkataan itu". (Dinukil dari kitab shifatu Sholatin Nabi karya Syaikh al-Albani: 42)

Tulisan ini sedikit ingin mengoreksi kebiasaan para pecandu manhaj yang begitu gemar menyesatkan orang lain hanya dengan berdasar pada kesimpulan ustadznya dalam artikel-artikel mereka.

Hampir semua masalah yang biasa diperdebatkan di media sosial hakikatnya adalah masalah yang berada dalam ranah ijtihadiyah ulama yang tidak memiliki Qath'iyyu ad-Dalalah atau dalil masih bersifat zhanniy.

Beberapa ustadz yang membuat kebanyakannya hanya menukil beberapa pendapat ulama atau pendapat sebagian salaf, lalu mengarahkan pembaca seolah apa yang ia sebutkan merupakan kesepakatan para salaf. 

Judul tulisan yang mereka buat mengarahkan opini bahwa tulisan mereka adalah syariat Allah yang tidak boleh diselisihi. Jika menyelisihinya, maka akan dituduh sebagai ahli bid'ah, sesat dan berbagai tuduhan lainnya.

Perbuatan mereka tersebut sangat jauh dari wasiat Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam dan amaliah para salaf. Sebab Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam melarang seseorang yang berpendapat dengan satu pendapat lalu menganggap pendapat itu sebagai hukum Allah/ syariat.

Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam bersabda:

وإذا حاصرت أهل حصن فأرادوك أن تنزلهم على حكم الله فلا تنزلهم على حكم الله ولكن أنزلهم على حكمك فإنك لا تدري أتصيب حكم الله فيهم

"Jika engkau telah mengepung penghuni benteng lalu mereka meminta kepadamu untuk memutuskan hukum (pada perkara baru mereka) dengan hukum Allah, maka jangan putuskan (perkara baru mereka) dengan hukum Allah, melainkan putuskan perkara baru itu berdasarkan hukum (ijtihadmu-pent), sebab engkau tidak mengetahui, apakah engkau benar memutuskan sesuai hukum Allah pada mereka atau tidak". (HR. Muslim)

Mengomentari hadits ini, imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

فتأمل كيف فرق بين حكم الله وحكم الأمير المجتهد، ونهى أن يسمى حكم المجتهدين حكم الله

"Maka perhatikanlah! Bagaimana Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam membedakan antara hukum Allah dan hukum yang berasal dari ijtihad seorang pemimpin yang berijtihad. Beliau melarang menamakan hukum yang berasal dari ijtihad itu sebagai hukum Allah. (I'lam al-Muwaqqi'in: 40)

Para salaf benar-benar menerapkan sabda Nabi Shallalllahu'alaihi wasallam ini. Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu pernah menasehati seorang penulisnya ketika menetapkan satu kesimpulan hukum berdasarkan ijtihadnya.

Imam Ibnu Qayyim berkata, " Oleh karena itu, ketika seorang penulis (notulen) menulis kesimpulan hukum di hadapan Umar Radhiyallahu'anhu lalu berkata, 'Ini adalah hukum yang Allah perlihatkan pada Amirul mukminin Umar'. Maka seketika itu Umar berkata, 'Jangan tulis seperti itu, akan tetapi tulislah: ini merupakan pendapat Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab". (I'lam al-Muwaqqi'in: 40)

Setiap pengikut salaf harus beradab seperti ini. Perkara-perkara kontemporer yang dalilnya tidak disebutkan secara tegas tentang boleh atau tidaknya, memiliki kemungkinan-kemungkinan lain padanya, maka hasil fatwa dari ijtihad ustadz dan ulama jangan disebut sebagai hukum syariat atau hukum Allah. 

Jika hal itu terjadi, permusuhan sesama muslim akan selalu terbangun, sebab mereka mengaggap pendapat ustadznya sebagai syariat yang tidak boleh diselisihi, sedangkan pendapat orang lain tidak sesuai Sunnah atau syariat.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengomentari hadits di atas:

إن باب الاجتهاد مفتوح، لا يجوز أبدا أن تحتقر آراء العلماء السابقين، أو أن تنزل من قدرهم، لأن أولئك تعبوا واجتهدوا وليس بمعصومين، فكونك تقدح فيهم أو تأخذ المسائل التي يلقونها على أنها نكت تعرضها أمام الناس ليسخروا بهم، فهذا أيضا لا يجوز، وإذا كانت غيبة الإنسان العادي محرمة، فكيف بغيبة أهل العلم الذين أفنوا أعمارهم في استخراج المسائل من أدلتها، ثم يأتي في آخر الزمان من يقول‏:‏ إن هؤلاء لا يعرفون، وهؤلاء يفرضون المحال ويقولون‏:‏ كذا وكذا،

"Sesungguhnya pintu ijtihad masih terbuka. Tidak boleh untuk selama-lamanya bagimu merendahkan pendapat ulama dahulu, atau menurunkan derajat mereka. Karena mereka telah lelah dan berijtihad, namun mereka bukanlah orang-orang yang maksum. Perbuatanmu yang menjelek-jelekkan mereka atau menjadikan masalah-masalah yang mereka sampaikan sebagai guyonan yang kau sampaikan di hadapan manusia untuk merendahkan mereka, maka ini juga tidak boleh. Jika saja menghibahi manusia biasa adalah sesuatu yang haram, maka bagaimana besarnya dosa menghibahi ulama yang telah menghabiskan umur mereka dalam upaya menentukan hukum pada masalah berdasarkan dalil-dalilnya. Kemudian datang di akhir zaman orang yang berkata, "Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui, mereka berkata begini dan begitu". (Al-Qaul al-Mufid 'Ala Kitab at-Tauhid: 683)

Dari perbuatan mereka atau tulisan mereka yang membangun opini bahwa pendapat mereka adalah pandangan syariat, maka terjadi dua mudharat; yaitu bisa terjatuh pada dosa berdusta atas nama Allah dengan menetapkan sesuatu yang Allah tidak tetapkan sebagaimana hasil ijtihadnya, dan membuat manusia selalu saling bermusuhan, karena menganggap pendapat ustadznya mengikuti Sunnah/syariat dan yang lain menyelisihinya.

Imam Malik rahimahullah berkata:

ولا يقولون حلال ولا حرام اما سمعت قول الله تعالى: قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنزلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

"Dan jangan mereka mengatakan halal dan haram. Tidakkah engkau mendengarkan firman Allah Azza wajalla: "Katakanlah.”Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepada kalian, lalu kalian jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.”Katakanlah, "Apakah Allah telah memberikan izin kepada kalian (tentang ini) atau kalian mengada-adakan saja terhadap Allah?”. (I'lam al-Muwaqqi'in: 40)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata:

وأما القول على الله بلا علم فهو أشد هذه المحرمات تحريما، وأعظمها إثما، ولهذا ذكر في المرتبة الرابعة من المحرمات التي اتفقت عليها الشرائع والأديان، ولا تباح بحال، بل لا تكون إلا محرمة، وليست كالميتة والدم ولحم الخنزير، الذي يباح في حال دون حال

Adapun berbicara tentang Allah tanpa ilmu, maka perbuatan itu adalah perbuatan yang paling keras pengharamannya dan paling besar dosanya. Oleh karenanya, dosa berdusta atas nama Allah disebutkan pada tingkat ke 4 (setelah kesyirikan pada surah al-a'raf-pent) dari jenis keharaman yang disepakati oleh syariat-syariat dan agama-agama yang ada. Tidak boleh bagaimanapun juga. Bahkan tingkat pengharamannya tidak sebagaimana keharaman memakan bangkai, darah dan daging babi yang bisa saja berubah pada satu keadaan. (Madarij as-Salikin: 2/302)

Setiap ulama yang berijtihad akan merasa benar dengan ijtihadnya, tapi tidak selamanya ijtihad yang ia sebutkan sesuai dengan hukum Allah. Maka, tidak membangun opini bahwa pendapat ia sebutkan itu itu merupakan pandangan syariat adalah keselamatan untuk diri sendiri, dan menghormati semua hasil ijtihad ulama adalah adab yang akan senantiasa menguatkan persaudaraan sesama muslim. Wallahu a'lam.

Oleh: Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy