Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Benarkah Jilbab Adalah Belenggu Bagi Wanita?

Benarkah Jilbab Adalah Belenggu Bagi Wanita?

Fikroh.com - Seorang yang konon bergelar akademisi mengunggah sebuah foto wanita berjilbab namun dengan rambut bagian depan nampak tak tertutupi. Kemudian diberi keterangan: "Ini potret Muslimah Nusantara yang telah merdeka dari belenggu Jilbabisasi sejak dalam pikiran."

Spontan unggahan tersebut mendapat komentar dari para netizen. Seorang netizen bernah Diah Purnama Sari bahkan membuat tulisan bantahan yang menganggap jilbab adalah belenggu bagi wanita. Berikut ini tanggapannya seperti yang dihimpun fikroh.com:

Tergelitik dengan ramainya beranda saya yang berisi berbagai kicauan teman-teman soal selembar kain yang dikatakan menjadi belenggu... ada yang pro dan banyak yang kontra.

Dan oleh karenanya saya jadi ingin sekali memperlihatkan contoh-contoh orang yang mereka sebut terbelenggu itu..

Inilah mereka yang disebut terbelenggu...

Benarkah Jilbab Adalah Belenggu Bagi Wanita?

Saking terbelenggunya, mereka HANYA mampu membangun sebuah organisasi yang saat ini beranggotakan puluhan juta perempuan yang juga terbelenggu, dan dipimpin oleh perempuan yang juga terbelenggu...

Saking terbelenggunya, pada tahun 1919 mereka HANYA mampu membangun Frobelschool Kindergarten (TK) untuk pribumi pertama di Hindia Belanda (NKRI secara definitif belum ada di tahun tsb)...

Saking terbelenggunya, pada tahun 1928 mereka HANYA mampu membuat kursus bahasa Indonesia di seluruh pelosok negeri agar semua bangsa di negeri ini bisa berbahasa Indonesia selain bahasa daerah...

Saking terbelenggunya, pada tahun 1914 mereka HANYA mampu memberi pelajaran membaca dan menulis huruf alfabet bagi para buruh batik perempuan yang buta huruf... yang kemudian dilanjutkan pada tahun 1923 mereka menciptakan program pemberantasan buta huruf secara massal di seluruh pelosok negeri Hindia Belanda dimana cabang mereka ada (dari Sumatera hingga Celebes)...

Saking terbelenggunya, pada tahun 1917 dengan dipimpin oleh seorang perempuan yang terbelenggu, mereka bersama-sama mengelola Internaat khusus perempuan yang menampung para gadis dari segala penjuru negeri, agar para gadis menjadi terdidik...

Saking terbelenggunya, pada tahun 1918 dengan dipimpin oleh seorang perempuan yang terbelenggu, mereka bersama-sama mengelola Kweekschool (sekolah guru setingkat SMA) khusus perempuan, sehingga para perempuan bisa menjadi guru...

Saking terbelenggunya, pada tahun 1942 dengan dipimpin oleh seorang perempuan terbelenggu yang sudah uzur, mereka membangun dan mengelola MULO khusus perempuan (sekarang nama lokasinya di pertigaan jalan Sultan Agung)...

Sepanjang 1917-1946, tanpa mengenal lelah setiap hari Jum’at para perempuan pterbelenggu ini dengan dipimpin oleh seorang perempuan yang juga terbelenggu, mereka mendatangi rumah-rumah orang miskin di pelosok-pelosok untuk membagikan bahan pangan... kadang berjalan kaki, kadang naik kereta kuda, bahkan kadang dengan berkuda... dan kegiatan mereka dilanjutkan oleh para penerusnya (yang juga terbelenggu) hingga sekarang, ketika harus membuka dapur-dapur umum di lokasi-lokasi bencana...

Pada tahun 1919 ketika Gunung Kelud meletus, para perempuan muda yang terbelenggu itu juga membuka dapur umum dan balai pengobatan bagi para pengungsi, sementara yang laki-laki melakukan evakuasi...

Pada tahun 1934, untuk pertama kalinya di Hindia Belanda dilakukan Baby Show (pertunjukan bayi sehat) sambil mengedukasi para ibu tentang kesehatan bayi dan anak... dan pelaksananya juga para perempuan terbelenggu di bawah ini...

Hingga tahun 1940, para perempuan terbelenggu ini sudah memiliki 546 cabang dari Sumatera hingga Maluku... mereka mendidik para perempuan membaca dan menulis, berhitung, mengaji, tampil di depan umum (pidato), mendidik para ibu, mengasah welas asih kepada sesama, di setiap cabang yang mereka dirikan... mendirikan kindergarten, sekolah-sekolah, madrasah-madrasah, lembaga-lembaga kursus, dll...

Dan masih banyak lagi yang HANYA bisa mereka lakukan saking terbelenggunya kepala mereka gara-gara selembar kain...

Betapa buta dan terbelenggunya mereka bukan?

Buta dan terbelenggu cinta pada tanah air dan bangsa ini...