Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Aku Putus Asa, Aku Tertular Aids Suamiku yang Disembunyikan

Aku Putus Asa, Aku Tertular Aids Suamiku yang Disembunyikan
 

Fikroh.com - Seorang perempuan bercerita: "Aku berasal dari kelurga kaya raya dan terpandang, punya anak 4, aku dari kecil dikenal sebagai pendakwah cilik dengan banyaknya membantu orang yang membutuhkan... suamiku sangat terpandang, dia menjalin hubungan dengan banyak perempuan dan sering bepergian.

Aku sudah putus asa dengan banyaknya ancaman cerai, pertengkaran dll.

Kemudian aku merasa suamiku menyendiri.., lalu aku menemukan kertas yang menunjukkan bahwa suamiku kena aids yang parah dan banyaknya obat-obatan yang dikonsumsinya.

Aku menjaga jarak dengan suamiku yang selalu sakit-sakitan dan seakan tidak mengenal kami, aku tidak memberitahunya kalau aku mengetahui penyakitnya karena kasian... Aku menjalani hidup seperti biasa dengan anak-anak dan pekerjaanku.

Nah, suatu hari ayahku menghadiahi haji.. aku penuh bahagia.. menyiapkan diri, pas cek darah ternyata aku kena virus aids.. semua tahu dan mereka menuduhku.. 

Aku pun mulai marah pada dia, aku membencinya, apalagi dari pandangannya dia tampak menuduhku, aku pun mengatakan padanya bagai gunung yang meletus: "kamu lah sebabnya" tapi aku tidak memberitahu keluargaku..

Aku letih, aku ingin bercerai".

Jawaban Prof. DR. 'Ablah al-Kahlawi rahimahallah: 

"Ini merupakan masalah besar, mengumpulkan berbagai penderitaan..

Seorang perempuan suci dan mulia menderita penyakit yang diakibatkan oleh hubungan yang hina, kemudian dia dituduh dengan hal-hal yang tidak dia lakukan.

Semoga Allah Menolongmu.. 

Tapi aku ingin mengatakan padamu suatu hal kecil, kamu telah memperindah dirimu dengan keindahan menutup aib.

Ibadah menutup aib...

Kamu memilih menutup aib laki-laki ini meskipun begitu banyaknya aib yang ada padanya.

Kamu memilih untuk tidak mempermalukannya di depan anak-anaknya ataupun bisa menggoncang kedudukannya di masyarakat.

Menutup aib itu merupakan kedudukan yang sangat sangat tinggi di sisi Allah..

Sayyiduna Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa menutup aib seorang muslim di dunia maka Allah Menutup aibnya di akhirat".

Beliau ﷺ juga bersabda: "Barang siapa membuka aib saudaranya, maka Allah Membuka aibnya dan Membongkar kebobrokannya meskipun dia di rumahnya".

Menutup aib merupakan hal penting, aku perlu mengajarkan kepada semua, bukan hanya pada sang penanya... agar kita saling menutup aib sesama kita..

Seseorang shahabat ingin melaporkan seseorang yang minum khamr, ada shahabat yang menasehati: "Jangan dilaporkan, aku mendengar Sayyiduna Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa menutup aib maka seakan dia menghidupkan anak perempuan yang dikuburkan hidup-hidup".

Lihat mulianya menutup aib.. sementara kita saling membuka aib orang lain, mencoreng kehormatan orang, membicarakan orang lain dalam kehidupan kita..

Aku ingin mengatakan pada ibu mulia ini bahwa kamu telah memulai langkah agung yang keluar secara otomatis dari dalam dirimu yang beriman, sebagai seorang muslimah yang punya jiwa mulia dengan pertamanya: kamu menutup aib suamimu dan tidak membalas dendam.

Hal kedua adalah sabar..

Aku mengetahui bahwa kamu dalam cobaan yang sangat besar, tapi dikatakan pepatah yang sangat indah: "Seandainya tidak ada berbagai musibah di dunia tentu kita semua datang di hari kiamat sebagai orang-orang yang merugi".

Kalau tidak ada cobaan-cobaan di dunia, kita tidak punya apapun tabungan agar Allah SWT Meringankan kita di akhirat.

Ada kedudukan di surga untuk siapa? Untuk mereka yang dicoba, yang dicoba di badan mereka.. dan kamu dicoba di badan dan dalam kehormatanmu.. suatu cobaan yang begitu berat saat seorang perempuan atau laki-laki mulia dicoba dalam kehormatannya..".