Kritikan Warga NU untuk Ketua PBNU Atas Guyonan NU Cabang Nasrani

Fikroh.com - Guyonan ‘NU Cabang Nasrani’ yang disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siroj (SAS) – saat menyambut kedatangan Kapolri Jenderal (Pol) Listyo Sigit Prabowo – Jumat (29/1/21) dini hari masih viral di media sosial nahdliyin.

Ada pro-kontra. Bahkan marah. “Bagi saya, warga nahdliyin, ini mengerikan sekaligus menyakitkan. Coba simak jagat medsos kita! Satu sisi kita seakan diajak ‘keras’ kepada orang yang salat tanpa qunut, tetapi, di sisi lain, kita diajak ‘lunak’ kepada orang yang tidak salat. Apa seperti ini NU?” tegas Wakil Ketua Umum PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah) Tjetjep Muhammad Yasin kepada duta.co, Jumat (29/1/21).

Dalam potongan video (penyambutan) Kapolri berdurasi 2 menit 23 detik itu, Kiai SAS menjelaskan kedekatan Kapolri (baru) ini kepada tokoh-tokoh NU, termasuk dirinya.

“Dengan Mbah Sahal juga dekat, dengan Kiai Ma’ruf Amin dekat, sebelum jadi Wapres (itu). Dengan saya juga kenal lama. Oleh karena itu, bagi saya, Bapak Sigit ini, tidak asing lagi, bahkan bisa dikatakan warga NU Cabang Nasrani-lah,” kata Kiai SAS disambut gelak tawa yang hadir.

Harus Pada Tempatnya

Menurut Gus Yasin, panggilan akrab Tjetjep Muhammad Yasin, kiai-kiai NU memang suka guyon, tetapi, guyonan seperti ini harus diluruskan. Berbahaya. Di samping itu, guyonan harus ditempatkan pada tempatnya, sehingga tidak menimbulkan salah persepsi.

“Saya heran! Kenapa kiai-kiai yang mengerti tentang NU diam saja? Bukankah NU itu Nahdlatul Ulama? Bimakna (berarti) Kebangkitan Ulama, didirikan oleh almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbullah bersama para kiai khos, di mana individu pengurus mau pun anggotanya umat Islam,” tegasnya.

Ini (NU Cabang Nasrani), lanjutnya, sungguh menyesatkan. Apalagi sebelumnya ada NU Cabang Katholik, NU Cabang Kristen. Bisa jadi nanti ada NU Cabang Hindu, NU Cabang Budha, NU Cabang Kepercayaan.

“Bahwa ada orang di luar NU yang, memiliki sikap sama, moderat seperti NU, itu bukan berarti warga NU apalagi cabang NU. Kita sama dalam berbangsa dan bernegara, tetapi prinsip dasar kita Islam ahlussunnah wal jamaah. Ini jelas berbeda,” tambahnya.

Beda dengan Gus Dur

Masih menurut Gus Yasin, guyonan boleh, tetapi harus pada tempatnya. Pun ketika banyak orang menyebutnya (NU Cabang Katholik) sebagai guyonan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid red) kepada Luhut Binsar Panjaitan, itu jelas dalam konteks yang mudah dipahami umat.

“Pertama, mungkin, itu disampaikan dalam konteks berbangsa dan bernegara. Di mana saat itu (kemungkinan) Gus Dur berada di depan mayoritas non-mulsim. Tidak di kantor PBNU. Kedua, ingat! Gus Dur itu ‘membesarkan’ NU, bukan besar dari NU. Kita harus bisa membedakan. Jangan hanya meniru guyonannya, tetapi tidak paham siapa dirinya?,” jelasnya.

Alumni Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang ini, justru khawatir guyonan tersebut menjadi kenyataan di tengah kuatnya kaum liberal di tubuh NU. “Apa yang tidak mungkin? Ketika NU dikelola model partai politik, dipakai alat mencari jabatan, lalu semua orang boleh masuk, ini sangat berbahaya,” katanya.

“Sekarang, kita kewalahan menghadapi derasnya liberalisasi di NU. Halal-haram nyaris hilang, dan semua diam. Saya sering mendapat keluhan seperti ini. Apa kita diam? Apa tidak berdosa? Bagaimana pertanggungjawaban kita di depan Mbah Hasyim, Mbah Wahab, muassis NU? Lalu di depan Rasulullah dan Gusti Allah?” tanyanya.

Karena itu, ujar Gus Yasin, pihaknya akan terus berupaya maksimal meluruskan jalan NU. “Pekan ini, PPKN melakukan konsolidasi. Perintah Ketum PPKN (H Nur Hadi ST red.) jangan kendor kawal NU, jangan biarkan NU menjadi alat politik kekuasaan. Ormas besutan kiai pesantren ini harus tetap kokoh menjadi soko guru NKRI. Politiknya kebangsaan, bukan berebut jabatan, apalagi uang,” pungkasnya.

Sumber: Duta.co

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama