Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Islam Memang Agama Rahmatan Lil'alamin

Islam Memang Agama Rahmatan Lil'alamin

Fikroh.com - Islam merupakan agama yang Rahmatan lil’alamin artinya Islam membawa keselamatan bagi seluruh alam. “Alamin” dalam bahasa arab adalah segala sesuatu yang selain Allah; artinya Islam adalah rahamat bagi hewan, tumbuhan, manusia, muslim, bahkan kafir dan munafiknya.

Istilah “Rahmatan lil alamin” diambil dari firman Allah mengenai Nabi yang membawa Islam Nabi kita Muhammad Saw keperibadian beliau menjadi icon yang indah bagi Islam, beliau sebagai suri tauladan dan uswah hasanah yang berahklaqul karimah.

ﻭﻣﺎ ﺍﺭﺳﻠﻨﺎﻙ ﺇﻻ ﺭﺣﻤﺔ ﻟﻠﻌﺎﺍﻣﻴﻦ .

“Dan tidaklah kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai Rhamatan bagi seluruh alam." (al Anbiya’ : 107)

Dalam kitab “lisanul ‘arab” kata ﺭﺣﻤﺔ berarti ﺍﻟﺮﻗﺔ ﻭ ﺍﻟﺘﻌﻄﻒ yang artinya “lembut yang bersamaan dengan Iba”, bila diterjemahkan “rahmah”adalah “kasih sayang”. Jadi dengan diutusnya Rosuullah dengan membawa Islam adalah kerahmatan Allah bagi seluruh alam semesta.

Penafsiran Rahmatan Lil ‘Alamin Menurut Para Ulama

Ulama’ berbeda pendapat mengenai penafsiran ayat “rahmatan lil ‘alamin”. Ibn Qoyyim al Jauzi berpendapat bahwa rahmat disini berma’na umum, artinya kafirnya dan muslimnya, orang yang mengikuti beliau akan mendapat rahmat di dunia dan akhirat sekaligus, dan kafirnya mendapat rahmat di dunia saja.

Muhammad bin Ali as Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan: “makna ayat ini adalah, ‘tidaklah kami mengutusmu, wahai Muhammad, dengan memebawa hukum-hukum syariat, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia tanpa ada keadaan atau alasan khusus yang menjadi pengecualian. Dengan kata lain, ‘satu-satunya alasan kami mengutusmu adalah sebagai rahmat yang luas. Karena kami mengutusmu dengan membawa sesuatu yang menjadi sebab kebahagiaan akhirat”.

Muhammad bin Jarir at Tobari dalam tafsirnya “Tafsir at Tobary” beliau mengatakan “Para ahli tasir berbeda pendapat tentang makna ayat ini, tentang apakah yang dimaksud seluruh manusia dalam ayat ini semua mu’min dan kafir? Ataukah hanya manusia mu’min saja ? sebagian ahli tafsir berpendapat, yang dimaksud seluruh manusia adalah yang mu’min maupun yang kafir. Mereka mendasarkannya dengan riwayat ibn Abbas Ra. dalam menafsirkan ayat ini:

ﻣﻦ ﺍﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻻﺧﺮ ﻛﺘﺐ ﻟﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭﺍﻻﺧﺮﺓ , ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻋﻮﻓﻲ ﻣﻤﺎ ﺍﺻﺎﺏ ﺍﻻﻣﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺨﺴﻒ ﻭﺍﻟﻘﺪﻑ .

“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan di akhirat, namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rosulnya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua ditenggelamkan, atau ditimpa gelombang besar.

Menurut as Shobuni dalam tafsirnya Shofwatut Tafsir beliau mengatakan “Maksud ayat ini adalah ‘Tidaklah kami mengutusmu, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat seluruh makhluk . Sebagaimana dalam sebuah hadis,

ﺍﻧﻤﺎ ﺃﻧﺎ ﺭﺣﻤﺔ ﻣﻬﺪﺓ

“sesungguhnya aku adalah rahmat yang dihadiahkan (oleh Allah). (HR Bukhori dalam al Ilal al kabir 369).

Allah tidak mengatakan “ rahmatan lilmu’minin ”, namun Allah mengatakan “ rahmatan lil alamin” karena Allah taala ingin memeberikan rahmat kepada seluruh makhluknya dengan diutusnya pemimpin para nabi, yaitu Nabi Muhammad saw.

Beliau diutus dengan membawa kebahagiaan besar. Beliau juga menyelamatkan manusia dari kesengsaraan yang besar. Beliau menjadi sebab tercapainya berbagai kebaikan di dunia dan di akhirat. Beliau memberikan pencerahan kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kejahilan. Beliau memberikan hidayah kepada manusia yang sebelumnya berada dalam kesesatan. Inilah yang dimaksud Rahmat Allah Saw. kepada manusia, bahkan orang kafir

mendapat manfaat dari rahmat ini, yaitu ditundanya hukuman bagi mereka , selain itu mereka juga tidak ditimpa azab berupa dirubah menjadi binatang, atau ditenggelamkan ke bumi, atau ditenggelamkan dalam air”. (yulian purnama, WWW muslim .or.id)

Abuya as-Sayyid Muhammad Al Maliky dalam bukunya “Muhammad saw Adalah Manusia Sempurna( Muahmmad Insanul Kamil), beliau menulis dalam sebuah bab yang khusus membahas “kesempurnaan rahmat Rosulullah bagi alam semesta” beliau berpendapat, “ Rosulullah saw adalah seorang yang Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi semua alam semesta, rahmat kepada mu’min, rahmat kepada semua orang kafir, rahmat bagi para munafikin, dan rahmat bagi seluruh manusia, kaum laki-laki dan perempuannya, dan anak kecilnya, dan rahmat bagi burung-burung dan semua satwa-satwa. Dia adalah rahmat yang umum kepada semua ciptaan Allah. Adapun rasa kasih sayang beliau dan kelembutan beliau , Allah telah bersabda tentang hal itu,

. ﻟﻘﺪ ﺟﺎﺀﻛﻢ ﺭﺳﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻧﻔﺴﻜﻢ ﻋﺰﻳﺰ ﻋﻠﻴﻪ ﻣﺎ ﻋﻨﺘﻢ ﺣﺮﻳﺺ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺭﺀﻭﻑ ﺭﺣﻴﻢ .

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rosul dari kaummu sendiri, berat terasa oleh penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanandan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”.

Sebagian ulama’ mengatakan: “termasuk dari keutamaan Rosulullah adalah bahwasanya Allah swt memberinya dua nama dari nama-mana-Nya, dalam firmannya “bil mu’minina roufun rohim”.(insan kamil hal 113)

Setelah kita banyak melihat pendapat para uma’ mengenai penafsiran Rahmatan lil alamin, kita mulai faham bahwa rahamt di sini bermakna umum, jadi semua mahluk mendapat rahmat Islam.

Rahmat kepada Hewan

Dalam sebuah hadis Nabi Saw melarang sahabatanya untuk menjadikan hewan yang hidup sebagai sasaran untuk latihan memanah sebagaimana yang dilakukan orang pada zaman jahiliyah, beliau juga melarang membawakan barang yang sangat berat dengan unta sedangkan untanya tidak diberi makan. Bahkan beliau sangat marah jika mereka melakukannya. Nabi melarag menungganinya jika tidak ada kebutuhan, karena bisa saja hewan itu lebih banyak berdzir dari pada orang yang menungganginya. Dalam sabdanya:

ﺍﺭﻛﺒﻮﻫﺎ ﺳﺎﻟﻤﺔ ﻭﺩﻋﻮﻫﺎ ﺳﺎﻟﻤﺔ ﻭﻻ ﺗﺘﺨﺬﻭﻫﺎ ﻛﺮﺍﺳﻲ ﻻﺣﺎﺩﺛﻜﻢ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭﺍﻻﺳﻮﺍﻕ ﻓﺮﺏ ﻣﺮﻛﻮﺑﻪ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ ﺍﻟﺮﺍﻛﺒﻬﺎ ﻭﺍﻛﺜﺮ ﺫﻛﺮﺍ ﻟﻠﻪ ﻣﻨﻪ .

“Tunggangilah tungganganmu dengan selamat, dan tinggalkanlah dia dengan selamat, dan janganlah kalian menjadikannya sebagai kursi untuk kalian mengobrol di jalan-jalan dan di pasar-pasar, karena terkadang hewan tunggangan itu lebih banyak berdzikir kepada Allah dari pada orang yang menungganginya”. (insan kamil 140)

Burung memikli hak untuk disembelih dan dimakan, bukan untuk dibunuh dengan sia-sia, unta , sapi dan sebagainya adalah untuk ditunggangi bukan untuk diangkutkan kepadanya barang yang sangat berat dengan tanpa diberi makan, dan hewan itu tidak mampu.

Sungguh begitu indahnya Islam bukan? Dengan hewan saja tidak boleh sewenang-wenang , apalagi dengan manusia. Bayangkan jika manusia memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara optimal dan menghayatinya, maka sungguh akan damai dan indah kehidupan ini.

Rahmat Kepada Siapa Saja

Lihat saja beberapa sikap Nabi dalam menaggapi masalah, beliau selalu mencontohkan yang baik dan berlemah lembut, seperti pada suatu hari ada seorang badui yang ketika nabi menyampaikan ceramah di masjid, tiba-tiba si badui tersebut kencing di pojok masjid, sebagian sahabat ingin membunuhya, tetapi nabi faham dengan keadaan badui itu yang masih belum memahami agama. Beliau melarang sahabatnya memarahinya, beaiu menyuruhnya untuk membiatlannya, dan kemudian si badui itu diberi tahu oleh nabi dengan lemah lembut, dia deradoa “ Allahummarham Muhammad, wala tarham ashabah”. Doa ini dia katakana karena dia masih belum memahami Islam dan merasa jengkel dengan sikap sahabat Nabi kepadanya, akhirnya dia masuk Islam dan beriman kepada Rosulullah Saw.

Rosulullah Saw. juga memerintahkan kepada umatnya untuk berlemah lembut kepada manusia, meskipun dalam rangka mengingkari maksiat, beliau mendahulukan sikap lemah lembut daripada sikap kasar dan keras, karena dengan lemah lembut hati manusia lebih mudah menerima teguran. Dalam sebuah hadisnya beliau bersabda :

ﺇﻥ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻻﻳﻜﻮﻥ ﻓﻲ ﺷﻴﺊ ﺇﻻ ﺯﺍﻧﻪ , ﻭﻻ ﻳﻨﺰﻉ ﻣﻦ ﺷﻴﺊ ﺍﻻ ﺷﺎﻧﻪ

“Tidaklah kelembutan itu tidak ada pada sesuatu, kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah kelembutan itu hilang kecuali akan memeperburuknya.”(HR Muslim no. 2594)

Dan tak jarang pula beliau menanggapi sifat buruk menusia kepada beliau dengan membalas dengan kebaikan. Dakwah beliau masyarakat Toif, mereka tidak mengindahkan dakwah beliau, mereka melempari Nabi dengan batu hingga retak gigi beliau, tetapi, beliau malah mendoakan hidayah kepada mereka.

Dalam bab-bab lain penulis sudah banyak menerangkan kasih sayang Nabi dan cara belaiu bergaul, maka tinggal kita meniru bagaimana sifat beliau yang indah itu. Demikian juga cara beliau bergaul dengan orang selain agama, bagaimana beliau dengan mereka, yang kafir dzimmi maupun yang kafir harby.

Rahmat Islam yang lain ada di dalam ajarannya. Syariatnya menjaga jiwa, keturunan, agama, harta dan akal manusia dari kehancuran. Ritual peribadatannya menyentuh aspek jiwa dan raga, aspek social dan individual, aspek spiritual dan material. Prinsip hidupnya seimbang dan tidak materialistis dan tidak spiritualistis, tidak melulu dunia dan tidak juga akhirat.

Konsep tuhannya “transenden” artinya jauh dan tak terjangkau. Tidak serupa apapun, karena itu tuhan mereka tidak bisa diberhalakan. Tapi juga “immanen”, lebih dekat dari urat nadi kita. Tuhannya Maha Alim, maka oleh sebab itu wahyu yang diturunkan selalu memerintahkan manusia untuk berfikir jernih dan mencari imu. Inilah mengapa Islam menjadi rahmat dengan ilmu, dengannya khazanah keilmuan dihidupkan. (Zarkasyi)

Rahmat Islam Sepeninggal Rosulullah Saw.

Prestasi Rosulullah dalam mengemban amanah menyampaikan dakwah Islam sebagai Rahmatan lil alamin menjadi corak dakwah para pengukutnya. Dan kemudian diikuti oleh para sahabat, seperti Sy Umar Ra. yang menaklukkan Yerussalem, beliau yang terkenal berwatak kasar dan keras tidak seperti yang kita bayangkan. Di

Yerussalem beliau membentuk sebuah perjanjian yang dikenal dengan “Mitsakul Umariyyah” dalam salah satu isi perjanjian itu adalah “ …gereja tidak akan diubah menjadi pemukiman, tidak akan dirusak,…salis-salib atau harta mereka tidak akan diganggu,…dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya”. Islam tidak pernah konflik di sana, justru konflik antara sekte di gereja Holy Sepulchre atau The Church of the Resurrection didamaikan oleh Islam.

Abdul Aziz gubernur mesir member izin kepada orang-orang krisen pegawai, untuk mendirikan gereja di Halwan. Di Andalus Islam, Kristen dan Yahudi hidup damai bertahutahun.

Sikap muslim dalam bergaul dengan non muslim mengukir dengan tinta emas dalam heti mereka, sehingga banyak dari kalangan non muslim yang menuliskan masa-masa yang sangat tolernsi yang dibentuk oleh Islam itu. Michel the Elder, Patrich dari Jacobus mereka melukiskan kala itu “Tuhan telah membangkitkan putra Ismail dari selatan (maksudnya adalah para Muslimin) untuk menyelamatkan kita dari Romawi” . Di Jordan pasukan muslimin yang dipimpin oleh Abu Ubaidah, pemduduk Kristen mengirim surat kepadanya, mereka menulis “ Kami lebih simpati kepada saudara dari pada orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami, pemerintah Islam lebih adil daripada pemerintah Byzantium”.

Thomas Almond dalam bukunya “The Preaching of Islam” menulis, ‘Kemenangan kaum muslimin berarti kebebasan beragama (bagi non Muslim), sesuatu yang berabat-abat telah mereka dambakan”. Anehnya Bernad Lewis menganggap tolerasni dalam Islam tidak ada asal uslunya.

Sorang penulis sastra Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa mencatat dalam karyanya yang berjudul “The Ornament of The World (2003) secara terus terang , dia menuliskan “ Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non muslim lebih baik dari pada dibawah dibawah kekuasaan Kristen Eropa”. Tetapi berahirnya kekuasaan Islam maka berhir pulalah toleransi itu.

Salah Kaprah

Lantas, jika dikatakan bahwa datangnya Islam adalah Rahmatan lilalamin, apakah itu artinya Islam membiarkan manusia bermaksiat dan bahkan membiarakan mereka menyekutukan Allah dengan beralasan rahmat?. Apakah makna rahmatan lilalamin Islam juga berkasih sayang dan berlemah lembut dengan penyimpangan agama? Perbedaan dalam beribadah hanya dianggap perbedaan yang harus dibenarkan?. Sungguh banyak sekali orang-orang yang menjadikan ayat tersebut sebagai dalil padahal ayat tersebut bukan demikian maksudnya. Menafsirkan ayat ini dengan serampangan dengan bermodalkan bahasa dan logika yang dangkal, atau berusaha memaksakan ayat ini agar sesuai dengan hawa nafsunya, akan menyebabkan manusia “salah kaprah”. Sebagian mereka mengajak untuk berkasih sayang dengan orang non muslim, dengan enggan menyebut mereka “kafir”, atau bahkan menyerukan bahwa agama yang mereka yakini adalah keyakinan yang benar dan juga harus diakui kebenarannya, membiarkan kemungkaran begitu saja terjadi dan rido dengan kemungkaran itu dengan beralasan Islam adalah rahmatan lil alamin yang menganggap segala perbebedaan adalah benar. Enggan melakukan amar m’ruf dan nahi mungkar karena takut di anggap tidak bertoleransi dengan perbedaan.

Sebagian mereka yang mengaku muslimin, membiarkan orang-orang meninggalkan sholat, membiarkan pelacuran merajalela, menganggap biasa-biasa saja wanita-wanita yang “KTP nya beragama Islam” mondar-mandir dengan menampakkan aurotnya kepada orang-orang, enggan menasehati mereka karena takut hati mereka teringgung saat di nasehati.

Dalam menghadapi kemaksiatan dan kemungkaran dan bersikap kepada orang kafir bukan berarti dengan kekerasan, marah-marah atau wajah yang memperlihatkan ketidak senagan, tapi sebagaimana tadi, lebih diutamakan lemah lembut dalam berdakwah. Mengajak manusia meninggalkan kemaksiatan dengan belas kasih dan akhlaq al karimah, namun bukan berarti juga merasa senang melihat kemungkaran, tapi hati merasa tidak senang dan tidak ridho, sedangkan menanggapinya dengan lemah lembut.

Maka itulah yang dinamakan dengan Islam adalah rahmatan lil alamin, yaitu dengan memberi manusia petunjuk kepada jalan kebaikan, mengajak mereka untuk melakukan apa-apa yang diperintah oleh Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, sehingga kelak mereka selamat dari siksa Allah dan menggapai indahnya kehidupan di surga.

Dalam bahasa Al Quran dikatakan bahwa tidak akan ditemukan orang yang beriman dalam hatinya rasa kasih sayang kepada orang-orang yang menentang Allah meskipun mereka adalah ayah, keluarga ataupun saudara. Allah berfirman:

ﻵ ﺗﺠﺪ ﻗﻮﻣﺎ ﻳﺆﻣﻨﻮﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻴﻮﻡ ﺍﻻﺧﺮ ﻳﻮﺍﺩﻭﻥ ﻣﻦ ﺣﺎﺩ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻧﻮ ﺍﺑﺎﺀﻫﻢ ﺍﻭ ﺍﺑﻨﺎﺀﻫﻢ ﺍﻭ ﺇﺧﻮﺍﻧﻬﻢ ﺃﻭ ﻋﺸﻴﺮﺗﻬﻢ , ﺃﻟﺌﻚ ﻛﺘﺐ ﻓﻲ ﻗﻠﻮﺑﻬﻢ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ ﻭ ﺃﻳَﺪﻫﻢ ﺑﺮﻭﺡ ﻣﻨﻪ , ﻭﻳﺪﺧﻠﻬﻢ ﺟﻨﺖ ﺗﺠﺮﻱ ﻣﻦ ﺗﺤﺘﻬﺎ ﺍﻷﻧﻬﺎﺭ ﺧﺎﻟﺪﻳﻦ ﻓﻴﻬﺎ , ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ ﻭﺭﺿﻮﺍ ﻋﻨﻪ , ﺃﻟﺌﻚ ﺣﺰﺏ ﺍﻟﻠﻪ , ﺍﻵ ﺇﻥ ﺣﺰﺏ ﺍﻟﻠﻪ ﻫﻢ ﺍﻟﻤﻔﻠﺤﻮﻥ .

“Engaku (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menetang Allah dan Rosul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya, atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditamankan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan Nya mereka ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (QS. al Hasyr: 22)

Sebagaimana penejelasan para ulama’ bahwa rahmat Islam kepada orang kafir adalah di akhirkannya bagi mereka adzab, dan mereka tidak di azab dirubah menjadi hewan sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu. Maka sangat salah sekali jiga sebagian orang menggunakan dalil Islam adalah rohmatan lil alamin untuk ridho dengan agama selain Islam, bahkan mengenggapnya sebagai agama yang benar juga.

Sebagian kesalahpahaman mereka juga, yakni mereka beranggapan bahwa mendakwahkan agama akan menimbulkan perpecahan, menyalahkan pendapat orang lain akan menimbulkan kebencian. Akankah kita bertoleransi dengan golongan yang mengatakan sholat tidak wajib, atauhkah golongan yang mengatakan semua agama benar, ataukaha yang mengatakan Nabi Muhammad bukanlah Nabi terhir, setelah beliau wafat para sahabatnya semuanya kafir?...sungguh jika seseorang sudah merasa ridho dengan hal itu, iman seorang tersebut patut dipertanyakan.

Maka yang benar adalah, rahmatan lil alamin maksudnya Islam datang dengan membawa syariat, dan manusia diwajibkan beragama Islam karena Islamlah rahmatan bagi manusia yang memebebaskan dari siksa api neraka. Yang menyebabkan perpecahan bukanlah menyalahkan yang salah, dan selalu mengajak kepada kebaikan, bahkan orang-orang yang selalu mengajak kebaikan dialah orang-orang yang beruntung.

ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ . ﺃﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻟﻔﻲ ﺧﺴﺮ . ﺇﻻ ﺍﻟﻠﺬﻳﻦ ﺍﻣﻨﻮﺍ ﻭﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺍ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺍ ﺑﺎﻟﺼﺒﺮ .

“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran”.

Orang yang mensyirikkan Allah, justru itulah penyebab timbunya perpecahan. Didalam firmannya:

ﻭﻻ ﺗﻜﻮﻧﻮﺍ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺸﺮﻛﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻓﺮﻗﺮﺍ ﺩﻳﻨﻬﻢ ﻭﻛﺎﻧﻮﺍ ﺷﻴﻌﺎ . ﻛﻞ ﺣﺰﺏ ﺑﻤﺎ ﻟﺪﻳﻬﻢ ﻓﺮﺣﻮﻥ .

“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”. (Qs, Ar Ruum 31-32).

Jadi, marilah kita bertoleransi dengan agama lain, tetapi bukan menganggap agama mereka benar, tetaplah mengajak kebaikan dengan mengedepankan lemah lembut dan kasih sayang kepada mereka. Islam adalah rahmatan bagi semua manusia, yang muslim atau yang kafir. Rahmat Islam yang meyuniversal.

Oleh: Ali Afifi (Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo)