Syaikh As-Siba'i dan Sosialisme Islam
Kiri/belakang/berdiri: Syeikh As-Siba'i, Syeikh Musthafa Az-Zarqa, Ust Muhammad Al-Mubarak, Syeikh Kuftaro dan Ust Umar Bahauddin.

Fikroh.com - Tahun 1957, Ikhwanul Muslimin Suriah mencalonkan Muraqib 'Amnya Syeikh Musthafa As-Siba'i dalam pemilu parlemen kontra Riyadh Al-Maliki calon dari Partai Ba'ts yang berhaluan sosialis. Di Aleppo, Ikhwan juga mencalonkan Syeikh Abdul Fattah Abu Guddah sebagai perwakilannya.

Khatib-khatib mesjid di Suriah gencar menyerukan dukungannya untuk Dr. As-Siba'i serta mengingatkan bahayanya komunisme dan atheisme yang tak bisa dipisahkan dari Partai Ba'ts.

Ditengah gegap gempitanya dukungan untuk Dr. As-Siba'i, Ikhwan dikejutkan dengan dukungan Syeikh Ahmad Kuftaro (yang dikemudian hari menjadi Mufti Suriah) untuk calon dari Partai Ba'ts; Riyadh Al-Maliki.

Dukungan ini disebut-sebut sebagai awal krisis hubungan antara Ikhwan dan Syeikh Kuftaro dan pengikutnya. Seperti diketahui, Riyadh Al-Maliki kemudian menang dan Dr. As-Siba'i menderita lumpuh setengah tubuhnya.

***

Tahun 1954, khususnya setelah peristiwa Al-Mansyiah, Presiden Gamal Abdel Naser mulai menangkap ribuan anggota Ikhwan dan memenuhinya dalam penjara-penjara Mesir. Berbagai macam penyiksaan dilakukan hingga banyak anggota Ikhwan yang meninggal. Sebagiannya berakhir dengan hukuman mati.

Setelah memberangus Ikhwan, Abdel Naser lalu muncul sebagai pahlawan Arab dengan ide-ide sosialisnya yang membawa angin segar untuk masyarakat menengah ke bawah. Puncaknya adalah penyatuan Suriah dan Mesir dibawah Republik Arab Bersatu tahun 1958. Saat itu Dr. As-Siba'i yang mengetuai Maktab Tanfidzi Ikhwan setelah Hassan Al-Hudhaibi dipenjara mendukung penyatuan Mesir dan Suriah.

Tahun 1959, tanpa ada yang menduga dan dari sumber yang sama sekali tidak terduga, dengan penuh keikhlasan terbit sebuah buku kontoversial berjudul 'Isytirakiyah Al-islam' karangan Muraqib 'Am Ikhwan Suriah yang juga dekan pertama fakultas Syariah di Universitas Damaskus; Dr. Musthafa Husni As-Asiba'i.

Abdel Naser menyambut buku ini dan langsung mencetaknya di Mesir. Di pihak lain kritikan terus mengalir deras terhadap Dr. As-Siba'i bahkan dari teman seperjuangannya di Al-Alzhar dan sama-sama merintis Ikhwan di Suriah, Al-'Allamah Al-Mujahid Syeikh Muhammad Al-Hamid yang menulis kitab 'Nazharat fi Isytirakiyah Al-Islam'.

Kritikan juga datang dari Syeikh Al-Buthy yang saat itu juga mengajar di fakultas syariah. 

Syeikh Al-Buthi bercerita:

Aku memiliki beberapa bantahan terhadap pemikiran-pemikiran Syeikh As-Siba'i dan  kritik terhadap beberapa sikapnya. Beliau (As-Siba'i) pernah berkata kepadaku:

"Sepertinya kau merasa bahwa aku tersinggung dengan sebab tulisan-tulisanmu tentangku"

Aku (Al-Buthy) diam tak menjawab. Kemudian beliau (As'Siba'i) melanjutkan;

"Wahai saudaraku! Dalam islam tidak ada basa-basi. Tulislah apa yang kau yakini dan kau anggap benar. Sungguh aku mencintaimu karena keikhlasanmu. Aku ingin meyakinkanmu bahwa tidak ada yang berubah dalam diriku terhadapmu seberapapun kau menulis kritikan dan bantahan terhadapku setelah hari ini.(1)

-Bandingkan dengan pengikut Syeikh As-Siba'i dan Syeikh Al-Buthy dewasa ini.

Sedari awal, Syeikh As-Siba'i paham betul bahwa judul dari kitabnya akan kontroversial.

Dalam mukaddimah 'Isytirakiyah Al-islam' As-Siba'i berkata:

"Sesungguhnya ketika aku menamakan undang-undang dan hukum-hukum islam yang mengatur tentang kepemilikan dan upaya untuk mencapai jaminan sosial dengan 'isytirakiyah al-islam' aku mengerti bahwa mereka yang bersemangat dan cemburu terhadap islam akan membenci penamaan ini".(2)

Sejatinya, Syeikh As-Siba'i tidak menulis sesuatu yang bertentangan dengan islam dalam kitabnya. Ia hanya ingin berbicara kepada umat islam yang terpana dengan slogan-slogan kaum sosialis bahwa manhaj islam dalam memerangi kemiskinan dan kesenjangan sosial lebih sempurna dari slogan-slogan manis kaum sosial-Marxis. As-Siba'i ingin agar para pemuda islam menjauh dari komunisme hingga mereka tidak menjadi atheis.

Maka, adalah sebuah hal yang bijak menurut Syeikh As-Siba'i ketika kita menyeru umat kepada manhaj islam dengan ungkapan-ungkapan yang menarik hati mereka.

Tahun 1962, dua tahun sebelum wafatnya, Syeikh As-Siba'i menulis dalam kitabnya 'Hakadza 'Allamatni Alhayah'

"Akan datang suatu hari dimana sosialisme islam akan diseru oleh mereka yang pada hari ini memeranginya karena jumud dan pendeknya pandangan mereka".(3)

Sayangnya, Sosialisme yang diserukan As-Siba'i dimanfaatkan oleh para penguasa Arab yang berhaluan sosialis untuk kepentingan mereka tanpa peduli dengan 'islam' dimana As-Siba'i mengaitkan sosialisme dengannya.

Syeikh Muhammad Al-Ghazaly menceritakan bahwa pada akhirnya As-Siba'i menyesali judul kitabnya. Beliau (Syeikh M Al-Ghazaly) menulis:

"....Sahabatku, Ustadz Musthafa As-Siba'i menulis kitab tentang sosialisme islam yang didalamnya terdapan hakekat-hakekat kebenaran untuk memalingkan para pemuda dari komunisme. Sungguh ia telah menyesal atas judul yang ia pilih untuk kitabnya itu. 

Aku memahami alasan penyesalannya. Sebab akupun terjun dalam pekerjaan ini sepertinya. Telah nampak bagi kami bahwa para penguasa Arab yang sosialis hanya menginginkan kata 'sosialisme' (tanpa islam) tanpa peduli dengan akidah dan ibadah yang merupakan inti dari islam.(4)

****

"Seandainya Nabi Muhammad masih hidup, sungguh ia akan memerangi sebagian orang kaya zaman sekarang karena tidak memberikan kepada fakir miskin hak-hak mereka". Kurang lebih seperti itulah perkataan Syeikh Kuftaro dalam salah satu kitabnya.

Jika Dr. As-Siba'i menulis tentang Sosialisme dan mengaitkannya dengan islam atas dasar keimanannya terhadap manhaj islam dan ketidaksetujuannya dengan sosialisme Marxis serta memperjuangkannya lewat parlemen menghadapi para sosialis, Syeikh Kuftaro justru mendekat atau didekati oleh penguasa sosialis Suriah lalu berseberangan dengan Ikhwan.

Sejarah kemudian mencatat bahwa Syeikh Kuftaro menjadi mufti Suriah di era partai Ba'ts sementara Ikhwan terus beroposisi. Hingga kemudian para perwira militer alawi-nushairi menguasai partai Ba'ts dan terjadilah apa yang terjadi. Sejarah Ikhwan Suriah penuh dengan darah. Para ulamanya dan kadernya dipenjara, diusir atau dihukum mati. Pembantaian Hama dll adalah contohnya.

***

Jika As-Siba'i tahun 50'an mendirikan Fakultas Syariah di Univ Damaskus, 30 tahun setelahnya tak seorangpun anggota Ikhwan belajar disana setelah rezim Assad membuat UU tentang hukuman mati untuk setiap orang yang terlibat Ikhwan. 

Tak ada lagi khutbah-khutbah yang menarik hati  banyak manusia dari Syeikh As-Sibai, Syeikh Ali Tanthawi dan menantunya Ustad Issam Al-Attar di mesjid Universitas.

***

Setiap ulama mempunyai nalurinya masing-masing yang tercermin dari sikap mereka mengadapi peristiwa-peristiwa besar. Naluri dan kepribadian ini kadang saling bertolak belakang lalu menjadi alasan untuk kemudian para pengikutnya menyulut perseteruan abadi yang dikotori oleh tuduhan-tuduhan keji.

Maka, sudah seharusnya sejarah dipelajari dan diambil ibrahnya untuk berbuat lebih baik kedepan.

Abu Hanin.

(1) Muhammad Sa'id Ramadan Al-Buthy, Syakhsiyat Istauqafatni, Hal. 199, Dar El-Fikr Dimasyq.

(2) Musthafa Husni As-Siba'i, Isytirakiyah Al-islam, hal.6, Ad-Dar Al-Qaumiya.

(3) Musthafa Husni As-Siba'i, Hakadza 'Allamatni Al-Hayah, Hal. 297, Dar Ibnu Hazm Beirut.

(4) Muhammad Al-Ghazali, Ad-Da'wah Al-Islamiyah fi Qarn Al-Hali, Hal. 101, Dar El-Syurq Cairo.


Keterangan Photo:


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama