Jangan Sampai Salah Didik, Hingga Anak Jadi “Anjing”

Fikroh.com - Pada hari Sabtu, 25 Januari 2020, saya mengisi Kuliah Subuh di Masjid al-Hikmah, Surabaya. Temanya: Urgensi dan Kewajiban Orang Tua Menjadi Guru bagi Anak-anaknya. Dalam perjalanan, saya merenungkan makna QS al-A’raf ayat 175-176.

Kita renungkan makna dua ayat al-Quran ini: “Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami; kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, maka setan pun menjadikan dia pengikutnya, lalu jadilah dia orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka, perumpamaannya adalah seperti anjing. Jika kamu menghalaunya,  maka dia menjulur-julurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya, dia menjulur-julurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS 7:175-176)

Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan, bahwa ayat tersebut mengggambarkan orang-orang yang terhitung sebagai “pakar” atau “ahli”  dalam mengenal ayat-ayat Allah.  Tetapi, rupanya, semata-mata mengenal ayat Allah saja, kalau tidak pandai mengendalikan hawa nafsu, maka pengetahuannya tentang ayat-ayat Allah itu satu waktu bisa tidak memberi faedah apa-apa, bahkan dia terlepas dari ayat-ayat itu. Ayat-ayat itu tanggal atau copot dari dirinya.

Dalam ayat ini, kata digunakan lafazh ‘insalakha’, arti asalnya ialah ‘menyilih’ (ganti kulit. Bahasa Jawa: mlungsungi untuk ular). Atau, ketika orang menyembelih kambing, maka dia kuliti dan dia tanggalkan kulit kambing, sehingga tinggal badannya saja. Ini juga disebut ‘insalakha’.

Masih tulis Buya Hamka dalam Kitab Tafsirnya: “Nabi disuruh menceritakan keadaan orang yang telah mengerti ayat-ayat Allah, fasih menyebut, tahu hukum halal dan hukum haram, tahu fiqih dan tahu tafsir, tetapi agama itu tidak ada dalam dirinya lagi. Allahu Akbar! Sebab akhlaknya telah rusak.”

“Maka syaitan pun menjadikan dia pengikutnya, lalu jadilah dia daripada orang-orang yang tersesat,” tulis Hamka. Rupanya, karena hawa nafsu, maka ayat-ayat yang telah diketahuinya itu tidak lagi membawa terang ke dalam jiwanya, melainkan membuatnya jadi gelap.

Akhirnya dia pun menjadi anak buah pengikut syaitan, sehingga ayat-ayat yang dia kenal dan dia hafal itu bisa disalahgunakan. Dia pun bertambah lama bertambah sesat.

Seumpama ada seorang yang lama berdiam di Makkah dan telah disangka alim besar, tetapi karena disesatkan oleh syaitan, dia menjadi seorang pemabuk, dan tidak pernah bersembahyang lagi.

“Maka, karena dia telah sesat, dipakainyalah ayat Al-Quran yang dia hafal itu untuk mempertahankan kesesatannya, dengan jalan yang salah. Dia masih hafal ayat-ayat dan hadits itu, tetapi ayat dan hadits sudah lama copot dari jiwanya, dan dia tinggal dalam keadaan telanjang. Na’udzubillah min dzalik,” demikian tulis Hamka dalam Tafsirnya.

Terhadap manusia jenis ini, al-Quran menggunakan perumpamaan dan sebutan yang sangat buruk, yaitu mereka diumpakan sebagai anjing yang selalu menjulur-julurkan lidahnya.  Mengapa anjing menjulur-julurkan lidahnya?

Sebagaimana manusia, anjing adalah binatang yang secara alamiah selalu berusaha menjaga kestabilan suhu tubuhnya. Caranya, antara lain, dengan mengeluarkan keringat. Hanya saja, berbeda dengan manusia, kelenjar keringat anjing hanya ada di telapak kakinya.

Karena itu, selain mengeluarkan keringat pada tapak kaki, anjing juga membuka mulut dan menjulurkan lidahnya untuk menyebarkan energi panasnya melalui lidah. Itu dilakukan agar kelembaban di lidahnya dapat menguap dan suhu tubuhnya dapat normal kembali.  Jadi, bagi anjing, menjulurkan lidah merupakan cara efektif dan cepat untuk menurunkan suhu tubuh ke level normal.

Dari perumpamaan QS 7:175-176 itu kita bisa mengambil pelajaran, seolah-olah orang yang paham agama, tetapi dia campakkan agamanya, seperti anjing yang kepanasan, sehingga harus menjulur-julurkan lidahnya. Harta dan kedudukan yang diraihnya tidak menjadi berkah; tidak membawa pada ketenangan dan kebahagiaan hidup. Na’uudzu billaahi min dzaalika.

Dalam Kuliah Subuh itu saya mengingatkan diri sendiri dan kepada para jamaah masjid al-Hikmah, untuk selalu mengingatkan anak-anak kita, agar mereka benar-benar ikhlas dalam mencari ilmu. Sebab, niat yang salah, akan menghancurkan dirinya sendiri, merusak gurunya, dan juga merusak agamanya.

Inilah yang diingatkan Imam al-Ghazali dalam Kitab Bidayatul Hidayah. Bahwa, jika seorang mencari ilmu untuk unggul-unggulan, untuk mencari perhatian manusia, atau untuk menghimpun  harta benda dunia, maka kata al-Ghazali: “Kamu sedang menghancurkan agamamu, merusak dirimu, dan menjual akhiratmu untuk dunia!”

Semoga kita terhindar dari niat yang salah dalam mencari ilmu, dan tidak tergoda untuk mencampakkan ajaran agama kita, karena tergoda kehidupan dunia yang menipu. Sastrawan besar Riau, Raja  Ali Haji mengingatkan dalam Gurindam-12: “Barang siapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang terperdaya. Barang siapa mengenal akhirat, tahulah ia dunia itu mudharat!”

Jabatan, popularitas, harta benda, memang sangat menggoda. Tapi, al-Quran mengingatkan, semua itu kesenangan yang menipu (mataa’ul ghuruur). Jangan sampai gara-gara itu, kita dan anak-anak kita rela mencampakkan agama, sehingga jatuh martabat, menjadi “anjing”!

“Allaahumma arinal haqqaa haqqaa, war-zuqnattibaa’aa, wa-arinal baathila baathilaa, war-zuqnajtinaabaa… Ya Allah tampakkanlah kepada kami, yang benar itu benar, dan berilah kemampuan pada kami untuk selalu mengikutinya. Dan tampakkanlah pada kami yang bathil itu bathil, dan berikanlah kemampuan pada kami untuk selalu menjauhinya.” Aamiin

Oleh: Dr. Adian Husaini

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama