Hukum Membaca Ayat Al-Qur'an Setelah Al-Fatihah beserta Dalilnya

Fikroh.com - Setelah membaca al-Fatihah, seseorang yang sedang shalat disunnahkan membaca ayat-ayat al-Qur’an. Ayat-ayat tersebut dibaca pada kedua rekaat shalat Subuh dan shalat Jum'at, juga dua rekaat pertama dari shalat Dhuhur, Ashar, Maghrib dan shalat Isya' serta semua rekaat shalat sunnah. 

Baca selengkapnya: Bacaan Surat pada shalat Fardhu, Shalat Jumat dan Shalat Ied sesuai Petunjuk Nabi

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al-Qatadah, katanya: “Bahwasanya Nabi SAW, pada dua rekaat pertama shalat Dhuhur, beliau membaca al-Fatihah dan dua buah surat. Sedangkan pada dua rekaat terakhir. beliau membaca al Fatihah dan kadang-kadang membaca ayat. Beliau biasa membaca ayat pada rakaat pertama lebih panjang dari pada rekaat kedua. Demikian juga ketika shalat Ashar dan shalat Subuh." (HR. al-Bukhari, al-Bukhar'i, Muslim dan Abu Dawud. Yang terakhir ini menambahkan: “hingga dengan itu, menurut dugaan kami beliau ingin agar orang-orang bisa mendapatkan rekaat pertama) 

Dan diriwayatkan oleh Jabir bin Samrah, katanya: “Penduduk Kufah mengadukan Sa'ad kepada “Umar, sehingga dia dipecat dan digantikan 'Imar. Lalu penduduk berkata kepada 'Imar bahwa shalatnya Sa'ad itu tidak baik, lalu 'Imar mengutus utusan kepada Sa'ad. Utusan itu berkata: “Hai Abu Ishaq, mereka mengatakan bahwa shalat yang anda lakukan itu tidak baik”. Abu Ishaq menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya shalat yang saya lakukan bersama mereka adalah shalat yang diajarkan Rasulullah SAW dan tidak saya kurang-kurangi. Saya mengerjakan shalat Isya' dengan memanjangkan dua rekaat pertama dan memendekkan dua rekaat terakhir”. Kemudian 'Imar berkata: “Karena hal itulah persangkaan mereka terjadi kepada anda wahai Abu Ishaq”. 

Kemudian 'Imar mengutus Sa'ad dan seorang atau beberapa orang bersamanya ke Kufah. Orang itu bertanya tentang Sa'ad kepada penduduk Kufah. Tidak ketinggalan satupun masjid yang dikunjungi dan ditanyakan (kepada ahlinya) tentangnya, dan semuanya memuji Sa'ad. Namun ketika masuk ke sebuah masjid milik Bani 'Abbas, mendadak berdiri seorang laki-laki yang bersama Usamah bin Qatadah yang bergelar Abu Sa'adah, dia menyatakan: “Karena anda telah menanyakan persoalan Sa'ad kepada kami, maka atas nama Allah kami menjawab bahwa Sa'ad tidak pernah berjalan menurut aturan, tidak membagi sama rata dan tidak berlaku adil dalam pengadilan”. 

Kemudian Sa'ad berkata: “Kalau demikian, demi Allah aku akan memohon tiga hal kepada Allah: Ya Allah, jika hamba-Mu ini seorang pembohong, melakukan sesuatu karena ingin dilihat (riya') dan hanya ingin mendapat nama, maka panjangkanlah umurnya, lamakanlah kemiskinannya dan jadikanlah dia menjadi sasaran fitnah”. 

Kemudian di belakang orang itu ada yang mengeluh: “Aduh, saya adalah seorang tua yang menderita, saya telah tertimpa oleh kutukan Sa'ad”. Lalu Abdul Malik berkata: “Di belakang, saya melihat kedua alis orang itu jatuh seakan menutupi kedua matanya karena sombong, dan di tengah jalan dia jadi hinaan para budak yang melewatinya”. (HR. al-Bukhari) 

Abu Hurairah juga meriwayatkan, katanya: 

“Pada setiap shalat, beliau juga membaca (al-Qur'an). Karena itu, apa saja yang diperdengarkan Rasulullah SAW kepada kami, maka kami akan perdengarkan pula kepada kalian, dan apa yang tidak ditampakkan beliau kepada kami, maka kami tidak menampakkan pula kepada kalian. Apabila anda tidak menambah ayat lagi setelah membaca al-Fatihah, maka shalatmu sudah sah, tapi apabila anda menambalmya, maka itu suatu kebaikan (sunnah)”. (HR. al-Bukhari)

Ayat-ayat yang Dibaca Setelah al-Fatihah 

Setelah membaca al Fatihah, seseorang yang shalat dibolehkan membaca ayat manapun dalam al-Qur'an. Husein berkata: "Kami memerangi Khurasan, dan dalam pasukan kami terdapat tiga ratus sahabat. Kebetulan ada di antara mereka yang menjadi imam shalat kami. Dia membaca beberapa ayat dari sebuah surat lalu rukuk. Sementara Ibnu 'Abbas dikatakan bahwa dia membaca al Fatihah dan sebuah ayat dari surat al-Baqarah pada masing-masing rekaat." (HR. ad-Daruquthni dengan sanad kuat). 

Karena itu, al-Bukhari berkata tentang bolehnya membaca dua buah surat dalam satu rekaat, membaca akhir-akhir surat, membaca satu surat sebelum surat lainnya dan membaca awal-awal surat. Dia menyebutkan sebuah hadits dari 'Abdullah bin Saib yang mengatakan: 

“Nabi SAW pernah membaca surat al-Mukminun pada shalat Subuh, hingga ketika menyebut Musa dan Harun atau Isa, beliau mendadak bersin lalu rukuk. Sedangkan 'Umar pernah membaca 120 ayat dari surat al-Baqarah pada rekaat pertama, dan pada rekaat kedua dia membaca sebuah surat yang biasa diulang-ulang. Sementara al-Ahnaf pernah membaca surat al-Kahfi pada rekaat pertama, dan surat Yunus atau Yusuf pada rekaat kedua, lalu menyatakan bahwa dia pernah melakukan shalat Subuh bersama 'Umar dengan bacaan kedua surat tersebut. Ibnu Mas'ud pernah membaca 40 ayat surat al-Anfal, dan pada rekaat kedua dia membaca sebuah surat yang biasa dibaca”.

Mengenai orang yang membaca satu surat untuk dua rekaat, atau dia mengulang-ulang sebuah surat untuk dua rekaat, Qatadah mengatakan bahwa semua itu adalah kitab Allah. Dan diriwayatkan oleh 'Ubaidullah bin Tsabit dari Anas, katanya: “Ada seorang laki-laki Anshar menjadi imam bagi orang-orang di masjid Quba. Setiap dia akan membaca ayat atau surat pada rekaat yang disunnahkan membaca al-Qur'an, dia memulainya dengan Qul Huwallahu Ahad sampai selesai, kemudian baru membaca surat lain. Hal itu dilakukannya pada tiap-tiap rekaat, sehingga kawan-kawannya pun ada yang menegurnya, mereka berkata: Anda membaca ayat ini sebagai pengantar, dan rupanya, menurut pendapat anda, itu belum cukup. Sebaiknya anda cukupkan surat itu sebagai bacaan shalat, atau kalau tidak, anda tak usah membaca surat itu lagi dan anda ganti dengan surat lainnya. Dia menjawab: Saya tidak akan menggantinya. Apabila andai setuju saya menjadi imam dengan bacaan itu, maka akan saya teruskan, dan jika tidak setuju, baiklah saya akan pergi. Menurut pendapat mereka, orang tersebut adalah orang yang paling utama dalam lingkungan mereka, dan mereka keberatan kalau yang menjadi imam selain dia. Ketika Nabi SAW. mengunjunginya, mereka sampaikan hal itu kepadanya. Lalu Nabi bertanya kepadanya: Hai imam, apa beratnya bagimu mengabulkan permintaan teman-temanmu, dan apa pula alasanmu terus-menerus membaca surat itu dalam setiap rekaat? Jawab dia: Saya menyukainya Nabi. Lalu Nabi bersabda: kalau begitu, kesukaanmu pada surat itu akan mengantarkanmu ke surga”. (Al Bukhari) 

Dan riwayat dari seorang laki-laki dari Juhainah, katanya; “Bahwasanya dia mendengar Nabi SAW, ketika shalat Subuh beliau membaca Idza Zulzilat al-Ardlu pada kedua rekaatnya”. Dan dia menambahkan: “Saya tidak tahu apakah Rasulullah SAW lupa atau kah membaca surat itu dengan sengaja”. (HR. Abu Dawud, dan dalam sanadnya tidak ada satupun yang cacat).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama